
Dion menghentikan mobilnya di depan mansion. Ben sudah ada disana lima menit lebih dulu, sepeda memang bisa jadi raja nyalip kalau di jalanan.
"Luna, kita sudah sampai di Mansion tempat kamu bekerja, terima kasih untuk hari berharganya. Sudah mau menemaniku." Dion membuka sabuk pengaman untuk Aluna. Aluna kembali dibuat tak berkutik oleh tingkah Dion yang kelewat baik.
"Terima kasih pak dion."
"Terima kasih untuk apa? Sudah jangan berterima kasih. Sesama teman kita tak perlu berterima kasih.
"Pak Dion sudah banyak sekali melakukan kebaikan pada Aluna. Ponsel ini Aluna sangat berat menerimanya. Apalagi makan tadi, membuat Aluna makin merasa punya hutang budi banyak sekarang."
"Lun apakah aku boleh lihat sesuatu? Aku ingin melihat mata indahmu, please buka kacamatanya sebentar." Permintaan Dion membuat Aluna terhenyak. Tetapi Dion segera menjelaskan alasannya.
"Jangan berpikir yang bukan-bukan, aku hanya ingin mengetahui apakah kamu anak dari lelaki yang pernah menyelamatkan aku? Aku merasa lelaki itu datang seperti malaikat, aku berhutang rasa terimakasih pada dia, andaikan dia tak datang diwaktu yang tepat pasti tubuhku sudah terseret ombak ke tengah laut."
Aluna mulai ingat sesuatu, dulu dia senang ikut bapaknya bermain di bibir pantai. Yusuf suka menangkap kepiting sambil membiarkan Aluna bermain pasir dengan teman-temannya. jika dapat sedikit kepiting cukup dimasak, jika dapat banyak dia bawa untuk dijual bersama sayur mayur esok harinya.
Hari-hari itu terasa begitu indah, Aluna bisa melihat sosok bapak sekaligus ibu pada diri Yusuf, dia bisa menjaganya dan mencari nafkah sekaligus.
Aluna kembali ingat saat itu dia melihat anak berusia tiga belas tahun nekat bermain surfing, dia sangat keras kepala, beberapa asisten sudah melarangnya, karena keinginannya tak ingin di tentang pengawal mengizinkan hingga terjadi insiden menyedihkan.
"Kalau kamu keberatan, tidak apa apa? Kamu saat itu sudah berusia sekitar tujuh tahun, pasti ingat kan?"
"Aluna mengangguk, iya aku ingat, dan aku tak menyangka anak laki laki itu Pak Dion. Bapak berbeda sekali, sekarang bapak sangat tampan.
__ADS_1
"Luna." Dion langsung menarik tubuh kecil Aluna ke dalam dekapan dengan penuh haru. Dia tak menyangka wanita itu Aluna.
"Aku harus berterimakasih padamu dan orang tuamu. Tapi sayangnya aku terlambat. Aluna terima kasih, terimakasih" Dion tersenyum bahagia, hingga air mata menggenang dipelupuk mata, sedangkan lidah dan tubuh Aluna mendadak menjadi kaku. Dia tak bisa berkata-kata menanggapi tingkah bar-bar Dion.
"Luna, kamu harus main ke rumah, aku akan kenalkan sama Mama, biar kalian akrab." Dion melepas pelukannya dan memegangi kedua pundak Aluna.
"Iya, kalau libur aku akan main ke rumah Pak Dion. Tapi sepertinya sekarang sudah mulai malam, Aluna harus kembali bekerja pada majikan, Aluna harus siapkan makan malam."
"Iya, selamat bekerja."
"Makasih Pak Dion."
"Panggil Dion aja."
Aluna ragu menerimanya, tapi Ben memaksa. Aluna menatap Dion sejenak, dia bisa menatap lelaki itu tersenyum dari balik kaca.
Setelah mobil Dion meninggalkan dirinya sendiri, Aluna mendorong motor masuk gerbang.
Aluna sudah tau kalau dia akan mendapat marah. Saat dia turun tadi melihat mobil Adrian tepat di belakang mobil Dion. Dua lelaki tadi tak saling bertegur sapa atau sekedar senyum, hanya ada tatapan tajam dari keduanya.
Aluna berusaha tenang, Adrian dan Dion bersikap demikian pasti bukan karena dirinya, mereka berdua sudah lama berselisih dan bersaing.
Aluna segera memarkir sepedanya dan berlari ke kamar, sebisa mungkin menghindar agar tak bertemu Adrian si monster kutub.
__ADS_1
Luna segera naik tangga menuju kamar, tapi sayang Adrian lebih cepat sampai, karena dia lewat lift.
Aluna terkejut melihat sosok menyeramkan itu sudah menjadi penunggu pintu masuk, Aluna menghentikan langkahnya. Namun, apa yang harus dilakukan? Apa dia harus turun lagi atau tetap mendekati Adrian dan menerima apapun yang akan dilakukan padanya.
Pak Rian aku mau ke kamar. Aku ingin membersihkan diri lalu menyiapkan makan malam.
Adrian tersenyum, dia bertepuk tangan berulang kali. "Hebat, kau pulang setelah puas jalan-jalan, makan-makan, dan apa itu?"
Adrian fokus pada bingkisan di tangan Aluna.
"Ini, aku juga belum tahu isinya, tadi Pak Dion yang belikan." Aluna menyerahkan bungkusan dalam kresek putih. Kalau anda mau ambil saja.
Melihat Adrian mulai lengah Aluna segera membuka pintu. Namun hal kecil yang dilakukan, justru membuat Adrian semakin terhina.
"Aluna, kau sudah berani bermain api dengan Adrian, kau harus sadar siapa dirimu. Jika aku peringatkan jangan dekat dengan Dion, kenapa masih kamu lakukan?"
"Lalu aku harus dekat dengan siapa? Dengan Anda?"
"Bukankah Anda sudah bilang, aku tak pernah pantas untuk dekat dengan lelaki terhormat seperti anda? Kenapa jika aku harus dekat dengan Pak Dion? Hanya dia lelaki yang mau berteman denganku tanpa harus melihat fisik yang selalu mendapat hinaan ini?" Lirih Aluna yang semua kata katanya masih sanggup didengar oleh Adrian.
Aluna masuk ke dalam, dia biarkan pintu kamarnya terbuka. Dia tak ingin membuat Adrian lebih marah lagi dengan menutup pintu. Jujur Aluna hari ini sangat lelah.
Tiba-tiba lelaki di depan pintu itu bicara lagi.
__ADS_1
"Aku melihat dia tadi memelukmu? Berapa hari kau kenal? Kukira kau berbeda, apa kamu semurah itu, Luna?"