
Tito sudah menunggu Aluna di parkir, dia bersandar pada sebuah sisi mobil, sambil bersedekap. Beberapa karyawan menyapanya dengan ramah, Tito pun membalas sapaan mereka.
"Nunggu siapa, Pak Tito? Gebetan baru ya," Salah seorang karyawati menyapanya.
"Tau aja sih," jawab Tito dengan senyum ramah.
"Siapa lagi pacar Pak Tito yang baru," tanya seorang karyawan lagi, yang berjalan di belakangnya.
Tito kali ini tak menjawab dia hanya tersenyum lalu memandangi arlojinya. Aluna lama tak jua keluar.
Adrian juga belum keluar. Dia menyibak tirai di ruangannya, bibirnya miring, wajahnya sinis ketika melihat bawahannya itu benar-benar menunggu Alina di parkiran.
"Rosa, tolong kamu suruh Luna buatkan aku kopi, aku ingin lembur hari ini. Dan suruh dia membereskan rak buku di ruangan ku."
"Tapi Pak, kenapa gadis itu? kata temannya dia kurang enak badan."
"Rosa kamu tidak usah protes, aku lebih tau semuanya."
"Baik Pak."
'makin aneh, kenapa seorang CEO harus mengurusi kinerja OG kan masih ada kepala OG yang akan mengarahkan pekerjaannya.
Aluna akhirnya datang, walaupun pandangannya tak begitu bagus dia akan hati hati saat bekerja.
Tito mulai tak sabar dia mulai bertanya pada Nina dan Reno yang juga menuju parkir.
"Aluna ada pekerjaan tambahan, Pak Tito. Dia masih lama. Pak Adrian sendiri yang memberi tugas tambahan."
"Kenapa hanya Aluna? Kok kalian enggak?"
Dua sahabat Luna hanya mengendikkan bahunya. Tadinya Nina sudah meminta untuk menggantikan Luna, tapi Rosa malah marah karena Nina dianggap tak patuh pada atasan.
"Baiklah, aku akan membelikan dia kacamata terlebih dulu. Dasar Bos gak ada akhlak, orang lagi sakit malah disuruh lembur." gerutu Tito yang mulai membuka pintu mobil lalu masih di depan kemudi dan menutupnya dengan kesal.
Tito menuju toko optik, dia membelikan kacamata untuk Luna sambil membawa pecahan kacamata yang lama. Penjaga optik langsung tau jenis kaca mata yang dibutuhkan oleh Tito.
"Em, aku mau yang agak kecil dan pas, jangan kebesaran. Ini nanti yang pake cewek ya, Mbak."
"Ada macam-macam Pak, semakin cantik harganya akan semakin mahal, teman bapak bisa juga pake softlens, jadi tak perlu pake kaca mata lagi."
"Em, kacamata aja dulu. Kalau softlens takutnya dia nggak hati-hati pakai nya nanti."
"Iya Pak."
Penjaga toko optik langsung membungkus kacamata cantik pilihan Tito dan menyerahkan pada pelanggan tampannya yang sedang menunggu dengan tak sabar. Lelaki itu segera kembali ke kantor untuk memberikan pada Aluna.
Tito harus menemui Aluna dan kembali masuk perusahaan, naik lift menuju lantai teratas.
Sedangkan Aluna sibuk menata buku yang masih rapi. "Pak sepertinya tugas saya sudah selesai. Apa saya sudah boleh pulang? Kaca mata saya pecah jika tak pakai alat bantu, penglihatan saya sangat buruk," keluh Aluna.
__ADS_1
Adrian kembali berdiri melihat ke jendela, dia kecewa masih ada mobil Tito disana. Adrian segera menghampiri Aluna dan memberikan sebuah berkas. "Rapikan berkas ini, dan urutkan sesuai tanggal pembuatannya."
"Pak, tapi saya …."
"Stop membantah." Adrian mengangkat telapak tangannya, Aluna yang sudah membuka mulut, kembali mengalihkan tatapan pada kertas-kertas di depannya.
Terlalu dipaksa membuat mata Aluna jadi perih. Aluna putus asa, dia akhirnya memberanikan diri membantah. " Pak Rian, saya mohon maaf sebelumnya, jika saya membangkang. ini bukan pekerjaan saya, kenapa anda memaksakan kehendak seperti ini. Apa anda tidak tahu kalau saya mempunyai kekurangan dalam penglihatan."
Brakk!! Adrian menggebrak meja lalu berdiri.
Wajahnya pias giginya terdengar gemeretak menakutkan, jantung Aluna ingin lompat dari sarangnya karena kaget.
"Kamu istri yang keras kepala, apa kamu sengaja ingin berdua dengan lelaki itu hah?" Ucapnya dengan intonasi tinggi.
"Istri? Jadi Pak Rian menganggapku istri? Dan melarang aku dekat dengan pria lain?"
"Bukan itu maksudku, kamu boleh dekat dengan siapapun, tapi jangan satu perusahaan." Adrian berkata dengan gugup.
"Benar karena itu alasannya Pak Rian?" Aluna tadinya berharap Adrian bisa menghargai hubungannya. Tapi nyatanya alasan terbesarnya lagi lagi karena pekerjaan.
"Ya,itu akan merusak kinerja karyawan disini. Apalagi Tito, dia adalah aset berharga perusahaan. Aku tak rela kehilangan karyawan seperti dia."
