
"Iya Pak, Luna pasti bisa." Reyhan mengamati Aluna yang merasa terintimidasi oleh orang orang di depannya.
"Aku bilang jangan paksa Luna, aku tidak bisa memaksakan kehendak kepada orang yang aku sayangi." Menggertak Reihan dan Diva yang tengah pusing.
"Luna, maaf." Diva menjauh dari Luna dan mengintip dari belakang tirai. Reihan mengekor dibelakang Diva.
"Sial, waktu tinggal setengah jam lagi," keluh Reyhan yang melihat Arlojinya berulang kali. Sungguh dia berharap jarum jam berhenti sejenak, dan bumi juga berhenti berputar. Berharap ada kesempatan lebih panjang untuk mencari jalan keluar.
Dion pergi dari ruang kerja para karyawan tanpa sepatah kata, karyawan yang biasanya melihat dengan wajah kagum kini justru hanya takut saja yang diperlihatkan.
Aluna mengekor di belakang Dion karena sekretaris harus selalu ada di sisi CEO. Aluna juga tak berani berkata sepatah kata.
Sampai di ruang kerja, Dion langsung menghempaskan diri di kursi kerjanya. Mengurut keningnya yang mendadak pusing. Mungkin keberuntungan memang ada di pihak Adrian. Dirinya sudah ditakdirkan akan menjadi CEO di bawah pimpinan Adrian Alexander. Tidak masalah, toh dia nanti juga masih bisa merintis usaha lain di luar dari bisnis keluarga.
Aluna tak tega melihat Dion yang begitu putus asa. Dia akhirnya memutuskan untuk keluar ruangan Dion.
Belum sampai benar-benar keluar Dion menghentikan langkahnya. "Mau kemana Luna."
Luna menoleh sebentar. "A-aku keluar, aku akan mekamar mandi."
Oh, iya. Jangan lama-lama Luna, Aku butuh kamu untuk selalu ada di dekatku."
Luna hanya tersenyum, lalu kembali melangkahkan kaki jenjangnya menuju Lift. Aluna kembali pada tim yang sedang diam satu sama lain, menunggu kehancuran acara malam ini.
Adrian dan Angel sedang bersulang di kantornya. Yakin sekali kemenangan ada di pihaknya. Jika Adrian menjadi pemimpin perusahaan keluarga, sudah pasti dia tak akan bergantung lagi pada siapapun dalam menjalankan usaha. Dia akan menjadi orang yang paling disegani dalam keluarga Alexander sekaligus pemegang saham tertinggi.
CEO Dion hanya akan menjadi orang kedua dan memegang tiga puluh persen saham.
Chela dan Selena juga ikut menyaksikan berlangsungnya acara Dion yang nyaris gagal. Penonton sudah mulai sebal menatap panggung kosong. Model yang akan memperagakan busana malam ini tak juga nampak membelah tirai.
"Ma, akhirnya Kak Dion yang diagungkan oleh enek dia akan kalah di pertahanan terakhir." kata Chela yang melihat acara Live di salah satu stasiun TV, dari rumah.
"Itu karena dia curang, siapa suruh mengirim orang untuk menyabotase sepatu Angeline waktu itu." Jawab Selena sambil menikmati cemilan kentang goreng buatan Bi Imah yang krispy dicocol dengan saos.
"Akhirnya, wanita pembawa sial itu pergi, Kak Adrian berhasil tunangan dengan Kak Angeline, dan sekarang pemilik saham tertinggi akan jatuh pada keluarga kita. Kak Rian mang hebat."
"Iya, Angel. Sepertinya kita harus adakan pesta kemenangan ini."
"iya, kasian juga ya Luna, Upik bermimpi jadi Cinderela."
"Mimpi hanya akan sebatas Mimpi Chela. hahaha. Uhuk uhuk." Selena tersedak dengan kentang goreng yang ia makan.
__ADS_1
Chela segera mengambilkan minum. "Hati hati Ma. membicarakan Aluna jadi ketiban sialnya juga kan."
***
Suasana panggung nampak mencekam, cibiran dan hinaan tak terdengar lagi.
Sorot lampu yang tadinya terang benderang tiba-tiba padam.
"Aaaaaaaaa." Sorai penonton karena terkejut ruangan menjadi gelap.
"Apa yang terjadi?" Beberapa orang berkomentar dalam ketidaktahuan. Mereka yang beranjak kembali duduk dengan rapi.
Pembawa acara kembali keluar dengan bahagia. Semoga penampilan model dadakan ini akan menyelamatkan nasib perusahaan.
"Kita saksikan penampilan Model tunggal kita, yang cantik mempesona, dan semoga penampilan perdananya pada malam hari ini akan membuat anda terhibur.
"Kita sambut Aluna Pangastuti!"
Tirai terbuka, Aluna mulai berjalan dengan langkah anggun dan percaya diri. Belum pernah dia bergaya dan berpose seperti hari ini di depan umum, tapi entah kenapa dia seolah melakukannya tanpa beban.
