
Sampai di rumah baru Aluna. Jessica segera turun, kali ini tanpa menunggu jayden membukanya.
Kebetulan keluarga sedang ada di ruang tamu, jadi kedatangan Jessica bisa langsung terlihat dari kaca.
Jessica, kamu kok nggak bawa motor, dan tubuhmu kenapa?" Mama Melani terkejut melihat beberapa kapas putih menempel di tubuh putrinya.
"Tanya saya pada dia, Ma. Kenapa dia tidak hati-hati mengemudikan mobilnya, padahal aku sudah menyalakan lampu sein lho sebelum belok ke parkiran supermarket."
Aluna dan Dion yang sempat membahas lampu sein jadi menoleh bersama.
"Tante, maafkan saya." Jayden membungkuk, meraih dan mencium punggung tangan Melani sebentar lalu melepasnya lagi, setelah Jayden kembali berdiri." Tapi saya tak melihat lampu sein pada motor Jessica nyala Tante, dan mungkin kesalahan saya ada juga sebenarnya, karena waktu itu agak buru-buru, ada pasien yang sedang darurat baru datang, dan Nabila butuh tenaga saya, karena hari libur dokter ahli lainnya sedang libur."
"Menyebalkan, sudah aku duga pasti akan melimpahkan semua kesalahan padaku." gerutu Jessica yang masih bisa didengar oleh anggota keluarga. Jessica akan selalu kekeuh dengan anggapannya.
"Tante, Luna, Dion, sepertinya aku harus ke rumah sakit, Nabila sejak tadi sudah menelepon," pamit Jayden pada keluarga.
Keluarga mengangguk sambil tersenyum ramah. " Silahkan Nak." kata Nenek. Hanya Jessica saja yang acuh tak acuh.
"Cepet sembuh ya, jangan lupa, besok datang ke rumah sakit, aku akan menunggu. Kalau mau sekarang ya malah bagus," ucap Jayden tersenyum sangat manis sambil menepuk pundak Jessica.
Jessica malu membalas senyum Jayden di depan kakak dan kakak iparnya. Gadis itu memilih diam seolah masa bodoh, sedangkan Mama tersenyum mewakili putrinya.
"Dokter, terimakasih ya, sudah mengantar Jessica pulang. Sekaligus mengobati lukanya."
"Sudah seharusnya saya melakukannya Tante," kata Jayden yang mundur beberapa langkah lalu menangkupkan tangannya mohon pamit.
Keluarga mengamati kepergian Jayden, termasuk Nenek. Melani diam-diam membayangkan dokter tampan keturunan bule itu, jadi menantunya. Lelaki yang sopan santun dan baik, Pasti ketampanan wajah dan kecantikan keluarga Sanderson akan terus dapat dilestarikan. Setelah memiliki menantu Aluna yang cantik dan lemah lembut, sudah terbukti dua cucunya memiliki wajah yang cantik dan tampan.
Setelah mobil Jayden tak terlihat mama mulai mengusik anak perawannya.
"Jess, kira kira tipe kamu itu cowok yang gimana sih?"
"Nggak tau, belum kepikiran Ma."
"Pikirin dong Jess, kamu sebentar lagi lulus kuliah kan, masa kamu jomblo terus, syukur syukur kalau mau langsung Nikah."
"Mama, Jessica emang belum tertarik nikah Ma."
__ADS_1
"Na, kayaknya dokter Jayden perhatian sama kamu, dia juga baik, dewasa."
"Paman yang tadi?"
"Hush, dia masih muda, seusia kakakmu, kamu nggak pantas panggil dia paman."
Habis dia ngeselin, sama cerewet persis kayak mama sekarang ini,"ujar Jessica, lalu kabur ke kamar usai mengatakan kalimat skak matt untuk Sang Mama.
***
Hospital
Tok! tok! Ruang kerja Jayden diketuk seorang wanita.
Masuk! kata Jayden tanpa memandang siapa yang datang. Jayden sudah tau itu pasti gadis yang beberapa hari ini selalu mengantar makan siang untuknya.
"Siang Kak, sibuk banget ya?" Tanya gadis yang sudah berdiri di depannya dengan penampilan rapi dan wangi.
"Iya nih, baru sampe soalnya. Kamu bawa makanan lagi." Tanya Jayden yang merasa perutnya masing kenyang.
"Iya, ini aku tadi belajar resep baru, aku pengen Kakak juga mencicipinya, jadi aku putuskan kesini, makan siang sama Kakak."
"Chela, lain kali kamu nggak perlu repot-repot begini, lagian aku tadi udah makan."
