
Adrian datang ke mansion dengan wajah ceria, sepertinya dia tidak bisa menunggu tujuh hari, dua hari saja jauh dari Aluna dia sudah tak bisa tenang.
Dia membawakan Aluna banyak sekali coklat batangan dengan merk terkenal dan juga se koper peralatan yang entah apa isinya.
Aluna dan Argo beserta koki memasak menyambutnya di depan pintu utama.
Arga mulai membuka pintu mobil untuk CEO dan Adrian keluar dengan wajahnya yang selalu nampak serius.
"Selamat datang Tuan." Argo menyambut dengan bahagia. Seolah semua sedang naik baik saja.
Aluna juga demikian, dia mendekati Adrian. lelaki tampan itu segera merengkuh tubuh sang istri dan memeluknya. bibirnya mendarat di kening Aluna. "Aku sudah kangen. Bagaimana denganmu."
"Aku juga." jawab Aluna dengan cepat. tentu tak ada jawaban lain selain kata-kata itu.
Adrian terus menggandeng Aluna hingga ruang tamu, bahkan Adrian juga ingin Aluna ada di sebelahnya setiap saat.
Aluna Diam, kedatangan Adrian sama sekali tak membuatnya bahagia. Bayangan Aluna tujuh hari dia baru akan bertemu sosok suami tak jelas itu, tapi sekarang lelaki itu sudah kembali lagi.
"Jangan heran, kenapa aku datang kesini lebih cepat."
"Iya kenapa?" Aluna sang wajah heran sambil duduk di depan kedua kaki Adrian untuk membantu melepaskan sepatunya.
"Aku sudah rindu. Tapi kenapa wajahmu seperti itu, masam. Seharusnya kamu senang aku sudah datang." Adrian juga melepas jas hitam miliknya. hingga tinggal kemeja putih motif garis biru yang terlihat basah oleh keringat.
"Baiklah jika kau tak rindu denganku. buatkan aku kopi saja, aku rindu kopi buatanmu." Adrian tersenyum sambil membelai rambut Aluna. kembali memberi kecupan singkat di keningnya.
Aluna berjalan menuju dapur, dia bingung kenapa lelaki Aneh itu tumben begitu hangat. "Dia pasti kepalanya baru saja selesai kepentok tembok makanya terlihat baik dan kata-katanya terdengar aneh."
Di dapur Argo segera menarik lengan Aluna. Gadis itu seketika menoleh "Nona, aku ingin bicara."
"Argo, apa yang kau lakukan." Aluna membenarkan lengan bajunya yang ke tarik oleh Argo.
"Aku tidak bisa Nona, tolong dipikirkan lagi, Tuan Adrian sudah mulai mencintai anda."
"Terserah kamu, Argo, semua keputusan ada padamu. Aku punya rekaman kita, Go."
Argo terlihat begitu gelisah, sulit sekali meyakinkan Aluna yang sudah punya kemauan. Argo hanya bisa menggaruk kupingnya.
"Apa yang kalian bicarakan?!" Adrian menatap penuh curiga.
"Apa yang kalian rencanakan? Rahasia apa?" Tanya Addrian lagi. Adrian tiba-tiba ada di depan pintu dapur. Pasti dia sudah mendengar sebagian dari obrolan. Aluna dan Argo wajahnya tiba tiba pucat pasi.
"Tidak ada rencana apapun, Argo minta kopi juga." Aluna mencari Alasan sekenanya.
"Apa? Berani sekali? Tidak! Hanya aku yang boleh minum kopi buatan istriku, jika aku mau suruh saja buatkan Koki." Kata-kata Adrian meninggi beberapa oktaf
Aluna dan Argo saling pandang dan tersenyum, senang Adrian tak mendengar obrolan tadi. Aksi pandang memandang mereka berdua pun mampu membuat Adrian cemburu.
"Argo, kenapa kau ada di dapur, tugasmu bukan disini." Adrian tak suka melihat Argo mendekati istrinya.
__ADS_1
"Iya, maaf Tuan, aku belum minum Kopi. Tadi rencananya mau buat sendiri, tapi Nona buatkan untuk anda jadi aku minta sekalian."
"Sudah jangan banyak alasan, kau kuberi tugas untuk menjaga, bukan untuk mendekati, jika aku melihat sedikit saja gelagat aneh, aku akan langsung menurunkan jabatan kamu yang sekarang, menjadi cleaning service."
"Baiklah, Baiklah, aku akan segera pergi. Anda tega sekali." Argo keluar meninggalkan Aluna dan Adrian berdua. Adrian yang masih menyembunyikan telapaknya di dalam saku celana mendekati Aluna. Memeluk pinggang ramping istrinya ketika sudah dekat.
Aluna menyingkirkan tangan Adrian dengan cepat. "Lepaskan!" Tatapan Aluna begitu tajam.
"Kenapa? Aku suamimu," Adrian heran sekaligus kecewa dengan reaksi Aluna yang berlebihan.
"Singkirkan tangan yang penuh dosa itu, bukankah tangan itu yang biasa anda buat untuk mencumbu kekasih anda yang cantik." Aluna tiba-tiba ingat sesuatu. Ya! hubungan gelap Angeline dengan Frengky. Aluna kasihan juga pada Adrian yang dikhianati.
"Apa kau selama ini cemburu?" Bukan menjauh tubuh Adrian malah makin merapat, mendorong Aluna hinggaenempel dengan dapur cantik yang terbuat dari keramik itu.
"Tidak, tapi saya tak suka anda melakukan hal yang sama pada saya, karena saya tak mau menjadi korban kerakusan anda" Aluna menuang air yang sudah mendidih dengan hati hati.
