
Suara sirine terus saja memenuhi jalanan. Mobil kecil minggir memberi jalan. Bahkan lampu merah tak mampu menghentikan lajunya.
Adrian menangis untuk Aluna, rencananya kembali membawa petaka untuk wanita yang dicintai.
"Luna bertahanlah, aku mohon." Bulir kristal tak mau berhenti menetes dari kelopak mata.
"Pak Dion maafkan aku" Bibir Aluna bergetar memanggil nama Dion.
"Dion! Apa benar kau sekarang hanya mencintai Dion?"
Aluna mengangguk dengan mata terpejam. Darah membasahi jas dan celana Adrian.
"Ini sakit, aku tak kuat lagi," erang Aluna pelan dan akhirnya wanita itu kehilangan kesadaran.
"Pak Dion, aku mencintaimu."
Adrian mengusap darah yang terus mengalir dari hidung Aluna. Lelaki itu memeluknya semakin erat dan hati-hati.
Adrian kembali menyalakan ponselnya. Baru saja dibuka ada ratusan panggilan dari laki-laki bernama Dion.
Adrian ragu akan memberi tahu Dion, tapi Adrian tahu saat ini kekuatan Aluna adalah Dion. Bibir wanita itu hanya bergetar memanggil lelaki itu saja.
Adrian memutuskan untuk menghubungi Dion, Adrian menerima semua konsekuensi yang akan terjadi pada dirinya. Dia terima jika Dion akan memenjarakannya, membunuhnya. Atau yang lebih menyakitkan lagi.
"Hallo dimana kau si*alan? Cepat katakan?
"Aku dan Aluna ada di RS Xx, cepat datang kemari." Perintah Adrian, dengan suara serak.
"Apa! Siapa yang sakit? Apa Aluna ku baik baik saja?" Dion mulai merasakan firasat buruk. Tak mungkin Adrian berdamai jika tidak ada alasan.
"Cepatlah kemari." Kata Adrian lagi. Lalu menutup panggilan.
Dion segera meluncur ke rumah sakit Xx. Disana dia menemukan anak buah Adrian di depan RS. Dion segera bertanya pada salah satunya.
Mereka terlihat takut menjawab pertanyaan Dion.
Kenapa aku diundang kesini? Siapa yang sakit?
''Nona Aluna ada di ruang UGD."
"Apa?! Katakan yang benar atau aku akan membunuhmu?" Dion menarik kerah Argo.
Benar, Tuan. Nona Aluna lari dari pengawasan kami dan dia menyeberang jalan tidak hati-hati.
__ADS_1
Dion mendorong tubuh Argo hingga terjerembab ke lantai. "Jika ada yang fatal dengan Aluna, aku akan menghabisi kalian semua?" Dion menunjuk pria di depannya dengan jarinya bergantian.
Mereka tak berani mengatakan kata-kata sepatah pun, Dion yang biasanya ramah hari ini seperti singa buas yang siap menyantap siapa saja yang berani bicara.
Dion segera masuk diikuti Beni dan kawan kawan. Keluarga juga menyusul tapi masih di belakang.
Dion sudah Samapi di UGD. Disana hanya ada Adrian dengan wajah kusut dan mata merah.
"Kenapa Alunaa! Kenapa Alunaaaaaa! haaah?" Bentak Dion.
Dion sudah hilang kewarasannya, emosinya sudah sampai ubun-ubun.
"Aluna ada di dalam, dia ditangani oleh dokter." Adrian berkata seperti seorang tak bernyawa, tatapannya kosong.
Dion mengeluarkan pistol dari sakunya dan menodongkan tepat ke arah Adrian. "Terjadi apa-apa dengan Aluna, maka aku akan benar-benar membunuhmu, aku akan melupakan kalau kita adalah teman?"
"Bunuh lah aku sekarang?" Lirih Adrian.
"Aku bersalah karena terlambat mencintai Aluna, dia memilihmu, seluruh perasaan dan cintanya hanya untukmu. Aku membawanya pergi, tadinya hanya ingin meyakinkan kalau dia mencintaiku dan semua cinta untukmu hanya pelampiasan, tapi aku salah, aku yang sudah terbuang, dan kau lelaki yang dia pilih." kata Rian panjang lebar."
"Iblis kau!!"
"Iya aku memang iblis, ayo tembak aku sekarang."
"Pergi Kau, jangan ikut campur." Dion mendorong beni yang berusaha menar8k tubuhnya.
"Dion!" Mama Melani dan Selena datang bersama. Ada security juga di belakangnya.
"Apa yang kalian lakukan nak? Kenapa kau bermain main dengan pistol?!" Melani terkejut, dia segera berdiri di antara Adrian dan Dion.
"Apakah pria yang menghancurkan pernikahan kerabatnya dan sekarang membuat calon istrinya celaka masih layak hidup?"
"Aluna ku terus menderita jika bersamanya, aku benci dia." Dion berkata penuh penekanan, urat-urat di lehernya terlihat begitu jelas.