"Maaf Pak Rian, saya memang tak ada hubungan dengan Pak Tito, dia dekat dengan saya mungkin karena hatinya memang baik, atau kasian karena karena kondisi saya terlalu menyedihkan."
"Bagus kalau tak ada hubungan, Tito bisa bekerja maksimal seperti sebelumnya." Adrian kini mengalihkan pandangannya, dari jendela kaca.
Berjalan mendekati Aluna. "Baiklah kamu boleh pulang sekarang."
"Lun, aku kira kamu lembur di ruangan OG, tapi kenapa dari ruang pak Rian?"
"Iya, aku antarkan minuman dan makanan untuk Bos galak dan sombong itu, sekarang dia sudah mengizinkan aku pulang."
"Syukurlah, kirain Pak Rian godain kamu."
"Tito, kamu ngeledek aku ya?"
Aluna meninju kecil bahu Tito membuat lelaki itu meringis.
Mereka berdua masuk ke lift menuju lantai satu, Tito memanfaatkan momen berdua untuk memberikan barang belanjaannya pada Luna.
Paperbag warna coklat itu ia berikan pada Luna.
"Ni, nunggu lama, jadi aku beli duluan." Tito memberikan barang belanjaannya pada Aluna.
"Apa pak?" Di pegang tas kertas dengan penuh tanda tanya lalu dibuka pelan oleh Aluna.
Dari kotaknya saja Aluna sudah tau itu bungkus kacamata. "Jadi Pak Tito serius belikan kacamata untuk Luna?"
Aluna segera mengeluarkan isinya dan membuka dengan hati hati, terasa sangat ringan dan kecil.
__ADS_1
Aluna terkejut dengan kacamata kecil yang dulu pernah dia inginkan. Tak percaya Kacamata seharga dua juta itu dia dapatkan cuma cuma dari orang yang baru beberapa hari dia kenal.
Pak Tito, ini harganya mahal, Aluna dulu …." Aluna tak jadi melanjutkan ucapannya. Dia hanya bisa membuka mulutnya lebar dan menutup dengan kelima jarinya.
"Ini mahal Pak, Aluna nggak bisa terima dengan cuma-cuma. Maaf." Aluna mengembalikan pemberian Tito, menyodorkan hingga menempel di perutnya.
Tito dengan cepat memegang kedua tangan Luna dan menggenggamnya. Tito tidak mau kalau Luna sampai menolak. "Lun. Ini untuk kamu, kalau kamu tolak lalu siapa yang akan pakai."
Tito membuka kotak dengan cepat, membantu menyelipkan di telinga Luna. Luna hanya bisa pasrah menerima bantuan Tito.
"Bagus Lin, kamu kelihatan cantik," komentar yang keluar dari bibir Tito.
"Iya tapi ini mahal pak Tito. Aku nggak mau merepotkan Bapak."
Tito malah tersenyum sambil menoleh kesamping sesaat lalu menggeleng. "Lun, aku ikhlas, terima aja ya."
Luna akhirnya mengalah."Luna terima Pak, tapi ada syaratnya,"ujar Luna sambil melepas kacamatanya.
"Pakai sarat segala." Pria berjas biru dongker dengan celana warna senada, serta hem putih dengan dasi garis-garis itu takjub dengan Luna yang polos.
Kalau gadis yang sering berkencan dengannya justru dia akan minta banyak barang kesukaannya. Tapi Aluna berbeda.
"Aku mau terima, tapi aku akan membayar dengan mencicil, empat kali gaji gimana?" Senyum mengembang di bibir Aluna.
Pria itu tergelak. "Kamu pikir aku kreditur. Mau terima cicilan dari kamu. Sudah pakai aja, beneran cantik kok."
Adrian yang memakai lift khusus CEO telah tiba satu menit lebih dulu. Disusul Aluna dan Tito dari lift yang lainnya. Mereka bertemu lagi. Namun, tak ada senyum yang terlihat dari kedua pria tampan itu.
Tito tadinya tersenyum dan ingin menyapa. Tapi melihat Adrian yang melempar pandangan serius membuat Tito segera menarik kembali senyumnya.
Aluna yang melihat wajah dingin Adrian menjaga jarak dari Tito. Aluna berada tiga langkah di belakangnya. Kalimat Adrian masih terus terngiang.
'jangan dekati Tito, dia aset berharga perusahaan, karyawan paling kompeten. Tak boleh ada yang menjalin hubungan dengan sesama karyawan.'
"Lun, Bareng aku aja ya?"
"Maaf Pak Tito, ojol langganan saya sudah nungguin."
Pria muda seusia Tito sudah menyalakan motornya didepan gang.
"Gimana sih Lun, mau aku anterin malah sudah hubungi ojol, biar aku batalin dia."
Luna segera menarik lengan Tito dari arah belakang membuat pria itu menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Pak Tito, please jangan batalin, aku nanti akan mampir ke warung rujak Bik Yem yang lewat gang kecil. Jadi mobil nggak bisa lewat. Maaf ya Pak. Nggak maksud menolak." Luna menangkupkan kedua tangannya, berkata dengan hati hati dan pelan.
Tito menarik nafasnya kecewa, lalu mengangguk sambil melipat bibirnya ke dalam. "Okey … nggak masalah manis. Lain kali aja kan masih bisa."
__ADS_1
'Manis? Tito memanggilku seperti itu tadi. Aku pasti salah dengar.'