Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 88. Akibat


__ADS_3

"Aku ingin makan dari tangan istriku?"


Adrian meraih jemari Aluna yang belepotan karena dipakai untuk makan tanpa sendok. Lalu meng*lum kelima jari Aluna satu persatu.


"Jangan! Apa yang akan anda lakukan?" Aluna terkejut Adrian melakukan hal aneh itu. 


"Makan dari jari istri pasti akan lebih menyenangkan."


"Jangan manja, anda pasti biasa makan sendiri." Aluna mencuci tangannya lalu mengelap, membersihkan air liurnya Adrian. Aluna lalu mengambil sendok. Siap untuk menyuapi suaminya dengan sendok. 


Adrian mengalah, tak apa-apa Aluna memakai sendok, asal dia malam ini mau menyuapinya. 


"Buka mulutnya!" perintah Aluna ketika tangannya sudah sampai di depan bibir Adrian. 


Adrian menggeleng. Dia malah terus menatap Aluna. Aluna menunduk ditatap demikian oleh suami. Aluna tahu Adrian sudah berubah banyak, dia juga bisa merasakan kalau lelaki itu saat ini berusaha untuk mengisi kekosongan dihatinya.


Aku ingin kau menyuapiku dengan bibir tersenyum, dan katakan dengan suaramu yang lembut seperti kau saat berbicara dengan Dion.


"Darimana anda tahu aku berbicara lembut dengan dia? Sama saja, aku tidak suka berpura pura, ini suaraku asli tak bisa dibuat buat." Aluna kesal sambil mengerucutkan bibirnya. Adrian selalu mempunyai telinga dimanapun dia berada. 


"Ayo buka mulut anda, Tuan!"


"Sayang!" Adrian menyela kata-kata Aluna. "Panggil aku sayang."


Aluna meletakkan kembali sendok nya di piring. Lelaki di depannya sangat menyebalkan. Tapi demi membuat dia tak melakukan hal yang lebih menyebalkan lagi, Aluna menurut. 


"Buka mulutnya." Kali ini ucapan Aluna lebih terdengar lembut. 


Adrian tersenyum, dia membuka mulutnya dan menerima suapan pertama dari tangan kanan, tangan kiri Aluna masih ada di genggaman Adrian. 


"Uhmmm, enak." Adrian mengangkat alisnya ke atas. Aluna tak bisa menahan senyumnya. 


"Masakannya pasti enak, ini koki pilihan anda yang memasak semuanya."


"Masih enak masakanmu sedikit," kata Adrian berbohong.


Aluna tahu kalau mood Adrian sedang baik. Buktinya dia bisa tersenyum dan memuji dirinya, tidak seperti biasanya yang selalu terlihat serius.


Aluna jadi ingin mengutarakan sesuatu yang diinginkan saat ini.

__ADS_1


"Pak Rian! Bolehkah aku minta satu hal?"


"Mintalah, akan aku kabulkan?"


"Serius, terima kasih, anda sangat baik sekali." Aluna terlampau bahagia hingga dia menyuapi lagi bibir Adrian yang masih penuh. 


"Tolong, bebaskan aku, aku tidak mau hidup dalam kastil seperti ini, aku ingin kehidupan normal seperti teman yang lain."


"Jika kamu sudah jinak, aku akan ijinkan kamu tinggal di kota, tapi aku harus membuat Angeline menerima kenyataan agar menerima kamu, aku tidak ingin dia menyakitimu."


"Aku akan jaga diri dan hati-hati." Aluna meyakinkan Adrian. "Katakan pada dia, aku bukan saingannya, dia akan memiliki dirimu seutuhnya," ujar Aluna tanpa membuat Adrian curiga, kalau Aluna sudah menggugat cerai dirinya terlebih dahulu dengan alasan selingkuh.


"Baiklah, terimakasih sudah bisa mengerti keinginanku." Adrian mengelus pipi Aluna yang terdapat lesung pipi. 


"Aku ingin kembali ke kontrakan!" Aluna menatapnya dengan setengah memohon. 


"Baiklah!" Adrian setuju demi menyenangkan hati Aluna. 


Adrian yakin Aluna sudah ada dalam genggaman, dua wanita akan bersamanya melengkapi hidupnya. 


***


"Kenapa?" Frengky urung membidikkan kameranya pada Angeline yang terlihat kacau saat berpose, wajahnya tak lagi berseri seri. 


 


"Aku masuk angin."


"Yang benar? Aku curiga kamu hamil anak kita." 


"Nggak mungkin." Angel menggeleng cepat, meyakinkan Frengki kalau dia malam itu sudah minum pil penunda kehamilan.


"Mungkin aja, waktu itu aku menumpahkan semuanya didalam, bahkan aku juga melakukannya saat kau tertidur pulas.


