
Nabila membiarkan Adrian memberi tanda kepemilikan sebanyak yang dia mau. Dia sudah takluk dan bersedia menjadi boneka yang penurut bagi Adrian.
Nabila bahagia kini Adrian tidak lagi membuang percuma bibit-bibit premiumnya. Nabila berharap dia segera bisa hamil dan Adrian makin sayang padanya.
Cintanya pada Adrian begitu besar membuat usaha Nabila juga maksimal. Akhirnya usaha itu sudah menampakkan hasil.
Nabila tak menemukan satupun kenangan yang tersisa yang mengingatkan pada Aluna. Termasuk foto pernikahan dan dan barang-barang lainnya di rumah ini. Nabila lega.
Saat ini Nabila merasakan tubuhnya sangat lelah, setelah seharian sibuk di hari pernikahan dan dua kali bermain kuda-kudaan di malam hari.
Diluar juga sepi tak terdengar suara siapapun lagi, Jayden dan keluarga Sanderson rupanya sudah pulang tak lama setelah Dion dan Aluna pulang.
Setelah selesai Adrian segera mencabut adik kecil dari milik Nabila dan turun dari bathup, lalu membilas tubuhnya di bawah shower tak jauh dari keberadaan Nabila yang hanya dibatasi oleh dinding kaca.
Setelah merasa tubuhnya bersih Adrian segera memakai handuk kimono dan membiarkan tetes-tetes rambut membasahi kimononya.
"Sayang ayo bilas tubuhmu, nanti masuk angin." Adrian mengulurkan tangan pada Nabila yang masih di dalam bathup.
Nabila membalas uluran tangan Adrian dan berdiri dengan malu-malu. Lalu membawa Nabila menuju shower yang masih terus mengucurkan air dengan deras.
Adrian membelai rambut Nabila yang basah, air shower mengguyur tubuhnya tanpa henti, bibir Nabila bergetar tubuhnya menggigil mulai kedinginan. Tapi Nabila bahagia. Adrian sudah menjadi suami yang sangat baik di hari pertama mereka menikah.
"Dingin," eluh Nabila.
Tanpa banyak kata, lelaki tampan yang menatapnya penuh kelembutan segera memakaikan handuk kimono dan membawa Nabila keluar kamar.
Adrian meminta pelayan yang masih tinggal di rumahnya untuk membawakan Nabila teh hangat dan juga meminta tolong mengeringkan rambut istrinya.
Bibi yang nyaris dipecat itu memiliki nasib baik karena bisa kembali bekerja dengan permintaan Nabila.
Menunggu Nabila selesai mengeringkan rambut Adrian menuju meja makan dan mencari susu serta makanan suplemen yang sering dia konsumsi sehabis olahraga.
Malam ini Adrian kembali meminum meski tidak sedang olahraga berat, dia butuh minuman berenergi itu.
Selesai meminumnya Adrian segera kembali ke kamar.
Dilihatnya sang istri sudah kembali cantik dan anggun. Adrian tersenyum lalu duduk di sofa. Adrian menyalakan laptop untuk memeriksa laporan keuangan dari karyawannya hari ini.
Adrian tersenyum, setidaknya ada sedikit peningkatan dari usaha kecilnya, Adrian juga bingung ada investor yang menawarkan modal dengan nilai tak masuk akal di hari pernikahannya. Dan saat Adrian mencari tahu dari bawahannya. Sepertinya investor hari ini sengaja merahasiakan namanya.
__ADS_1
Ah, Adrian sepertinya mendapat kebahagiaan yang berlipat. Bagaimana tidak, dia bisa mendapatkan investor gila yang mau menginvestasikan uangnya untuk perusahaan yang jauh lebih kecil. Dan yang kedua Adrian bisa menjalankan malam pertamanya dengan lancar meski agak susah saat menjebol gawang.
Saat sedang memeriksa data penting hari ini, Nabila membawakan Adrian teh hangat untuk suami.
"Kak, aku bawakan teh, semoga bisa jadi teman tidur." Kata Nabila sambil memasang senyum menggoda.
"Oh, makasih sayang. Taruh aja disitu," kata Adrian melihat sekilas karena sedang mengamati layar laptop. Tapi begitu dia melihat istrinya, Adrian terpana, Nabila sangat wangi, cantik dan juga menggemaskan saat memakai baju cantik hadiah dari salah satu kerabat yang datang tadi.
"Na ...." Adrian takjub.
Dilihat demikian dalam oleh suaminya, Nabila jadi malu.
