
"Ayolah cucuku kamu pasti bisa!" pengemis yang paling tua akhirnya memberi dukungan.
"Baiklah Nek, do'akan Aluna semoga diterima dalam kontes itu." Aluna makin semangat.
"Ya, kami mendukungmu. Kau kelihatannya sangat menderita, hiburlah dirimu siapa tahu itu sebuah jalan yang ditunjukkan Tuhan untukmu."
Para gelandangan itu memberi Aluna dukungan, dan semangat. Aluna segera mencatat Alamat pada sebuah kertas kecil dan memberikan pada tukang becak. "Pak antar aku ke alamat ini, berapa ongkosnya."
"Wah ini lumayan jauh, limapuluh ribu sampai di lokasi."
"Baiklah." Aluna mengeluarkan uang lima puluh ribu. Aluna segera duduk dengan nyaman.
Aluna melihat gerbang sudah ditutup, disitu juga tertulis kalau kuota peserta yang diharapkan sudah penuh, Aluna sangat kecewa. Dia menatap gerbang harapan dengan wajah cemberut.
"Nona, anda sepertinya terlambat. Sayang sekali," kata Abang tukang becak ikut sedih.
Aluna tetap memaksa turun, dia mengetuk pintu gerbang berharap security sudi membuka. Tapi sayang sekali, Security itu sepertinya sudah pergi sejak gerbang di tutup tadi. Atau mungkin dia masih ada di pos, hanya saja malas meladeni wanita tak tahu diri seperti Aluna.
"Sudah jelas pintu ditutup,masih saja memaksa, menggedor-gedor. dia pasti gadis gila." gerutunya lalu kembali menikmati secangkir kopi.
Aluna menempelkan tubuhnya di gerbang, berharap akan ada pimpinan audisi yang terlambat datang, demi sebuah kesempatan, Aluna bersedia akan bersujud di kakinya.
Aluna lelah berdiri, dia sekarang duduk di bawah gerbang sambil memeluk tas kecil, dan kakinya dia tekuk sedikit untuk menyembunyikan tasnya. Berharap ada keajaiban, sambil bersandar, Aluna terus berdoa.
Tiin! Tiin!
Suara clakson bunyi beberapa kali, Aluna segera bangkit dari duduknya.
Gerbang langsung terbuka, dengan tak tahu malu Aluna segera menyerobot masuk sebelum gerbang kembali ditutup.
"Hei Nona, apa yang anda lakukan? Kami sudah tidak bisa menambah peserta lagi." Security tidak suka dengan aksi nekat Aluna yang memaksa masuk.
"Tolonglah saya, Pak, aku ingin sekali gabung menjadi peserta, aku berjanji akan berusaha sebaik mungkin."
"Tapi nona, pendaftaran yang masuk sudah memenuhi kuota." Security mendorong tubuh Aluna supaya keluar gerbang.
Aluna tetap bersi keras ingin masuk. Ternyata Aksi nekat Aluna dilihat oleh seseorang yang baru saja turun dari mobil mewah tadi.
__ADS_1
"Biarkan dia ikut, aku suka dengan semangatnya, siapa tahu dia memiliki keahlian yang selama ini kita harapkan."Lelaki Tampan pemilik wajah oriental itu mengizinkan Aluna ikut dalam ajang pemilihan model berbakat.
"Tapi tuan Enzo dia sudah terlambat datang," security sebal melihat Luna yang tak juga pergi.
"Beri kesempatan untuk dia," kata Enzo dengan aura dingin yang sudah menjadi ciri khasnya. Lelaki itu lalu masuk dan Aluna segera mengekor.
Koper berisi baju di tinggal di depan, Aluna tidak merisaukan perihal baju. Yang penting hari ini dia bisa masuk dan menjadi peserta lomba.
"Tuan! Tuan! Terimakasih." Luna memanggil nama lelaki itu hanya untuk mengucap terimakasih.
Lelaki itu hanya mengangkat telapaknya lalu pergi ke sebuah gedung, sedangkan ratusan peserta mengantri dengan penampilan terbaik mereka di sebuah gedung yang lainnya.
Aluna heran melihat mereka semua memakai baju bagus dan makeup yang tak biasa, Aluna baru tahu kalau gadis metropolitan memang cantik-cantik.
Aluna kini bingung, dia sangat berbeda, bahkan sebagian dari mereka ada yang berbisik mencemooh. "Ini ajang pencarian model kan? Tapi lihatlah gadis yang baru datang itu, dia seperti akan pergi mengamen saja."
Aluna mengamati penampilannya yang memang tak ada feminim feminimnya sama sekali. Jujur Aluna malu dengan keadaan dirinya, sekarang menyesal dia sudah mempermalukan diri sendiri dengan nekat masuk.
