
Adrian disana bertemu dengan Nabila, hubungan mereka kembali dingin. Adrian tadi sudah ingin marah dan meminta Nabila bertanggung jawab atas nama julukan 'Kanebo kering' yang diberikan tadi. Tapi Adrian mengurungkan.
'Sudahlah, kalau aku tanya sekarang, dia bakal tau kalau aku sudah nguping pembicaraan mereka tadi. Malah diikira aku kepo, nanti.'
Dokter Nabila ini hadiah untuk, kakak anda. Semoga dia suka dan dipakai. "Adrian menyerahkan arloji bermerek mahal pada Nabila.
"Terimakasih hadiahnya." Nabila suka sekali menerimanya, seolah dia yang mendapat hadiah.
Apa ada lagi yang ingin anda bicarakan dengan kakak? Kalau masih, silahkan tunggu.
"Tidak, aku akan pulang saja," dusta Adrian. Padahal dia sedang bingung, entah kemana lagi di akan menemukan ketenangan dalam hidup ini, Adrian benar benar berada dalam titik terendah dalam hidupnya.
****
"Pagi Honey!"Dion memeluk erat tubuh istrinya lalu mengecup kening saat Aluna baru membuka mata.
Aluna mencium aroma harum teh wangi, saat baru membuka mata. "Pagi, sayang." Aluna membalas dengan suara serak.
Aluna mengerjap saat Dion mengecup keningnya dengan bibir basah.
"Ah, sudah pagi ya."
"Iya honey, masa masih ngantuk, nggak apa-apa entar siang tidur lagi, yuk! Mereka mau pulang." Dion memeluk tubuh istrinya dengan gemas, lalu mencium pipinya, setelah puas di pipi kanan dan kiri dia pindah ke perut.
"Sayangnya Papi lagi ngapain? Yuk bangun sama Mami, mandi, lalu kita sarapan." Dion mengajak bicara bayi di perutnya.
"Masih malas. Yang." Aluna menggeliat.
"Honey ayo bangun, nanti dicari nenek kesini kalau kita terlambat gabung sarapan sama mereka, ini hari terakhir mereka disini lho."
"Sayang, ngantuk." Aluna manja, tubuhnya pegal semua. Efek kelelahan semalam begadang.
Menyadari tubuh istrinya capek Dion akhirnya memaklumi, hanya saja dia akan membiarkan Aluna bermalas-malasan jika usai mandi.
"Baiklah, aku akan menggendong istriku ke kamar mandi, aku akan memandikan seluruh tubuhmu, dan tentu kalau aku yang mandikan, mandinya nanti bukan mandi biasa, tapi mandi plus-plus."
"Ih, mesum. Nggak capek apa semalam Tiger sudah mengunjungi baby. Kalau baby terlalu sering dikunjungi. Dia akan bosan."
"Masa sih, bosan apa makin senang? Kok tadi aku dengar 'ah, Sayang' " Dion menaik turunkan alisnya membuat Aluna makin greget dengan suaminya. Reflek Aluna langsung memukul dada suaminya.
__ADS_1
"Awas, kalau mau, nggak akan aku kasih lagi." kata Aluna dengan bibir mengerucut dan wajah bersemu.
"Ah, jangan dong sayang, kamu nggak kasian Tiger yang selalu tegang begini, lihatlah, melihatmu cantik pas bangun tidur saja, dia sudah mengamuk, celana ini rasanya sesak."
"Dasar, Tiger dan Papi Tiger mesum." Aluna melompat dari ranjang dan segera berlari ke kamar mandi.
_
Keluarga sudah sibuk siap-siap untuk pulang, mereka sudah dua hari di rumah ini, keluarga ingin sekali membawa Aluna ke mansion, tapi sayangnya Dion tidak mau, karena dia ingin disini sekaligus honeymoon.
Pengantin baru dan hanya berdua saja apa sebutannya kalau bukan honeymoon.
Aluna masuk kamar mandi lalu memutar tombol kunci otomatis. Segera dia buka semua atribut tidurnya. Selama menikah Aluna belum berani hanya memakai lingeri saja.
Aluna segera menyalakan shower, air dari langit langit mengucur dengan deras, Air shower menyentuh kulit lembutnya. Aluna sangat menikmati mandinya pagi ini.
"Ah, ini segar sekali." Aluna mendesah.
Aluna mengecilkan air shower dan membasuh seluruh tubuhnya dengan sabun cair, lalu menggosoknya hingga air busa menutupi seluruh tubuh.
Aluna terkejut tiba-tiba ada yang bisa membuka pintu. Aluna menoleh, ternyata yang masuk lelaki yang sudah tak mengenakan apapun, hanya handuk kecil warna putih menutupi aset berharganya.
Aluna segera mengambil handuk, dan Dion menahan lengan Aluna dengan lembut.
Aluna menurut, dia biarkan Dion membimbing tangannya memeluk pinggang suami. Dion makin gemas dengan tubuh istri yang terlihat makin padat dan berisi.
