Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 199. "Seberapa besar kau berjuang untukku."


__ADS_3

Dion yang mendengar suara berisik Aluna dia langsung menggeliat dengan malas dan menatap wajah istri. 


"Sayang kenapa sih teriak teriak?" Kata Dion dengan suaranya yang serak, lalu menarik Aluna lagi ke dalam dekapannya lagi.


Seketika netra Aluna terbelalak, tak percaya jika itu benar Dion. Meski benar, Aluna tak mau dengan mudah memaafkan Dion, sebagai wanita dia yang sudah diusir dari rumah, Aluna harus menyelamatkan harga dirinya.


"Lepaskan aku!" Aluna menyingkirkan lengan kekar Dion yang melingkar di pinggangnya.


"Kenapa sayang? Biarlah seperti ini aku kangen." Dion mengembalikan lengannya di pinggang Aluna seperti semula. Dengan jahilnya dia mengecup pipi Aluna dan meniup lehernya berulang kali. 


Aluna menutup bibir Dion dan menggeser tubuhnya. 


"Lepaskan aku, aku belum memaafkan kesalahan Anda," kata Aluna terdengar ketus. Bahkan dia kembali berbicara formal dengan Dion.


Dion menggeliat, lalu mengungkung tubuh Aluna dan mengunci dengan kedua lengannya. 


"Katakan padaku bagaimana caranya aku minta maaf, agar kau bisa memaafkan kesalahanku yang besar ini."


"Aku tidak tau, tapi yang jelas di hati ini masih menyisakan luka yang amat perih, aku takut kejadian seperti waktu itu terulang lagi, aku memang memiliki masalalu yang kelam, mungkin tidak pantas lagi mendapat kepercayaan dari lelaki hebat seperti anda. Jika diantara kita tidak ada kepercayaan, bersatu kembali rasanya akan percuma."


"No Luna, noooo! Jangan minta berpisah, aku tak bisa hidup tanpamu." Dion memeluk Aluna erat, bahkan tanpa sadar tubuh polosnya menindih Aluna hingga membuat dada wanita itu menjadi sesak. 


"Lepas!" Aluna menggelengkan kepalanya, meronta juga rasanya percuma, tubuh Dion selalu bisa menaklukkan tubuh mungil Aluna. 


"Tidak akan." Dion membiarkan Aluna yang memukul dadanya. Pukulan yang tak berarti apa-apa untuk Dion. 


"Lepas aku tak bisa bernafas." Keluh Aluna kemudian. Dion tersenyum dan melonggarkan jaraknya dari Aluna. Dion tadinya mengira Aluna akan meminta di lepas hubungan pernikahanya dan dia akan pergi. Tak tahunya karena tak bisa bernafas.


"Tidurlah, masih ada waktu, ini baru jam tiga pagi." kata Dion yang hendak turun dari ranjang. 


Aluna yang masih menyimpan rasa kesal pada Dion dia tak mau tahu apa yang akan dilakukan oleh prianya itu, Aluna memilih menarik selimut untuk menutupi tubuhnya dan membelakangi Dion. 

__ADS_1


Dion menatap Aluna ketika wanita itu tak melihatnya. Dion tahu Aluna pasti belum sepenuh hati memaafkan kesalahannya, tapi Dion akan berusaha semaksimal mungkin menebus dan berusaha memberinya kepercayaan penuh. 


Setelah terjaga Dion tak bisa tidur, dia hanya memandangi tubuh aluna yang menyerupai kepompong raksasa.


Aluna hanya pura-pura tidur lagi, dia sama sekali tak bergerak. Dion yang mengira Aluna kelelahan dia memilih bangkit dari ranjang dan pergi ke ruang dimana lemari pendingin bertengger. 


Meski masih pagi buta, pergulatan semalam membuat Dion lapar dan haus.Dion menemukan minuman bersoda dan segera meminumnya hingga habis. 


Dion hendak meminta Beni untuk membelikan makanan, namun dinihari tak ada restaurant yang buka, akhirnya Dion meminta Beni untuk mencari sayur dan makanan di pasar tradisional. Setahu Dion pasar tradisional sudah buka sejak jam dua dini hari. 


Beni yang mengantuk berat terpaksa mengabulkan perintah bosnya, beni merangkak turun dari ranjang dan segera ke pasar yang lumayan jauh. 


Di pasar, Beni segera membeli aneka sayuran, karena bingung tak tahu apa saja yang diinginkan oleh bosnya akhirnya Beni memilih membeli banyak aneka macam sayuran dan aneka macam ikan serta daging. 


Daripada susah tidur Dion memilih mandi sambil menunggu beni membeli bahan makanan. 


Setelah dirasa bahan yang dibeli sudah cukup dan lengkap sesuai pesanan dari Dion. Beni segera kembali. 


"Bos, aku sudah belanja banyak sayuran dan juga ikan, apa anda yakin akan membuat sarapan untuk Nona, bagaimana kalau rasanya tidak enak?"


