
Selesai makan malam Aluna sangat puas, dia mengelus perutnya berkali-kali.
Dion menuang air mineral ke dalam gelas untuk Aluna, Aluna menerima dan meneguk habis.
Dion lalu duduk di depan Aluna. Tak pernah bosan menatap wajah ayu yang berhasil menjerat hatinya itu.
Aluna menatap wajah suami tampannya, "Terimakasih nasi goreng spesialnya, lain kali kalau aku mau lagi apa masih bersedia membuatkan yang seperti tadi."
"Sehari sepuluh kali, tetap akan aku buatkan," kata Adrian bahagia, tetapi juga khawatir.
"Apa makanan tadi yakin tidak akan membuatmu sakit perut? Itu tadi rasanya aneh banget lho" Tanya Dion.
"Tidak, aku suka sekali," jawab Aluna.
"Tapi tadi tidak enak, kenapa kau bisa senikmat itu saat memakannya. apa ada yang aneh dengan perut ini." Dion mengelus perut Aluna, khawatir mulas atau bahkan lebih buruk lagi dari sekedar mulas, diare misalnya, Dion masih tak percaya dengan cara kerja lidah dan perut Aluna.
"Sayang, istirahat, kau pasti sangat mengantuk. Apa saja yang kau lakukan tadi disana?" Tanya Dion lagi.
"Aku tidak melakukan apa-apa, ada dokter Nabila, dia yang banyak bekerja. Dan Dokter Nabila kelihatannya tertarik sama Mas Adrian. Kata Aluna sambil berjalan menuju ranjang.
Usai makan Aluna tidak langsung tidur, dia bersandar dengan sisi ranjang, moment seperti ini yang menjadi kebahagiaan tersendiri untuk Aluna dan Dion.
Dion melingkarkan tangannya di pinggang Aluna dengan kakinya berselonjoran, sedangkan Aluna menempelkan kepalanya di dada Dion sambil meraba dada yang berbentuk kotak kotak dan keras itu. Aluna juga suka sekali dengan bulu kasar di dagu dan bulu halus di dada Dion. Memainkannya menjadi kebahagiaan tersendiri buat Aluna.
"Sayang! tadi aku sendiri yang makan nasi gorengnya, apa kamu nggak lapar?" Aluna mengkhawatirkan Dion. Lelaki itu belum terlihat makan apapun sejak tadi
"Nggak, sudah minum susu dan ada Mbak Ambar juga masak banyak. Aku hanya ingin makan kamu sekarang, Tiger sudah kembali berenergi, dia sudah olahraga seharian dan banyak makan telur ayam." kata Dion menggoda istrinya.
Aluna malu Dion mengatakan demikian, Memang suaminya itu bibirnya kadang suka lepas kontrol. "Tiger memang selalu seperti itu, karena kamu mesum." Aluna mencubit dada Dion.
"Jika masih lapar katakan saja, aku akan mengambilkan yang kau inginkan? Aku akan melayani ratuku dan membuatnya selalu bahagia jika dia sedang ada di dekatku."
Luna mengelus pipi suaminya menatapnya dengan tatapan penuh cinta. "Jika aku ratu, berarti kau raja, aku juga siap mengabulkan semua keinginan raja."
Dion tersenyum lalu mengecup kening, tercium aroma wangi rambut Aluna membuat Dion menempelkan bibirnya sangat lama. "Kalau begitu raja ingin dilayani oleh ratu," bisik Dion.
Tak bisa dipungkiri, malam ini Aluna juga sedang ingin, mereka berdua sudah sama sama kecanduan dengan tubuh satu sama lain.
Dion mulai melepaskan seluruh pakaian yang menjadi penghalang untuk memandangi tubuh istrinya. Malam ini Dion ingin merasakan penyatuan dengan lembut tapi menuntut. Dion bahkan bertanya pada Aluna gaya apa yang diinginkan.
Tak mendapat jawaban dari Aluna justru istrinya malah gemas dengan menggigit moncong kecil di dada Dion.
"Istriku sekarang agresif," bisik Dion.
"Kau yang mengajarinya, kau guru terbaik," kata Aluna malu-malu.
Dion membimbing tangan Aluna agar dia yang melepas apapun yang menghalangi kulitnya. Aluna menurut, dia melepaskan seluruh atribut yang menghalangi tubuh Dion dengan begitu mereka kini sudah sama sama polos.
Dion malam ini ingin melihat sisi liar istri kalemnya ketika diranjang, Dion menarik tubuh Aluna supaya duduk di atasnya dan memanjakan tiger.