"Dion kendalikan dirimu Nak, Mama tidak mau kamu dipenjara karena menjadi pembunuh." Kata Melani dengan hati-hati.
"Iya, Dion." Tante mohon turunkan pistolnya. Selena takut ancaman Dion tak main main.
"Kau juga, kenapa kau melahirkan laki laki seperti dia? Kenapa tidak kau ajarkan dia bagaimana cara memperlakukan wanita dengan baik? Kau juga bersalah Tante, mulutmu sering kali membuat Aluna bersedih, kau selalu menjatuhkan mentalnya di depan menantu kesayanganmu itu. Dan apa hasilnya? Menantu mu hamil dengan pria yang sekarang bukan suaminya."
"Sudah Dion jangan ungkit itu lagi," kata Selena menyesali perbuatannya. Matanya berkaca-kaca.
Melihat Dion sedikit tenang, security segera merebut pistol dari tangannya dan mengamankan.
__ADS_1
Sedangkan Dion seperti kehilangan seluruh kekuatannya. Hatinya remuk luluh lantak, dia segera menghempaskan bokongnya di kursi tunggu. Tangannya menangkup di wajah, lalu meremas rambutnya frustasi.
"Rian, bagian apa yang paling parah?" Tanya Selena.
"Kepala dan kaki," jawab Adrian masih bisa merasakan sesak di dadanya.
"Kau kenapa jahat sekali dengan Aluna!!" Dion ingin memukul Adrian lagi karena geram. Tapi dua wanita bersaudara itu lagi-lagi menghalangi.
Dion jika kamu seperti ini Aluna akan sedih. Aluna tidak suka dengan kekerasan. Ada yang lebih bermanfaat daripada memendam emosi. Do'akan Aluna bisa melewati masa kritis dan operasinya berhasil.
"Tapi Ma, Aluna sekarang merasakan sakit karena dia, Andaikan saja dia tidak membawa Aluna pergi, mungkin sekarang kami sudah bahagia, keluarga laknat itu selalu memberikan penderitaan untuk Aluna."
"Semua ini takdir Nak, kamu harus kuat menjalani. Jika kamu saja rapuh, lalu siapa yang akan memberi kekuatan untuk Aluna?"
Dion merebahkan kepalanya di pundak Melani. Melani mengelus punggung putranya yang sedikit membungkuk.
"Sabar, Sayang. Mama bisa merasakan bagaimana berada di posisimu sekarang. Tapi hidup ini tak selurus jalan tol. Jika kita akan mendapatkan kebahagiaan yang lebih besar, tak apa jika harus melewati ujian yang tak seberapa."
"Kasihan Aluna, Ma. hidupnya terus menderita. Dia hanya punya Dion. Bapak dan ibunya sudah pergi." Dion juga meneteskan airmata. Mata Dion berubah merah. Begitu juga dengan bola mata Adrian kian membengkak lebih besar seukuran bola pingpong.
***
Di ruang operasi, para Dokter hilir mudik berusaha membuat Aluna segera sadar dan melewati masa kritis. Nebulizer menancap di hidungnya. Suara dari layar EKG berdenting pelan dan tidak teratur menandakan detak jantung Aluna belum berdetak dengan normal.
"Dokter, pasien belum melewati masa kritis, semoga saja semua segera terlewati." Salah satu dokter berujar pada dokter lainnya.
"Iya Pak, semoga perdarahan ini tidak sampai otak, bagaimana kalau pasien ini nantinya akan amnesia."
"Kita berdoa saja itu tidak terjadi." jawab Dokter senior sebelum meninggalkan ruan operasi.
Saat dokter membuka pintu operasi, Dion bergegas menghadang hingga langkah Sang Dokter terhenti.
"Dokter bagaimana kondisi calon istri saya?" Tanya Dion tak bisa menunggu lagi.
"Banyak berdoa saja, semoga masa kritis calon istri anda akan segera terlewati."
"Kritis? Calon istri saya kritis?" Dion mundur beberapa langkah, kepalanya menggeleng.
"Dokter selamatkan dia, sembukan dia seperti sediakala, berapapun akan aku bayar dokter, aku akan membayarnya dua kali lipat, tiga kali lipat atau sepuluh kali lipat, lakukan yang terbaik dokter, aku mohon." Dion mengguncang tubuh Dokter. Bahkan sekarang Dion berlutut dan nyaris bersujud.
"Nak, jangan seperti ini, dokter pasti sudah melakukan yang terbaik."
"Dokter, tolong Aluna." Lirih Dion kemudian, Melani menariknya menjauh dari dokter.
__ADS_1
Selena memberikan botol minum pada Melani. Berharap dengan sedikit minum, mampu mendinginkan kepala Dion yang hilang kewarasan. Dion menolak minum pemberian Selena, dia sangat sangat membenci kelakuan Adrian dan Selena.