
"Luna! Luna! Hanya Luna yang kau ingat. Kau sama sekali tak melihat aku yang ada di dekatmu. Dengan mengingat Luna setiap saat kau telah menyakiti hatiku Rian!" Angel naik pitam ketika Adrian menyebut Luna dalam mimpinya.
"Maaf Angeline, aku bermimpi," kata Adrian. Dengan dada sesak.
"Rian bisakah kamu mengerti aku sedikit saja, aku mencintaimu. Aku rela melakukan apapun untukmu, tapi kenapa dengan mudahnya kau berpaling dari wanita itu, apa dia masih terus menggoda dirimu! Kalian sering diam-diam ketemu! sampai bisa bisanya dia hadir di mimpimu?!"
"Diam! Apa yang kulakukan di luar sana, itu terserah aku, kau diam saja. Tak usah pedulikan aku, urus saja selingkuhanmu yang menghamilimu."
"Adrian, aku akan mengadukan semua ini ke papi! Biar sekalian wanita pembawa sial itu dimusnahkan. Supaya tak ada lagi nama nya di dunia ini. Aku benci dia Rian." Angeline terus berbicara tanpa kontrol. Kehamilannya membuat dia sensitif dan mudah marah.
Angeline turun dari ranjang dan hendak ke kamar Papinya malam-malam. Jika itu terjadi laki-laki jahat dan licik itu pasti akan menuruti semua keinginan Angeline yang gila.
"Tunggu, aku ingin bicara, duduklah di dekatku," pinta Adrian, dengan meraih pergelangan Angeline. Adrian harus menurunkan egonya demi keselamatan Aluna. Jika dia berulang kali sudah membuat Aluna terluka, mungkin saat ini waktunya menjadi pelindung bagi Aluna.
Misi Adrian belum dimulai, nasib perusahaan ada di tangan papa Angeline. Adrian belum sempat mengurus lagi.
Beberapa hari ini dia hanya terpuruk dalam kesedihannya sendiri. Setiap saat ingin bertemu Aluna. Meski akhirnya dia yang terluka.
"Itu tadi cuma mimpi, siapa yang bisa menolak mimpi." kata Adrian lemah lembut pada Angeline.
Angeline duduk di sebelah Adrian sambil mengelus perutnya yang mulai membuncit. Adrian tak pernah menyentuh perut itu, setiap kali dia ingat dirinya bukanlah ayah biologis bayi itu.
"Tapi kenapa hanya Aluna, jika itu tadi namaku yang kau panggil, aku pasti akan sangat senang." Angeline menatap Adrian kesal.
"Siapa yang bisa meminta mimpi, aku sudah melupakan dia, percayalah, Aluna sudah bahagia dengan Dion."
"Dion." Lirih Angeline.
Pikiran Angeline mulai melambung tinggi mengingat tentang laki laki itu. Angeline ingat masa dulu saat Dion masih dekat dengannya, tapi sayangnya dia malah selingkuh sama Adrian. Dion saat itu memang baru memulai karirnya. Dia CEO baru di perusahaan yang dibangun dengan kerja kerasnya. Dion terlalu sibuk, Andai dia bersabar, pasti Dion akan menjadi miliknya.
"Kenapa? Ada yang spesial dengan Dion?" tanya Adrian. "Dia lelaki istimewa di mata wanita."
"Tidak, kau paling istimewa." kata Angel.
__ADS_1
Namun di hatinya timbul niat jahat. Jika Adrian terus menyakitinya, dia akan mengambil Dion dari Aluna. Angeline yakin setelah melahirkan dia akan cantik lagi, dan Dion pasti akan bersimpati dengan dirinya. jika dia sayang pada Aluna, gadis dari kasta rendah, apalagi dirinya.
"Tidurlah lagi, maaf aku sudah mengganggu tidurmu." Kata Adrian membelai rambut Angeline.
"Rian sampai kapan kau terus mendiamkan aku seperti ini, setelah menikah kau tak menyentuhku. Jika kau benar-benar ingin melupakan Aluna kenapa tidak kau coba untuk memulai semuanya."
"Maaf Angeline, aku belum bisa hari ini, aku capek, aku akan ke ruang kerja dulu. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."
Adrian yang memakai setelan baju tidur bangkit dari ranjang empuknya dan meninggalkan Angeline di kamar sendiri.
"Lelaki itu pergi menuju ruang kerja yang ada di sebelah kamar.
Sampai di ruang kerja, Adrian duduk di atas kursi goyang, lelaki itu kembali mengingat dan meresapi mimpinya yang bertemu dengan Aluna.
Dalam mimpi itu Aluna semakin cantik, dia tersenyum dan menyapa dirinya di sebuah taman bunga. Saat Adrian mendekat Aluna mengatakan akan pergi, karena lelaki impiannya sebentar lagi akan menjemput. Adrian sedih, dia masih menahan kepergian Aluna, tapi Aluna tetap pergi. Adrian memanggil Aluna berharap Aluna sudi pergi dengannya saja, tapi wanita itu malah menerima uluran tangan Dion dan pergi berdua dengan Dion. Adrian yang tak mau berpisah dengan Aluna, lelaki itu terus memanggil namanya. Hingga tanpa sadar Adrian menyebut nama Luna dengan keras.
