Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 266. Campur tangan Mama.


__ADS_3

"Lepas!" Kali ini Chela lebih kasar mendorong tubuh dempal suami hingga lelaki itu mundur beberapa langkah. 


Enzo tersenyum nakal. "Aku akan menaklukkan kamu sayang." Ancam enzo. 


Setelah menikah, ketertarikan Enzo pada Chela lebih besar. Enzo sekarang yakin kalau yang halal pasti akan lebih nikmat. Meski gengsi masih tetap dia pertahankan satu sama lain.


Chela membuat ruangan lebih hangat dengan menaikkan suhu AC kamar. Lalu beranjak tidur.


 "Jangan pernah ganggu tidurku, aku tidak suka jika ada yang mengganggu." Lalu Chela menutup seluruh tubuhnya hingga mirip kepompong raksasa.


"Aku tidak janji, karena aku terkadang bisa tidur sambil melakukan hal yang di luar dugaan. Mama selalu bilang tidurku unik," ungkap Enzo.


"Dan seperti malam itu, bisa saja Tito dan Mama benar, tapi tidak masalah, kita sekarang sudah menikah, Tadinya aku mengutuk diriku sendiri karena menikah dengan gadis cerewet sepertimu, tapi sekarang justru sekarang aku ingin sekali mengulang kejadian itu lahi.," ujar Enzo lagi sambil menikmati kopi hangat dan tiramisu. 


Enzo sengaja tidak minum alkohol, dia ingin malam indah ini dilalui apa adanya dengan sadar tanpa pengaruh obat apapun. 


Chela akhirnya tidur pulas, dengkuran halus terdengar dari dalam selimut.


Chela menggeliat, sedikit terkejut tiba tiba Enzo berdiri dari duduknya. Chela segera memejamkan matanya kembali seolah masih pulas.


Enzo mulai tertarik melihat Chela saat tidur.


Enzo lalu membuka selimut hingga sebatas dada, dan mengamati wajah cantik Chela.


Chela sebenarnya tahu kalau lelaki mesumnya sudah akan beraksi. Sekarang Chela ingin tahu apakah dia seagresif kata-katanya.


Chela mempertahankan diri dari serangan makluk ganas Enzo dengan tetap terpejam. 


Rupanya benar dugaan Chela, lelaki itu mendekatinya dan mulai menatap dirinya dengan tatapan yang sulit diartikan, antara sayang dan bergairah. 


"Chela, malam itu sebenarnya aku benar-benar tak ingat dengan apa saja yang telah aku lakukan, tapi malam ini aku akan melakukannya dengan kesadaran penuh."


"Kamu sebenarnya cantik, lama-lama aku jadi suka sama kamu."


Enzo terus saja berbicara pelan berharap Chela tak mendengarnya. Padahal gadis itu sejak tadi sudah mengintip gerak geriknya.


Enzo mulai usil, dia menyentuh hidung lancip Chela. 


Chela masih pura pura tidur, rupanya dia memiliki keahlian untuk berakting dalam tidur, sampai sejauh ini Enzo masih belum menyadari juga.


Karena hari makin larut. Tak ada pilihan buat Enzo, selain menani Chela tidur. 


Enzo membenarkan posisi tidur Chela, lalu dia ikut naik. Enzo berusaha untuk mejamkan mata, tetapi tak bisa. Tidur di dekat Chela sungguh membuat tersiksa.

__ADS_1


Lelaki itu lalu kembali melirik pada Chela yang dikiranya sudah terlelap. 


Enzo mulai memeluk Chela dan mencium tengkuknya.


Hal yang membuat Chela sangat geli. "Aww. Apa yang akan kamu lakukan? Kamu ingin memperk*sa aku yang kedua kalinya ya?" 


Chela segera bangun dan memukul Enzo dengan bantal bertubi-tubi.


Setelah bantal ditangan Chela berhasil direbutnya Enzo segera merengkuh tubuh istrinya.


"Apa kamu bilang, yang ke dua kali? Jadi kamu benar-benar menuduh aku sudah melakukannya. Ini tidak adil, kamu menuduhku, tapi aku belum merasakan enaknya." Enzo tak terima dengan ucapan Chela.


Enzo segera menarik selimut yang menutupi tubuh Chela. Chela berusaha keras merebutnya tapi gerakannya kalah cepat dengan Enzo. 


"Apa yang kamu lakukan, berikan selimut itu."


"Tidak akan pernah." Enzo membuang selimut sangat jauh dari jangkauan. 


