
Aluna akan menyuapi Adrian dengan sendok, tapi Adrian mengambil sendok dari tangan Aluna. "Pake tangan, akan lebih terlihat mesranya," kata Adrian.
"Takut ada kumannya," jawab Luna beralasan.
"Tidak, masalah. Asal dari tangan kamu." Adrian membuka mulutnya lebar lalu menerima suap pertama dari Aluna. di suapan kedua Adrian menahan tangan Aluna dengan tangannya, Adrian mengbil sendiri Masindo tangan Aluna dengan bibirnya.
Luna kini tahu kalau para CEO itu sebenarnya manusia biasa yang juga butuh dimanja. Kelihatannya saja galak di depan bawahan dan karyawan. Tapi sebenarnya dia sangat hangat.
"Luna, aku ingin putus dengan Angeline dan memilihmu," kata Adrian yang sanggup membuat Aluna terkejut. Kata 'putus' yang seharusnya dulu adalah hal yang sangat menyenangkan, tapi kini malah menjadi bumerang.
"Jangan, aku tidak masalah kamu dan Angel tetap bersama, bukankah dia kekasih yang sangat kamu sayangi."
"Tapi Luna, aku sudah memiliki istri kamu, aku tak butuh wanita lain."
"Tapi aku mohon, jangan putus dengan Angeline, biarlah dia tetap ada disisimu." Kata Aluna bingung.
"Apa kamu tidak sakit hati, aku duakan seperti itu?"
"Tidak."
"Aneh, wanita akan sedih jika suaminya selingkuh, tapi kamu kenapa tidak sedih, atau jangan jangan kamu sudah tak sayang aku lagi."
"Sayang kok, sudahlah tidak usah bahas masalah aneh-aneh yang terpenting sekarang fokus pada kesehatan saja, aku mau kamu cepat pulih, dan bisa kerja lagi.
"Baiklah, kalau begitu. Aku janji akan mengakhiri hubunganku dengan Angeline ketika sudah sembuh. Biar kamu tidak sedih lagi." Adrian menatap wanita yang ada di depannya hingga malas berkedip.
Aluna makin bingung, tapi setidaknya dia bilang tadi kalau sudah sembuh. Aluna berharap saat sembuh dia sudah ingat semuanya.
Aluna merobek bungkus obat, setelah ke empat pil itu sudah dia buka, Aluna menyodorkan pada Adrian beserta segelas air minum.
Adrian menerima pil pemberian Aluna dengan senang hati seperti anak kecil mendapat hadiah. "Aku tidak suka minum obat, tapi ini kamu yang nyuruh jadi aku akan meminumnya. Demi kamu."
"Jangan demi aku, aku ingin kamu cepat sembuh dan segera pulang. ini demi kesehatan Pak Rian."
"Aku masih ingin sakit, biar dapat perhatian lebih seperti ini." Rian menggenggam jemari Aluna dan mengecupnya. Aluna menarik tangannya tapi Adrian keukeuh mempertahankan.
"Sama suami sendiri kenapa kaku amat." Adrian terkekeh. "mulai besok jangan melakukan kerjaan rumah lagi, aku tidak mau kamu lelah."
"Aku tidak masalah," kata Aluna.
"Itu jadi masalah buatku, Aku ingin kami bahagia." kata Rian lagi. Rian menatap Aluna dengan tatapan yang sejuk, kerinduan jelas sekali terlihat diwajahnya.
Untung Aluna terselamatkan oleh kehadiran Nabila yang mengunjungi pasien, Nabila diberi tugas oleh Kakak Dokter untuk memeriksa perkembangan Adrian.
__ADS_1
"Tuan, apa masih ada keluhan yang serius, misalnya mual atau pusing?" Tanya Nabila.
"Iya, sedikit, Dokter. Tapi semua rasa itu hilang setiap bidadariku ada di dekatku." kata Adrian melirik ke arah Aluna.
Nabila ikut menatap Aluna, Aluna menggeleng yang artinya 'jangan percaya, kita sudah tak ada apa-apa.'
Nabila hanya tersenyum, tapi kenapa dia senang setelah tahu kalau Adrian tak ada hubungan lagi dengan Aluna.
Ponsel Aluna berdering, sepertinya sebuah pesan dari Dion. Aluna bingung, disaat sibuk mencari alasan demi aktingnya sebagai istri Adrian, Dion malah menyuruh Beni untuk menjemput dan meminta makan siang bersama di kantor.
"Sayang aku takut Adrian curiga. Kata Dokter, kita sementara harus bahagiakan hatinya, biar ingatannya cepat pulih, dan sebaliknya jika dia sedih akan makin lama," Pesan balasan dari Aluna. Bukannya mengerti tapi Dion malah meneleponnya.
Aluna pamit pada Nabila dan Adrian, dengan alasan kalau ada telepon dari bibi yang ada di rumah. Aluna keluar. Adrian terus menatap kepergian Luna. Sebenarnya ingin bertanya, tapi Nabila terus mengajaknya bicara.
"Biar saja dia curiga, Honey. Aku suami kamu. Nanti kalau terlalu lama sama dia, kamu jatuh cinta lagi," jawab Dion egois. Tapi masih dalam mode bercanda saat Aluna mengangkat panggilannya.
"Apa! Jangan gila, ini cuma sebuah usaha untuk kesembuhan Adrian, aku tetap mencintaimu." Kata Aluna dengan ekspresi kesal.
"Tapi Beni sekarang sudah di parkiran rumah sakit, kamu terlambat menolak Honey"
Demi keinginan Dion Aluna harus bersandiwara pada Adrian kalau ingin membeli makanan kesukaannya, untung Adrian setuju. Aluna juga memberi kode pada Nabila untuk menemani Adrian.