Adrian mengambil foto Aluna di laci rahasia. Saat itu dia masih cupu. Memakai kacamata besar dan rambutnya di kuncir ekor kuda. Penampilan yang dulu menurutnya cupu dan kampungan, tapi justru sekarang terlihat lucu dan unik, Adrian tiba- tiba suka saja dengan penampilan Luna yang dahulu.
"Luna, aku sudah merelakan kamu pergi dengan Dion, tapi kenapa aku masih merasakan sakit ini, aku sakit Luna, aku sakit tanpamu … apa ini balasan untukku yang sudah menyakiti hatimu, dulu aku berfikir kalau berpisah denganmu aku akan bahagia dengan banyak wanita di luar sana, atau wanita yang menjadi pilihanku, tapi nyatanya tidak. Jujur sampai saat ini, belum ada yang bisa menggantikan posisi dirimu di hatiku. Luna maafkan aku, mempermainkan amanah orang tuamu, karena kesalahan orang tuaku."
Adrian terus menatap foto Aluna hingga kantuk menghampiri lagi. Adrian tertidur di kursi kerjanya hingga pagi. Sama sekali tak ada pekerjaan kantor yang bisa dikerjakan, sepanjang malam otaknya hanya terisi satu nama yaitu Aluna.
semalam Adrian tidur sambil menggenggam foto Aluna, begitu bangun Adrian segera menyembunyikan lagi.
Pagi hari keluarga Angeline berkumpul di ruang makan, Angeline dan Adrian datang paling belakang. Adrian memasang akting dengan sempurna seolah dia saat ini sudah bisa menerima Angel dan anak di rahimnya itu. Sedangkan Angel memilih merahasiakan mimpi yang semalam dari Papi karena Adrian yang meminta.
"Adrian, berapa banyak uang yang kau butuhkan lagi untuk menstabilkan produksi barang di perusahaan." Kata papibAngel yang suka sok menawari uang.
Tak tahunya kalau sudah lama Papi Angel curang dengan perusahaan Adrian dengan menghentikan pasokan bahan baku kualitas bagus, dan menutup perusahaan lain untuk memasok barang baku ke perusahaan Adrian, hingga produksi perusahaan Adrian menurun drastis belum lagi persaingan pasar yang semakin ketat.
"Aku sudah ada uang, jika aku meminjam, maka hitung saja sebagai hutang." kata Adrian datar.
"Sombong sekali kamu. Dari mana kamu dapat uang lagi, bukankah perusahaan papa kamu yang di luar negeri juga sudah bangkrut."
__ADS_1
Adrian diam saja, perusahan Papa Alex yang lama memang sudah bangkrut, tapi Adrian juga heran darimana papanya mendapat pinjaman hingga dia bisa bangkit lagi dan membangun perusahaan baru yang tidak ada campur tangan lagi dengan papa Angeline.
"Aku hanya tidak ingin terlalu banyak berhutang. Semoga saja aku bisa bangkit dengan keterpurukan ini tanpa tergantung siapapun. dan aku bisa segera melunasi hutang hutangku.
"Ya, coba aja, semoga kamu akan menjadi sukses kembali." Papi Angeline mencibir.
"Pih, sudahlah. Kalau Adrian tidak mau, biarkan saja," kata Angeline memberi dukungan Adrian karena ingin mendapat simpati suaminya.
Papa Angeline menatap Adrian dengan curiga, takut lelaki itu sedang merencanakan sesuatu. Sedangkan Adrian hanya meneguk di depannya lalu pamit pada Angeline dan mama Lasmi.
"Sayang, aku ikut ke kantor!" pinta Angeline dengan manja. Sambil terus menggenggam pergelangan tangan Adrian dengan kedua tangannya.
"Di rumah saja, aku nanti akan meeting ke banyak tempat. Lagian aku khawatir dengan bayi itu akan kenapa napa kalau terlalu sering diajak kemana-mana."
Mendapat perhatian dari Adrian Angeline setuju di rumah saja. Apalagi Lasmi juga sependapat dengan Adrian.
Adrian keluar rumah mewah milik keluarga Angeline, dia mengendarai mobil miliknya. Adrian tak mau memakai mobil papi Angeline atau jasa sopir. Alasannya lebih bebas ketemu siapapun termasuk Arga dan Argo yang masih setia dengannya.
Adrian kembali teringat mimpinya dengan Aluna, mimpi yang sangat nyata dirasa.
"Luna, apakah artinya Luna dan Dion sudah melakukan hubungan suami istri, dan aku tak mungkin bersatu lagi dengan Luna untuk selamanya.
"Kenapa sesakit ini, Tolong buat aku melupakan Aluna, buat bayangan Aluna menjauh dariku, Tuhan. Aku benar benar gila jika ingatanku selalu untuk Aluna."
Membayangkan Aluna dan Dion memadu kasih di ranjang cinta mereka. Adrian semakin remuk, konsentrasinya mengemudi jadi hilang.
"Aku harus bisa, aku pasti bisaaaa."
"Aaaaaaa." Pekik Adrian ketika dia menghindari seorang wanita hamil dan anak kecil menyeberang. Adrian segera membanting setir dan mobilnya menghantam pohon.
Mobil Adrian bagian depan ringsek. Orang yang sedang lalu lalang histeris melihat kejadian na'as itu.
"Luna, maafkan aku." kata Adrian ketika dia merasakan dunianya tiba-tiba gelap.
__ADS_1