
Lasmi senang sekali setelah mengetahui menantunya adalah orang yang kaya raya. Membayangkan hidup Luna pasti sangat berkecukupan. Ibu mana yang tak senang anaknya sukses.
Satu titik terang membuat Lasmi semakin semangat untuk mencari Aluna. Kini Lasmi mengajak mang Udin untuk mencari tempat tinggal Aluna dan Dion. Jika mencari dengan sungguh-sungguh pasti akan ketemu lebih cepat. Daripada menunggu bertemu di kantor, sedangkan jadwal Dion begitu padat.
"Nyonya Lasmi, apakah kita langsung pulang atau kembali pada pencarian" tanya mang Udin yang mengemudikan mobilnya dengan pelan-pelan. Lasmi tak henti hentinya menoleh pada kiri dan kanan berharap bisa bertemu di jalan.
"Nyonya kemana lagi kita mencari orang dalam foto itu? Kalau boleh tau dia sebenarnya siapa?"
"Mang Udin apakah bisa jaga rahasia?" Tanya Lasmi yang takut rahasia masa lalunya ini diketahui oleh suaminya, karena dulu Lasmi pernah berbohong kalau dia tidak memiliki seorang putri namun hanya jujur kalau dia sudah menikah.
"Nyonya bisa tebas leher saya kalau sampai berita ini bocor, bukankah selama ini saya selalu menjadi teman curhat Nyonya dan rahasia itu tetap aman berada di tangan saya."
"Iya Mang, aku hanya takut saja, Angeline akan marah ketika tahu aku juga memiliki putri dari laki-laki lain, aku takut dia akan mencelakai dia karena setahuku mereka juga berseteru."
"Belum lagi jika suamiku melihat aku mulai mencarinya, dia pasti akan mengira aku tidak sungguh sungguh mencintai putrinya. Aku dalam dilema Mang. Tapi aku juga ingin sekali dianggap masih hidup oleh putriku, salahkah aku jika aku ingin memeluknya. Bagaimanapun dia Putri kandungku aku yang telah melahirkan dari rahimku, aku telah mengandung selama 9 bulan."
"Tidak ada yang salah nyonya, Anda berhak memeluk putri anda, Anda berhak diketahui kalau anda adalah ibu kandungnya. Tapi dia juga berhak menolak anda, karena anda selama ini tidak sekalipun menemuinya, anda tidak pernah menggendongnya menyusuinya apalagi menina bobokkan disaat malam tiba. Tapi jika putri anda wanita yang memiliki hati seperti malaikat, mendapat Maaf darinya bukanlah hal yang mustahil. Tapi anda harus bersabar mungkin semua tak akan semudah seperti yang kita inginkan. Butuh waktu yang sangat lama untuk menyembuhkan luka-luka di hati Putri anda ketika tahu semuanya." tutur Mang Udin yang selalu bijaksana. Meski hanya seorang sopir tapi Lasmi selalu menghormati lelaki yang pantas menjadi kakaknya itu
"Kamu memang selalu benar Mang, Aku adalah wanita yang paling egois di dunia ini, bahkan saat ini aku baru datang ketika putriku sudah tumbuh dewasa. Bodoh sekali ke mana Aku selama ini." Lasmi mulai ragu, Lasmi takut kalau Luna akan menolak kehadirannya atau bahkan dia akan sangat membenci dirinya.
"Menurut Mang Udin jalan terbaiknya apakah aku terus menyembunyikan identitasku dan mendekatinya secara perlahan, atau aku langsung mengatakannya saja apapun resikonya." kata Lasmi mulai mendapatkan ide briliant.
"Menurutku ide pertama lebih masuk akal, tunjukkan padanya Kalau Anda adalah sosok wanita yang baik, pelan-pelan buat dia nyaman di dekat anda, lalu anda dan dia menjadi akrab, jika dia mulai menyadari kasih sayang anda baru katakan padanya."
"Begitu ya Mang, baiklah aku akan menjadi sahabat lebih dulu untuk putriku."
"Iya Nyonya. Saat anda mengatakannya nanti dia sudah memiliki kenangan kenangan yang indah bersama putri anda."
Lasmi selalu mendapat solusi terbaik untuk dirinya ketika berbicara dengan Mang Udin.
Lasmi merasakan perutnya mulai lapar. Sejak pagi dia belum sarapan apapun. Hanya seteguk teh hangat yang disiapkan Bibi tadi pagi.
Lasmi meminta Mang Udin untuk menepikan mobilnya di depan restoran yang kebetulan menyajikan menu lokal.
Lasmi segera memesan menu soto yang terkenal dengan kuahnya yang sedap dan segar itu.
Sedangkan Mang Udin memilih duduk di kursi dan meja yang berbeda, tetapi dia juga memesan menu yang sama.
