Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 182. Pasti ada jalan.


__ADS_3

"Na, aku akan pergi!"


"Tapi bagaimana jika hal buruk terjadi lagi saat kamu jauh dari siapapun?"


"Justru jika aku disini, kejadiannya akan semakin buruk, aku tak tahu siapa yang menyuruh orang-orang itu, yang jelas dia tidak berperi kemanusiaan, dan pasti ada hubungannya dengan pernikahanku." ujar Aluna lirih, merasakan perih di bibirnya.


"Mbak Luna, aku akan cerita ini semua pada Adrian, biar dia membantu kamu? Atau aku jelaskan semua pada Pak Dion, dia salah paham." Kata Nabila lalu mengeluarkan tisu untuk menghapus darah di sudut bibir Aluna. Bahkan lima jari itu masih membekas dipipinya.


"Tidak perlu, bagiku sekarang laki-laki itu sama. Semua tak bisa menghargai wanita, aku akan pergi saja, Na, simpan nomorku, kita tetap sahabat, tapi tolong jangan sekali kali kau berikan nomor itu pada siapapun. 


Nabila mengangguk. "Selalu kabari aku jika terjadi sesuatu, aku akan datang dimanapun Mbak luna berada."


Luna mengangguk, lalu bangkit dari duduknya dan memasukkan baju baju yang selesai di cuci ke dalam koper.


"Mbak Luna sama siapa disana nanti?"


"Aku sudah biasa sendiri Na, aku bisa kemanapun sendiri, sejak kecil ibu juga telah meninggalkanku, jadi aku tak pernah takut sendiri. Aku tak punya harapan disini, ibu telah pergi, ayah sudah tiada, dan suamiku sudah membuangku, bahkan bayi yang baru bersemayam di perut ini baru beberapa hari juga telah pergi. Jika memang aku ditakdirkan sendiri, aku akan kuat menjalani." 


Nabila memeluk Aluna erat, ini hari perpisahan bagi mereka. Nabila berharap Aluna bisa bahagia di Kota Jakarta Nanti, jika dia telah menuai  kegagalan mencari kebahagiaan di Kota Surabaya.


Nabila membantu Aluna membawa koper keluar dan menaruh di bagasi. Sedangkan Aluna mandi dan ganti baju sederhana dengan atasan hem wanita dan bawahnya celanya jeans model pensil. Aluna swngaja berpenampilan begitu karena bisa saja di bis nanti akan ada mata jahat yang mengganggunya. 


"Sudah siap berangkat sekarang Mbak?" Tanya Nabila saat Luna sudah rapi.


"Siap!" Aluna menipiskan bibirnya,


Aluna datang ke kota dengan niat mengadu nasib, ada saudara dari bapaknya yang tinggal disana, Aluna berharap mereka belum pindah tempat tinggal dan masih tetap bekerja di pabrik yang sama. Nomor ponsel mereka pun sudah lama tak aktif. 


"Na, antarkan aku ke terminal, aku tidak ada uang untuk beli tiket pesawat."


"Aku ada uang sedikit, Mbak Luna bisa pakai." 


Nabila memberikan satu ikat uang berwarna merah, tapi Aluna menggeleng, merasa tak pantas menerima uang Nabila, sedangkan wanita itu telah lama membantu menjaga kehamilannya, dan terlalu banyak sudah Aluna merepotkan hadis baik itu. 


"Mbak, kalau tidak mau saya beri. Ok, pinjam. Mbak Luna bisa meminjamnya, nanti kalau sudah ada aku akan minta mbak Luna mengembalikannya.


Luna dengan berat hati akhirnya menerima, dia berjanji akan mengebalikan jika sudah ada, jika lama tak ada perusahaan yang menerimanya bekerja dengan kemampuan yang dimiliki, Aluna akan bertekad dengan jualan saja.

__ADS_1


***


Di perusahaan Dion begitu merindukan Aluna. Tapi bayangan bayangan kemesraan Aluna dan Adrian saat dirinya tak ada terus berkelebat. 


"Luna, kamu bahkan benar benar pergi saat aku mengusirku, tak pernah ada keinginan sedikitpun untuk mempertahankan hubungan kita atau membela diri. Luna jika kau lebih memilih laki-laki itu, apa yang bisa aku lakukan, aku tak bisa menjadi penghalang kebahagiaan kamu.


Dion merasa kepalanya kini makin pening, entah kapan dia terakhir kali makan, semua makanan yang disuguhkan koki semua dia tolak. Hanya minuman yang mampu memberinya ketenangan. 


Dua botol wine sudah dia habiskan, sekarang makin lama pandangannya makin redup dan memudar, Dion akhirnya pingsan. Tanpa Luna hidupnya hancur, cemburu buta dan kebodohan membuat dirinya seperti saat ini sekarang. 


"Bos, bangun, Bos jangan mati dulu, kenapa hanya demi wanita anda rela seperti ini, ribuan wanita diluar sana yang menginginkan anda jadi pendamping hidupnya," kata Beni.


Dion tak berkutik lagi, Dokter segera datang menuju ruang CEO. "Apa yang terjadi dengan CEO kita?"


"Dia tidak mau makan, dan hanya minum alkohol saja." 


"Baiklah, segera baringkan dia di ranjang, akan aku beri dia cairan pengganti makanan, jika sudah bangun dan muntah, segera beri makan, tolong jauhkan dia dari minuman."


"Baik dokter." Beni mengangkat tubuh lemah Dion.