"Biasanya Kak Jayden belum makan, ini juga baru jam berapa," tanya Chela sedikit kecewa.
Tadi aku nggak sengaja habis tabrak gadis, untung banget dia nggak kenapa napa Chel, coba kalau dia parah, aku pasti bersalah banget.
"Terus Kaka ajak makan gadis itu?" Tanya Chela.
"Iya, perutnya keroncongan, masa aku diemin." Jawab Jayden Jujur. Tanpa tahu maksud hati Chela beberapa hari ini yang sudah berusaha keras dan begitu baik.
Setahu Jaiden Chela baik beberapa hari ini itu pasti ikatan kerabat yang beberapa minggu ini terjalin, karena Nabila dan Adrian.
Dengan raut kecewa Chela akhirnya beranjak. Jaiden menarik lengan Chela dan menahannya. Jayden tidak mau membuat gadis yang sudah seperti adik itu kecewa.
"Kamu tenang Chela, aku tadi makan cuma sedikit, perutku masih muat kok, kita bisa makan lagi sama-sama." ralat Jaiden
__ADS_1
"Serius Kak?" Wajah Chela langsung berbinar.
"Iya, aku pengen coba masakan baru kamu, apakah keasinan kayak kemaren," canda Jayden.
"Hem, aku yakin kali ini tidak lagi," ujar Chela yakin. Bagaimana tidak yakin, yang memasak tadi bukan Chela tapi bibi yang bekerja di rumahnya. Jadi Chela sudah yakin masakannya pasti akan seenak ekspetasi. Dia tadi juga sempat mencicipi sedikit di rumah.
Chela melakukan semua ini demi mendapat simpati Jayden, karena setahu Chela, Jayden belum punya kekasih dan Chela merasa punya peluang besar untuk mendapatkan lelaki tampan, mapan di depannya.
Jayden membuka jas kebesarannya, lalu menyampirkan pada sandaran kursi yang diduduki, sebelum ke ruang khusus makan bersama Chela.
Kini tinggallah kemeja lengan panjang yang dilipat hingga siku serta celana oxford yang membuat tubuh atletisnya makin membuat mata wanita terpesona. Termasuk mata Chela yang tak mampu lagi untuk berpaling.
Chela membuka rantang berisi masakan capcay yang dikatakan hasil buatannya.
"Hmmm, aromanya aja harum, jadi lapar," puji Jayden berharap Chela tak kecewa dengan sikpnya tadi.
Sabar ya Kak, ambil piring dulu. "Chela berjalan buru buru ke lemari tempat piring tersimpan. Karena tak sabar, Chela nyaris terjatuh karena high heel yang dipakainya lumayan tinggi.
Dengan sigap Jayden menangkap tubuh Chela. Kejadian ini tentu saja membuat Chela semakin nyaman di dekat Jayden.
"Kak, terimakasih," kata Chela malu-malu, senang.
"Kalau tak ada Kakak, pasti aku sudah terjatuh, dan bisa saja kepalaku membentur meja ini. Kata Chela menyentuh sudut meja yang lancip.
"Hati-hati. Aku tak mau kamu terluka." Kata Jayden singkat. Namun, mampu membuat Chela seolah merasakan embusan angin surga.
Jayden menikmati capcay yang dibawakan oleh Chela, dia memakannya dengan lahap karena rasanya memang enak.
"Chela, ini enak banget, sumpah! Kayak capcay langganan ku yang ada di depan rumah sakit ini."
"Makasih. Kalau Kakak Jayden suka, Chela akan lebih giat belajar memasak lagi." Kata Chela yang wajahnya sudah bersemu merah karena mendapat pujian dari lelaki pujaannya.
"Em, Kak Jayden nggak keberatan kan, setiap hari Chela kesini dan kita makan bersama, soalnya satu bulan ke depan, Chela libur kuliah, dan boring aja dirumah gak ada temanya."
"Gimana ya, jadi enak di aku donk, dapat makan gratis setiap hari, sepertinya kalau kamu boring di rumah kan masih ada teman- teman kuliah kamu yang sama. Sama-sama libur, kalian bisa adakan masak bareng, makan bareng pasti seru bangez," kata Jayden memberi saran layaknya seorang Kakak pada Adiknya.
"Kak, tapi aku nyaman sama Kakak." kata Chela sambil meraih jemari Jayden. Gadis yang dianggap adik itu seolah ingin memberitahu perasaann yang sebenarnya. Sayang sekali Jayden yang tidak memiliki perasaan apapun pada Chela terlalu bodoh untuk bisa menyadari maksud baik gadis yang kini di depannya dan menatapnya penuh harapan.
__ADS_1