Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 67. Pencarian dimulai.


__ADS_3

Adrian tak nyenyak dalam tidur karena memikirkan Aluna. Tak sabar rasanya hanya mengandalkan Arga dan Argo, tapi bagaimana lagi, Angeline pasti akan curiga kalau dia turun tangan sendiri. 


Luna dan Dion baru keluar kantor, Luna segera bersembunyi begitu melihat dua asisten pribadi Adrian mondar mandir di pintu gerbang menanyakan tentang dirinya pada security. 


Sayup-sayup terdengar suara Arga ditelinga Aluna. Aluna memasang telinganya baik baik. Dengan tubuhnya menempel pada dinding. 


"Pak, apa disini ada karyawan baru bernama Luna?"


"Luna? Luna?" Security mencoba mengingat ingat, tak lama ingatannya pun kembali. 


"Oh iya, ada. Luna yang cantik seksi, bohai dan aduhai itu, yang kayak model."


Arga menggeleng. Lalu menatap Argo. Mereka saling pandang seolah Luna yang dicari bukan seperti yang disebutkan oleh security tadi. 


Argo Akhirnya menjelaskan. "Luna yang kami cari dia gadis sederhana, suka pakai baju kedodoran, dan celananya juga kebesaran. Dan dia suka pakai kaca mata tebal kalau kemana-mana."


"Wah kalau di perusahaan ini nggak ada Luna yang model begitu, pasti dia kerja di perusahaan lain, karyawan disini semuanya cantik cantik dan bohay." ujar security. 


"Apa boleh kita ketemu Luna atau semua yang bernama Luna dikumpulin disini sekarang."


"Em, Luna cuma satu kalau mau ketemu tunggu dulu, duduk yang manis disini, karena dia orang sibuk, sekretaris CEO."


Security akhirnya menghubungi pihak informasi, supaya menghubungi Aluna langsung. 


Tak lama ponsel Aluna berdering Aluna segera mengangkat panggilan dari pihak informasi. 


"Hallo Nona Aluna, ada yang mencari anda."

__ADS_1


"Iya, terima kasih informasinya, Aku sudah berjalan menuju pos security."


"Oke kalau begitu Nona, Anda bisa langsung menemui dia."


"Iya, terimakasih infonya."


"Sama-sama, Nona."


Aluna panik, Nun Dion justru menertawakan dirinya yang sedang bersembunyi. Walaupun tidak tertawa terbahak, tapi Aluna bisa membaca mimik muka Dion. 


Aluna sebel, dia mengerucutkan bibirnya. Dion menghampiri dan menggandeng masuk kembali ke ruangan CEO, lalu mereka duduk bersebelahan di sofa . 


"Pak Dion, tolong Luna. Arga dan Argo pasti ingin membawa saya kembali, saya nggak mau balik ke rumah itu lagi." Aluna terlihat gusar, duduk pun tak tenang.


Dion mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi Diva. Menurut Dion, Diva dulu sekretaris yang cerdas, hanya saja dia suka bolos. 


" Siap pak." Diva yang baru berkemas segera menemui Dion dan Luna di ruang CEO. 


"Pak Dion apa saya melakukan kesalahan?"


"Tidak, Diva. Aku dan Luna sedang butuh bantuan darimu."


"Bantuan apa Pak? Pasti akan saya bantu kalau memang bisa." Jawab Diva tak mengurangi kesopanannya di depan Dion.


"Kamu pura pura jadi Luna, dan temui dua pria disana, dan katakan kamu adalah satu satunya karyawan yang bernama Luna."


"Baik Pak, Saya siap melaksanakan perintah. Tapi memangnya Luna  kenapa Pak? Melirik pada Luna sejak tadi diam.

__ADS_1


" Kamu tak perlu tahu, katakan saja kalau dirimu yang bernama Luna. Akting sebagus mungkin biar percaya. Jika menemui kesulitan aku datang membantu."


" Siap, Pak Dion." Diva sedikit membungkuk sebagai tanda siap melaksanakan perintah. 


Tak lama bayangan tubuhnya sudah hilang ditelan pintu lift, Dion segera fokus pada kamera cctv yang sengaja dipasang di seluruh sudut luar dan ruang perusahaan.


"Pak Dion, saya tak percaya kalau orang suruhan Pak Adrian bisa mencari sampai kesini."


"Tenanglah Luna, aku akan selalu ada bersamamu, masalahmu, masalahku juga."


"Terima kasih Pak Dion." Netra Aluna memejam, dua tangannya menutup wajahnya. Nafasnya terdengar kalau dia sedang gundah. Belum siap, tidak saat ini untuk balas dendam, Aluna harus mengatur strategi yang jitu untuk membuat Adrian dan Alex  bangkrut dan jatuh miskin, dengan begitu Aluna bisa menikmati hidup dengan melihat mereka menderita. 


"Pulang bersamaku, jangan naik gojek lagi. Harusnya jangan pernah menolak kalau Adam meminta mengantarmu. Gaji mereka sudah aku bayar hingga beberapa bulan kedepan."


Aluna terkejut, dia langsung menoleh pada Dion yang ada di sebelahnya. Aluna Mengguncang tubuh Dion. "Kenapa Anda lakukan semua ini Pak Dion? Saya mohon, jangan buat saya terbiasa dengan bantuan Anda setiap saat. Biarkan saya berusaha mandiri."


***


Di halaman Diva terlihat menghampiri dua pria dengan wajah hampir sama itu dengan pesonanya. Rok span diatas lutut dan vest pres body mencetak lekuk tubuh mantan sekretaris CEO itu. 


Bibirnya tersenyum simpul membuat jantung Argo dan Arga berdebar lebih cepat.


" Anda mencari saya? Ada apa?" Diva bertanya sok jutek. Dengan kedua tangannya terlipat sempurna di bawah Dada. 


"Benarkah nama anda Luna?" 


"Anda berdua sungguh menyebalkan, bukankah anda yang meminta saya untuk datang kesini, sekarang malah bertanya seperti orang bodoh."

__ADS_1


"Maaf Nona, anda bukan seseorang yang sedang kami cari." Raut kecewa terlihat begitu jelas di wajah Argo dan Arga.


__ADS_2