Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 131. Menyesal tiada akhir.


__ADS_3

Dokter telah selesai memeriksa Aluna. Sebelum meninggalkan ruangan mereka pamit pada Dion. 


Pak Dion anda harus bersabar, calon istri anda pasti akan segera ingat semuanya, Hal seperti ini sering terjadi pada pasien dengan luka dilepala.


"Baik Dokter, terimakasih. Tetap lakukan yang terbaik, aku sangat mencintai dia."


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin Tuan. "Dokter tersenyum. Dion menepuk pundak dokter yang tingginya sebatas kuping Dion itu. 


Dalam ruangan tinggal mereka berdua. Luna terlihat memejamkan matanya. Entah kenapa Luna ingin sekali Dion membencinya, atau bahkan menjauhinya saja. 


"Luna, aku tahu kau mendengar semuanya. Kau belum tidur kan?"


Luna diam, dia hanya menatap langit-langit. 


"Sayang! Aku mohon. Jangan seperti ini, jika kamu ingin aku mati maka terus lakukanlah."


Dion meraih jemari Aluna lagi entah sudah berapa kali dilakukan. Mengecupnya sangat lama. Lalu kembali duduk di kursi kecil.


"Pak Dion kenapa anda harus mencintaiku sedalam ini? Kenapa anda tidak membiarkan aku bebas saja. Apa yang bisa anda harapkan dari aku yang sakit, ini?" Aluna menatap manik hitam milik Dion dengan lekat.


Dion membalasnya dengan tatapan tajam. "Jawabannya karena aku mencintaimu sejak awal kita dipertemukan, dan alasan apapun tidak akan pernah membuat cintaku goyah."


Aluna berkedip pelan, lalu berpaling, menyembunyikan wajahnya dari Dion, Luna  tidak mau dia melihat dirinya ketika sedang menangis.


Setelah mengusap lelehan Hanyar yang merembes di pipi, Aluna kembali menatap Dion. Senyum mengenang dari bibirnya. 


"Pak Dion kenapa sekarang kusut begitu? Biasanya tampan, bajunya rapi, dan ini kumisnya sudah tumbuh?" Aluna mengalihkan pembicaraan berharap Dion tak marah lagi. 


"Itu karena kekasihku sedang amnesia." Dion tersenyum menggoda Aluna.


"Maaf, aku melakukannya, karena aku ingin Pak Dion menikah dengan dokter Clara."


"Tidak akan ada kebahagiaan, Aluna. Jika cinta itu dipaksakan." Jawab Dion sambil mengusap kening Aluna yang mulai berkeringat. 


"Aku hanya takut anda nanti akan menyesal," kata Aluna lagi.


"Jika aku menyesal, aku akan memotong jari-jariku," kata Dion. Meski terlihat bercanda tapi dia serius mengatakannya. 


"Selamat Sore, Nona Tuan. Ini rangsum untuk Nona Aluna. Tolong segera dalam." kata Suster muda dengan senyum ramah. 

__ADS_1


"Terima kasih Suster." Jawab Aluna. 


Dion mengambil kotak dari suster dan langsung membukanya. 


"Ini harus dimakan sekarang, biar aku suapi."


"Pak Dion, aku nggak ingin makan apapun, tolong." 


"Baiklah itu artinya kamu memang tidak ingin sembuh, baiklah kita sakit bersama, aku juga tak akan makan apapun. Aku sudah berpuasa tiga hari," kata Dion jujur.


Dion ingin menaruh lagi kotak rangsum Luna, tapi Aluna mencegah dengan tangannya. "Aku mau makan, tapi janji ya setelah ini Pak Dion juga harus makan." 


"Siap Nyonya Dion."


"Masih calon Pak." Aluna membenarkan.


Dion menyuapi Luna dengan zelaten seperti pada anak kecil. Karena sambil tidur makannya jadi belepotan. "Pak Dion nggak pernah suapin cewek lain?" 


"Mau tau apa mau tau banget."


"Mau tau aja, kalau nggak boleh tau juga nggak apa apa."


"Jawabannya pernah," kata Dion semangat. 


Orang pertama yang mendapatkan Cintaku dengan tulus, dan mendapatkan suapan dari tanganku langsung itu kamu Aluna. Jika ada hubungan masalalu yang mungkin jika kau tahu lebih menyakitkan lagi. Itu karena kesalahan, atau lebih cenderung pada ketidak sengajaan."


"Aku tak pernah mencintai wanita hingga sebesar rasa cintaku padamu."


