
Beni mengarahkan mobil ke arah penthouse, setelah sampai di basement, mereka bertiga turun, sedangkan Adrian dan Nabila pindah duduk ke kursi paling depan.
Nabila menurunkan kaca mobil lalu melambaikan tangan pada Aluna dengan bahagia, "Selamat honeymoon Luna!!"
Luna membalas lambaian tangan Nabila. "Yang baru jadian, besok jangan lupa traktiran," celetuk Luna.
"Beres, besok datang aja ke cafe X, aku tunggu jam tujuh," kata Adrian yang ikut nimbrung.
***
Sampai di depan penthouse Aluna membuka pintu, Aluna melihat ruang tamu dan sekitarnya, semua belum berubah. Bahkan masa indah saat bersama dulu sekarang sudah diabadikan oleh Dion dalam sebuah foto berbingkai.
Termasuk saat mereka melakukan pernikahan sederhana di sebuah rumah sakit.
Netra Aluna tiba-tiba meneteskan airmata haru. Dia lalu masuk ke ruang tengah disana dia melihat ada banyak surat dari keluarga Dion untuk Aluna.
"Honey, Nenek, Mama dan Jessica mereka merindukanmu, mereka menyiapkan surat ini dan menaruh disini sudah sejak lama. Berharap jika kamu pulang nanti langsung bisa menemukan dan membacanya."
Aluna menatap Dion dengan penuh tanda tanya. Lalu menarik sebuah kursi dan meraih satu persatu surat yang berjajar di atas meja.
Pertama, Aluna melihat tulisan tangan Jessica. Sedangkan Dion membawa baju Aluna ke ruang cuci.
'Untuk Mbak Luna tersayang. Jessica mohon maaf telah melakukan kesalahan yang amat besar hingga kalian harus kehilangan seorang calon bayi. Katakan padaku Mbak Luna kira-kira permintaan maaf yang seperti apa yang mampu untuk menebus kesalahan ini? sungguh sampai saat ini aku masih diselimuti rasa bersalah, semoga kalian semua nanti segera kembali diberi momongan yang cantik, tampan dan lucu lucu.'
Aluna menitikkan air mata sambil mengelus perutnya, dia kembali ingat kalau di rahimnya pernah tumbuh segumpal daging yang terpaksa harus dikeluarkan lagi karena kecerobohannya.
Aluna terisak, saat membaca surat dari Jessica, sepertinya gadis itu begitu terbebani dengan hilangnya calon keponakannya.
"Tidak sayang, aku sudah memaafkan kamu. Memang mbak yang salah, karena sudah lancang mengizinkan lelaki lain datang disaat Kakak Dion tidak di rumah." Aluna memeluk surat dari Jessica.
Aluna lalu melipat kembali surat dari Jessica dan memasukan ke dalam bungkusnya seperti semula.
Aluna kini membuka surat dari Mama. Isinya sungguh membuatnya sangat rindu akan kasih sayang wanita yang berusia setengah abad itu.
'Sayang, kenapa kau harus meninggalkan kami semua, jika ada masalah harusnya kamu ceritakan pada kami, supaya tidak ada salah paham. Kami akan selalu setia mendengar keluh kesah mu. Semenjak kamu menikah dengan Dion, sesungguhnya kami adalah keluargamu, tempat berbagi cerita. jika Dion tak bisa menjadi lelakimu yang baik, maka beritahu saja. Kita akan membuat dia mengerti akan kebodohannya.'
Aluna tak jadi membaca surat dari nenek dan Papa, dia tak mau semakin sedih setelah membaca surat dari adik dan mamanya.
__ADS_1
Aluna lalu ke kamar tubuhnya sudah lengket dan dia ingin sekali istirahat saja sehabis mandi.
Aluna akhirnya memutuskan untuk berendam di bathup, dia ingin melakukan relaksasi pada ototnya dengan berendam air hangat.