Saat asyik menyantap soto, Lasmi melihat sosok yang dicari juga masuk dalam restaurant lokal tapi rasa tak kalah nikmat itu.
Dua insan yang selalu merasa menjadi pengantin baru itu duduk disebuah kursi yang ada di sudut ruangan. Aluna suka karena tempatnya nyaman, dan tak banyak orang mondar-mandir.
Masih sama, Aluna terlihat bahagia, di wajahnya selalu terukir sebuah kebahagiaan.
__ADS_1
"Sayang, tumben ingin makan soto? Biasanya juga mintanya nasi goreng, gado-gado," tanya Dion yang belum pernah sekalipun masuk ke dalam restoran ini, yang lunak katakan katanya masakannya, enak sekali.
" Aku lagi ingin sayang, dulu waktu masih jadi OG kalau selesai gajian aku selalu makan disini sama Nina,"
"Oh, jadi ingin nostalgia. Ingat jaman pas kadi OG." kata Dion yang menyangga dagunya sambil terus mengamati Luna nyaris tanpa berkedip.
Soto pesanan sudah datang, Dionenghorup aromanya yang sedap, tapi ada soto kali ini begitu aneh menurut Luna. Dia yang dulu begitu menikmati aromanya. Justru hari ini perutnya terasa bergejolak.
Aluna hanya mengaduk soto yang seharusnya nikmat sekali untuk dimakan, kini selera itu hilang dan setelah mencicipi rasanya jadi hambar.
Dion yang melihat kelakuan Luna aneh, ketika memperlakukan makanan favoritnya, seketika menghentikan suapan nasi ke dalam mulutnya. "Honey apa yang terjadi? Kamu loh tadi yang meminta makan di sini? Kok sekarang cuma diaduk-aduk aja? Padahal menurutku ini enak loh."
"Entahlah sayang, setelah melihat, aku jadi kenyang."
"Ya udah kalau lagi nggak berselera, kita cari restoran lainnya saja, atau aku carikan Koki aja yang khusus buat masakin kamu." Dion menatap Aluna dengan kasihan. Lalu menggenggam tangan Aluna. Dan menggosok pelan dengan jari jempolnya.
"Nggak usah, Sayang, kalau cuma masak untuk kita berdua sepertinya aku sanggup." Kata Aluna yang tak mau ketergantungan dengan asisten dan membuat dirinya menjadi malas. Apalagi saat ini dia belum memiliki seorang momongan.
Melihat Aluna yang tak selera makan, Lasmi berpikir kalau Aluna sedang sakit. Lasmi terus mengamati betapa Dion perhatian dengan putrinya. Saat Aluna tak mau makan saja dia sudah begitu panik dan ingin mencarikan seorang koki.
Setelah Dion menyelesaikan makannya. mereka berdua segera beranjak dari restoran dan mencari restoran yang lain. Dion berharap Luna akan menyukai menu di restoran yang akan dia datangi setelah ini.
Saat hendak masuk ke mobil, tiba-tiba lasmi yang menghentikan Aluna dan Dion.
"Tadi Kalau nggak salah dengar kalian butuh seorang koki ya?"
"Dion yang mendengar obrolan istrinya dengan seorang wanita, dia kembali turun dari kemudi."
Dion yang sekarang berdiri di sebelah Aluna dan menggandeng istrinya. "Emangnya kenapa Bu Kalau kami butuh koki, sebenarnya beberapa hari ini istri saya susah makan, dan aku memang berinisiatif untuk mencari koki."
"Yang, nggak usah, aku bisa masak." Aluna mendongak, menatap suaminya dengan manja.
"Emmm begini, karena aku lagi butuh kerjaan, bagaimana kalau aku yang jadi koki, tapi aku memasak semuanya di rumah Setelah matang biar kurir yang mengantarnya. tapi aku butuh nomor alamat untuk mengantarnya."
"Maaf Bu, kami sedang tak butuh." kata Luna berharap wanita di depannya mengerti.
"Aku tahu, kamu keberatan karena aku ibu dari Angeline, asal kamu tahu aku hanyalah ibu tirinya, dan salahkah jika aku butuh pekerjaan untuk memenuhi kehidupan ku sehari-hari."
Mendengar seorang wanita yang nyaris menitikkan air mata, tentu hati aluna merasa iba, lagi pula Aluna juga melihat sendiri, bagaimana Angeline memberlakukan wanita di depannya itu tempo hari. jadi aluna berpikir bisa saja wanita itu tidak memiliki uang karena papi Amgeline dan anaknya tidak pernah memberinya uang.
"Oh iya tadi ibu bilang masaknya di rumah saja, aku tinggal pesan menunya, kalau sudah matang ada kurir yang mengantar, baiklah mulai besok anda bisa melakukan pekerjaan itu. biar istriku mencoba mencicipi masakan Anda siapa tahu nanti akan cocok," kata Dion yang berharap setelah ini Aluna akan makan normal lagi.
