Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 34. Dia Cantik


__ADS_3

"Entahlah, biar aku jalani suratan ini, Pak Dion." Ingin sekali Aluna menjelaskan sesuatu yang dialami dan berbagi cerita pada Dion, tapi dia berusaha menahannya. 


Mama Melani keluar membawa banyak baju dalam paperbag. Aluna dan Dion menatap wanita usia setengah abad yang masih terlihat begitu cantik.


"Apa itu, Ma?" Dion tak sabar ingin tahu isi barang yang dibawa mamanya.


"Ini loh Dion, Mama belikan banyak baju untuk adik kamu Jessika. Tapi dia sedikit kekecilan, kalau Luna mungkin pas ya?"


"Iya Ma, Jessica gendutan dikit dia, harusnya dia mulai diet, cewek kok makannya banyak." Dion sengaja menggoda adiknya yang baru pulang kuliah. 


"Siapa yang makan banyak Dion, kamu pasti sengaja mempermalukan aku didepan kakak ini ya? Hai Kak? Kita belum kenalan, apa kau calon kakak ipar?" Tanya Jessica pada Aluna. 


"Hai … Aluna." Aluna memperkenalkan diri. Menjabat tangan Jessica.


"Jessica."


Mata Jessica langsung menoleh pada baju yang ada di tangan mama. "Mam, mau diapakan baju kekecilan itu?"


"Jessica, mama mau kasihkan Aluna saja, soalnya. mubazir kalau nggak ada yang pakai. Boleh kan?" 


"Nggak papa kalau Kak Luna mau, masih baru juga, Kok." ucap Jessica sambil beberapa kali mencomot puding di depan Dion. 


"Jess, tangan Lo kondisikan, nggak punya malu sama tamu." Mama menegur putrinya. 


"Kak Aluna bukan tamu, ya kan Kak? Mungkin setelah ini dia bisa jadi teman Jessica. Kalau sering kesini sih."


"Iya, Makasi Jess." Aluna tersenyum. Hatinya meleleh oleh sikap Jessika yang sangat berbeda dengan Chela. 


"Ben, tolong taruh baju baju ini ke bagasi mobil Dion, saat pulang nanti biar nggak ketinggalan. Aluna pasti akan makin cantik jika memakainya.


"Siap, Nya." Ben menenteng banyak paperbag dengan kedua tangannya ada hampir sepuluh stel baju baru untuk Luna, dan tentunya dengan model dan tren kekinian.


Pak Dion aku mau pulang dulu, takut nanti kemalaman.


"Oke, aku akan antar," Dion bangkit jemarinya meraih  kunci mobil di depannya.  Aluna juga meraih tangan Melani dan menciumnya. 


"Luna, Tante ingin berterima kasih pada kamu dan bapak, tapi sayangnya dia sudah pergi sebelum kami bertemu. Salah kami yang sudah melupakan kebaikan orang begitu saja, jangan sungkan kalau kamu mau kesini, ada Tante dan Jessika yang bisa jadi kawan kamu."

__ADS_1


"Tante!" Aluna memeluk Melani dan menempelkan dagunya di pundak, terharu, ternyata tak semua orang kaya angkuh dan arogan. Buktinya Jessica dan Melani terlihat baik di depannya. 


Dion dan Aluna sudah di dalam mobil, Dion nampak belum ingin mengantar Aluna pulang. 


"Luna, kalau kamu tak suka bajunya bisa buang saja, selera kamu dan Jesika pasti beda, aku antar kamu beli ke Mall sekarang gimana? Aku takut kamu merasa diberi barang bekas."


" Jangan Pak Dion, itu masih baru semua, kalaupun bekas Jessika, emangnya kenapa?" 


"Ya sudah kalau kamu mau."


Dion memutar kunci mobil dan menyalakan mesinnya, mobil perlahan meninggalkan mansion putih yang dihuni oleh makhluk baik. 


Diperjalanan, Dion terus membujuk Aluna agar mau bekerja padanya. Tapi sayangnya jawaban dari Luna masih sama, tidak menolak dan tidak juga iya.


"Oke, kalau kamu masih suka di Alexa Fashion, dan jadi OG disana aku tak masalah, jika sewaktu kamu berubah pikiran kabari aku ya."


"Pak Dion kenapa baik sekali pada Aluna disaat semua orang merendahkan Aluna, apa karena semata bapak dulu telah menyelamatkan hidup bapak."


Dion menepikan mobilnya dan menghadap ke Luna. Luna tak berani menatap Dion. Dia meremas roknya untuk menghilangkan kegugupan. 


