Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 202. Kembali berulah.


__ADS_3

"Lepaskan aku, jangan memaksa jika aku tak mau." kata Aluna berusaha terlihat marah. 


"Sayang apa kamu benar benar tak mau melayani suamimu yang akan berangkat bekerja ini." Dion menjauhkan wajahnya yang tadinya menempel dengan wajah Aluna. Dion bisa melihat dada Aluna naik turun karena mengambil nafas. 


Aluna memalingkan wajahnya. Dia belum mau menyerah, dia masih ingin membuat Dion kalang kabut dengan sifatnya yang acuh.


"Aku lagi datang bulan, jangan memintanya sekarang," kata Aluna dengan suara serak. 


"Tidak mungkin, aku hafal kapan tanggal tamu bulanan kamu datang, Honey." Dion tersenyum, karena dia sadar istrinya sedang menipu.


'Oh, jadi dia ingat kapan aku dapat tamu bulanan. Kenapa dia bisa ingat sedetail itu.'


"Honey, please jangan marah, selama kau pergi aku hampir saja gila, aku minta maaf, jika maaf saja tak cukup baiklah lakukan apapun yang kamu inginkan. Pukul saja aku, iya, pukul saja seperti ini." Dion menarik lengan Aluna dan memukulkan ke wajahnya. 


Lelaki itu mirip sekali dengan anak kecil ketika hal satu itu tidak terpenuhi.


"Kamu nggak lagi datang bulan kan?" Tanya Dion lagi. 


Aluna hanya diam, bingung jawab apa, baru bohong sekali saja sudah ketahuan. 


"Maaf aku memang tidak lagi datang bulan, tapi aku …." Aluna menggantung kalimatnya. 


Dion sepertinya tidak bisa memaksa Luna untuk menuruti hasratnya. Baiklah Dion akan bersabar sampai luna kasian dan merayu tiger. Lagian kemarin Dion sudah menang banyak. 


Dion akhirnya melepaskan Aluna, dia melanjutkan aktivitasnya memakai atribut ke kantor. Luna yang sebenarnya sudah dilanda gelora cinta, terpaksa dia harus kembali bangkit dan pergi dari kamar untuk menjauh sesaat dari Dion. 


Rupanya pura-pura marah membuat kedua belah pihak dirugikan, mereka sudah kangen suasana tawa dan canda, serta saat romantis. 


Dion sudah selesai memakai arloji dan sepatu, saat ini dia sedang mematut dirinya di cermin. Sudah sangat tampan, tapi Aluna kenapa masih bisa menolak pesonanya. 


Dion keluar kamar dia melihat Aluna tak ada di meja makan seperti biasa. Kesabaran Dion kembali diuji. Aluna dulu tak pernah menyebalkan seperti hari ini. 


"Luna!" Panggil Dion.


Dion ingin sekali sarapan bersama Luna dengan hasil masakannya. Tapi sayangnya Luna di kamar yang lain dia juga sudah berpakaian rapi dan kelihatan sekali dia juga akan pergi. 


"Luna! Kamu mau kerja lagi jadi sekretaris?"

__ADS_1


"Tidak, aku akan mencari pekerjaan lain, dan aku tidak suka terikat oleh siapapun, aku sudah bosan direndahkan, aku akan membuat usaha yang tidak menjadi bawahan siapapun."


Dion tidak mengerti maksud Luna, usaha apa yang dia inginkan, Dion malah berfikir apakah uang yang dia berikan seratus juta perbulan masih kurang, tapi Dion bahkan tak mendapat notif pesan sekalipun tentang penarikan uang yang dilakukan istrinya itu. 


"Sayang, apa uang yang ditransfer ke rekening kamu masih kurang? Sampai-sampai kamu harus bekerja keras untuk mencari uang."


"Tidak, aku hanya ingin mandiri saja, tidak terlalu bergantung pada laki laki, bagaimana jika aku nanti diusir lagi." 


Dion merasakan hatinya seperti ditaburi garam, perih. Dia tak percaya jika aluna akan terus mengungkit hal itu. 


Dion seketika itu langsung memeluk Aluna dan menjatuhkan tas di tangannya. 


"Aku janji, itu yang pertama dan terakhir, aku tak akan mengeluarkan kata buruk itu lagi, aku janji Honey. Ingatkan aku jika lupa. Aku mengatakan semua itu karena aku gelap mata, aku terlalu cinta, aku cemburu." 


Dion memeluk Aluna erat, batu es besar yang tadinya menjadi penghalang Dion untuk menggapai Luna akhirnya kini perlahan mencair. Aluna diam saja saat Dion memeluknya.