"Lalu apa kau ingin disentuh lelaki seperti apa?" Adrian tak menyerah dia tetap memeluk Aluna dari belakang.
"Seperti Dion?" bisik Adrian di telinga Aluna, "Kau pikir dia lelaki suci. Jika kau ingin tahu tanyakan padaku biar aku jelaskan."
"Sudah, pergilah! Tunggu di depan, saya akan antar kopinya kesana." Aluna tak mau tahu masa lalu Dion. Aluna takut Adrian akan menjelekkan Dion dengan cerita rekayasanya.
Adrian menurut, dia melepaskan pelukannya dan menjauh dari Aluna. Adrian hari ini punya banyak sekali rencana indah yang akan dia lalui bersama Aluna untuk hari ini.
Adrian menyerah, dia akhirnya pergi daripada membuat Aluna makin ilfeel, lelaki pemilik tubuh nyaris sempurna itu mencari keberadaan Argo dan bertanya sesuatu. "Hei kenapa CCTV yang kamu pasang semua tidak aktif?"
"Benarkah, Tuan? maaf aku lupa belum mengaksesnya ke ponsel Anda."
"Tentu semua itu tidak benar, Tuan."
"Bagus." Adrian menepuk punggung Argo.
***
Sore hari langit begitu cerah, matahari mulai menyingsing , tetapi di perkebunan teh, udara tetap sejuk karena oksigen serta nitrogen begitu banyak beredar disekitar.
Argo sudah menyiapkan kuda putih untuk menemani Aluna dan Adrian jalan-jalan keliling bukit sore ini.
Adrian senang dengan kuda pilihan Argo, selain bersih kuda itu juga terlihat cantik.
Aluna memandangi Adrian dan Argo yang sedang mengelus kuda dan mengajaknya bicara.
"Hai Poppy, hari ini aku akan mengajak nyonya jalan-jalan, kau akan aku kenalkan dengan dia, Nyonya sekarang mulai galak.
Aluna sebenarnya sudah lama ingin naik kuda, tapi kenapa yang bisa mengabulkan mompun untuk saat ini justru Adrian.
"Sayang kemarilah." Adrian memanggil Aluna yang ketahuan mengintip di balik jendela.
Aluna mendekat, dia ikut mengelus Poppy. Adrian mengambil rompi, lalu memakaikan pada Aluna. Aluna hanya bisa menurut sambil terus memandang wajah tampan suaminya.
__ADS_1
"Kenapa melihatku seperti itu? Aku tampan ya?"
"Tidak, anda adalah lelaki paling menyebalkan, bisa bisanya bersikap seperti ini pada saya, anda tidak merasa sedang mengkhianati kekasih anda."
"Dia masih kekasih, sedangkan kau istriku, aku sedang ingin bersama istriku, dimana salahku?"
Adrian menatap Aluna dan menangkupkan kedua tangannya di dagu, wajah Aluna seketika mendongak bibir merah itu begitu menggoda. hanya dengan memikirkan saja, mampu menggetarkan seluruh tubuh Adrian.
"Nyaris sempurna Cantik sekali." Adrian menatapnya dengan tatapan sendu dan gairah.
Aluna menarik tangan Adrian dan menghempaskan ke udara, wajahnya berpaling menatap kearah lain.
Adrian tau Aluna marah, atau bahkan membenci dirinya untuk saat ini. tapi Adrian akan berusaha membuat Aluna melupakan semuanya yang dulu dia lalui.
Adrian meminta Aluna naik kuda lebih dahulu, setelah rompi topi dan sepatu boots sudah dia pakai dengan benar. Aluna berhasil naik pelana dengan bantuannya, Adrian menyusul naik di belakang Aluna.
"Poppy kita jalan sekarang. "hyaa, hyaa!" Adrian mengepakkan kakinya sedangkan tangannya memegang tali pengendali kuda. kuda mulai bergerak pelan, jujur Aluna sangat nyaman di posisinya sekarang. Adrian memeluk tubuhnya dengan satu tangan dan tangan yang satunya memegangi horse riding rein di belakang MB
"Apa kau suka jalan jalan kita sore ini." Adrian bertanya dikala kuda sudah berjalan dengan bagus, tidak lambat juga tidak kencang.
"Ya, aku suka."
"Tuan bisakah anda jangan seperti ini, jika kita nantinya tidak mungkin bersama."
"Maksudmu?" tanya Adrian tidak mengerti.
"Jika anda menikahi Angeline, maka aku tetap akan pergi."
"Aku tak akan mengizinkan."
"Kenapa anda egois."
"Aku hanya ingin melakukan sesuai kata hatiku saja."
"Bolehkah saya bertanya sesuatu?"
"Tanyakan saja?"
"Apa Anda berani bersumpah yang membakar mansion itu bukan anak buah anda."
"Bukan, pelakunya masih dicari, dan Mereka sudah mendapatkan beberapa bukti."
"Apa kau akan menerima aku, jika bukan aku pelakunya?"
"Tidak, aku sudah yakin ingin berpisah." kata Aluna dengan cepat. Tapi Adrian malah menanggapi semuanya seolah yang Aluna katakan adalah kata-kata cinta.
Adrian malah mengecup tengkuk Aluna dari belakang, membuat Aluna sedikit geli dan merasakan ada sedikit gelenyar aneh.
"Lelaki menyebalkan." Aluna mengusap tengkuk bekas kecupan Adrian.
__ADS_1
"Jangan terus minta berpisah, tidak baik."