Dalam tidurnya, apa yang dipikirkan Dion kembali menghantui otaknya, bayangan Aluna pergi menemui Adrian dan lelaki itu menjemput, lalu membawanya ke sebuah tempat yang indah. Mereka terlihat bahagia. Tanpa Dion tahu yang sebenarnya bahwa wanita yang sudah menyerahkan tubuh dan cintanya kini sedang dalam nestapa. 


Adrian juga tak ingkar janji, setelah Aluna meminta untuk tak pernah menemuinya lagi, lelaki itu berusaha untuk menjauh, bahkan kabar Aluna saja sekarang Adrian tak perduli.


Hanya untuk cek up kesehatan, dalam seminggu sekali dia menemui Nabila dan Jayden di rumah sakit. 


Sampai di terminal Aluna segera turun, bis jurusan Jakarta sudah menunggu, tak lama ngetime, bis tingkat dua lantai itupun segera berangkat. 


'Selamat tinggal kota kelahiran, selamat tinggal cinta! Bersama perginya kamu, Nak. Bunda juga pergi dari kota ini. Maaf bunda tak bisa menjagamu, Semoga kamu kelak menjadi teman bunda di surga.'


Luna memeluk perutnya sendiri ketika hari mulai malam. Dia keluarkan hoodie dari koper lalu memakainya. Biasanya saat dingin begini, Dion selalu memeluknya dari belakang dan memberinya hoodie. 


"Pakai, kau akan kedinginan, Honey." Kata yang sering diucapkan bersama dengan nafas hangat menerpa tengkuknya. lengan kekar itu melingkar di pinggang dan memeluknya dengan erat.


Luna makin tergugu jika ingat itu semua, Luna tak menyangka dia akan berada di titik paling buruk dalam kisah asmaranya. 


'Luna kau bisa, tanpa mereka buang semua bayangan masalalu, lelaki itu sudah membuangmu. Kau berhak bahagia,' kata hati Aluna kembali mengingatkan agar tak rapuh.

__ADS_1


Dua belas jam Aluna di perjalanan, pagi buta dia sudah sampai di terminal ibukota. Ini pertama kalinya dia memijakkan kakinya di Jakarta. 


Terminal besar itu sangat ramai ketika pagi buta. Begitu  bis berhenti penjual jasa berjubel menawarkan diri agar memakai jasanya, mereka berlomba supaya dapat penumpang lebih dulu.


"Nona, ikutlah denganku, pakai jasaku saja, aku akan pasang tarif dengan harga murah," kata tukang ojek.


Andai Luna tau kemana tujuannya saat ini pasti dia akan segera naik dan meminta ojek itu mengantarnya. Tapi sayang Aluna masih bingung kemana dia akan melangkah. 


Aluna memilih beristirahat sebentar setelah dia membeli nasi bungkus dan minuman, dia tak malu memakannya bersama pengemis di jalanan, bahkan dia merasa dirinya lebih baik dari mereka, walau hidup sederhana setidaknya mereka punya banyak tujuan.


"Hei, kamu anggota pengemis baru ya? Kalau bisa jangan jadi pengemis, sayang kamu cantik mending jadi artis," candanya pengemis laki-laki tua, usianya mungkin hampir tujuh puluh lima. Segerombolan pengemis itu tertawa. 


"Kamu berasal dari mana?" Tanya wanita yang disebelahnya, istri dari pengemis laki laki itu tadi. 


"Surabaya." jawab Aluna berusaha menahan air matanya yang nyaris tumpah. Menyebut kota asalnya saja hatinya sudah perih.


Melihat Aluna yang nyaris menangis wanita itu sudah bisa menerka."Hah, pasti putus cinta, banyak mereka ke kota karena ingin lari dari cintanya. Aku doakan kamu bisa melupakan masalalu kelam, dan betah disini."


Pengemis itu melihat sebuah spanduk yang baru terpasang. Lalu dia segera melihat Aluna. 


"Cantik, kulitnya mulus dan bersih. Cocok sekali." gumamnya lirih tapi masih bisa di dengar Aluna. 


Aluna sontak langsung menoleh dengan air muka bingung. 


"He, siapa namamu?"


"Luna, Luna Pangastuti." 


"Hei Lun, lihat spanduk besar itu, sedang ada ajang pemilihan model dadakan, kamu cantik, dan menarik, tak ada salahnya ikut lomba. Siapa tahu kamu bisa menang, ada makan gratis dan juga asrama, pelatihan cuma satu minggu." Wanita di sebelah Aluna antusias membaca papan pengumuman yang jarang sekali ada itu. 


Kedengarannya menarik. Aluna membaca berulang kali. Dan hati kecilnya berharap bisa masuk dalam kontes itu. 


Menjadi model memang hal paling menakutkan bagi Aluna, harus berdiri diatas panggung dan jadi pusat perhatian. Jika bagus akan mendapat tepuk tangan, dan jika buruk akan di cemooh.


"Ayolah, kamu pasti bisa, siapa tahu ada rezeki disitu." Desak wanita itu lagi.


"Tapi, aku tidak ada bakat, dan persaingannya pasti sangat ketat." Aluna sama sekali tak percaya diri jika harus bertanding melawan gadis ibukota yang tentu tak sedikit yang berparas cantik dan kehidupan yang sempurna.

__ADS_1


 "Luna, apa salahnya dicoba, jika orang tak berani maju dan ambil resiko, maka dia akan tetap berada di titik yang sama, hingga jenuh. Lihatlah kami sampai tua masih seperti ini, ini karena kami dulu tak berani melangkah lebih maju."


__ADS_2