Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 130. Dion tak bisa dibohongi.


__ADS_3

Adrian diam, namun hatinya ikut teriris melihat Dion yang hancur. 


Sungguh cintanya pada Luna tak sebanding dengan cinta Dion. Laki-laki itu menerima Aluna tanpa syarat, sedangkan dia baru menerima Luna ketika sudah cantik dan berkarir. 


"Dokter, apa bisa aku melihat calon istriku sekarang? Tolong Dokter izinkan aku melihatnya walau sebentar," pinta Dion lagi.


"Tunggu pasien siuman Tuan, Dokter masih berusaha, jika anda ada di dalam, kami yakin anda akan mengganggu kerja para tim medis, lebih baik waktu manfaatkan waktu untuk berdoa."


Dion seperti tak terima dokter terus melarangnya, tapi Melani berusaha untuk menguatkan hati putranya. 


***


Dion satu satunya orang yang diizinkan masuk karena kondisinya yang tak memungkinkan lagi untuk menunggu. 


Baiklah, satu orang saja boleh masuk untuk menunggu di dalam. Dan segera beritahu kami jika keadaan gawat.


Dion akhirnya masuk, langkahnya pelan, pandangannya fokus pada tubuh yang membujur kaku diatas ranjang pasien.


Hati Dion bagai disayat sembilu, wanita yang beberapa hari ini tersenyum manis untuknya, terkadang berceloteh manja, dan suka sekali mencubit hidung runcingnya, kini dia membujur di pembaringan seperti tak bernyawa. 


"Aluna, sayang." Dion tak kuasa melihat, dia memalingkan wajahnya lalu mengusap air mata yang membanjiri pipi tanpa bisa ditahan. 


"Sayangku, kenapa ini terjadi padamu, kenapa bukan aku saja. Daripada melihatmu seperti ini, aku ikhlas andai bisa menggantikan setiap luka yang kau derita," ujar Dion pelan.


Dion memeluk tubuh Aluna dengan erat. Menangis tergugu hingga paru parunya sesak. "Sayang jika kamu sudah sadar, aku akan menikahimu, kita bawa penghulu kesini. Setelah itu aku akan merawatmu sendiri, kau pasti kuat melewati cobaan ini. Jangan takut aku akan selalu ada di dekatmu, dan setelah ini kupastikan tak ada orang yang bisa lagi memisahkan kita. kita akan hidup bahagia, aku tak sabar kau menyambutku saat pulang kerja, atau kau ikut denganku ke kantor, aku akan semangat bekerja sambil memangku tubuhmu yang ringan itu."


Dion mengecup jemari Aluna yang terdapat alat medis di setiap jari-jarinya. 


Saat Dion kalut dalam kesedihan, dokter datang hendak memeriksa keadaan Aluna.


Dion tak mau menghilangkan kesempatan ini dia dengan suara serak bertanya pada dokter. 


"Dokter, kenapa calon istri saya belum juga membuka matanya? Jika masa kritis sudah dia lewati?" harusnya dia sudah siuman."


Masa kritis memang sudah dia lewati, tapi ada beberapa masa lagi yang harus dia lalui. Luka yang dialami cukup parah, mukjijat tuhan dia bisa selamat dalam kecelakaan ini.


"Dokter apakah saat saya bicara Aluna bisa mendengar suara saya?"

__ADS_1


Tentu bisa, anda bisa berbicara tentang hal yang menyenangkan, biar pasien akan merespon setiap hal positif dari anda. 


"Syukurlah, Dokter. aku bahagia mendengarnya." Dion terlalu bahagia. Dokter tak mau nanti dia akan kecewa dengan kenyataan yang dialami kalau Aluna butuh waktu untuk kembali seperti sedia kala. 


"Tapi untuk sementara dia butuh perawatan ekstra, Anda sebagai calon suami harus sabar merawatnya. Kesabaran dan keikhlasan juga pemicu kesembuhan pasien."


Dion terkejut, tapi dia sudah berjanji apapun kondisi Luna dia akan menikahi dan merawatnya. 


Dokter dan satu perawat dibelakangnya mulai melakukan pemeriksaan, lewat alat yang berjejer di ruangan VVIP itu. Perawat wanita mulai memeriksa suhu tubuh dan detak jantung Aluna. 


Meski perkembangan cenderung belum terlihat tapi masa kritis sudah berlalu. 


Dion kembali duduk di kursi pendek yang ada di dekat ranjang pasien. Dion terus memggenggam jemari Aluna. 


Setelah Dokter dan perawat selesai memeriksa, Dokter kembali pamit. Dion hanya mengangguk dan tersenyum kecil. Lalu kembali mengajak Aluna berbicara. 


"Kamu dengar kan Sayang, Dokter bilang kamu akan sembuh, tidak apa apa harus memakai kursi roda, aku akan mendorong kemana yang kau minta, kau tetap bisa keliling taman, menggendong Gemoy dan Swissy, Swissy itu kekasih Gemoy mungkin sekarang dia sudah menikah. Biarlah dia menikah lebih dulu, nanti kita nyusil. Kau juga bisa ke mall, ke kantor. Jangan khawatir ya? Aku akan selalu bersamamu." Dion mengecup lagi jemari Aluna sambil terus menangis. 