Aluna dan Dion saling pandang, Lasmi juga tersenyum lebar.
__ADS_1
Setelah Dian mendengar suara keroncongan ke perut Aluna. lelaki itu segera merogoh kartu namanya di saku Hem. "ini kartu nama saya ada alamatnya, anda bisa mengirim makanan dan menyerahkan pada security saja. Tolong jangan sebarkan alamat ini."
"Baik, baik, bunda berjanji akan merahasiakan alamat rumah Nak Dion dan Nak Luna." Lasmi membaca Alamat rumah Dion dengan teliti, dia berharap besok sudah mulai bisa mengantar makanan ke sana, karena Lasmi jelas akan datang sendiri tanpa kurir dan akan berusaha memasak masakan dengan resep paling nikmat yang sudah pasti disukai oleh lidah normal manusia.
Luna dan Dian meninggalkan restoran, Lasmi dengan hati yang lega kembali menyusul Mang Udin ke dalam mobil.
"Nyonya, anda sepertinya sudah berhasil berbicara lama dengan Putri anda tadi."
"Iya Mang, mulai besok aku akan menjadi koki pribadinya. aku sudah berhasil mendapatkan alamat tempat tinggalnya. dan setiap hari aku akan mengantarkan makanan di alamat ini. tentu aku akan bisa bertemu dengan putriku setiap hari. Semoga dia nanti akan suka dengan masakan ku. suaminya sangat pengertian. putriku malas makan saja dia langsung bertindak cepat, aku benar-benar bersyukur dia dipertemukan dengan lelaki baik seperti CEO Dion."
Mang Udin tersenyum. "Biasanya orang baik akan dipertemukan dengan lelaki yang baik pula. anda pasti dengar pepatah itu kan Nyonya."
"Iya Mang, mantan suamiku memang telah berhasil membesarkan budaya dengan baik, tapi kemana dia saat ini. tadi Aluna bilang hanya tinggal berdua."
"Besok anda akan tahu semuanya. Sekarang kita kemana, Nyonya? pulang atau ke tujuan lainnya."
"Pulang Mang, tapi jangan lupa nanti mampir ke supermarket. Aku mau beli aneka sayur dan buah segar untuk putriku besok."
"Baiklah. Nyonya."Mang Udin lalu mengemudikam mobil dengan santai menyusuri jalanan yang mulai terasa panas menyengat.
Lasmi segera turun ketika Mang Udin sudah memarkirkan mobilnya di depan supermarket. Lasmi berbelanja aneka buah dan sayuran segar yang berkualitas paling bagus.
Setelah mendapatkan semua yang dicari, Lasmi segera bergegas pulang kembali karena dia tak mau sampai di rumah terlambat.
Lasmi ingin di rumah lebih dahulu sebelum suaminya pulang. tiba di rumah wanita itu segera mempersiapkan aneka macam buah dan sayuran yang baik untuk ibu hamil. karena Lasmi menduga mood makan Luna yang menurun bisa disebabkan karena sedang hamil muda.
***
Masih sama, sudah dua restoran yang didatangi oleh Dion dan Aluna setelah restoran tadi. Tapi Aluna tetap tak selera makan.
Keputusan terakhir, akhirnya Luna meminta untuk pulang dan memilih take away ayam goreng dibalut tepung saja.
Sampai di dalam mobil, Dion terus saja mengelus rambut Aluna, meraba keningnya yang tidak panas. Dion kasihan sama istrinya yang ketika ditanya tidak sakit tapi diajak makan tidak ada selera.
"Honey, jika seperti ini terus kamu bisa sakit, ayolah, makan sesuatu. aku tak mau kamu sakit," mohon Dion dengan wajah mengiba.
"Gimana ya, Yang. emang lagi nggak selera dan nggak bisa dipaksa, kalau dipaksa, bawaannya mau muntah melulu. maaf ya kamu pasti capek." Aluna malah kasihan pada Dion yang seharian hanya diajak mondar mandir tak jelas.
"Ya sudah kalau begitu kita ke dokter, biar dikasih obat penambah nafsu makan, dan kamu disuntik oleh Dokter."
"Apa? disuntik? nggak mau, nggak mau, nggak mau. Aluna memeluk lengan Dion dengan mata berkaca kaca. Aluna sangat takut dengan jarum suntik.
Dion akhirnya membuat kesepakatan dengan Aluna," tapi janji ya, jika tak mau disuntik sampai rumah harus makan."
__ADS_1
"Iya janji, tapi jangan dibawa ke dokter ya, takut disuntik." Aluna menempelkan kepalanya di bahu Dion. Dion mengendarai mobilnya dengan santai. " Ingat harus janji ya. sampai rumah makan yang banyak."
"Iya iya, aku nggak mau disuntik." rengek Aluna manja.