Lelaki bernama Enzo yang sempat berpapasan di gerbang tadi rupanya mengamati gerak-gerik Aluna yang gelisah. dari ruang pribadinya.
"Tito, cepat ambil baju di salah satu koleksi kita, antar untuk wanita yang ada di ujung sana, dia sepertinya tidak ada persiapan."
Tito segera mengambil gaun yang paling bagus untuk wanita yang dimaksud bosnya. Setelah memasukkan ke dalam paper bag, Tito segera mengantar pada gadis yang terlihat duduk di pojok dekat pintu.
Aluna terlihat bingung, tadi nekat masuk, sekarang di dalam merasa seperti Upik abu diantara para Cinderela.
Aluna memilih untuk duduk di pojok, agak jauh dari peserta usil, tiba-tiba ada yang mentowel dari belakang.
"Nona, kau diminta bos untuk memakai baju ini, jangan permalukan diri anda."
Aluna menoleh mendengar suara laki laki yang begitu familiar, lelaki itu tengah menyodorkan sesuatu padanya.
"Tito!!"
"Luna!"
"Nggak nyangka kita bertemu disini," Luna terlihat bahagia. dia langsung berdiri.
"Ya, aku senang bertemu denganmu Luna, tapi bukankah kamu sekarang sudah jadi orang kaya. kamu sudah jadi istri bos.
__ADS_1
Luna terlihat kembali sedih, tapi Tito tak ingin Luna demikian, lelaki itu akhirnya meminta luna untuk segera siap-siap.
"Ini baju dari bos, apa kau sudah bertemu dengan dia? Kelihatannya kamu spesial untuknya, Bos yang baru lebih dingin daripada Adrian. tapi dia tertarik dengan keadaanmu"
"Benarkah, ada yang lebih dingin dari Adrian, di dunia ini?" Aluna tak percaya.
"Nggak percaya, nanti kamu akan tahu." jelas Tito panjang lebar. Aluna memeluk paperbag pemberian Tito dan membawanya ke ruang ganti.
Aluna senang dia bertemu dengan Tito setidaknya dia tak sendiri disini.
Aluna segera membersihkan diri, lalu memakai baju pemberian Tito di ruang ganti. Aluna tahu baju itu adalah baju mahal, dilihat dari aksesoris yang menempel saja sudah terlihat bukan barang murah.
Gaun selutut, dengan ekor menjuntai hingga menempel di lantai nyaris satu meter itu mengubah Aluna laksana bidadari dalam sekejab. Mutiara berkilauan ketika terkena cahaya lampu semakin menambah keanggunan wanita malang yang baru kehilangan bayinya itu.
Meski ini bukan pertama kali, Aluna mengagumi dirinya, dia begitu bangga dengan dirinya, yang tak lagi cupu.
Tito sepertinya juga meminta tolong pada make-up Artist untuk merias wajah dan menata rambut Aluna. Kini Aluna terlihat sangat berbeda dengan yang tadi.
Usai mematut dirinya di cermin, Aluna segera bergabung dengan calon peserta. Mereka yang tadi menghina semua terpana dengan Aluna yang baru keluar.
Sekarang sudah cantikpun Aluna masih juga di maki.
"Dapat baju dari mana dia? Kemana baju gembelnya tadi."
"Entahlah, mungkin dia sengaja masuk dengan penampilan sangat buruk supaya kita menghinanya"
"Atau jangan-jangan, dia melakukan kecurangan. Lihatlah, yang dipakai itu gaun diatas lima puluh juta."
"ya, dapat darimana dia? bukankah peserta zidak boleh membawa tas saat masuk, dia pasti juga nggak bisa bawa baju ganti kan.
"Haha, apa iya, dia sudah merayu CEO disini."
"jangan berharap, CEO Enzo dia akan jadi kekasihku."
"Jangan mimpi, kamu model atau artis go internasional saja, belum tentu dia akan melirikmu." sayup-sayup gosip terus berkelanjutan.
"Ehemm." Enzo yang mendengar semua obrolan miring tentang Luna segera berdehem. Mereka semua langsung diam, tak ada satupun yang berani membuka mulut lagi. Begitu juga dengan Aluna. Aluna semakin hati-hati karena ingat ucapan Tito kalau CEO Enzo adalah lelaki yang pemarah dan dingin.
Enzo menatap Aluna sekilas, ada sedikit kekaguman di benaknya. Gadis tadi yang memakai hem kotak dan celana sekarang begitu berkilau diantara banyak berlian. Enzo segera mengalihkan pandangannya begitu Luna memberanikan diri menoleh ke arah lelaki tampan itu.
__ADS_1