
Usai mandi Dion segera memakai kimono lalu keluar dengan keadaan harum dan wangi.
Aluna yang duduk di kursi kecil menatap kehadiran suami dari pantulan cermin.
Dion membungkuk menempelkan dagunya di puncak kepala Aluna. Tatapan mereka bertemu dalam pantulan cermin.
"Honey, terimakasih sudah memilihku," ucap Dion.
"Cinta yang menyatukan kita. Sayang," jawab Aluna sambil mendongak, lalu tersenyum. Jari Dion menelusuri pipi leher dan bahu. Lalu menemukan jemari Aluna dan menggenggamnya.
Dion membimbing Aluna berdiri, menyatukan jemarinya dengan milik sang istri, lalu mengecup lembut.
Dion membopong tubuh Aluna dan membaringkan di ranjang. Kecupan bertubi diberikan untuk sang istri.
Tiba-tiba tubuhnya terasa haus, Dion meneguk minuman merah yang sudah disediakan keluarga, mungkin itu semacam vitamin. Setelah dahaga hilang, Dion kembali mendekati Aluna dan mengungkung tubuhnya.
Aluna memejamkan mata, dalam hati dia berdo'a semoga kewajiban yang akan dilaksanakan sebagai seorang istri akan mendapat restu keluarga dan segera diberi momongan.
Dion pun sama, dia berharap cinta Aluna adalah akhir petualangan dalam mencari cinta.
Dion mengusap usap anak rambut Aluna, membelainya berulang kali, sambil memandangnya penuh kasih. Setelah puas memandang, Dion mengecup wajah Aluna hingga tanpa ada yang terlewatkan.
Aluna terbuai dengan sentuhan lembut jemari besar Dion. Aroma harum tubuhnya menjadi candu yang menyenangkan buat Aluna.
Dion menyesap pelan bibir Aluna, kali ini penuh kelembutan dan cinta. Aroma mint beradu dalam buai cinta. Lidah mereka saling membelit.
__ADS_1
Jemari Dion turun membuka dua kancing baju Aluna. Setelah melihat tubuh istrinya bagian depan dengan leluasa. Dion mulai menurunkan kecupannya dari pipi ke leher, tak lupa dia tinggalkan beberapa tanda kepemilikan sepanjang rute yang dilewati oleh bibirnya.
Aluna membuka matanya setelah wajahnya terbebas dari belenggu Dion.
Dion menatap lagi dan tersenyum, seakan dia minta izin untuk melihat sesuatu yang selama ini dilindungi dan disembunyikan oleh Aluna.
Aluna membalas senyum Dion dan menutup wajahnya.
Sayang kenapa ditutup? Aku ingin melihat wajah istriku yang cantik, ucap Dion membuka jemari Aluna.
"Aku malu sayang," keluh Aluna.
"Terus, apa lilinnya dimatikan sekalian," kata Dion.
"Tidak perlu, biarkan temaram seperti ini," cegah Aluna, dengan cekatan meraih lengan Dion.
Dion yang baru beranjak, membalikkan tubuhnya lagi.
Dion kembali mengungkung Aluna, menatap tubuh semampai yang telah memasrahkan jiwa dan raga dibawah kendalinya.
"Kalau gelap nanti nggak kelihatan wajah cantiknya." ucap Dion. Lelaki pemilik dada sikpack itu terpaksa mulai dari awal lagi.
Dia kembali mengecup puncak kepala Aluna dengan lembut, sedangkan Dibawah sana sudah ada yang mengembang berlipat ganda tapi bukan bakpao.
__ADS_1
Adek kecil Dion menekan perut Aluna. Aluna yang merasakan alat tempur itu sudah siap perang, semakin gelisah.
Tangan Dion mulai menelusup diantara persatuan kulit. Mencari buah peach yang sudah lama hanya dapat ia pandang. Tapi belum pernah melihatnya itu.
Aluna mengg*linjang ketika merasakan tangan Dion mer*mas pelan bukit kembar yang mengeras. Bibirnya bergetar menahan gejolak yang kian lama kian membuncah.
Perut Aluna sekarang sudah penuh dengan kupu kupu yang sudah beranak pinak menjadi banyak dan terus beterbangan.
Dion tahu Aluna sudah terbuai oleh perlakuannya yang lembut tapi menuntut.
Tak ingin ada penghalang lagi, Dion membuka seluruh kancing baju Aluna dan melepasnya.
Bukit kembar Aluna tercetak dibalik kaca mata ukuran sedang. Aluna semakin malu, dia berusaha menutupi bukitnya yang indah dan kencang.
"Please Honey, jangan ada yang ditutupi lagi, kita ini pada dasarnya satu, kau tulang rusukku, kita diizinkan tak ada batasan lagi.
Dion mengangkat tangan Aluna, meski Aluna masih berusaha menahan.
Untuk menghilangkan ketegangan, Dion kembali mengecup bibir Aluna dan mengobrak-abrik isinya. Satu tangannya menahan lengan Aluna dan tangan satunya meremas buah peach dambaan.
Mendapat perlakuan lembut dititik sensitifnya . tubuh Aluna mendadak seperti tersengat aliran listrik.
"Akh ...." Kata Aluna yang tak tahu lagi apa kata yang bisa mewakili rasa yang bercampur aduk ditubuhnya. tanpa sadar Aluna melengkungkan punggungnya dan menekan tengkuk Dion supaya tak cepat-cepat melepaskan pagutannya.
__ADS_1