
Satu bulan kemudian, setelah tragedi pembunuhan berencana yang dilakukan Angeline benar-benar mengubah hidup Dion dan Aluna.
Aluna menjadi sering murung dan sedih mengingat anaknya yang tidak berdosa harus pergi ketika usianya baru menginjak dua bulan.
"Embun, Awan, kita hibur bunda ya." kata Dion sambil memeluk kedua anaknya dan mengendong di dada. bocah kecil itu hanya mengangguk, bicara pun belum jelas.
"Anak-anak kamu belum tidur!" Luna mengelus pipi mungil anaknya dan mencium bergantian.
"Kamu masih sedih karena kehilangan adiknya embun dan awan," tanya Dion.
"Aku takut karena pukulan keras Angeline di perutku, membuat aku tidak bisa hamil lagi."
"Tidak apa-apa sayang, sudah ada dua anak kita yang menemani hariku, aku sudah cukup. aku bahagia."
Saat ngobrol, pengasuh Embun dan pengasuh Awan datang.
Tuan anak-anak waktunya untuk mencuci tangan dan kaki, setelah itu dia harus tidur.
"Baiklah, Bi. Segera tidurkan dia, aku ingin saat bangun besok pagi tubuhnya kembali fresh, karena aku dan anak anak akan melakukan perjalanan jauh."
kedua asisten membawa Sunderson kecil. Dion memiliki sebuah rencana indah yang tertunda, dia ingin Luna selalu bahagia.
Setelah mereka tinggal berdua, Dion memeluk Luna dari belakang. mengecup tengkuknya, nafas hangat Dion menerpa leher Luna membuat bulu Roma berdiri.
"Sayang jika ada yang memintamu datang, jangan pernah datang jika tak ada aku di sampingmu."
"Maafkan aku, dia mengancam atas nama ibu."
"Ya, aku tahu istriku adalah bidadari cantik yang memiliki hati selembut sutera, tapi aku tetap tidak mau jika kamu harus terluka, aku aku tak bisa bayangkan jika kamu saat itu jatuh ke jurang dan meninggalkan aku selamanya."
Dion memutar tubuh Luna hingga kini mereka berhadapan, Dion kembali memeluknya dengan erat dan menautkan bibirnya.
"Sayang kamu pasti kecewa, karena aku tidak bisa hamil lagi."
"Aku bilang jangan sedih mengenai hal itu, aku sudah sangat bahagia ada mereka berdua."
"Bukankah kamu ingin anak yang banyak, aku tidak mau membuatmu kecewa, Sayang."
"Tidak, dua saja sudah cukup, mereka nanti akan memberiku cucu yang banyak."
Luna kini memeluk Dion. Dion mengecup puncak kepala Aluna dan menggendongnya ke kamar.
Menidurkan diatas ranjang ukuran besar yang sudah sangat bersih dan rapi.
Dion melepaskan seluruh baju Luna, lalu melepaskan pakaian sendiri, mereka kembali melakukan penyatuan, sebelum tidur lelap dan hari mulai larut.
-
Pagi hari Dion sudah bangun dan membawakan Luna segelas susu kesukaannya, rambutnya basah dan rapi, tapi pagi ini tidak memakai seragam kantor.
"Sayang bangun," bisik Dion di telinga Aluna. Luna menggeliat merasakan bibir basah suaminya mendarat di pipi.
"Sayang sepagi ini kamu sudah rapi dan segar," kata Luna ketika membuka mata.
"iya, amunisi semalam membuat aku sangat segar, terimakasih sudah mengenalkan aku dengan surga dunia," bisik Dion lagi dengan nakal.
Luna mencubit lengan suaminya dengan gemas lalu beranjak dari ranjang. Tapi Dion terus memeliknya. "Sayang aku akan ke kamar mandi, aku akan buang air." kata Luna.
__ADS_1
"Cium dulu."
"Ih, manja."