Usai menaruh teh, Nabila lalu pergi. "kemana?"
"Lanjutkan saja, kerjanya, aku akan istirahat." Selain malu Nabila juga tak ingin mengganggu.
Adrian dengan sigap menarik Nabila dalam pangkuannya.
"Apa yang kakak lakukan?" Nabila terkejut.
"Apa, yang aku lakukan? kenapa kau tanya begitu? Aku tentu ingin dekat dengan istriku."
Nabila menurut saja, lelah yang sempat terasa, tiba-tiba sirna karena berada di dekat suami.
Adrian kembali mengutak atik laptopnya sambil sesekali menoleh, mengamati istri yang disebelahnya.
Rasa sayang Adrian, pada Nabila mulai tumbuh dan bersemi dengan cepat, karena seringnya bersama. Minkin ini yang dibilang Cinta hadir karena terbiasa.
Sambil menyesap teh, Nabila sering kali mendapat hadiah kecupan dari Adrian. Nabila kadang juga menggoda menghindari kecupan Adrian.
Adrian makin gemas dengan Nabila, rasanya kini si Junior mulai candu dengan milik Nabila.
"Sayang ...." panggil Adrian dengan suara serak.
"iya Kak, ada apa." tanya Nabila lugu tanpa tau kondisi Adrian yang kembali diselimuti oleh kegelisahan ingin meneguk lagi manisnya dua kurma.
Akhirnya dimalam ini kembali terjadiah pertarungan lidah saling membelit dan saling memberi sentuhan hangat.
Malam panas tiada henti hingga pagi hari. Adrian dan Nabila saling memuaskan dengan cara dan keahlian yang mereka miliki. Adrian merebahkan Nabila di sofa dan mengangkat tinggi kaki Nabila dan meletakkan di kedua pundaknya. Dengan posisi demikian Adrian kembali menghujamkan miliknya.
__ADS_1
Suara sayup-sayup di kamar Adrian makin lama makin terdengar keras, Nabila terus saja mengeluarkan bahasa kenikmatan yang tidak bisa diartikan lagi.
"Aaaaa!" jerit Nabila ketika tubuhnya merasakan mendapat sentuhan yang tak biasa.
Adrian terus memberikan Nabila kenikmatan dengan cara yang berbeda setiap stepnya.
Setelah keduanya mencapai puncak untuk kesekian kalinya, Nabila dan Adrian sama-sama terlelap, saling memeluk dan membiarkan peluh mereka bersatu.
***
Esok hari.
Mentari sudah membumbung tinggi, suasana dapur dan meja makan sudah mulai ramai dengan aktifitas pagi.
Nabila dan Adrian masih terlelap diatas sofa, dengan posisi masih saling berpelukan tanpa sehelai benangpun yang jadi penghalang.
Nabila menggeliat ketika merasakan tubuhnya seperti tengah dilolosi.
Nabila baru tahu, ternyata jadi pengantin itu sangat capek, sekarang saja dia seperti tak mampu berjalan lagi.
Selain tubuhnya yang lelah, Area intinya juga amat nyeri, Nabila menduga kalau miliknya pasti sedang terluka sekarang.
"agghh," pekik Nabila saat bergerak sedikit saja.
Adrian yang mendengar istrinya kesakitan, dia segera terbangun dengan tergagap. "Sayang, istirahatlah dulu, tak perlu kau kemana-mana," pinta Adrian.
Tentu Nabila tak enak dengan yang lain yang terlihat sudah sibuk dilantai bawah.
"Aku akan turun dan membuatkan teh hangat untukmu," ujar Nabila sambil berusaha mencari selembar kain yang tadinya melindungi tubuhnya.
"Tidak perlu, tetaplah disini saja, aku kira mereka akan mengerti kalau kita baru saja menikah," jawab Adrian enteng.
"Tapi sayang, Aku menantu di rumah ini, aku harus membantu bibi di dapur," Nabila mencoba memaksa, tapi tetap saja dia tak bisa membuktikan kata-katanya. Nyatanya tubuhnya untuk bergerak saja begitu sakit.
Adrian malah mempererat dekapannya pada tubuh Nabila. "Sudah kubilang kau tak boleh pergi, memasak di dapur bukan pekerjaan istriku, pekerjaanmu hanyalah melayani suamimu ini.
"glek"
Nabila menelan salivanya dengan susah payah. tadi dia yang meminta semuanya, tapi kenapa sekarang keadaan jadi berbalik. Adrian seolah ingin terus meminta haknya dengan tiada henti.
__ADS_1