Aluna berjalan maju dengan aura senyum diwajahnya, sesekali dia melambaikan tangan pada penonton. Penonton yang mendapat tatapan tak lepas dari Aluna seketika antusias langsung berdiri dan membalas melambaikan kedua tangannya.
"Aluna Pangastuti, kereeeeen, ILove you." Penonton tampak antusias meneriaki nama Aluna.
"Kereeeeeen, dia sangat cantik, bajunya juga cantik."
"Iya, aku pasti akan memesan gaun seperti itu saat menikah nanti."
"Aku ingin beli dua untuk putri kembar ku." kata seorang ibu yang memiliki dua anak perawan.
Mereka yang melihat penampilan Aluna yang memukau langsung jatuh hati, wajah baru memang lebih menjadi sorotan dan mengundang penasaran. komentar positif mulai terdengar betsahutan.
Gaun seharga seratus juta itu, jika malam ini laku dua puluh saja sudah pasti perusahaan akan meraup keuntungan satu milyar setengah. Dan lima ratus juta untuk membeli bahan dan biaya akomodasi. Sedangkan malam ini Aluna membawakan lima Gaun yang berbeda bahan dan model.
Dion menelungkup di meja dengan beralas lengan, meratapi kekalahannya. Dia segera mendongak dan kembali menatap layar monitor yang langsung tersambung dengan CCTV di panggung.
"Aluna pangastuti, benarkah dia yang menggantikan model senior itu?" Dion langsung menatap layar dengan bola mata yang berbinar.
Dia tak percaya Aluna akan mengambil tantangan sebesar ini. Gadis itu dulu culun dan lugu kenapa dia bisa nekat. Sedangkan dia jelas jelas tadi menolak. Bahkan Dion sendiri tidak ingin memaksa Aluna yang memang dinilai lebih layak dari karyawan yang lainnya.
"Aluna? Kauuu!" Dion memekik girang, tak percaya Aluna melakukan semua ini demi perusahaan.
__ADS_1
Dion segera turun setengah berlari menghampiri Reihan dan Diva.
"Pak, Luna. Dia menyelamatkan perusahaan." Diva melaporkan pada Dion kabar gembira yang baru dia saksikan.
"Bagaimana dia bisa Ada disana? Lunaku sangat polos dan dia demam panggung." gumam Dion Lirih.
"Entahlah Pak Dion, Luna sepertinya mendapat energi positif dari langit, mungkin demi cinta dia melakukan itu semua, dia tak bisa melihat pak Dion sedih."
"Ya, semoga saja dia mencintaiku. Meski Aluna belum bisa menjawab semuanya karena masih belum sepenuhnya terlepas dari hubungan masalalunya."
Reihan mendekat dan berbicara. "Bos, Selamat. Acara berlangsung lebih meriah daripada yang kita harapkan, pembawaan Luna yang luwes dan tak malu menyapa penonton membuat mereka serasa spesial, Aluna sepertinya lebih berbakat menjadi model daripada sekretaris anda."
"Aluna berbakat jadi model?" Dion membuka mulutnya membentuk huruf O besar karena tak percaya.
Acara Fashion Show yang diperagakan oleh Luna dengan beberapa kali ganti kostum sudah hampir selesai. Luna sangat bahagia dia tidak melakukan hal konyol atau bodoh saat di panggung.
Rupanya ada hikmahnya dia kemaren memutar beberapa Flashdisk yang berisi model top sedang fashion show diksla santai. Tak percaya yang menjadi model itu sekarang adalah dirinya.
"Nona, Tunggu, aku ingin berfoto dengan anda sebentar."
"Nona, ini aku punya coklat, tolong diterima ya, semoga suka."
"Ini penampilan anda yang pertama? Sungguh aku tak percaya, selamat Nona, anda berhasil. Semoga kedepannya anda makin sukses. Aku akan menanti penampilan anda di lain hari lagi.
"Bunga yang cantik untuk wanita yang cantik, ILove you Nona."
Aluna menerima semua hadiah dan banyak pujian dengan senyum yang tiada pernah surut dari bibirnya. Lesung di pipinya mungkin akan sulit dilupakan oleh para Presdir perusahaan lain yang kebetulan hadir di malam ini.
Aluna membungkuk sopan sebelum pamit masuk. Tak lupa lambaian tangan untuk mereka yang sudah membuatnya spesial malam ini.
Aluna menyibak tirai dan menghilang dari panggung.
Sedangkan di belakang panggung Aluna sudah disambut hangat oleh teman yang sudah menyaksikan penampilan istimewanya.
"Aluna, Good job." Diva mengacungkan dua jempolnya.
Aluna tersenyum malu, berusaha menyembunyikan wajahnya karena Dion yang ada di sebelah Diva terus menatapnya hampir tak berkedip.
Dion semakin mendekati Luna dengan posisi dua tangan bersembunyi di saku. Sedangkan Luna mundur beberapa langkah menjauhi Dion. para Karyawan tersenyum melihat Bos dan sekretarisnya yang ia curigai saling memendam cinta itu.
__ADS_1