"Biarin. Semua karena aku cinta."
Sementara Luna di dalam kamar mandi. Dion mengambilkan gaun untuk Luna dan memasukkan ke dalam koper.
Luna yang baru keluar tentu terkejut dengan kelakuan Dion pagi ini.
"Sayang kita kemana?"
"Kita akan jalan-jalan ke Paris, bersama anak-anak, kita akan liburan kesana, apa kamu suka?"
"Paris? menara Eiffel." Luna trrperanjat.
"Iya Sayang, kita akan lihat menara Eiffel, dan kita akan bulan madu disana sepuasnya."
"Kamu suka?"
"Iya aku suka."
***
Luna dan Dion berangkat ke Paris, dia sudah siap terbang pagi ini juga, Beni yang baru saja sembuh mengantarkan ke bandara lalu pulang lagi untuk istirahat, karena Dion tidak mengizinkan untuk bekerja yang berat dulu.
Sampai di Paris Dion bertemu dengan kolega dan sahabatnya di Apartement, mereka merayakan pertemuan rekan bisnisnya di sebuah ballroom. Dion meminta Asisten untuk mengistirahatkan anaknya di kamar apartement.
Rupanya Luna cepat akrab dengan istri sahabat Dion. mereka duduk melingkar di sebuah meja besar dan bercerita banyak hal sambil menikmati hidangan pesta.
Sedangkan kaum lelaki mengadakan meeting malam sebentar di tempat lain dan esoknya mereka akan melupakan pekerjaan untuk beberapa hari menikmati indahnya kota Paris bersama para istri masing-masing.
"Haha Anda berlebihan, Anda juga tampan sekali," jawab Dion membalas memuji lelaki lebih tua yang kini ada di depannya.
"Ya oleh karena itu, aku memiliki banyak istri, Apakah anda tidak ingin menikah lagi? bagaimana kalau menikah dengan putri pertamaku yang masih kuliah? selain cantik dia pasti akan lebih segar."
Dion tertawa. Dalam hatinya berkata," Cantik belum tentu dia masih gadis perawan, lagi pula aku tidak akan pernah menikah lagi seumur hidup selama Luna setia, aku akan setia dengan wanitaku yang lebih cantik dari weanita manapun itu."
Anak gadis relasi Dion terlihat mengedipkan matanya beberapa kali pada Dion, tentu Dion tak membalasnya, wanita yang terlalu agresif tak akan menarik untuk Dion. Dion lebih suka melihat Luna yang selalu nampak anggun dan memiliki wibawa. Tak ada yang menyangka wanita itu dulunya cupu dan pernah di buang oleh mertuanya.
Seorang gadis berpenampilan seksi mendekati Dion dan membungkuk. "Anda sangat tampan, aku terpesona, bisakah anda menemaniku semalam, istri anda tidak akan curiga jika anda beralasan demi bisnis."
"Kenapa anda begitu percaya diri?"tanya Dion.
"Selama ini belum ada yang mampu menolak pesonaku."
"Maaf, aku menolak anda, wanitaku lebih berharga seperti permata, buat apa aku harus mengambil batu kali."
"Baguslah, berarti anda laki laki istimewa, Selamat bersenang-senang dengan istri anda. Semoga kalian langgeng." gadis itu pergi dengan kecewa, dia sesungguhnya jatuh cinta pada Dion di pandangan pertama, dan meminta papanya untuk membujuk Dion, tapi sayangnya lelaki itu hanya memiliki satu cinta untuk Luna.
Sebulan di Paris, Luna dan anak anak nampak bahagia, Dion memperlakukan Luna bagai ratu. Hingga waktu sebulan di Paris berjalan begitu cepat.
Setelah bisnis di paris selesai, Dion juga mengakhiri bulan madunya. Dia pulang kembali menemui keluarga yang sangat di rindukan.
Keluarga besar sudah menjemput di bandara karena teramat rindu yang tak bisa di bendung lagi.
