
'Aku pergi dari kehidupan Pak Rian yang penuh liku- liku dan derita. Aku akan memulai semuanya dari nol, aku akan mulai hidupku mulai dari hari ini, aku akan menjadi Luna yang kuat, bukan Luna yang rapuh lagi.'
Sambil melewati jalanan yang sepi, Luna menatap pada setiap pohon dan rerumputan yang dia lewati, pikirannya terus berkelana pada sosok tampan yang menurutnya tak punya pendirian. Tak lama angkot kembali berjalan pada jalanan yang ramai dan melewati hiruk pikuk kota.
Aluna segera pulang ke kontrakan dengan perasaan tak menentu. Sedangkan Adrian segera menyusulnya dengan mengekor dengan angkot yang ditumpangi Aluna.
Adrian sengaja tak menghentikan Angkot, Aluna pasti tak akan mau ikut dengannya, Aluna terlihat nyaman dengan kendaraan tanpa AC itu daripada dengan mobil mewahnya.
"Arga terus ikuti angkot itu, ada Aluna di dalamnya, kita ikuti dia sampai rumahnya."
"Siap Tuan."
Sedangkan di kontrakan Argo sudah mengantar surat gugatan cerai Aluna. Dia terlihat buru-buru pergi karena takut ketahuan siapapun, terutama majikan. Nasib baik Argo segera pergi, kalau tidak pasti akan terjadi pertemuan dengan majikannya dan terjadi insiden yang selama ini ditakuti.
Bibi segera menyimpan berkas dengan baik. Dia ikut senang Aluna dan Adrian bercerai, karena pada dasarnya Bibi juga takut Aluna kembali pada Adrian.
Setelah turun dari angkot Aluna berjalan sekitar seratus meter masuk ke gang, baru dia sampai di kontrakan miliknya.
"Bi, Aluna pulang lagi, Bi." Dengan tergopoh Aluna mencari keberadaan Sofia yang sudah seperti ibunya sendiri
"Iya, Non."
Bibi dan Aluna kini saling berpelukan. Bibi ada untuk menguatkan hati Aluna yang sedang rapuh. Siapapun insan pasti akan goyah ketika menghadapi sebuah perceraian, dia butuh sandaran untuk menjadi menopang dan kekuatan.
"Bibi sudah tahu non, pasti ini berat sekali untuk Non, yang kuat, yang sabar."
"Iya Bi, Aluna akan bersabar dan kuat, Aluna sendiri yang ingin ini semua terjadi. Aluna harus bisa meninggalkan kenangan pahit bersama keluarga pak Rian. Dengan perceraian ini kami berdua akan terlepas dan menemukan kebahagiaan."
"Iya, Non."
Walau berusaha tersenyum airmata tetap tak bisa dibendung. Aluna kembali memeluk Bibi.
Dari arah pintu luar yang masih terbuka sosok lelaki yang dia temui tadi terlihat menatap Aluna dan Bibi dengan tajam, Adrian mendengar pembicaraan mereka berdua dengan jelas..
"Apa maksud kalian berdua? Luna kamu ingin bercerai? Apa maksudnya?" Adrian menatap Aluna yang berderai air mata, seolah dia ingin mencari kebenaran di dalamnya.
__ADS_1
"Pak Rian, anda ikut kesini?"
"Iya, aku ikut kesini, kenapa kamu terkejut? Karena aku mendengar semuanya hah ?" Adrian kini terlihat benar-benar marah, sisi baik yang terlihat beberapa hari ini tak terlihat lagi. Urat urat di lehernya begitu menonjol.
"Pak Rian, saya mau menjelaskan pada anda, kita sekarang bukan suami istri lagi. Aku diam-diam sudah mengurus perceraian kita dan sekarang kita resmi bercerai.
Adrian mendekati Luna, karena takut oleh perlakuan buruk lelaki itu, Aluna harus mundur beberapa langkah, seiring dengan langkah maju yang diambil lelakinya.
"Apa maksud dan tujuanmu ingin berpisah?" Adrian menatap netra bundar milik Aluna, yang baru disadari beberapa hari ini kalau mata itu terlalu indah.
Aluna memberanikan diri menatap balik bahkan lebih tajam. Lelaki yang kini tengah mengunci tubuhnya itu tersenyum.
"Kau ingin bercerai dariku?" Menggeleng pelan. "Mimpiii!"
"Aku hanya akan menceraikanmu jika aku mau, jika tidak, selamanya kau tetap istriku! Camkan!"
"Siapa bilang bahkan aku sudah berhasil membuat surat perceraian kita, dan kau sudah menandatanganinya. Pak Rian terhormat, aku detik ini bukan istrimu" Aluna mendorong tubuh kekar lelaki di depannya. Adrian mundur beberapa langkah.
