
"Kemana sih istri dadakan Pak Rian." Arga mulai mengedarkan pandangannya ke lokasi parkir perusahaan.
"Kata Pak Rian tadi di culik, tapi percaya nggak sih ada yang nyulik?" Argo bertanya pada rekannya.
"Nggak tau sih, yang nyulik mungkin saja memang lelaki penggemar gadis cupu seperti dia." Arga selengekan
Argo menjitak kepala temannya."Jangan ngawur, biar dia cupu, dia istri Tuan muda, dia itu aslinya cantik, cuma orang miskin aja jadi nggak tau Fashion, kamu bisa lihat kan? Tanpa lulur dan semacamnya kulitnya sudah putih dan mulus."
"Pernah ngintip dia mandi ya, kok tau kalau dia nggak pake lulur." Arga menoleh cepat ke arah kawannya sambil memegangi bekas jitakan Argo.
"Insting gue aja sih. Lihat lebih dekat kalau nggak percaya"
"Ya udah jangan banyak bicara mending banyak kerja, sebelum Tuan Adrian tanya lagi soal wanitanya.
Tiba tiba Arga menatap Tito yang hendak ke mobil dengan buru buru. "Pak Tito mau kemana?"
"Ada perlu, Kenapa?
"Oh kirain mau cari OG juga."
"Emang kemana dia?" Tito menutup kembali pintu mobilnya mendekat pada arga dan Argo
"Anu, kata Pak Rian dia berangkat dari rumah, tapi nggak sampai kantor."
"Luna, bagaimana bisa? Semoga kamu baik baik saja Luna." Tito terlihat panik, dia menghubungi Luna berulang kali. Dan akhirnya mereka bertiga mencari Luna, menyisir jalanan yang dia lewati setiap ke kantor.
Kepanikan Tito membuat Arga dan Argo mencurigai sesuatu, Arga yakin kalau Tito memiliki perasaan pada Aluna.
tapi seperti janjinya pada keluarga, dia tak akan memberitahukan pada siapapun tentang pernikahan itu, Arga dan Argo memilih membiarkan rahasia ini, biarkan selamanya hanya mereka berdua saja yang tahu.
****
Sore hari Aluna terlihat segar karena habis mandi, Imah membantu membalut lukanya dengan kain yang baru. Setelah itu membuatkan jus wortel yang selama ini tak pernah Aluna sukai.
"Bi, kenapa buat jus wortel, saya kan nggak meminta Bi." Aluna mengernyitkan keningnya.
"Ini enak Nona, anda mulai sekarang harus minum jus ini, dua kali sehari."
"Tapi Bi …" Aluna enek membayangkan minum jus wortel.
"Nona, anda apa tidak capek dihina terus sama orang-orang disekitar, padahal anda bisa tampil cantik seperti mereka. Minum jus wortel ini secara rutin Anda tak perlu lagi pakai kacamata"
Aluna tersenyum tak percaya.
"Masa sih Bi, Aluna bisa tanpa kaca mata?"
"Iya, masa bibi bohong."
__ADS_1
Saat Aluna dan Bibi mau berangkat membeli handphone baru tiba tiba suara teriakan Selena menggema dari depan pintu. "Luna!"
"I-iya Nyonya." Aluna terkejut
"Enak saja kamu bersantai di rumah saya, makan gratis, tidur nyenyak di kasur empuk, kamu harusnya tau diri dong. Sekarang aku ingin kamu buatkan aku minuman segar habis itu bersihkan kamar mandi di kamarku."
Imah melihat Aluna yang terlihat lemah, dia tak tega harus membayangkan Aluna membersihkan kamar mandi milik nyonya di rumah ini. "Biar saya saja Nyonya."
"Enggak, aku beri pekerjaan ini untuk Aluna. Dia sudah memecahkan guci kesayangan ku, dia harus membayar dengan tenaganya seharga guci itu."
"Tapi Nyonya, Nona sedang kurang enak badan."
"Halah, setiap hari pasti dia akan beralasan sakit, dia aslinya kan pemalas, mau hidup enak malas kerja. Makanya bapaknya sebelum mati dia menjebak suami saya dengan meminta menikahkan anaknya, karena dia tahu kami berasal dari keluarga kaya."
Aluna hanya bisa menggelengkan kepala. "Tidak seperti itu, Nyonya. Sungguh Aluna tidak memiliki rencana apapun sebelumnya."
Selena mengibaskan tangannya."Halah, kamu pura pura saja terus, sekarang modus penipuan itu banyak, ada yang pura pura menjadi gadis cantik, ada juga yang pura-pura culun, kamu ini contohnya." Selena memperhatikan Aluna dari atas sampai bawah. Sebenarnya dia melihat ada perubahan besar pada diri gadis itu, kulitnya lebih bersih dan lembut.
Aluna hanya bisa menahan tangisnya, dia tak mau terlihat lemah di depan mertuanya, dia harus bertahan demi amanah Yusuf.
Akan saya kerjakan Nyonya." Aluna memandang mertuanya, tersenyum kecil lalu keluar dengan melewatinya.
Imah ikut di belakang Luna, dengan sigap Selena meraih lengannya. "Kemana kamu? Jangan berani bantu dia, atau kamu akan aku pecat! Kamu mending pijitin tubuhku saja, aku merasa pegal di seluruh persendian,"
'Syukurin, itu mungkin akibat dari jahat sama anak yatim piatu.'
Aluna membuat jus sirsak, setelah selesai ia antar ke kamar mertuanya, lalu melanjutkan tugas selanjutnya.