Aluna menyimak ucapan Dion. Diam tak bergeming.


"Jadi aku ingin kita menikah hari ini juga, apa kamu ingin menolakku lagi hem?" Dion mengusap dahi dan kening Luna.


"Baiklah, aku bersedia." Wanita itu mengangguk memantapkan hatinya menjadi istri sah Dion.


"Terima kasih sayang, akhirnya kau memilihku menjadi pendamping hidupmu." Dion ingin sekali memeluk Aluna erat karena saking girangnya, tapi Dion menahannya takut melukai Aluna.


 


Karena Aluna sudah sadar Dion mengijinkan keluarga yang lain masuk.

__ADS_1


Adrian ingin menemui Aluna untuk terakhir kali, tapi urung karena dia takut semakin dekat dengan Aluna akan semakin sulit melupakan wanita itu. Berharap dengan tidak bertemu Aluna lagi, dia bisa melupakan masalalunya.


"Aku mendoakan kau bahagia dengan Dion Aluna. Maafkan aku terlambat mencintaimu. Andai mungkin ada kesempatan bersatu lagi, aku akan menerima kehadiranmu, kapanpun itu. Tak perduli berapa lama kau sudah menikah dengan Dion, jika kau tak bahagia aku akan menerima kehadiranmu dengan kedua tanganku ini."


Adrian lalu meninggalkan ruang UGD. Dia sudah cukup puas melihat kemesraan mereka berdia dari kaca tadi.


"Adrian kamu kemana?" Selena yang melihat putranya pergi dengan wajah lesu, merasa tak tega. 


"Aku akan pergi, aku tidak dibutuhkan disini."


Melani yang mendengar ucapan Adrian dia merasa kasihan. Lelaki itu sejak kemarin juga belum keluar mencari makan, Adrian sama terpukulnya dengan Dion. 


"Adrian, kamu belum minta maaf, temui dia, dan minta maaf pada Aluna. Tante disini tidak memihak padamu atau Dion, Tante hanya menyayangkan kenapa kau dulu. Memberi kesempatan Dion memiliki Aluna."


"Baiklah Tante." Adrian setuju ikut masuk bersama keluarga.


Luna dan Dion di dalam sedang bercanda. Gelak tawa terdengar menggema. Dion mencoba untuk membuat Aluna agar tidak terpaku dalam sakitnya. 


Ketika Adrian masuk, seketika ruangan menjadi sunyi. Dion memasang wajah tak bersahabat. 


"Dion, Adrian ingin minta maaf sama Aluna. Tolong kamu beri dia waktu untuk bicara."


"Mau apa?" Kata Dion dingin. 


Selena mengelus punggung Adrian agar tak tersulut emosi menghadapi Dion. 


Sedangkan Melani menggeleng pelan. Meminta agar Dion jangan sampai terbawa emosi lagi. 


Dion berdiri di belakang Adrian sudah seperti security. Memberi kesempatan Aluna bicara.


Andrian duduk di kursi  belas duduk Dion. Menatap Aluna dengan raut sedih. "Luna maafkan aku yang bodoh ini, dulu sampai sekarang aku sebenarnya mencintaimu, hanya saya aku tak bisa mengatakan kalau aku cinta, kalau aku sungguh sayang. Tapi aku sekarang ikhlas kamu menikah dengan Dion. Kami akan lebih bahagia dengannya." 


"Tuhan sayang kamu, dan mungkin saatnya memberi pelajaran padaku yang bodoh ini, hingga aku selama ini percaya pada wanita licik seperti Angeline tanpa berusaha mencari tahu siapa dia sesungguhnya. Aku buta dengan cinta semu dan kemewahan."


"Adrian menggenggam jemari Aluna. Dion hendak menarik, tapi Melani melarangnya. "Tahan diri Dion, Adrian sudah berjanji tak akan mengganggu Aluna lagi. Biarkan dia mengucap kata perpisahan yang mungkin belum sempat diucapkan dulu.


"Tidak! Hanya aku yang berhak menyentuhnya." Kata Dion keras kepala. 


Melani menyerah membiarkan. Dion melakukan yang dia mau. 

__ADS_1


Dion segera mengambil tangan Aluna dan menggenggamnya. Adrian yang terganggu kembali berdiri. "Jika sudah selesai lebih baik tinggalkan kami berdua."


Aluna diam tanpa sepatah kata. Dia sedih melihat Dion dan Adrian yang selalu bertengkar.  Hidupnya makin rumit setelah terjebak dengan dua CEO di depannya. 


__ADS_2