Adrian tidak membalas perlakuan kasar Aluna dia memilih memejamkan mata. Lalu berkata dengan intonasi rendah. "Mana bukti perceraian yang kau punya? Tak ada bukti aku tetap menganggapmu istriku."
"Bukti itu aku simpan dengan baik. Aku tak akan menunjukkan padamu."
Arga yang sejak tadi hanya menjadi penonton kini dia maju dan berusaha membuka tiap laci dan lemari.
"Apa yang akan kamu lakukan?" Aluna memberontak. Pukulan aluna bagi Adrian yang rajin olahraga dan memiliki kulit keras hanya seperti cubitan menggelikan saja.
"Aku sepertinya terlalu sabar padamu selama ini, harusnya aku sudah mengambil hakku sebagai suami sejak lama." Seringai mesum terlihat di wajah Adrian.
Aluna ketakutan dengan senyum Adrian kali ini. "Jangan! Dosa, jika kau melakukannya padaku, aku sudah bukan istrimu lagi."
"Tidak akan sah seorang istri meminta cerai, jika suami belum mengeluarkan talak padanya. Kau masih istriku, kau selamanya akan menjadi istriku."
Adrian menggendong tubuh Aluna ke kamar, lelaki yang sudah dikuasai oleh nafsu itu membawanya dengan paksa. Meronta, memukul dan menggigit tidak ada artinya lagi.
"Apa yang kau lakukan, dasar gila, lepaskan aku." Kaki Aluna yang menjuntai bergerak keatas kebawah dengan cepat, sepatu yang dikenakan entah sudah melesat kemana.
__ADS_1
"Gila? Aku gila karena kau mempermainkan aku. Kau tiba-tiba saja datang padaku, lalu kau membuat aku tertarik oleh pesona yang kau miliki, sekarang aku sudah jatuh cinta kau ingin pergi begitu saja." Rancau Adrian saat berjalan menuju kamar.
Dengan cekatan lelaki itu membuka pintu walau kesulitan, setelah masuk, dia menutup dengan kaki dan mengunci kembali.
"Kau tidak pernah menginginkanku, yang kau inginkan hanyalah Angeline, kau buta oleh cintanya. Aku sakit, terus kau abaikan, hingga perasaan yang seharusnya sudah tumbuh di antara kita kini layu sebelum bersemi. Kau datang disaat hatiku sudah mati, Kau terlambat. Tian."
"Sakit kau bilang, sakit? Iyah, aku juga akan melakukannya padamu, aku akan memberikan lebih dari yang dia dapat malahan."
Adrian seperti orang tak tahu malu, membiarkan Arga memeriksa tiap sudut ruangan di luar kamar, sedangkan dia di dalam ingin segera merenggut keperawanan Aluna dengan paksa.
Adrian menduduki dua kaki Aluna, dan membuka tiap mata kancing hem miliknya sendiri, gadis itu hanya bisa meronta dan terus meronta.
Bukan malam pengantin seperti ini yang dia inginkan. Aluna memohon pada Adrian agar lelaki itu mengasihaninya.
"Nona! Nona!"
Bibi mengetuk kamar yang terdengar gaduh, suaranya sampai terdengar dari luar kamar.
Tuan Arga, tolong selamatkan Nona Aluna. Kasihan kalau Tuan Adrian memaksanya sekarang.
"Maaf." Arga menangkupkan tangannya pada bibi, tanda tak bisa berbuat apa-apa. Lalu dia kembali sibuk terus mencari surat gugatan cerai dari Aluna. Bahkan Arga sekarang menutup telinganya dengan headset agar tak mendengar suara apapun. "Mereka suami Istri, biarkan dia menyelesaikan masalahnya menggunakan caranya sendiri.
Melihat tak mendapat pertolongan dari lelaki di depannya, bibi kembali mengetuk pintu kamar, kali ini lebih keras dan lebih berani. Suaranya sangat mengganggu Adrian yang sudah setengah telan*jang.
"Bibi!! Bibi!! Tolong Aluna Bi!'
Happ!
Adrian menyerbu bibir Aluna dengan kasar, sebenarnya dia ingin melakukannya dengan lebih baik, tapi Aluna terus saja meronta.
"Enghh lepas!" Aluna memukul dada bidang Adrian yang sudah tak tertutup oleh apapun. Tapi Adrian tak mengasihaninya sedikitpun, dia terus saja memainkan lidah di rongga hangat milik Aluna. Adrian terus membelit, mengaduk dan menghisap apa yang ada di dalamnya.
Aluna sedih telah kehilangan ciuman pertamanya, ciuman yang seharusnya diberikan pada lelaki yang tulus mencintainya.
*Happy reading.
__ADS_1
.