Sambil tertatih dia menghampiri kamar mandi dan membersihkan dengan hati-hati, Aluna baru pertama kali melihat kamar mandi begitu luas dan besar, sudah sama dengan ruang tamu di rumah lamanya.
Selena tersenyum melihat Aluna semakin menderita, dia berharap secepatnya wanita itu akan pergi, dan cepat-cepat menikahkan Angel dengan Adrian.
"Bersihkan sebersih mungkin, jangan sampai ada kotoran yang tertinggal, apalagi masih licin," ucapnya dari luar.
"Iya, Nyonya."
****
Usai membersihkan kamar mandi Aluna merasakan tubuhnya begitu lelah, keringat dingin membasahi tubuhnya. Dia ingin minum air segar yang dia simpan di dalam kulkas. Tiba-tiba Chela muncul dan merebut minuman dari tangan Aluna.
Hey enak banget kamu mau minum ini, Ini khusus buat tuan rumah, kamu kan OG di kantor, kamu juga cuma pembantu di rumah. Lengkap kan?" Chela tersenyum sambil meminum habis minuman dari tangan Aluna.
"Chela, aku haus."
"Ya udah kamu minum ini aja." Chela memberikan teh sisanya kemarin dari atas kulkas yang sudah dihinggapi semut.
"Chela kenapa kamu beri aku minuman basi, Itu teh kemarin, aku bisa sakit perut." Aluna mendorong tangan Chela.
__ADS_1
"Emang kamu bisa sakit perut juga ya? Bukannya kamu dulu terbiasa makan makanan busuk."
"Tidak Chela, walaupun aku miskin, bapak selalu bawa sayuran segar dan ikan segar untuk kami masak dirumah" Aluna tak terima ucapan Chela yang merendahkannya.
"Dasar gadis kampung, sudah pandai bicara sekarang, jadi OG aja sok Sokan bilang sekretaris. Mimpi kamu ketinggian kakak ipar." Chela kehabisan bahan untuk menghujat Aluna, dia menggunakan kelemahan Aluna yang lainnya.
"Chela, aku tak pernah bilang seorang sekretaris, kakak kamu sendiri yang bilang, kamu lupa ya? Harusnya kamu tanyakan pada dia, kenapa dia berbohong."
'Iya, kenapa Kak Adrian berbohong, aku tak mau Kak Adrian sampai jatuh cinta pada gadis kampung ini, aku ingin Kak Rian yang tampan dia juga memiliki istri yang cantik.'
"Dasar wanita Licik." Chela pergi dengan setengah berlari, Aluna hanya melihatnya. Saat akan menaiki tangga, mungkin karena tergesa atau entah karena kesal, Aluna melihat Chela terkilir dan jatuh.
"Chela!" Pekik Aluna, Aluna segera menghampiri adiknya yang berusaha duduk dan kesakitan.
Aluna berjongkok membantu Chela, tapi gadis itu menepisnya. "Kamu pasti berdoa supaya aku terjatuh, kenapa Luna, kamu masih pura-pura baik?"
Aluna menggeleng. "Tidak Chel, aku tidak pernah berdoa buruk untukmu.
"Ada apa ini?" Sosok lelaki tampan masuk, sambil melepas beberapa kancing kemejanya, tubuhnya terlihat lelah.
"Kak Rian, aku terjatuh." Adu Chela.
"Kok bisa?" Adrian melihat Chela yang menangis.
"Itu karena dia, dia pasti sumpahin aku terjatuh, biar sama kayak kakinya, diperban,"
"Chela aku tak mungkin mendoakan kamu jatuh."
"Aluna, kamu dari mana? Dari mana aja seharian ini tidak masuk kerja?!" Adrian berbicara dengan suara keras.
"Aku tadi ingin masuk kerja, tapi dijalan aku mengalami kecelakaan. Lihat! Ini lututku sakit, diperban." Aluna perlihatkan lututnya.
"Alasan saja, aku tahu kamu sengaja membesar besarkan lukamu karena ingin dekat dengan Dion, nggak cukup apa dengan Tito?" Adrian merasa kesal Aluna diantar oleh Dion, jika Tito yang dekat dengan Aluna, Adrian masih bisa memaklumi, karena Tito masih Asistennya. Tapi Dion, lelaki itu saingan terberatnya, Dion sangat berpotensi bisa menguasai pasar dagang karena kerja kerasnya.
Aluna hanya bisa menahan sesak di dadanya, satu keluarga tak pernah ada yang menghargai dirinya, tak dihargai tak masalah, tapi setidaknya tidak usah menyakiti.
"Heran, Kenapa Aku bisa tahu semuanya?" Adrian tersenyum smirk.
"Nih, Arga dan Argo menemukan bukti dari CCTV yang ada di halaman rumah sakit, dua kali pria itu menggendong mu, saat masuk rumah sakit dan keluar, murahan!"
Adrian memutar video rekaman kiriman dari Arga dan mendekatkan ke wajah Aluna. Aluna tak percaya hasil salinan rekaman CCTV itu terlihat begitu romantis, wajah Dion terlihat menawan dengan tubuhnya yang tegap.
"Ya tuhan? Dia mau membuat Kak Adrian dan Kak Dion sama sama bersimpati dengannya, tapi untung Kak Adrian cerdas. Biarlah Kak Dion yang terperangkap oleh gadis kampung ini, Kak." Chela membekap mulutnya sendiri melihat Aluna melingkarkan lengannya di leher Dion.
Aluna memang melingkarkan lengannya di leher Dion, semata karena dia takut jatuh.
*Happy reading.
__ADS_1