Nabila setuju, karena baru magang hanya sedikit pasien yang diperiksa, dan kebetulan sudah selesai. Pasien yang masih kronis menjadi tanggung jawab Jayden, Nabila belum berani.
"Iya, Beni." Aluna mengekor di belakang Beni.
Beni lalu mengajak Aluna ke mobil dan membuka pintu penumpang. Setelah Aluna masuk Beni dengan buru-buru mengunci pintu dan segera mengemudikan mobil dengan hati-hati.
Selesai meeting, Dion segera kembali ke kantor, dia menunggu Aluna dengan sabar.
"Tak lupa dengan meminta koki perusahaan untuk memasak masakan yang spesial hari ini, dan segera mengantarkan ke ruangan."
"Koki dengan senang hati melaksanakan perintah bosnya, apalagi Dion juga bukan termasuk atasan yang pelit.
Makanan mewah tersaji di ruang pribadi Dion yang berada satu lantai di atas ruang kerja Dion yang sangat luas, sudah seperti apartment, ada tempat olah raga, renang, makan bahkan tidur. Tapi tak ada yang berani memakai fasilitas itu selain CEO.
Dion segera menyambut Aluna di parkiran mobil. Para karyawan hanya bisa mencuri pandang CEO tampan itu tanpa berani menggoda. Karena mereka tahu lelaki itu sudah memiliki kekasih.
Mobil yang dikemudi Beni berhenti, Dion langsung membuka sendiri pintu untuk istri. "Selamat siang My Honey …."
Beni yang mendengarnya tersenyum, bos Dingin itu bisa juga melawak di siang hari.
Aluna turun setelah Dion mengulurkan tangan untuknya. Dion memeriksa Aluna dari atas hingga bawah.
__ADS_1
"Kenapa liatnya gitu amat?" Alina tak enak diperhatikan intens.
"Takut ada yang kurang, Honey. Aku takut cintamu berkurang."
Aluna menggeleng, lalu tersenyum. "Aku baru di rumah sakit tiga jam, kenapa seperti tak bertemu satu minggu. Kalau ada yang berkurang itu bukan cinta kita, tapi mungkin bobot tubuhku, susut karena memikirkan suami unik seperti anda."
"Maaf Honey, aku tak biasa tanpamu, biasanya setiap saat selalu ada kamu yang menemani, lagian suami mana yang bisa tenang kalau istrinya berdua sama mantan."
"Stop, jangan bilang berdua."
"Ya maksudku, kalian bertemu lagi …."
Terlalu banyak bicara, tak terasa lift sudah berhenti Aluna dan Dion sekarang sudah sampai di penthouse, lantai tertinggi gedung ini, yang menjadi ruang rahasia Dion, sejak ruangan itu jadi Dion belum mengajak satu orangpun masuk kesana.
Dion membuka pintu khusus, Aluna dibuat terkejut dengan ruang itu, selama kerja belum pernah lihat ruangan itu.
Aluna menutup mulutnya ketika melihat isinya. "Ini akan jadi tempat istirahat kita ketika lelah bekerja."
"Sayang, ini sudah seperti apartemen mewah. Aku belum pernah lihat sebelumnya."
Aku memang belum mengajakmu kesini, Honey. Tapi aku berjanji akan mengajakmu kesini. Kita akan kerja sambil honey moon."
Aluna melengos, "ujung ujungnya pasti begituan yang ada dikepala."
Dion menarik wajah istrinya, lalu mengecup bibirnya kilat. "Aku ingin kau hamil, supaya tak ada yang bisa mengambilmu dariku."
"Usia pernikahan kita baru beberapa hari, apa tak terlalu cepat kalau aku hamil." tanya Aluna.
"Tidak, aku sudah siap jadi Papa lahir dan batin."
"Bagaimana kalau Adrian curiga, ketika aku hamil pasti akan muntah dan mual, aku takut ketika ingatannya belum pulih dia malah mengira anak ini anaknya.
"Kamu terlalu takut dengan penyakit Adrian? Atau memang masih sayang?!" Dion kali ini merasa Aluna tak adil padanya. Kenapa mendadak Aluna hanya memikirkan Adrian.
Aluna menggeleng. "Maaf, jika Aku salah." Airmata Aluna mengambang di pelupuk mata.
"Berikan alasan yang masuk akal padaku."
"Adrian tidak bahagia, dia sekarang terpuruk karena aku, jika aku sekarang bahagia, itu karena dia bersedia menceraikan aku. Aku ingin jika aku bahagia, dia juga bahagia." Aluna menunduk. Menitikkan air matanya. "Tapi percayalah, aku sudah tak mencintai dia, cintaku hanya untuk suamiku."
Dion terkejut dengan alasan Aluna. Tadinya dia sulit menerima, tapi Dion yakin cintanya tidak sedang bertepuk sebelah tangan. Dia akan menuruti keinginan Aluna, bukankah cinta selalu ada ujian dan butuh pengorbanan.
"Baiklah, jika itu yang kamu inginkan. Tapi ada syaratnya kamu tidak boleh menolak jika memang ada bayi diperutmu, kapanpun itu, dan kedua hubungan dengan Adrian hanya sampai dia ingat semuanya." Kata Dion lalu masuk ke salah satu ruang di penthouse mahal itu.
__ADS_1
Aluna menghempaskan tubuhnya kasar di sofa. Berusaha menyadari kesalahan yang di perbuat sambil menatap punggung lebar Dion.