Setelah berendam air hangat Aluna memutuskan untuk tidur, hukuman untuk Dion belum berakhir, Aluna masih ingin melihat seberapa besar kesabaran Dion.
Dion yang baru saja ingin masuk, mendapati pintu dikunci dia akhirnya memilih untuk membuka dengan kunci cadangan. Dion tidak mau Aluna terus bersikap seperti ini, sedangkan dia sudah sangat rindu, ingin melepas kangennya dengan mendekap tubuh sang istri sehari semalam.
Saat pintu terbuka Dion mendapati Aluna telah tidur pulas dengan memakai daster motif bunga yang dibelikan nenek.
Dion membuka kaosnya dia hanya memakai bokser dengan panjang selutut. Lelaki itu akhirnya memilih ikut tidur di dekat istri yang sedang membelakanginya, Dion pelan-pelan mengangkat lengan kirinya lalu menjatuhkan di pinggang Aluna.
Aluna yang pura-pura tidur dia terkejut tiba tiba ada lengan besar mendarat di pinggangnya. Tapi Aluna terlanjur pura-pura tidur dia terpaksa harus melanjutkan actingnya.
"Honey, kamu tidur cepat sekali, pasti capek ya?" Lirih Dion yang tak mendapat jawaban.
"Honey, kalau kamu capek, tak apalah, istirahat saja, tapi aku sebenarnya kangen banget sama kamu."
Oh iya Honey kamu tau nggak, kemaren saat kamu dalam pengaruh obat itu kamu bermain sangat liar sekali, dan kita melakukannya hingga semalam suntuk, apa kamu nggak ingat. Itu permainan kita terbanyak dalam semalam sepanjang kita menikah, rasanya aku nggak akan bisa lupa, Honey. Gara gara malam itu Tiger sekarang jadi ketagihan," Dion menggenggam Tiger yang bernasib nelangsa, Dion berkata demikian mengira Aluna telah tidur dia hanya mengutarakan isi hatinya saja pada dinding kamar yang bersaksi.
Aluna sudah terlanjur pura pura tidur, dia akhirnya benar-benar tidur dalam pelukan Dion.
*
Aluna segera bangun, dia ingin melihat kemana suaminya pergi sepagi ini.
Aluna merasa bersalah, semalam dia tidak menuruti suaminya dan pura-pura tidur.
Aluna turun dari ranjang dia melihat Dion ternyata sedang olah raga di dapur sambil memasak telur ceplok, setelah telur matang Dion kembali memasak bahan lain dan olahraga lagi.
Aluna tersenyum melihat Dion yang memasak sendiri, entah apa yang dipikirkan laki laki itu, padahal Aluna mengira Dion pergi dari rumah dan ke rumah besar untuk menenangkan diri.
Setelah selesai olahraga angkat barble dan memasak sekaligus, tubuh Dion kini sudah berkeringat deras, Dion sangat puas melihat tubuhnya yang basah.
Aluna juga merasa beruntung memiliki suami yang begitu sempurna, dalam persembunyiannya Aluna berulang kali meneguk saliva mengagumi sosok suami sendiri.
Usai masak Dion segera kembali ke kamar. Aluna yang berakting menjadi pemalas, buru-buru dia tidur kembali dan bergelung di balik selimut.
__ADS_1
Dion yang berkeringat mendekati Aluna. Mengecup keningnya sangat lembut, dan berbisik. "Sayang, pules banget tidurnya? Apa nggak bangun? ini sudah pagi."
Aluna pura-pura menggeliat lalu memunggungi Dion yang sedang duduk di tepi ranjang.
Dion akhirnya memilih untuk mandi dan bersiap ke kantor, Reihan Dan Diva sangat senang mendengar kabar kepulangannya. Selama Dion pergi cukup berat beban tanggung jawab yang dipikul oleh sepasang kekasih itu.
