Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
113. Nenek mulai menyukai.


__ADS_3

Tring! 


Ponsel di saku Dion berbunyi. Dion segera menerima panggilan dari Reyhan. " Ada apa Rey?"


"Oh, iya. Baiklah aku akan segera kesana Rey. Tunggu aku dua puluh menit lagi."


"Siapa Pak Dion? Apa Aluna harus ikut ke kantor sekarang?"


"Nggak perlu Sayang, mending kamu baik baik disini bersama Nenek. Ini cuma meeting sebentar."


Dion mengusap rambut Aluna dan mengecup keningnya kilat. Sepertinya dia tak punya banyak waktu, dia harus semangat bekerja membesarkan perusahaan miliknya sendiri. Biarkan Adrian memiliki perusahan nenek, karena Dion tak membuat lelaki itu lebih terpuruk lagi. Kehilangan Aluna sudah cukup membuat hatinya hancur berkeping, Dion tak ingin membuat kepingan itu semakin remuk lagi dengan kehilangan impian memiliki perusahaan nenek. Lagian Dion yakin dengan dirinya sendiri, kalau dia mampu membesarkan perusahaan King fashion dengan usahanya sendiri, menurut Dion hasil usaha dan kerja keras sendiri akan terasa lebih nikmat. 


Aluna berdiri mematung menatap kepergian Dion, lelaki yang menjadi tambatan hatinya, meski di lubuk hati yang terdalam cinta Aluna masih terbagi, hanya saja dia tak bisa menimbang siapa yang paling dicintai. Adrian cinta pertamanya dan Dion cinta terindahnya. 


"Aluna duduklah." Nenek mempersilahkan Aluna duduk di kursi kosong yang ada di depannya. 


"Baik Nek." Dengan langkah ragu setelah  sedikit membungkuk memberi hormat, Aluna duduk di depan nenek. 


"Kenapa harus Dion? Kamu tahu dion dan Adrian adalah sepupu, kehadiranmu membuat jarak mereka semakin jauh dan secara tidak langsung kau sudah membuat dua hati cucu hebat ku kacau."


"Saya tidak tahu Nek, entah kenapa takdir mempertemukan saya, dengan kedua cucu nenek, jawabannya hanya tuhan yang tahu. Saya hanya menjalankan hidup sesuai dengan hati nurani saja, jika itu baik buat saya akan saya lakukan, dan jika itu tidak baik maka akan saya tinggalkan."


"Bagus sekali, jawaban yang pintar." Nenek tepuk tangan, dengan bibirnya tersenyum. Meski Aluna tahu itu bukan sebuah pujian, melainkan hinaan yang terselubung. 


"Tuti!" 


"Iya Nyonya!"


"Bawa tas yang baru saja aku beli kemari, kita akan pergi jalan-jalan untuk hari ini."


"Siap Nyonya." Tuti dengan langkah tergesa segera mengambil tas yang nenek maksud. 


Nenek segera menelpon sopir untuk menyiapkan mobil di taman. Setelah semua siap, Nenek segera keluar, Tuti dan Aluna mengekor di belakang. 


Mobil segera meluncur di pusat perbelanjaan megah di kota itu. 


Aluna setia mengekor di belakang nenek, sambil membawakan dompet dan handbag milik nenek. Sedangkan Tuti mendorong troly. 


"Aluna, hari ini nenek sengaja ajak kamu kesini, Karena nenek mau belikan semua barang yang kau inginkan, kau akan tinggal di rumah mewah, kau harus mengganti barang murahan yang kau pakai itu dengan barang branded."

__ADS_1


"Nenek, menurut Aluna itu tidak perlu, biarpun barang murah asal bersih dan layak untuk dipakai itu sudah cukup buat Luna, dan Luna akan bahagia dan nyaman kalau semua dibeli dengan hasil kerja keras kita sendiri."


"Baiklah, kamu yakin nggak mau aku belikan barang mewah dan mahal ini?" Nenek menunjuk tas branded yang terpajang rapi di etalase.


"Maaf Nek, Aluna belum ingin." Aluna menggeleng.


'Aneh sekali gadis ini, bukankah semua wanita akan senang jika diberi barang branded, tapi kenapa dia menolaknya. Dia pasti tahu aku sedang mencoba mengujinya dengan kemewahan. Baiklah aku akan mencobanya dengan hal lain."


Nenek sudah lelah berjalan kesana kemari, ke toko perhiasan dan ke toko baju merk ternama, tapi Aluna sama sekali tak mau menyentuh atau ingin membelinya, padahal nenek sudah menyuruh berulang kali tapi Aluna terus menolak.


Akhirnya nenek memutuskan untuk pulang saja. Nenek hanya belanja untuk dirinya sendiri dan beberapa untuk Tuti. 