Aluna yang sudah diliputi gejolak dia terus memainkan tiger dengan kelembutan yang tiada tara. Erangan dan leng*han terdengar dari bibir Dion. Tak tahan mendapat kenikmatan yang selalu memabukkan Dion memainkan dua bukit yang terayun diatasnya
Aluna makin bergerak dengan Agresif ketika buah peach terus mendapat perlakuan manja.
__ADS_1
Tak lama mereka berdua mencapai klimak. Dion memeluk tubuh Aluna yang rebah di dadanya,hingga tertidur pulas semalaman.
Setelah subuh mereka sempat mengulangi percintaannya sekali lagi, membuat Aluna dan Dion kembali tertidur, padahal seharusnya aLuna kembali ke rumah Adrian.
Begitu bangun Aluna terkejut melihat jam dinding sudah menunjukkan angka tujuh pagi.
"Ya Tuhan, kita kesiangan."
Dion ikut bangun dan sama terkejutnya dengan Aluna. Mereka saling pandang sesaat.
"Telepon dokter Nabila, kalau Adrian mencarimu, katakan kau sedang belanja, akan beres." kata Dion enteng.
Aluna bernafas lega, ide suaminya sepertinya brilian, dan Dion bisa lebih lama bersama Aluna.
Pagi ini banyak ritual romantis yang mereka lakukan, olahraga bersama dan juga mandi bersama.
Aluna pagi ini memasak untuk Dion, Dion juga menemaninya, entah sejak kapan lelaki itu menjadi suka sekali memasak, mungkin karena Luna suka sekali dengan nasi goreng buatannya tadi malam.
Saat memasak bubur sumsum Dion suka sekali menggoda Aluna. Alhasil bubur sum sum yang mereka buat beraroma gosong karena tidak teratur saat mengaduknya.
Dion tetap menyantapnya meski sedikit gosong, dia tidak mau membuat Aluna kecewa. Apalagi pagi tadi Aluna sempat merasakan mual dan muntah saat bangun tidur, Dion menduga Aluna pasti masuk angin karena kecapean.
Dion memangku tubuh Aluna yang pagi ini cuma memakai kemeja Dion yang kebesaran. Pasalnya tadi Dion tak membawakan Aluna ganti saat kekamar mandi.
"Sayang, diamlah disitu, jika kau terus bergerak nanti Tiger bisa marah," canda Dion saat Aluna hendak turun dari pangkuannya.
"Tiger yang pemarah akan jinak setelah makan bubur sumsum," imbuh Aluna sambil menyuapi Dion bubur. Di Pagi hari mereka sudah saling suap-suapan dengan bahagia.
Aluna mendorong dada Dion dan menyembunyikan wajahnya karena malu.
Tanpa diduga ada sosok yang sedang menikmati keromantisan mereka berdua.
Laki laki itu berjalan masuk dari ambang pintu yang tak terkunci, terlihat matanya memerah dan rahangnya mengeras. Amarah dan sakit hati menghancurkan percaya diri sekaligus membunuhnya.
Aluna segera turun dari pangkuan Dion, tanpa ada sepatah kata yang keluar dari bibirnya. Ada banyak penjelasan yang ingin disampaikan, tapi bingung kalimat mana yang harus dikatakan lebih dulu.
yang ingin diucapkan tak satupun yang keluar dari bibirnya.
Sedangkan Dion berdiri mendekati Adrian, ingin rasanya Dion memeluk dan memberinya sebuah ketenangan.
Dion yakin Adrian sudah cukup kuat untuk bisa menerima kenyataan yang dilihat. Tubuhnya tampan tak ada tanda tanda terlihat seperti orang sakit.
Dion memeluk Adrian, mengajak berdamai dari keadaan yang membuat pusing, memeluk pundak sepupunya dan ingin segera menjelaskan yang selama ini belum dia mengerti.
Tapi diluar dugaan Saat Dion mengucapkan kata maaf dan persahabatan, Adrian memukul punggung Dion dengan keras membuat Dion kesakitan, setelah punggung menjadi sasaran, Adrian mendorong Dion hingga terjerembab di lantai, lalu kaki Adrian yang dilengkapi sepatu pantofel itu menginjak perut Dion.
Dion meringis menahan sakit, dia tak melawan takut akan terjadi hal makin buruk jika tangannya sampai khilaf memukul Adrian.
"Sudah !! Hentikan!!"
Aluna ingin mendekat, tapi Adrian mengisyaratkan supaya tetap di tempat.
"Maju satu langkah, akan aku bunuh lelaki ini." Kata Adrian dengan nada emosi, tapi tidak main-main. Lelaki itu mengeluarkan pistol dari sakunya.
__ADS_1
"Adrian, kamu salah paham, yang kamu lihat ini adalah yang benar!!"
"Diam!!"