'Sial.' umpat Angeline dalam hati. Angeline tak mau kalau sampai mengandung benih Frengky, itu artinya kesempatan memiliki lelaki impiannya akan hilang. Adrian adalah hidupnya, dia tak akan bisa hidup tanpa orang yang dia sayangi. 


"Jika kamu mau meninggalkan Adrian aku akan merawatmu dan anak kita penuh kasih sayang, jika tidak, tolong rawat dia dengan baik. Sebenarnya aku juga sangksi dia anak siapa, kamu bukan hanya tidur denganku kan? Bukannya pelayan Bar,  malam itu juga telah menghabiskan malam denganmu." 


"Gue nggak hamil, gue cuma masuk angin, ngertiii!" Angeline mendorong tubuh Frengky saat ke kamar mandi. Lelaki itu oleng dan terduduk di pegangan sofa. Meskipun Angeline menolak bilang hamil, tapi wajahnya terlihat pucat. 

__ADS_1


Di dalam kamar mandi Angeline segera mencuci muka di wastafel. Dia melihat wajahnya di pantulan cermin. "Gue nggak mau hamil, bisa-bisa Adrian akan membatalkan pernikahan ini, tidak! Tidak!"


Frengky yang mendengar Angeline berteriak dia langsung mengetuk pintu kamar mandi keras-keras. "Angel, yakin lho nggak kenapa napa?" 


"Enggak! pergi aja Lo dari sini. Gue nggak butuh Lo sekarang." Kata Angel yang sedang dilanda panik.


"Okey gue pergi tapi setidaknya katakan padaku, kenapa berteriak seperti itu? Apa elo benar-benar hamil?"


"Gue bilang enggak ya enggak, gue nggak mungkin hamil, ngerti lho!?"


Angel terus saja menolak dirinya hamil, Angel memang bukan gadis lugu dia tahu banyak alat penunda kehamilan, pantas saja kalau dia yakin nggak akan hamil.


Angel segera merapikan diri lalu pergi memeriksakan diri ke dokter. Angel tidak mau kalau dia sampai hamil apalagi bayi itu tak jelas siapa bapaknya. 


Angeline mendapat kesempatan baik untuk ke dokter hari ini, dia tidak terlalu takut diketahui oleh siapapun, apalagi Adrian juga sedang pamit ada meeting di luar pulau. 


Sampai di rumah sakit, Angeline segera mencari dokter kepercayaan keluarganya yang sekaligus ahli dalam bidangnya.


Tahu yang datang itu Angeline wanita istimewanya, dokter Hendra segera menyambutnya dengan suka cita. 


"Hai cantik kenapa datang datang cemberut sayang?" Hendra merengkuh tubuh Angeline dan mengecup keningnya. 


"Tolong periksa gue Hendra, kenapa tubuh gue rasanya begini? Jangan jangan gue hamil?"


"Bagus dong kalau hamil? Tinggal aja minta nikah sama cowok elo, kalian kan sudah tunangan? Atau jangan jangan elo selingkuh nie?"


"Hendra duduk di sofa, sambil menarik Angeline ke dalam pangkuannya?"


"Katakan padaku anak siapa itu? Anakku kah?"


"Hendra, jangan ngaku Lo, jelas ini anak gue dengan lelaki yang gue sayangi, mana mungkin elo?" Angelin mendorong kening Hendra hingga lelaki itu mendongak kebelakang. 


Hendra hanya tertawa terkekeh, Angeline memang gadis yang menarik baginya, tapi menikahi dia, Hendra pun berpikir seribu kali. Selain tidur dengannya sudah banyak lelaki lain yang menghabiskan waktu bersamanya. Lagian hubungan gelap mereka juga sudah terjadi beberapa bulan. Sebelum ada Aluna di kehidupan Adrian. 


"Berbaringlah, aku akan memeriksanya." Dokter Hendra mulai menaikkan stetoscope dari leher ke telinga, membuka tiga kancing baju Angeline hingga terpampang dada putih dan indah. Jemari besar dokter Hendra mulai menempelkan alat pendeteksi denyut jantung, menggerakkan pelan-pelan ke dada atas, ke bawah, dan samping kanan, dan kiri. 


"Tensi normal, suhu tubuh juga normal, bagaimana kalau kau benar hamil Angeline?" 


"Apa kamu yakin kalau aku hamil?" Angeline bertanya dengan Hendra. Sekarang dia tak bisa pura-pura tenang lagi seperti saat bersama Frengky.

__ADS_1


"Biar yakin, aku akan mengambil sampel darah dahulu dan periksa urine." Hendra mengambil cawan kecil untuk menampung urine, dia juga mengambil sedikit darah Angeline lewat suntik di bahu, sebelum wanita itu benar-benar masuk ke kamar mandi.  


__ADS_2