Air shower terus mengucur dari langit tanpa lelah, Dion dan Aluna saling berpandangan. "Sayang, seandainya kita berpisah jarak, aku mohon kau tetap setia, usaha yang aku jalani semakin sukses dan setelah ini aku akan sering ke luar negeri."
"Aku ingin ikut."
"Tidak bisa, aku disana sibuk meeting dan berpindah pindah tempat tinggal, kamu akan sangat lelah."
"Kalau begitu, aku akan selalu menunggu kau kembali, aku akan setia."
"Terimakasih sayang." Dio mengecup puncak kepala Aluna. Dia tersenyum nakal menatap istrinya yang hanya memakai kacamata dan kain segitiga dilengkapi tali di sisi kanan dan kiri itu.
Dion memeluk pinggang istrinya, dia kembali lagi berhasrat, meski semalam sudah berulang kali, tapi rasa yang membuncah dan yang berdiri tegak seperti tombak sudah tak bisa lagi di bujuk. Hingga penyatuan kembali tak bisa terelakkan.
Dion yang khalap, memberi sangat banyak tanda merah di leher dan dada, Aluna tak kuasa menolak karena dia sendiri sedang diliputi oleh gairah yang membuncah.
__ADS_1
"Hati-hati sayang, nanti baby kita ketakutan kalau goncangannya dahsyat," kata Aluna sambil memeluk lengan Dion kuat-kuat.
"Tenang sayang, aku akan sangat hati-hati, aku akan melakukannya penuh kelembutan," kata Dion di di dekat telinga Aluna dengan nafasnya yang sudah memburu.
Nenek di lantai bawah sudah duduk di meja untuk sarapan. "Dimana Aluna dan Dion. Kok belum turun?"
"Hihihi. Nenek nggak tau saja, mereka itu pengantin baru, biarlah Nek dia lakukan apa aja. Dunia masih milik berdua," bisik Melani.
"Tapi anak sekarang keterlaluan, Luna sedang hamil muda, Nenek khawatir kalau Dion main keras-keras."
"Ah, Nenek, Luna dan Dion pasti sudah tahu kalau masalah itu, dia sudah sama sama besar dan pengalaman.
"Tetap saja nenek harus kasih tau Dion, nenek nggak mau dia sampai melakukan kesalahan, itu cicit pertamaku Mela."
Selena hanya menarik nafas dalam, tidak mengerti bagaimana lagi meyakinkan nenek yang selalu menganggap Dion dan Adrian selalu anak kecil.
Tak lama Aluna dan Dion keluar, tubuhnya terlihat segar dan rambut keduanya basah.
Nenek yang melihatnya langsung berdehem, sambil menahan senyum. "Ehem, pagi-pagi dah ada hujan lokal rupanya?"
Jessika yang baru datang dari kamar langsung menyomot bakwan hangat. "Di mana ada hujan, Nek? Langit benderang gini dibilang hujan."
Nenek dan Aluna tersenyum, sedangkan Melani memukul pelan tangan Jessica. "Kebiasaan! jorok. Cuci tangan dulu. Baru bangun juga, mama sumpahin kamu dapat suami Dokter, biar ada nggak bandel lagi."
"Itu bukan sumpahin namanya Mam, itu Do'a. Dokternya pasti sial punya istri kayak dia, malas masak, malas mandi."
"Nanti kalo sudah menikah, beda lagi ceritanya Kak. Jessica akan belajar masak, belajar dandan, dan belajar semuanya." kata Jessica dengan tangannya ikut bergerak gerak. Gadis ini sedikit tomboi tapi aslinya dia juga sangat cantik.
Dion menatap Aluna mesra, Aluna membalas menatapnya sambil tersenyum. "Syukur deh kalau mau berubah," kata Dion lagi.
Aluna dan yang lainnya memilih mendengarkan dan tak berhenti senyum bahagia dari bibir mereka. Kedua kakak beradik itu terus bertengkar seperti kucing dan kelinci saat bertemu.
"Sayang, aku siap siap kerja, takut terlambat."
"Iya, biar aku siapin perlengkapan kerjanya." Aluna ikut beranjak.
"Sudah Sayang, kamu tadi lelah banget, mending sekarang sama Nenek dan disini."
"iya, Luna. Apalagi Dion pasti suka bikin kamu kelelahan kan? biarkan dia siap-siap sendiri, mending kamu temani Nenek disini."
__ADS_1
"Nenek, tapi aku harus bantu ...."
"Sudah, biar Dion tidak manja, apalagi nanti perutmu ini bakal besar, dan kamu nggak harus lakukan tugas rumah ini sendiri." Nenek menghalangi Aluna. dengan menggenggam pergelangan tangannya. Sepertinya kamu juga harus punya asisten rumah tangga Luna." Nasehat Nenek, Luna dengarkan saja, dia ambil sisi baik dan buang buruknya.