
"Sakit Pak, jangan." Aluna merintih kesakitan ketika pergelangan tangan dan kakinya sama-sama tak bisa bergerak oleh kekangan tubuh kokoh Adrian.
"Sebaiknya kau diam. Aku menyayangimu, Luna. Kenapa kau justru ingin pergi dariku, perasaan yang ku miliki padamu justru lebih besar daripada cintaku untuk Angeline."
"Ini bukan cinta pak, percayalah, kau hanya bernafsu ingin memilikiku." Aluna terus meronta hingga dari sudut netra banjir air mata.
"Maafkan aku Luna, aku tak bisa melepasmu dimiliki oleh orang lain."
"Kau tidak pernah mencintaiku, kau hanya ingin menghukumku," sarkas Aluna yang tak bisa menahan emosinya.
Aluna terus meronta, begitu satu tangannya terlepas Aluna segera melayangkan tamparan keras dipipi Adrian.
Plak! plak!
"Luna, kau!" Adrian memegangi pipinya yang memanas, pasti sekarang sedang memerah.
Adrian merasa Aluna makin berani, Dia langsung saja kembali menyerbu bibir Aluna dengan kasar, hingga Aluna kini merasakan bibirnya lebih tebal dan perih.
Adrian lebih tenang Bibi telah menghentikan aksinya mengetuk pintu, kini Adrian berlahan mulai membuka resleting depan Aluna.
Aluna menahan tangan Adrian. "Kumohon jangan."
Tiba-tiba pintu terbuka penuh. Adrian dan Aluna sama-sama terkejut.
Adrian bangkit dan segera meraih kemejanya lalu mengenakan asal saja. "Kau! Lelaki tak tau malu." Adrian menatap kehadiran lelaki dari arah pintu dengan wajah sinis.
Aluna ikut bangkit dan merapikan kembali bajunya. Sebenarnya hari ini dia benar benar sedang datang bulan, sedangkan kemarin saat di kastil, hanya akal akalan Aluna saja. Andaikan Adrian meminta haknya, pasti hanya kecewa yang dia dapatkan.
"Kau yang harusnya malu memaksa wanita untuk melayani dirimu di saat dia sedang tak mau. Lelaki Macam apa seperti itu, cih? Dion berdecih. Sengaja membuat Adrian tak punya muka.
"Kau yang tak punya muka, bisa-bisanya kau mengganggu suami istri yang akan memadu kasih." Adrian membalas ejekan Dion.
Seketika kamar sempit itu mendadak menjadi sesak, Adrian dan Dion sedang bersitegang, siap untuk baku hantam. Adrian terlihat paling marah.
Arga dan Beni siap maju untuk menyerang, berusaha melindungi bos masing masing, tapi isyarat tangan Adrian membuat mereka kembali ditempat dan hanya siaga.
__ADS_1
Aluna memejamkan matanya, bersyukur kejadian na'as itu tidak terjadi. Bibi segera mendekat dan memeluknya. "Nona untung Tuan Dion datang dan segera mendobrak pintu."
Aluna yang duduk di tepi ranjang mengangguk, sambil memeluk Bibi hingga kepalanya kini menempel ketat di perut wanita setengah baya yang berdiri di depannya.
Adrian dan Dion saling melempar tatapan tajam. Dia sudah siap untuk baku hantam. Adrian tak bisa lagi menahan diri untuk membiarkan Dion ikut campur urusan pribadinya.
"Kau harusnya malu, Luna tidak mencintaimu, Dia ingin bebas darimu. Dasar lelaki serakah."
"Apa yang kau katakan? Luna dulu tidak seperti itu, dia bersikap demikian pasti karena kau yang mempengaruhinya. Kau yang membantu dia untuk melawanku."
Dion kembali tersenyum sinis, memancing emosi Adrian lebih meletup-letup lagi.
Adrian yang dilanda emosi mengangkat kursi rias, siap untuk memukulkan di kepala Dion.
Dion berusaha untuk tenang menghadapi Adrian. Dia tak mau aksinya mengundang penasaran warga di sekitar komplek.
"Jangan lakukan ini, sampai kau melukai Pak Dion, aku akan membenci anda seumur hidup." Luna berusaha menjadi penengah.
"Kau membela lelaki itu?" Telunjuk Adrian menuding pada Dion. "Lelaki itu sudah lama ingin menghancurkan hubungan kita, kau tahu dia hanyalah pecundang, beraninya cuma menggoda istri orang."
