
Selena ingin merawat putranya sendiri, Angel tidak bisa fokus merawat Adrian karena dia sendiri sedang hamil. Dia juga jijik dengan darah, apalagi yang berbau rumah sakit.
Lagian Angel yakin keluarganya pasti akan merawat dengan baik. Angel hanya datang sebentar lalu pulang lagi, dan dia semakin malas datang karena Adrian amnesia. hanya ingat dirinya sebagai kekasih. Sedangkan istrinya tetap Aluna.
"Adrian, makan ya," pinta Selena.
"Tidak mau, Ma. Aku nunggu Aluna. Kenapa Aluna belum datang," tanya Rian.
"Rian, Aluna masih sibuk, kamu tahu sendiri kan, pekerjaan di rumah banyak banget."
"Ma, mulai besok jangan suruh dia menyelesaikan pekerjaan rumah, kasian Ma, tangannya nanti kasar. Kalau masih kurang asisten, bisa ditambah lagi. Luna itu istriku, tak layak dia mengerjakan pekerjaan pembantu" kata Adrian dengan kesal.
Selena menarik nafasnya panjang. Bagaimana dia harus menjelaskan pada Adrian, kalau Aluna itu bukan lagi miliknya.
"Rian, Aluna masih lama, kamu harus minum obat, mending sarapan dulu, disuapin sama Mama. Makan siang baru boleh nunggu Aluna."
"Tidak Ma, Adrian pengen makan dari tangan Aluna langsung. Telepon dia Ma, suruh dia kesini, biar Argo yang mengantar.
"Argo sudah ke kantor sejak pagi tadi," kata mama asal.
Adrian keukeuh, tak mau makan, dia memilih duduk sambil bersandar dengan tangan dilipat di dada. Pandangannya terus saja ke arah pintu
Adrian berusaha menghubungi Aluna, tapi nomor ponsel Luna sedang tidak aktif, karena Selena sudah mengganti nomor Aluna yang ada di ponsel Adrian. Tak tahunya wanita pujaan yang ditunggu sedang asyik bercumbu dengan suami sahnya di rumah.
***
"Honey, aku masih kangen, semalam cuma main dua kali, kamunya langsung tidur." Dion menarik sang istri ke dalam dekapan, dan memeluknya erat sekali. Dion tak bosan mencium aroma wangi rambut Aluna. Tubuh mereka masih terbungkus dalam satu selimut.
"Dua kali semalam itu sudah banyak, Sayang, kamu mau tulang belulangku remuk, dan daging ini seperti dilolosi" jawab Aluna yang gemas sama wajah bantal suaminya.
"Kurang, Honey. Seharusnya kita kerja keras sedikit, biar cepat dapat baby, Nenek sudah menunggu kabar gembira dari kita, lho," goda Dion.
"Iya, Sayang. Maaf Janji besok nggak ketiduran lagi." Aluna menjewer kedua telinganya. Dion jadi gemas dan mengecup bibir istrinya.
"Sayang, semua tadi bercanda, aku minta maaf selalu membuatmu lelah setiap pagi, Semua ini karena tiger yang suka sekali merajuk dan minta terus kembali ke sarang." kata Dion, tak membiarkan Aluna lepas dari dekapan.
Aluna meronta, dia mencari kemana Suami Ganas itu membuang perisai tubuhnya semalam. Aluna akhirnya menemukan benda benda pusaka itu berceceran di lantai bersama milik Dion. Bukan sengaja dibuang, tapi mungkin jatuh karena gempa semalam yang terlalu dahsyat.
"Sayang, aku harus ke dapur, istri harus siapkan sarapan suami," pamit Luna. Tapi Dion malah menarik dan membuatnya terlentang di ranjang. Dion segera mengungkungnya.
"Tidak perlu Sayang, khusus hari ini aku yang akan memasak untukmu. Tapi aku ini haus, bolehkan aku minum air dari gunung Himalaya ini," kata Dion mesum.
"Tidak, pintunya sudah terkinci" kata Aluna mendorong tubuh Dion menjauh, karena malu.
Tak mendapat yang diinginkan, Dion turun mendahului Aluna dan memakai singlet warna putih serta celana pendek selutut.
