Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 46. Tempat bersandar.


__ADS_3

Dua rasa bercampur aduk antara bahagia dan senang, Aluna bahagia karena perlakuan Dion yang membuatnya spesial, tapi disisi lain dia sedih karena Adrian suaminya sering mengancam dan membuatnya takut.


Setelah mengunci kamar Aluna segera membersihkan makeup di wajah dan ganti baju dengan piyama tidur. 


Tring!


Suara notif pesan dari ponsel Luna.


"Luna, sudah tidur?."


Luna segera membalas dengan cepat.


"Belum, ini baru mau tidur."


"Jangan malam-malam, nanti kantung mata kamu hitam."


"Iya, kalau gitu mau tidur sekarang. Selamat malam."


Terakhir Dion menutup kiriman pesan dengan emoji senyum. Lalu keduanya sudah tidak lagi online. 


Mata Dion sulit terpejam, Dia menatap ke langit-langit dengan kepala beralas dua telapaknya. Ingat Aluna memakai baju merah tadi bibirnya tersenyum. 


Luna sangat cantik, senyumnya manis, sekilas dia sangat mirip dengan artis Bollywood Preti zinta


Sedangkan Aluna sudah mulai mengantuk. Dia lekas menaruh ponselnya di nakas dan menuruti perintah Dion. 


Satu jam kemudian Aluna sudah lelap, tiba-tiba Aluna dikejutkan oleh suara orang memanggil dan mengetuk pintu.


"Siapa?"


"Buka pintunya!"


Seseorang diluar sana terlihat tak sabar. Dengan menahan kantuk Aluna membuka pintunya. 

__ADS_1


Aluna mencari seseorang di kanan dan kiri, ternyata tidak ada siapapun. Aluna segera menutupnya kembali. Tak menyangka dari balik tiang besar ada seorang lelaki bertubuh besar dan memakai jas hitam dan celana hitam menghampirinya, dengan lari secepat kilat. 


Lelaki itu membekap mulut Aluna dan masuk ke kamar lalu mengunci pintu. Perlawanan di pemilik tubuh mungil tak berarti sama sekali.


"Aluna, kau rupanya tinggal di kamar ini sendirian." Seringai menakutkan terlihat di wajah lelaki pemilik tatapan elang itu.


"Le-le-paskan saya, Pak. Apa yang anda inginkan."


"Tidak akan pernah, kamu jangan lupa, satu bulan lalu aku sudah menjadikan kamu istriku, sekarang aku berhak minta hakku sebelum diambil orang."


"Jangan Pak, aku mohon lepaskan."


"Tidak akan! Malam ini kamu harus memberikannya untukku. 


"Jangan Pak Rian!"


Aluna terus saja meminta dikasihani, tetapi lelaki yang sudah di landa nafsu itu tak memberinya ampun. Dia memanfaatkan tubuh kekarnya dengan mendorong Aluna di atas ranjang. 


Ranjang empuk memantulkan tubuh mungil dan putih, membuatnya kesulitan bergerak. 


"Kamu menawarkan diri untuk dinikahi olehku, jadi sekarang aku akan mengambil hakku. Kau tak bisa menolak."


"Jangan lakukan Pak Rian aku mohon." Dalam ketakutan Aluna terus menggeser tubuhnya ke belakang tetapi lelaki itu tak memberinya maaf. 


Wajah yang sudah diliputi dengan nafsu itu terus mendekat. Jemari besar menarik dagu Aluna hingga menyisakan jarak setengah jengkal. 


"Layani aku, kau pasti sudah pernah melakukannya kan? tunjukkan kehebatanmu bermain ranjang, aku ingin mencobanya."


"Jangan Pak Rian, saya tidak mau, saya takut hiks hiks." Aluna terus saja memohon, meminta dikasihani.


Aluna berusaha mencari apapun yang bisa ia gapai, bantal dan guling dia lemparkan kearah Adrian, tapi sama sekali tak membuatnya mengurungkan niatnya. Adrian melepas hem yang masih sama saat dia pakai di pesta tadi, hingga terlihat enam roti sobek di tubuhnya dan lengan kekar berurat. 


Semua otot indah itu terbentuk sempurna karena dia rajin olahraga. 

__ADS_1


Tubuh kekar menindih Aluna hingga dia tak bisa bergerak. Membuka paksa piyama tidur dengan kasar hingga kancingnya berceceran.


Sang pemilik tubuh memaksakan kehendaknya hingga membuat paru-paru Aluna terasa sesak, nyaris tak bisa bernapas. 


"Jangaaaaan!"


"Jangan lakukan," teriaknya penuh permohonan.


"Lepaskan!"


Adrian terus mencium bibir Aluna dengan brutal. Segala penolakan yang dilakukan hanya berbuah sia sia, lelaki itu telah merenggut mahkota yang ia jaga selama ini. 


"Lepaskan ..." Aluna masih memohon satu kali lagi dengan memukul punggung lelaki itu. Namun, yang terjadi dia malah memukul udara.


 Aluna segera bangkit dari tidurnya, membuka bola mata dengan cepat menjadi seratus watt, dadanya kembang kempis berusaha mengatur nafas. Memeriksa piyama yang masih melekat dengan utuh. Menatap ke arah pintu yang masih terkunci dengan rapat. 


"Syukurlah hanya mimpi." Aluna segera turun lalu meneguk segelas air putih. 


Di malam ini Aluna merasa takut, kejadian baru saja membuatnya menjadi penakut. 


Dia butuh seseorang untuk menentramkan hatinya. 


Aluna keluar kamar dengan langkah tergopoh, mengetuk pintu kamar sebelah dengan pelan, berharap penghuninya belum larut dalam buaian mimpi. 


Dion membuka mata setelah mendengar ketukan pintu beruntun, mengerjap lalu mengucek kedua kelopak matanya, yang ia dengar ternyata benar. 


Suara samar ketukan pintu terus saja berlanjut. "Pak, Pak Dion apakah anda sudah tidur?"


"Aluna, Kenapa dia seperti ketakutan."


Dion segera menyibak selimut hangat, segera berlari menuju pintu tanpa memakai alas kaki. Membuka pintu dengan cepat. 


Sosok berambut acak acakan dan kucel ada di depannya, wajahnya terlihat ketakutan. 

__ADS_1


"Luna, apa yang telah terjadi?"


"Pak Dion!" Aluna segera memeluk tubuh Dion, Dion membalas pelukan Aluna. Wanita malang itu menangis dalam dekapan pria yang selalu ada saat dia membutuhkan perlindungan. 


__ADS_2