Dion tak peduli apa pun yang orang katakan tentang dirinya yang sekarang. Dion memang cengeng jika Aluna yang terluka.


Adrian sama terlukanya dengan Dion, hanya saja dia tidak lagi berharap memiliki Aluna. melihat cinta Dion yang besar rasanya Aluna memang ditakdirkan untuk dia


***


Dua hari Dion tak keluar dari ruang rawat, dia bahkan tak mengijinkan Adrian untuk masuk. Dua hari pula Dion hanya minum air putih. Dion meminta Reihan dan Diva untuk menghandle pekerjaan yang ada untuk sementara waktu.


"Luna ayo bangun sayang, aku berjanji tak akan makan walau sesuap sebelum kau siuman. Aku tak akan membiarkan kau berjuang sendirian. Aku akan menemanimu merasakan lapar." Dion membeo dalam ruangan sunyi.


Aluna mulai menggerakkan jemarinya. Bulir kristal merembes dari sudut mata. Dion terkejut, bahagia dan gugup bercampur jadi satu. 


Dion segera memencet tombol darurat dalam hitungan detik perawat dan dokter langsung datang.


"Dokter! Suster! Aluna sudah siuman, dia menggerakkan jari dan kelopak matanya. Dia peluk tubuh hangat Aluna dan dia banjiri keningnya dengan kecupan. 


Dokter dan suster salut dengan Dion yang begitu mencintai kekasihnya, selama berulang kali memeriksa Aluna, Dion selalu stay di tempat. 


Awal datang dia terlihat masih sangat tampan, tapi hari ini bajunya kusut rambutnya berantakan, tubuhnya terlihat sekali gemetar, Dion seperti sengaja menyiksa diri. 

__ADS_1


 


Suster yang melihat, memperingatkan Dion supaya meninggalkan sebentar untuk makan, suster bersedia menunggu. Tapi Dion menolak beranjak. Akhirnya suster menyerah. 


Aluna membuka kelopak matanya,  dia melihat Dion tepat di dekat wajahnya, yang berjarak hanya satu jengkal. 


"Sayang." Panggil Dion. Senyum mengembang di bibir lelaki dengan kantung mata tebal dan wajah kusut.


Aluna memandang Dion dengan tatapan iba. Aluna sudah membuat lelaki itu menderita, meski belum menjadi suami. 


Aluna merasa kehadirannya hanya akan membuat beban hidup untuk Dion saja.


"Sayang akhirnya kau kembali, jangan terlalu lama jika tidur, aku rindu, aku kangen." Lirih Dion di dekat telinga Aluna dengan suara manja. 


"Anda perawat disini?" Tanya Aluna seperti orang bodoh, meski hatinya sendiri terluka mengucap kalimat itu. "Terimakasih sudah merawatku dengan baik." Imbuh Luna lagi pelan.


Semua yang ada di ruang itu ikut terkejut. Mereka mengira Aluna benar-benar Amnesia.


Sayang, kita sepasang kekasih, aku calon suami kamu? Kita akan menikah hari ini juga seperti janjiku. Setelah kau siuman aku akan menikahimu, aku sendiri yang akan merawatmu. Kenapa kau malah tidak mengingatku. 


"Aku tidak ingat anda, maaf!" Aluna berkata sambil menahan tangisnya. Dion langsung lemas dan menghempaskan tubuhnya di kursi.


'Pak Dion maafkan aku, aku hanya akan menjadi beban di hidup anda, aku hanya merepotkan saja, biarlah saat ini anda terluka sebentar. Tapi nanti akan bahagia dengan wanita yang sempurna.'


"Dokter kenapa dia mengira aku seorang perawat. Apa aku ini terlihat seperti perawat? Bagaimana Luna ku tidak ingat aku lagi?"


Bersabar Pak Dion, mungkin ini hanya sementara, berdasarkan hasil pemeriksaan seharusnya dia tidak lupa ingatan, karena luka di kepalanya tidak sampai merusak jaringan yang ada di otak.


Dion kembali berdiri dan mendekatkan wajahnya. Dion tahu Aluna saat ini sedang menahan tangis, diaenyembunyikan sesuatu.


"Kau ingin membuat aku pergi karena keadaanmu yang sekarang, kau merasa tidak pantas untuk dicintai karena sedang sakit. Jangan pernah bermimpi, aku akan selalu ada di dekatmu entah suka atau tidak." Kata Dion yang langsung bisa menyimpulkan Aluna pura pura Amnesia untuk membuatnya supaya meninggalkannya.


"Aku berjanji demi apapun yang aku miliki saat ini, aku tak akan meninggalkanmu, melepaskanmu, selama nyawa ini masih melekat dalam raga. Mengerti !!"


"Tuan, sabar! Jika pasien tidak mengenali anda, ini bisa saja terjadi, berilah waktu kita memeriksa sekali lagi." Dokter geram dengan Dion yang gegabah.


"Silahkan Dokter." Dion mundur sebentar membiarkan dokter memeriksa kondisi Luna lebih teliti. tapi Dion yakin Aluna tidak lupa ingatan. Dion tahu siapa Aluna. wanita yang selalu menganggap tak pantas dengannya karena hanya berasal dari kasta rendah.

__ADS_1


__ADS_2