Lama berpelukan akhirnya Dion sadar kalau hari ini dia miliki rencana besar untuk angeline, menangkap wanita ular seperti Angeline harus hati-hati, selain Angeline yang licik dan licin, Angeline juga didukung penuh oleh papinya. Pria yang tak segan menghalalkan segala cara asal putrinya bahagia. 


"Honey aku berangkat dulu."


***


Dion tiba di perusahaan, seperti biasa karyawan sibuk mencari perhatian supaya mendapat lirikan dari bos tampannya. 


"Pagi pak!"


"Pagii." Dion membalas sapaan dari karyawan dengan senyum ramah. 


Reihan dan Diva sudah menunggu di depan ruangan Dion yang masih terkunci, karena CEO belum datang. 


"Pak, yakin anda akan bekerja sama dengan perusahaan Angel Fashion?" Cecar Diva yang tak yakin dengan keputusan Dion. 


"Ya, tanam saham pada Angel Fashion supaya dia bisa meraih keuntungan sebanyak mungkin hasil  karena kerja  kerja sama ini." 


Angel Fashion adalah Alex Fashion yang sudah berubah nama karena kebodohan Adrian. 


Diva dan Reihan hanya saling pandang, bagaimana bisa Dion malah mengambil resiko sebesar itu. Karena Reihan tau Angeline tak akan pernah bisa memegang sebuah perusahaan, karena pada dasarnya dia hanya bisa ngericuh dan menghabiskan uang saja. 

__ADS_1


Dion  menepuk pundak Reihan. "Sudahlah Rey tak usaha kau memikirkan masalah ini, aku ada rencana lain untuk Angeline."


"Jangan bilang anda sudah mulai tertarik dengan dia, Luna lebih segalanya dibandingkan dia." 


Dion tersenyum sambil menggelengkan kepala, bagaimana dia bisa berpaling dengan Luna yang mungkin akhirnya Luna akan meminta berpisah, Saat dia ngambek aja, Dion jungkir balik ingin membuatnya kembali tersenyum. 


Saat di ruang kerja Dion terus menatap Foto Aluna semakin tua usia pernikahan bukan membuatnya jemu, tapi Dion makin tergila-gila dengan istrinya itu.


Dion segera berjalan menuju ruang rapat, hari ini rapat hanya dilakukan berdua saja dengan Angeline. 


Angeline yang mengira Dion lebih  percaya padanya daripada Luna tentang dua lelaki yang membuat gaduh di kos itu. Angeline merasa sudah memenangkan hati Dion. 


Angeline sudah memiliki cita-cita ingin kembali dengan Dion dan merayunya mati-matian seperti dulu.


Jika dulu saja Dion terperangkap, sekarang pasti akan lebih mudah, itu yang dipikirkan Angeline


Sebelum bertemu dengan Dion, Angeline bahkan menyempatkan diri berdandan di sebuah salon ternama. Angeline yakin jika dia terlihat cantik Dion akan kembali tertarik dengannya lagi. 


Angeline sudah datang, dia memakai tanktop putih tanpa tali dan blazer yang sengaja tidak dikancingkan. Sedangkan rok ketat yang dipakai hanya sepanjang satu jengkal. Tak lupa sepatu hak tinggi salin menambah sempurna penampilannya. 


 Angeline datang menuju ruang rapat, Angeline meminta asistennya menunggu di luar, doa tidak mau perhatian Dion terbagi dengan perhatian Rosa.


Dion pura-pura terpana dengan kehadiran Angeline, dia nyaris tak berkedip menatap wanita yang sedang salah tingkah itu, demi kesempurnaan actingnya.


"Angeline, benar itu kami?" kata Dion membuat Angeline semakin berbunga bunga.


"Dion, apa aku banyak berubah, hingga kau mandangin aku seperti itu."


"Kau cantik Angel, aku sampai tak memiliki kata-kata yang pas untuk memberi pujian dengan penampilanmu yang super perveck ini."


"Angeline tersenyum malu-malu sambil menunduk. tak berani menatap Dion yang membuatnya terus melayang karena pujian yang dilontarkan baru saja."


"Angeline duduklah, anggap saja meeting kali ini untuk memperbaiki hubungan kita yang pernah kandas. itupun jika kamu masih suka dan mau sama Aku." kata Dion sambil menggenggam jemari Angeline.


"Sudah aku duga, kamu pasti tidak akan bahagia dengan Luna." wanita itu membiarkan tangannya terus dielus sama Dion. dan tangan satunya menyeret kursi maju, dan menggeser duduknya agar lebih dekat.


"Luna! dia tidak bisa dibandingkan denganmu, kamu paling cantik." Dion terus saja membuat Angeline yakin kalau lelaki itu tak bisa berpaling dari pesonanya.

__ADS_1


__ADS_2