"Biarkan aku bicara, aku akan menjelaskan." Aluna memohon dan menangkupkan tangannya. Tapi tetap tak berani mendekat karena pistol di tangan Adrian mengarah tepat di kepala Dion.
"Luna pengkhianatan ini menyakitkan bagiku, lebih menyakitkan dari kematian yang sesungguhnya. Aku sudah lama mencium aroma perselingkuhan yang kamu lakukan, tapi aku berusaha tak percaya pada hati yang terus berbisik memberi tahu kebenarannya.Aku berusaha percaya pada istri yang aku cintai, aku berfikir kamu berbeda, tapi nyatanya kamu sama, kamu membuat aku merasakan ini juga Aluna. Kamu membunuh aku berkali kali hingga rasanya lebih sakit dari mati."
Tubuh Aluna merosot di lantai, apa yang dilakukan ternyata berdampak begitu besar, andaikan sejak awal Adrian tahu yang sebenarnya apakah dampaknya akan lebih besar dari ini.
Turunkan pistolnya akan aku beritahu kebenaran yang paling benar. Aku bukan istrimu lagi, kita sudah bercerai dan pengadilan sudah mengabulkan perceraian kita. Angel yang kamu anggap kekasih itu dia adalah istri sah kamu.
Aku melakukan sandiwara ini dan membuat kamu berpikir kita masih suami istri, itu semua demi mengikuti petunjuk dokter. Dokter bilang kamu akan segera sembuh jika bahagia.
Dan aku tidak keberatan membantu kesembuhan lelaki yang sudah menjadi mantan itu meski suamiku awalnya keberatan.
"Aku kira luka itu cepat sembuh dan kau ingat semuanya, tapi ternyata lama, demi rasa kemanusiaan dan mengabulkan keinginan Tante Selena aku terus membantu memberi harapan harapan agar kau kembali ingat semuanya." Aluna menjelaskan dengan rasa sesak di dada.
Adrian memejamkan mata, bulir kristal membasahi pipi, tadinya dia ingin kerja keras dengan membendungnya dengan kelopak, sayang bendungan itu tak kuasa menampung derasnya airmata.
"Jika itu tidak benar, aku ingin semuanya jadi kenyataan, dengan membunuh lelaki ini maka tak akan ada lagi yang bisa menjadi penghalang untuk mendapatkan dirimu. Aku akan memilikimu seutuhnya, kita akan perbarui lagi masa lalu yang buruk."
"Jangan bercanda,aku mohon!"
Tidak ada yang bercanda Aluna, atau mungkin lebih baik aku dan dia mati bersama, kau tak perlu lagi memilih diantara kami, ini sepertinya lebih adil.
"Itu gila Adrian!"
Dion berusaha meronta, tapi perut dan punggungnya sama sama sakit. Akhirnya di sisa-sisa kekuatannya Dion menarik kaki Adrian hingga lelaki itu terjatuh dengan posisi duduk.
Dengan sigap Aluna mengambil pistol yang terlepas dari genggaman Adrian. Aluna menembakkan pelurunya ke luar jendela hingga habis. Aluna lalu menarik Dion menjauh dari Adrian.
Aluna. Terlihat panik dengan Dion yang merasakan nyeri di punggungnya.
Adrian melihat Aluna yang begitu peduli dengan Dion. Dan mengkhawatirkannya, disitu Adrian sadar kalau mungkin saja lelaki itu benar benar Suaminya. Adrian juga pernah berjanji akan percaya dengan apapun yang dikatakan Aluna.
Saat yang sama Adrian mulai teringat dengan segala kejadian yang sempat hilang dari ingatan. Adrian ingat bunyi ketok palu hakim, Adrian ingat dia telah menculik Aluna, Adrian juga ingat di sudah menikah dengan Angel.
"Arggg!" Adrian kesakitan, dia mengeluarkan keringat yang deras dari kening dan pelipisnya. Rasanya dia benci dengan kembalinya ingatan yang hanya akan membuatnya berpisah dengan Aluna.
"Aku ingat semuanya," lirih Adrian
Dion dan Aluna saling pandang. Ada rasa lega mendengar kalimat Adrian baru saja.
Aluna segera bangkit dari bersimpuh, lalu mengambilkan air untuk Adrian. Aluna memberikan satu gelas penuh minuman air putih yang dituang dari teko.
Adrian meneguknya hingga habis, lalu Aluna menarik tangannya dan membimbing Adrian duduk di sofa, Dion juga bangkit dan duduk di sofa yang lain.
Sekarang ada dua laki laki yang berhadapan dan saling membisu, tak tau mulai darimana dia akan berbicara.
Hanya saja Dion tak tega melihat Adrian yang terlihat begitu berat menerima semua ini. Dion kasihan melihat Adrian yang terluka fisik dan juga hati sekaligus.
__ADS_1