
Chela segera membubuhkan sebuah tanda tangan yang sudah disodorkan oleh asisten Enzo.
Enzo bisa melihat kalau Chela adalah sosok yang punya semangat tinggi. Dia muda, berbakat dan cantik.
Sosok Chela kembali mengingatkan pada Luna, wanita yang pernah dicintai setengah mati dan sekaligus yang memberinya pengalaman hidup di jeruji.
Kali ini Enzo ingin tahu apakah Chela sama dengan model-model lainnya yang mudah tergiur dengan uang atau dia sama seperti sosok luna. Timbul niat Enzo untuk memberi test-test tertentu.
"Chela, usai pemotretan aku ingin kamu temani aku ke club, kita senang-senang semalaman, apakah kamu setuju."
"Maaf, usai bekerja aku harus istirahat. Besok aku akan bekerja lagi," jawab Chela masih bernada dingin dan tidak ada basa-basi.
"Yakin menolak, lima puluh juta untuk menemani aku nanti malam."
'Lima puluh juta, uang yang lumayan besar, aku pasti segera memiliki mobil pribadi jika menerima tawaran dia, lagian dia bilang hanya menemani makan malam bukan untuk yang lainnya.' sesaat Chela mulai tertarik
"Baiklah, lima puluh juta transfer segera," kata Chela yang butuh banyak uang untuk bisa memenuhi kebutuhan hidupnya
"Enzo tersenyum smirk. 'Kukira kamu berbeda, ternyata kamu sama saja, gampangan.'
Enzo sedikit kecewa, tadinya berharap Chela menolak, andaikan itu dia lakukan, Enzo akan memperjuangkan Chela.
"Akan segera aku transfer jika kau sudah datang ke kelap nanti," ujarnya lagi.
Chela mengangguk. "Baiklah, tunggu saja aku datang."
Chela merasa CEO Enzo sedikit aneh, uang, uang, dan uang yang dia gunakan untuk membuat dia luluh. Tiba tiba Chela teringat pesan Jayden jika dirinya harus jadi wanita baik, jika dia baik, laki laki baik adalah jodohnya.
"Sepertinya semua sudah selesai, aku harus pulang."
"Baiklah, sampai bertemu nanti malam."
'Tunggu saja sampai mampus,' batin Chela.
Chela tersenyum saat menutup pintu sambil melihat Enzo yang sedang menggigit pulpen dan menatap dirinya dengan tatapan yang sulit diartikan.
***
Malam ini Chela berhasil menghipnotis para tamu undangan di gedung megah tempat dia show.
Enzo puas dengan kerja Chela yang tidak setengah-setengah. Tapi setelah Chela selesai Enzo tak melihat lagi kemana batang hidung wanita itu.
"Tito, kemana Chela? sejak acara selesai dia tak terlihat lagi," tanya Enzo.
"Dia sudah pulang bersama manager dan asistennya. Sepertinya dia akan menghadiri acara lainnya Tuan.
"Oh, baguslah, jadi demi lima puluh juta dia akan datang," batin Enzo percaya diri. bibirnya kembali tersenyum smirk, sambil membenarkan jas hitam kebesarannya.
Satu jam kemudian Enzo segera meminta Tito agar mengantarnya ke kelab yang sudah di pesan. Tapi sayangnya disana dia tak melihat sosok Chela. Yang ada malah Enzo di goda oleh wanita-wanita yang haus belaian.
__ADS_1
Enzo mencoba menghubungi ponsel Chela, tapi sayangnya malah tidak aktif.
"Dia sepertinya sedang mengerjaiku, bisa-bisanya aku tertipu dengan kepolosannya."
Enzo gemas dengan Chela. "Awas, besok aku akan membalas semua perbuatanmu gadis aneh."
Enzo tak jadi meminum alkohol yang dipesan, dia segera pulang dan meminta Tito untuk mencarikan alamat Chela.
Tito yang sebelumnya tak pernah melihat Chela ke kantor Adrian dia juga tak mengenalnya.
Malam ini Enzo tak bisa tidur nyenyak, gadis bernama Chela Alexander itu membuat hatinya kalang kabut, sebenarnya dia senang Chela tak datang malam ini, artinya dia lolos seleksi awal dalam ajang pencarian jodoh versi Enzo.
Sedangkan Chela sedang asyik melihat tayangan ulang dirinya di sebuah stasiun TV live.
Kebetulan saat itu Adrian dan Nabila juga melihat, Adrian senang adiknya bisa melupakan semua dan mulai berkarir.