Lasmi dan Nenek ikut serta, tak ketinggalan Jessica danJayden, Adrian dan Nabila, Chela dan Enzo. Dan lucunya perut para istri mereka. yang tadinya masih ramping sekarang sudah pada buncit.
__ADS_1
Luna dan Dion tak henti tertawa bahagia saat gelak canda dari mereka mulai terdengar.
Hanya Luna yang tampak lesu, dia terus saja ingin muntah sepanjang perjalanan pulang.
"Jangan-jangan Mbak Luna sakit?" kata Jessica yang melihat Luna pucat.
"Sakit? tidak, aku hanya merasa mual, tapi aku tidak merasa sakit, tubuhku baik baik saja."
"Yeeeeeeeeeeee, Mbak Luna hamil." pekik Nabila dan Chela.
"Kalian sok tahu. Aku tidak mungkin hamil," bantah Luna.
"Ehm, tidak mungkin hamil bagaimana, kalau kalian disana rajin membuatnya," ujar Nabila.
"Oh, iya biasanya kan ada libur tujuh hari, tapi kemaren aku tak libur sama sekali," aku Dion.
"Mas, jangan buka kartu, malu ah." Luna mencebikkan bibirnya.
"Kalau begitu berarti dugaanku tidak salah. Selamat ya mbak Luna, akhirnya kita berempat hamil bersama."
"Yayaya, Kalian para suami sepertinya harus diberi piala, karena berkat kerja keras kalian sebentar lagi istri anda akan memiliki perut yang besar," kata Nenek ikut berkomentar.
"Nek, Chela takut jelek, dan Suami Chela akan jelalatan."
"Siapa yang berani jelalatan dikala istrinya hamil, ayo ngaku dari sekarang, biar Nenek potong pusakanya." kata Nenek yang membuat nyali para lelaki menciut. "Jangan anggap nenek bercanda ya, ini akan jadi kenyataan."
"Serem banget Nek, aduh bisa nggak gagah lagi donk, lelaki tanpa pusaka hahahaha," canda Adrian yang diiringi gelak tawa sesama kaum lelaki.
"Duh, gak bisa bayangin, gimana jadinya." Enzo juga ikut bicara.
"Makanya jangan pernah main-main dengan wanita lain kalau istri sedang hamil." ujar Chela ketus. Gadis itu merasa paling tidak aman karena Enzo mantan playboy.
***
Di jeruji besi Angeline merasakan hidupnya sangat kelam, dia kehilangan dua kakinya karena tulangnya retak akibat peluru dan harus di amputasi.
Papa Angeline juga mendekam di jeruji karena terlibat kasus penipuan dengan para investor.
Hidup Angeline benar benar suram, penyesalannya tiada berujung, Andai dia tak mengusik hidup Luna pasti semua tak akan terjadi.
Lasmini mendapatkan perawatan intensif dari dokter hingga sakitnya berangsur sembuh. kini dia mulai bisa merawat dirinya sendiri dan kembali beraktifitas dengan baik.
Lasmi ingin bekerja dan mengontrak sebuah rumah. Namun, Dion tak mengizinkan, Dion lebih senang jika Lasmi fokus dengan kesehatan saja. Dion akan lebih tenang jika masa kehamilan keduanya Luna ditemani seorang ibu.
Meski Ibu itu pernah salah jalan, Namun Lasmi kini menunjukkan sayangnya yang sangat besar pada Luna.
TAMAT
Alhamdulilah akhirnya selama lima bulan berakhir sudah cerita ini. Terimakasih untuk Teman-teman atas semua dukungan dari kalian semua.
Jika ada cerita yang tamat ada juga cerita yang baru di rilis, yuk mampir di
*Love With Calon Ipar
*Terlambat menyadari CINTA
*Sekretaris Nakal. (Balas dendam)
__ADS_1
*Menikahi gadis pilihan papa
*Pernikahan Tanpa Cinta.