"Sudah, mandi sana. Biar aku saja yang memasak, ingat! Memasak tugas wanita." Kata Aluna menahan lengan suaminya agar tetap tinggal.
"Kalau gitu kita mandi bareng gimana?" Kata Dion mengerlingkan sebelah matanya.
"Dasar modus. Iya kan?" Aluna curiga Dion akan meminta haknya lagi.
__ADS_1
"Tergantung, kalau dia bagun lagi, ya pasti akan minta nambah." Dion menatap tiger yang terlihat sekali sudah menonjol di balik celana.
Dion dan Aluna memilih mandi terlebih dahulu, dia sebenarnya sudah terlambat bangun, karena semalam begadang. Kelihatannya keluarga Dion tak ambil pusing soal Dion dan Aluna yang bangun kesiangan. Menurutnya wajar pengantin baru bangun telat.
"Kita pasti ditunggu Mama." kata Aluna sambil memberi busa pada tubuh Dion yang tengah berdiri di depannya, pahatan indah bak patung Yunani itu begitu menawan, Aluna terus menelusuri bagian kotak-kotak dengan jarak sangat di dekat, yang hanya dipisahkan oleh gemericiknya air shower.
"Biar saja, mereka akan mengerti kebutuhan kita. Pengantin baru." kata Dion juga tak berhenti memanjakan tubuh istrinya dengan sentuhan lembut jemari yang sudah dipenuhi dengan busa sabun.
Dion tersenyum melihat maha karyanya yang indah di sekitar dada, Luna menolak saat Dion akan memberi tanda cintanya di leher, takut Adrian akan melihat semuanya nanti.
Melihat tubuh istrinya yang polos dan hanya ditutup oleh kain segitiga, Dion kembali berhasrat.
"Honey, Tiger kesayanganmu, dia sangat nakal," Dion membimbing tangan Aluna menyentuh miliknya yang sudah mengeras kembali.
"Tiger sangat mesum," ucap Aluna dengan malu malu sambil mengelus Tiger.
"Dia ingin dimanjakan pemiliknya. sekarang dia milikmu seutuhnya."
"Nakal." Aluna gemas, dia memukul dada Dion dengan tangan satunya.
Aluna terpaksa kembali melayani Dion dipagi hari, ketika keluarga tengah asyik sarapan Dion dan Aluna sudah sarapan sendiri di kamar mandi. Dion menggendong tubuh Aluna dan menempelkan pada dinding.
Setelah Tiger menemukan sarangnya Dion mulai menggerakkan pinggulnya berlahan, ini pertama kalinya dia bermain dengan gaya bercinta sambil berdiri.
Setelah sama sama ingin menuju puncak Dion semakin mempercepat gerakannya, hingga tubuh Aluna meliuk-liuk seperti cacing kepanasan.
"Bebaskan dirimu sayang," pinta Dion.
Luna yang sudah ingin meledak, akhirnya dia menumpahkan semuanya untuk kesekian kalinya. Melihat Luna sudah selesai meloloskan cairan cintanya, Dion segera menyusul.
Setelah sama sama menuju puncak, Dion dan Aluna tersenyum, kepuasan terlihat di wajah masing masing.
"Masih sakit?" Bisik Dion di telinga Aluna.
Aluna menggeleng lalu memeluk Dion sangat erat. Tubuhnya lemas karena energinya terkuras.
Aluna dan Dion memutuskan untuk mandi lagi dari awal, dan keramas. Setelah ritual dikamar nandi selesai Dion menggendong Aluna seperti bayi dan membiarkan Aluna mengeringkan rambutnya dengan hairdryer, sedangkan Dion menggosok dengan handuk kecil.
Ponsel Aluna bergetar, Dion meminta Aluna untuk segera mengangkat, Dion tahu itu pasti dari keluarga Adrian.
"Hallo luna …." Suara Selena diseberang sana.
"Iya, Ma." jawab Aluna menunggu kalimat berikutnya dari Selena.
"Adrian, tak mau makan bubur ataupun minum obat, dia hanya ingin kamu yang menyuapi," kata Selena lagi.
"Baiklah Aku akan kesana. Maaf sudah membuat Adrian menunggu, aku tadi bangun kesiangan," ujarnya lagi.