Jayden lah yang menjadikan Chela bisa berfikir dewasa, dan Jayden pula yang mengajarkan Chela kalau hidup tak selamanya harus mendapatkan apa yang diinginkan.
"Kak, itu Chela kan?" pekik Nabila.
"Iya. Sayang. Akhirnya si manja bisa dewasa juga,"
Adrian yang duduk satu sofa dengan Nabila, dia memeluk istrinya dengan menyusupkan lengannya di tengkuk.
Adrian mencium kening istrinya. Tapi tiba-tiba dia ingin muntah lagi.
"Banyak. Kak. Sekitar tujuh kali."
"Kita periksa ke Kakak kamu ya, siapa tahu nanti di perut ini ada adeknya, soalnya kemaren kita nggak pernah absen buatnya."
"Iya Kak, besok pagi. Aku sekarang ingin istirahat."
"Nabila, kalau benar kamu hamil, kamu harus hati-hati Nak, mama nggak sabar pengen lihat cucu Mama sendiri. Biar mama nggak cuma dipamerin aja sama Melani itu.
Meski dia lebih unggul sih, Luna langsung kasih dua cucu, minimal mama sudah punya satu kan."
"Mama tenang aja ya, semoga Nabila beneran hamil. Kalau lihat tanda tandanya sih beneran hamil."
"Iya, semoga saja." Selena mendekati menanti dan mengelus perutnya yang rata.
Lalu Nabila dan Adrian pamit ke kamar.
Adrian membuka bungkus vitamin dan memberikan pada Nabila. Nabila menerima dan meminumnya bersama segelas air putih.
Adrian membiarkan istrinya tidur di dadanya, Adrian dan Nabila sama sama merasa beruntung bisa saling memiliki.
"Sayang, jika Aku bener hamil, berarti dia hadir di rahimku pas kita bukan madu."
"Bisa jadi, Sayang."
__ADS_1
"Kamu seneng nggak."
"Lah kok tanya nya seneng apa nggak? Ya jelas senang banget dong. Aku juga pengen segera menimang anak sendiri."
"Tapi saat aku hamil besar nanti, aku pasti akan manja, Mas."
"Nggak apa apa, aku suka kamu manja kok. Aku merasa semakin berarti untuk kamu."
"Mas, Mbak Luna kira-kira manja nggak ya sama Kak Dion pas hamil," tanya Nabila mencoba melihat reaksi suaminya ketika kembali membicarakan Luna.
"Ya, aku nggak tau, tanya aja pada Dion," jawab Adrian enteng.
"Kakak nggak mau tahu."
Nggak, sekarang yang aku ingin tahu cuma keadaan kami dan bayi kita.
"Kak Dion itu baik, sudah bantu Kak Rian kembalikan perusahaan yang dulu diambil alih oleh Angeline. Seharusnya Kak Rian berterimakasih banyak pada keluarga itu."
"Aku sudah berterima kasih. Sayang."
"Kok bisa sih, pacaran sama wanita kayak Angeline, pasti karena dia cantik dan molek ya."
"Cantiknya biasa aja, cuma waktu itu dia model yang lagi naik daun, mungkin bagi kaum laki-laki suatu tantangan tersendiri bisa dapetin wanita yang sedang jadi publik figur. Dan saat itu aku memang sedang ambisius mengejar karier dan tak bisa melihat betapa banyak kelebihan yang dimiliki Luna. Dan saat aku sadar semua itu, aku seolah tak memiliki kesempatan lagi untuk memperbaiki kesalahan. Dion sudah menjadi sandaran paling nyaman untuk Luna."
"Kasian banget ya kamu, Kak."
"Itu kan dulu, sekarang cuma kamu kok yang aku sayangi, kamu prioritas utamaku. Sudah tidak ada Luna lagi, sekarang hanya ada kamu, Nabila."
"Makasi Kak," Nabila tersenyum. Adrian mengecup pipi istrinya dan mempererat pelukannya.
Mereka berdua akhirnya tertidur, berharap esok segera tiba, sudah tak sabar ingin memeriksakan kehamilannya.
***
Pagi hari Nabila dan Adrian dengan wajah sumringah mendatangi tempat pribadi kakaknya.
"Hei, pagi banget ada apa ini?"
"Kak, Nabila mau kasih keponakan pada Kakak."
"Apa? Kamu hamil?"
"Iya Kak, semalam Nabila test dapat garis dua."
"Syukurlah. Kakak bakal jadi uncle nie."
Jayden mendekati Adrian dan menepuk punggungnya." Jaga dengan baik, calon anak dan juga calon ibunya, dia adalah aset masa depanmu yang paling berharga.
__ADS_1