"Kamu jangan ngeremehin aku Beni, dengan kekuatan cinta, aku pasti bisa memasak sangat enak," kata Dion penuh percaya diri lalu mengusir Beni. Sebelum pulang Dion ingin meluluhkan hati Aluna dengan membuatkan sarapan yang selama ini selalu Luna sediakan untuknya. 


Di dapur Dion segera mengeksekusi sayuran kol dan brokoli, Dion segera mencincang daging dan merebusnya, setelah empuk segera dia masukkan sayuran. Dalam beberapa menit sayur sup sudah matang dan mengeluarkan aroma harum.


Selanjutnya Dion membuat perkedel kentang yang menurutnya ini agak susah. Dion harus browsing berulang kali untuk menyulap kentang menjadi perkedel. Diam diam Aluna mengintip suaminya yang terlihat pusing karena masakan keduanya tidak berhasil. 


Aluna menahan senyumnya lalu kembali ke kamar dan pura-pura masih marah.


Saat Aluna kembali ke kamar dia melihat lampu ponselnya berkelip, tanda sebuah notifikasi pesan masuk.


Aluna meraih ponselnya. Dia ingin tahu siapa pengirim pesan. 

__ADS_1


Rupanya nomor baru yang Luna tidak kenal. Aluna membaca isinya. Setelah itu dia baru paham kalau ternyata itu Enzo yang mengirim dan dia pinjam ponsel salah satu aparat polisi. 


Luna, mungkin saat ini kau sangat membenciku, karena aku sudah mencampur obat ke dalam makanan dan minuman yang aku berikan semalam. Kau pasti tak pernah mengira kalau aku sudah melakukannya hal menjijikkan itu Luna, aku benar-benar gelap mata, aku minta maaf Luna, semoga kau tak pernah membenciku, dan aku berharap kau bisa kembali dan memaafkan lelaki terbaikmu. Melihat rasa cinta yang begitu besar dimatanya aku tahu perasaanku padamu tak ada apa-apanya. Luna maafkan aku, aku sudah mendapatkan ganjaran dari perbuatan yang aku lakukan.


bruk! Luna melempar ponsel diatas ranjang. dia memeluk guling karena membayangkan betapa buruknya kejadian semalam. Aluna tak bisa membayangkan apa jadinya jika Dion tak datang.


Dion sudah selesai memasak, dia kembali ke kamar dengan celemek motif bunga masih menempel di tubuhnya. Tadinya dia ingin meminta agar Aluna segera membersihkan diri dan segera merasakan sarapan spesial buatannya, tapi dia malah melihat istrinya merenung.


Dion tahu Aluna sedang kehilangan kepercayaan pada kaum lelaki, menurut Luna, lelaki itu makhluk yang paling egois dan sulit dimengerti.


"Honey, aku sudah masak, aku harap kamu sudi makan masakan yang sudah aku buatkan spesial untukmu."


"Terimakasih, aku sedang tidak lapar, anda bisa sarapan sendiri." jawab Luna dingin.


Sesungguhnya dia tak tega bersikap seperti ini, tapi demi ingin tahu seberapa besar Dion menginginkannya Luna terpaksa bersandiwara.


"Honey, aku tahu kamu lapar, kamu jangan bohong, aku mendengar perut kamu tadi terus berbunyi."


"Terimakasih sudah perhatian." Aluna tersenyum. Namun senyum itu semakin menyiksa Dion. yang dia lihat bukan senyum bahagia Aluna, tetapi senyum kepahitan yang memperlihatkan betapa buruknya hidup yang dia lalui. "Sayangnya aku sudah memesan taxi, dan aku sudah ditunggu."


"Luna, oke! Aku tahu kamu masih marah dan sulit untuk maafkan aku. dan jika kamu masih marah padaku sebagai suami, setidaknya jangan pernah marah padaku sebagai seorang teman." Dion memohon pada Luna hingga nyaris bersujud.


"Baiklah kita sarapan, ingat! hanya sarapan, setelah itu izinkan aku pergi." Aluna keluar kamar dan melewati Dion begitu saja menuju ruang makan, Dion sangat tersiksa melihat sikap Aluna yang demikian dingin.


Mereka berdua mulai makan, tak ada canda tawa seperti biasanya. Dion berinisiatif merayu dengan mengambil satu sendok nasi dari piringnya lalu di sodorkan di dekat bibir Luna. luna menepis tangan Dion dan memalingkan wajahnya ke arah lain.


Dion kembali harus bersabar, sumpah jika mengembalikan senyum wanitanya begitu sulit Dion tak ingin sekalipun membuat Aluna marah.


Dion dan Aluna akhirnya menikmati sarapannya seperti orang yang sama asing.


"Luna gimana masakan pertamaku, meski bentuk perkedelnya berantakan, tapi percayalah aku membuatnya dari hati, agar kau bisa merasakan masakan pertamaku."

__ADS_1


"Maaf aku harus berkata jujur, ini masakan paling buruk yang pernah aku rasakan." Aluna menaruh sendok dan garpu setelah makanan di piringnya habis. Jujur Aluna merasakan masakan Dion sangat sedap, lelaki itu benar-benar membuatnya dari hati.


__ADS_2