Dion tak terima terus dituding menjadi pemicu keretakan hubungan Adrian dan Aluna."Luna kau tentu bisa bedakan, siapa yang harus kau sayangi, aku atau Adrian. Lelaki lemah yang tak berani menunjukkan hubungan kalian di depan umum. Jika cintanya padamu tulus, dia setidaknya akan bangga memilikimu, dan memberitahu pada dunia kalau kau adalah miliknya."
Luna kembali membenarkan Dion. "Pak Dion anda memang benar, Pak Rian tidak pernah mempublikasikan hubungan kami."
"Luna, aku lakukan semua itu karena aku tak ingin kau dalam bahaya. Tolong mengertilah maksudku."
"Apa yang dia katakan itu seperti seorang pecundang, sudah tugas lelaki untuk melindungi istrinya, bukan malah menyembunyikannya seperti penculik." Dion kembali memiliki umpan untuk mengejek Adrian.
"Bedebah!" Adrian meraih kerah Dion dan melayangkan tinjunya, tiba-tiba Aluna menghadang dan pukulan Adrian mengenai hidung Aluna hingga mimisan.
"Aaaa." Luna memekik kesakitan.
"Luna apa yang kau lakukan." Adrian segera menarik tangannya dan memeluk. Aluna yang terhuyung.
Aluna meronta tak mau disentuh Adrian, dia benci Adrian yang suka main kekerasan.
__ADS_1
"Luna, harusnya ka tidak perlu melakukannya, biarkan saja dia memukulku."
"Tidak Pak, anda tidak bersalah."
"Luna, kau harus segera dibawa ke rumah sakit, bagaimana kalau tulang hidungmu patah." Dion sangat khawatir.
Darah segar tak mau berhenti keluar dari lubang hidung Aluna. Kini Dion dan Adrian sesaat melupakan kalau sedang marahan. Dia segera membawa Aluna ke rumah sakit.
Sebelum berangkat mereka juga kembali berdebat, Adrian dan Dion memperebutkan Aluna supaya naik mobil mereka.
"Arga buka pintunya." Perintah Adrian pada asistennya.
"Siap Bos." Jawab Arga.
"Beni, Aluna harus kita bawa ke spesialis THT, cepat nyalakan mobilnya." Perintah Dion.
"Siap Pak." Beni juga dengan langkah gegas membuka pintu penumpang.
Adrian dan Dion kembali saling menatap. Adrian berbicara lebih dulu. "Aluna akan naik mobilku, mobilku lebih nyaman dibandingkan mobilmu."
Dion tak terima Adrian berbicara merendahkan dirinya. "Apa yang kau katakan, Aluna sudah sering naik mobilku, dia tidak pernah mengeluh, mobilku juga tak kalah nyaman," bantah Dion sambil menggandeng Aluna.
"Jadi Nona naik mobil siapa?" Bibi bertanya pada dua pria.
"Mobilku saja lebih bagus, cepat!" Adrian menggandeng Luna masuk ke mobilnya.
Dion keberatan. "Aku tidak setuju. Dion menggamit lengan Aluna yang sebelah lagi.
"Aa … kalian teruskan saja bertengkar seperti itu, aku akan pergi kerumah sakit sendiri dengan naik angkot."
Aluna berkata dengan nada marah, sudah menahan sakit, masih dibuat pusing dengan kelakuan dua pemuda di depannya yang makin lama makin membuat kesal. Mereka tak mengerti kalau kelakuannya sudah seperti anak kecil. Tak mencerminkan seorang CEO sama sekali.
"Luna kalau gitu kamu putuskan saja, kamu pilih mobil siapa?"
"Aku memilih naik angkot saja," jawab Luna sambil menahan sakit.
__ADS_1
"Baiklah Luna, Aku mengalah, kamu naik mobil Adrian, jangan naik angkot please." Dion memohon agar Aluna mengurungkan niatnya. Dion tidak tega kalau Aluna naik mobil yang panas tanpa pintu itu.
"Baiklah, Pak Dion. Terima kasih sudah mengalah dengan lelaki tak punya perasaan seperti dia, tapi aku mau naik mobil Pak Dion saja." kata Aluna sambil menatap Adrian dengan kesal. Adrian paham, Aluna pantas marah dengannya setelah kelakuannya baru saja terjadi.