Dion segera mandi, dia tidak mau terlambat ke kantor, lelaki itu menyalakan air dengan suhu hangat di bathup lalu menceburkan diri ke dalamnya. Dion sebenarnya sudah ingin sekali bermain di bathup bersama Aluna, dia juga merindukan tawa renyah wanitanya. Dion takut Luna tidak bisa seperti dulu lagi. Sambil mandi Dion terus mencari cara agar bisa membuat Aluna tertawa.
Setelah selesai mandi, Dion segera memakai baju kerja, Dion melihat Aluna sudah bangun dan duduk bersandar di tepi ranjang sambil bermain ponsel.
Dion tanpa malu tetap ganti baju di depan Aluna, jujur melihat pahatan pahatan indah bak dewa Yunani itu, Aluna berulang kali susah payah meneguk salivanya.
"Sayang aku akan berangkat kerja, kamu baik-baik di rumah, jika butuh sesuatu telepon Beni saja biar dia antar ke tempat yang kamu inginkan, aku masih khawatir orang bayaran masih berkeliaran, aku akan menangkap bosnya dengan segera setelah nanti cukup bukti."
"Aluna mendengar, tapi pura-pura acuh. Dia masih asyik bermain dengan gawai dan Dion lagi lagi membiarkan Aluna sibuk dengan dunianya.
Kali ini Dion sudah memakai kemeja, tapi belum memakai celana, Dion menyodorkan dasi pada Luna dan minta tolong untuk membantu memakainya.
"Sayang, tolong bantu aku memakainya."
Tanpa menatap wajah Dion Aluna meraih dasi, lalu dia melingkarkan di leher Dion dan memasang dengan sempurna. Setelah selesai Aluna hendak kembali ke ranjang untuk melanjutkan bermain ponsel.
Tetapi batas kesabaran Dion sepertinya sudah habis, lelaki itu mendorong tubuh istrinya hingga menempel pada dinding, Dion segera mengunci tubuh Aluna dan mel*mat bibir istri yang beraroma mint dengan rakus. Untung saat Dion mandi, wanita yang masih memakai daster longgar tanpa lengan itu motif sudah membersihkan wajah dan gosok gigi di wastafel.
Dion bermain main di bibir Aluna sangat lama, bahkan dia tidak melepasnya hingga beberapa menit berlalu. Luna sudah mencoba meronta dan mendorong Dion tapi lelaki itu tak mengindahkan penolakannya.
"Akhh" Luna melepas bibirnya kasar, nafasnya megap-megap karena dia belum mahir berciuman sambil mencuri nafas.
"Lepaskan aku!" Aluna mendorong Dion malu malu. Tubuh Dion mundur beberapa langkah. Tapi Dion belum putus asa dia kembali mel*mar bibir Aluna hingga Aluna kewalahan. Berlahan pertahanan Aluna mulai runtuh. Penolakan Aluna kini tak berarti apa-apa.
Dion menggendong tubuh Aluna dengan bibir terus bertautan, Lelaki perkasa itu membaringkan tubuh Luna di kasur dengan kaki menjuntai ke bawah.
"Sayang maafkan aku, aku tak bisa menunda lagi, Tiger sangat nakal,aku tak mau dia nanti terus mengganggu saat aku bekerja." Bisik Dion ditelinga Aluna sambil menindih tubuh Luna, kedua kaki Dion menjepit paha Luna agar berhenti meronta. Dion mulai mer*mas bukit kembar Luna sebelah kiri dan satu tangannya menggenggam jemari Luna.
Dalam posisi seperti ini Luna sungguh tak bisa pura-pura melawan lagi, yang ada sekarang dia mulai terbuai dengan setiap perlakuan Dion yang selalu membuatnya melayang-layang hingga langit ke tujuh.
Melihat netra Aluna mulai sayu dan diliputi gairah, Dion tersenyum bahagia, rupanya resep dari sang papa terbukti ampuh meluluhkan wanita. Tidak salah orang, Dion semalam curhat dengan David di telepon.
__ADS_1