"Aku tak pernah melihat mata seindah ini, dan tahi lalat ini sulit untuk aku lupakan. Bahkan aku membuat lukisan ini. Ini khayalanku ketika kamu beranjak dewasa. Mirip kan" Lelaki itu membuka dashboard, dan menunjukkan sesuatu pada Aluna.


Aluna mengambil kertas bergambar yang terlipat persegi dari tangan Dion Membuka dengan hati-hati. Aluna tersenyum melihatnya. 


"Ini bukan aku, gambar ini terlalu cantik." Aluna menatap goresan pensil Dion yang terlihat dibuat dengan sepenuh hati.


Dion tersenyum. "Aluna yang ini juga cantik, aku nggak pernah sekalipun bilang jelek." Mengusap pelan tahi lalat kecil yang seperti titik tinta. Mulai menyamakan dengan lukisannya.


Aluna melipat lagi dan menyerahkan pada Dion. Ada salah tingkah dari keduanya. 


Oh iya, tadi kamu lupa pamit dengan Gemoy, dia sepertinya suka sama kamu, buktinya, dia tadi mau digendong keliling taman. Bantu aku merawat dia ya, Gemoy sangat takut dengan Jessika. Selama ini belum ada yang nyaman dengannya."


"Masa sih?"


"Iya, Jessika kasar, sejak kecil dia tak suka dengan kucing, padahal dia sangat lucu. Kamu suka?"


"Suka, Pak. Dia sangat lucu dan bulunya lembut."

__ADS_1


"Pak Dion, Aku harus pulang, aku takut kemalaman."


Aluna mengingatkan Dion, dia tak mau berlama lama berdua di tempat yang sepi. Apalagi senja sudah berlalu. 


Jujur hati Aluna sangat nyaman di dekat Dion. Lelaki tertampan di keluarga Alexander. 


Pemilik iris mata biru dan wajah begitu menawan, tapi sayangnya Aluna sudah menikah. Aluna tulang rusuk Adrian. Dalam hati Aluna berharap kalau dia adalah tulang rusuk Dion. Bisa disamping lelaki sebaik dan hangat seperti Dion adalah anugrah terindah bagi kaum hawa..


***


Luna sudah sampai di halaman, dia melihat tatapan tajam dari Adrian di balkon. Mata elang Adrian terus mengamati Aluna yang membawa paper bag dan kantong plastik berlogo tempat belanja terbesar di kota itu. 


Wanita itu melangkah hati-hati, berdoa  semoga suaminya tak marah. Bersyukur kamarnya sudah pindah di belakang, Aluna bisa lewat samping tempat menjemur pakaian dan langsung menuju kamarnya yang kecil. 


Aluna segera menaruh benda pemberian Melani dan menyimpannya di lemari, hanya satu yang dia tinggalkan, ingin dicoba pada malam ini. 


Aluna segera menuju kamar mandi dan mandi sebersih mungkin. Aroma tubuh Dion terus menghantuinya, usai kejadian di kolam tadi. 


Aluna merasakan ini hari pertama dia bisa tersenyum, dia bisa melupakan kesedihannya tentang bayangan bapak. Dion adalah pembawa kebahagiaan sesaat untuk Aluna.


Aluna keluar kamar, aroma wangi semerbak menguar dari tubuhnya. Hari ini dia sangat lama sekali menghabiskan waktu hanya untuk mandi. 


 Lelaki itu tadi mampir di sebuah swalayan ternyata membelikan banyak lulur mandi dan aroma terapi, Dion ingin kulit Aluna yang lembut bisa mendapatkan perlakuan lebih baik lagi. 


Dion sudah tahu, Aluna akan menolak, tapi lelaki itu tak kehabisan akal, dia memanfaatkan kebaikan Bi Imah untuk membawa semua barang spesial untuk Aluna. 


Adrian masuk ke kamar Aluna yang tak terkunci, cahayanya  temaram karena bola lampu sudah tua. Aluna terkejut Adrian sudah ada dibelakangnya. 


"Apa seperti ini penampilanmu saat kau keluar dengan laki-laki lain?" 


Suara bariton itu membuat jantung Aluna nyaris melompat. Dengan buru buru Aluna menarik selimut untuk menutupi tubuh dan memakai kacamatanya. 


Tapi terlambat, Adrian sudah terlanjur melihat Aluna memakai gaun pendek berwarna hitam. Rambutnya pirang alami dia gerai bebas, bibirnya merah dan terlihat jauh berbeda dengan Aluna yang biasanya. Kaki panjangnya begitu putih dan mulus


Adrian mengerjap berulang kali, belum percaya apa yang dilihatnya.


"Benarkah Aluna berubah wujud ketika malam tiba?" monolog Adrian saat Aluna sibuk menutup tubuhnya dengan selimut.

__ADS_1


__ADS_2