Tapi nenek belum yakin dengan ketulusan Aluna, ujian itu belum cukup untuk menjadikan Aluna kriteria cucu menantu idaman buat nenek. 


Sampai di rumah nenek segera istirahat, jalan jalan tadi membuat dia sangat lelah, wajah boleh tetap cantik tetapi usia tetap tak bisa bohong, nenek cepat sekali lelah.  


Aluna menghampiri Nenek. "Nek, ini Aluna buatkan minuman segar dan aman untuk kesehatan Nenek, jus tomat."


Aluna membawa gelas berkaki dengan bentuk panjang, seluruh gelas terisi penuh dengan jus tomat. 


"Nenek tidak suka jus tomat, minum saja sendiri." Nenek menolak dengan mendorong gelas menjauh darinya. 


Aluna yakin juice itu enak, dia tadi mencicipinya sedikit di belakang karena takut rasanya aneh saja, dia tidak boleh lupa dengan tujuannya membuat nenek menyukainya seperti keinginan Dion. 


Aluna lalu menggeser kursi kecil hingga posisinya tepat di depan Nenek, Aluna tahu Nenek lelah, semoga berkat pijatan tangannya yang lembut nenek akan suka.


Aluna mengangkat kedua kaki Nenek, dulu Yusuf selalu minta dipijat Aluna sepulang kerja, dan dia suka tertidur kalau Luna memijatnya. 


"Ehmm, enak juga pijatan gadis ini, tangannya lembut, dia juga terlihat tulus."


Nenek melihat Aluna dengan intens. Aluna tak menyadarinya kalau sedang di perhatikan begitu dalam. 


"Kamu kenal dengan Dion dimana?" tanya Aluna.


"Waktu itu Pak Dion menyelamatkan saya, saat saya terjatuh." jawab Luna.


"Ouhh, Dion memang baik hati, dia suka kasihan lihat orang menderita, aku yakin Dion sebenarnya tidak mencintaimu, tapi kasihan."


"Kasihan? Tidak mungkin Nek. Pak Dion selalu mengatakan kalau dia sayang Aluna."

__ADS_1


"Itu karena dia tak bisa membedakan cinta dan kasihan, Selain itu Dion sangat pemilih, Dion seringkali dekat dengan wanita, seperti kamu ini, tapi setelah dia rasa tidak memenuhi kriterianya, dia akan meninggalkan begitu saja. Dan aku harap kamu tidak kecewa jika saat itu datang."


Aluna terlihat merenung, pijatan tangannya juga melemah. Aluna begitu sedih, benarkah Dion seperti itu. 


Saat merenung ponsel Aluna berdering. Dengan buru buru Aluna mengangkatnya, karena Aluna yakin itu pasti Dion, sebagai sekretaris Aluna wajib melakukan semua perintah Dion. 


"Hallo, Pak Dion."


"Hallo sayang, lagi ngapain nie?"


"Aku … em lagi sama Nenek."


"Oh Iya! Nenek lagi ngapain sekarang."


"Kita habis jalan-jalan sama Nenek, dan sekarang Nenek lagi istirahat."


"Bagus kalau begitu, Sayang kamu jangan lupa istirahat ya, besok aku akan jemput kamu." 


"Kemana?"


"Ke kantor lah. Kamu kan masih jadi sekretaris aku." 


"Iya, Aluna lupa, perasaan kemaren sudah dipecat."


"Oh itu aku bercanda Sayang, aku tidak akan memecat kamu, setelah kamu jadi sekretaris aku, aku makin semangat bekerja."


"Masa sih? Ya udah sampai ketemu besok, Pak Dion jangan lupa kurangi minum kopi dan banyak olahraga."


"Siap sayang." Dion sangat senang mendengar suara merdu Aluna, sejujurnya harai ini dia sangat sibuk bertemu dengan clien dan menghadapi beberapa meeting dadakan, begitu ada waktu dia segera menghubungi Aluna. 


Dion sebenarnya sangat tersiksa saat di dekat Aluna, usianya yang sudah tidak muda lagi memiliki hasrat yang sangat besar pada wanita, tapi bagaimanapun dia harus tetap menjaga kesucian Aluna sampai pernikahan. 


Ah, tiga bulan.  Akan lama sekali penantian itu bagi Dion. 


'Aluna, meski nanti Adrian mantan kamu itu akan lebih sukses dari aku, tapi diriku akan menjadi nomor satu yang menyayangimu.'


Dion mematikan ponselnya setelah Aluna menutup lebih dulu. Nenek hanya mendengarkan saja dan menggerakkan kakinya yang lebih enakan karena usai dipijit Aluna. 


 

__ADS_1


__ADS_2