"Tidak apa apa Luna, maaf aku sudah mengganggu."
Saat menerima telepon dari Selena, Dion terus saja mengusili istrinya. Aluna kerap melotot pada Dion yang artinya 'tolong hentikan.'
__ADS_1
Aluna memakai dress selutut dengan lengan sebahu. Baju mahal pembelian Dion saat menghadiri sebuah Fashion Show itu sangat cocok dengan kulitnya yang bersih dan pas di tubuhnya.
"Cantik sekali sayang," puji Dion.
"Terima kasih, semua yang kau puji telah menjadi milikmu." Kata Luna membesarkan hati Dion.
"Baiklah, aku antar ke rumah sakit, nanti sore aku jemput." Kata Dion memeluk Aluna dan mencium bibirnya yang berwarna merah muda.
Dion kembali menatap wajah istrinya. "Sungguh aku tidak suka ada laki laki lain melihat istriku ketika sangat cantik seperti ini. Lelaki amnesia itu. Aku takut dia hanya memanfaatkan kebaikan kamu, Honey."
"Tidak, sayang, Dokter Jayden tak mungkin berbohong. Aku juga tak ingin melakukan kebohongan ini, tapi apa salahnya kita lakukan jika diyakini bisa membantu Adrian untuk menemukan ingatannya yang hilang."
"Ya, istriku memang sangat baik, percuma aku mencegahnya, bukankah aku harus mendukung perbuatan mulia." Dion dan Aluna lalu keluar kamar dan mendapati bibi sudah merapikan meja makan.
Mama ingin menemani papa di kantor dan Jessica sudah berangkat kuliah diantar sopir.
Luna dan Dion hanya sarapan berdua. Di Moment ini Dion terus melakukan hal romantis dengan menyuapi Aluna. Dan Aluna menyuapi Dion. Lagi-lagi bibi yang jadi saksi kebahagiaan mereka.
'Den Dion, semoga Nona Aluna cepat hamil, supaya kalian cepat dapat momongan.' batin Bibi sambil senyum senyum mengamati Luna dan Dion yang sangat bahagia.
Setengah jam kemudian, Luna dan Dion sudah tiba di depan RS. Dengan berat hati Dion melepaskan istrinya di depan ruang rawat Adrian. "Sayang, jaga kepercayaan yang aku berikan."
"Iya Sayang, hati-hati di jalan, kabari aku kalau sudah di kantor."
"Siap Ratuku." Dion memegang kedua bahu Aluna dan mengecup keningnya. Kemesraan mereka segera berakhir setelah pintu terbuka, rupanya Selena sedang mengantar Dokter Jayden yang sudah usai memeriksa.
"Nona Luna, terimakasih kerja samanya, dengan menyenangkan hati pasien akan jadi moodbooster untuk lebih cepat sembuh," terang dokter.
"Semoga, Dokter," jawab Aluna.
Dokter Jayden dan Dion lalu bersalaman. Chela yang baru datang menghentikan langkahnya menikmati pemandangan indah di depannya.
Dokter tampan yang beberapa hari ini diam-diam sudah mencuri hatinya. Tapi orang disekitarnya tak ada yang menyadari hal itu.
Aluna langsung menemui Adrian. Adrian menyambut kehadiran Aluna dengan senyum ceria.
"Luna, aku sudah menunggumu," kata Adrian yang terpana melihat Aluna pagi ini begitu cantik.
"Maaf, aku harus selesaikan pekerjaan rumah," kata Aluna sambil menarik satu kursi kecil dan duduk di depan Adrian.
"Sudah sarapan?" Tanya Luna lagi.
"Belum, nunggu kamu" Jawab Adrian sambil terus menatap Aluna, nyaris tak berkedip
"Kenapa bandel?" kata Aluna.
"Aku menunggu kamu, aku ingin disuapi, apa aku salah?"
"Salah, karena bandel, anda harus terlambat sarapan dan minum obat." Aluna pura pura ngambek dengan bibir mengerucut.
"Maaf, Tuan Putri, jangan monyong gitu bibirnya makin kelihatan seksi, Jadi nggak sabar pengen gigit." kata Adrian sambil menerima suapan dari tangan Aluna.
__ADS_1