"Dasar mesum!" Chela mberengut kesal. 


"Enzo mendorong tubuh istrinya dan mengungkung tubuh mungil itu hingga tak bisa bergerak lagi."


"Kita sudah menikah, sebaiknya jangan tunda lagi, terong belanda ini sudah tak bisa bertahan lagi."


"Jangan sekarang, aku masih belum siap." Kali ini Chela memohon dengan sangat. "Besok saja ya." Tawarnya kemudian.


Tiba-tiba ponsel Enzo berdering. Enzo segera membenarkan handuknya dan mengambil ponsel di nakas.


"Halo mama!"


"Hallo sayang!"


"Gimana? Sukses belum?"


"Sukses? Apanya yang sukses,"


"Bikin cucu buat Mama Enzo, gimana sih? Ini malam pertama kalian lho, jangan dilewatkan."


"Chela dan Enzo lagi lelah Ma, maklum acara baru selesai. Kita harus istirahat 


"Enzo, kamu dan Chela ini harapan mama satu satunya, kenapa kamu malah nggak semangat giitu"


"Enzo mama nggak mau tahu, besok pagi kalian harus sudah goal. Mama nggak mau dengar kata kalah, kalian harus semangat donk." Ellyana nampak gemas dengan anak dan menantunya.

__ADS_1


Chela diam-diam mendengar obrolan Enzo dan Mama mertuanya jadi merasa bersalah.


"Apa mama marah?" Tanya Chela ketika telepon dengan Mama sudah berakhir.


"Sudah biarkan saja, aku tadi sudah beralasan kalau kita sedang lelah." 


Chela tersenyum, ternyata dibalik sikap menyebalkan Enzo, lelaki itu juga memiliki perhatian yang besar. 


Enzo juga meminta mama agar menyuruh  asisten untuk mengantarkan baju hangat ke apartement. Tapi nyatanya sampai sekarang baju pesanan Enzo tak kunjung datang.


Selang lima menit seorang pelayan datang. "Tuan kami sedang mengantar makan malam untuk anda."


Enzo heran, malam sudah larut tapi masih ada pelayan mengantar makanan. 


Pelayan seolah bisa membaca ekspresi Enzo. "Tuan jangan heran, mama anda yang meminta agar mengirim makanan ini."


"Baiklah, siapkan di meja makan." 


Enzo membiarkan pelayan bekerja, sedangkan Chela pura-pura bermain ponsel dengan tubuh masih terlindungi oleh selimut. 


Enzo melihat makan malam yang ternyata sangat menggiurkan, makanan yang tersaji malam ini. Bisa dibilang semua faforit Enzo. Mama memang paling tahu semua faforit Enzo. 


Enzo memanggil Chela agar makan bersama, gadis yang suka ngemil di malam hari itu tentu saja ikut makan dengan senang hati. 


Usai makan Chela dan Enzo merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Rasa tertarik keduanya semakin besar, seperti ada hal lain yang telah mempengaruhi dirinya. 


"Chela malam ini kamu cantik dan seksi, Sayang." Enzo menatap.Vhela dengan zazapan penuh cinta dan dada bergemuruh ingin meledak.


"Kamu juga sangat tampan, Tuan." Chela menggenggam jemari Enzo, Enzo membimbingnya ke dalam pangkuannya. 


"Chela, malam ini apa yang kau inginkan?"


"Aku ingin kita bersenang-senang semalaman Sayang." Chela menggoda Enzo layaknya seorang wanita penggoda. 


Enzo juga bertingkah seperti seorang Casanova. Sungguh dunia mereka kini menjadi berubah drastis karena makanan yang baru masuk ke perut berdua.


"Sayang kau cantik sekali," puji Enzo yang tak henti-henti. Enzo menarik satu kaki Chela hingga kini posisi duduknya berhadapan. Punggung Chela bersandar pada tepi meja makan yang berantakan.


Tangan Enzo mulai bergerilya menyusuri wajah dan bibir Chela. Chela dengan gemas menggigit jemari Enzo yang menggelitik.


"Nakal, sekali kamu baby." Enzo menarik jemarinya dan mengecup bibir Chela dengan rakus. 


Dua insan itu masih sadar apa yang dilakukan, namun gejolak di dada yang besar tak mampu dikendalikan lagi.

__ADS_1


Enzo dan Chela sama-sama dilanda kegilaan yang dashyat. Dia tak bisa lagi membendung setetes cinta yang tiba- tiba berubah menjadi samudra yang siap menenggelamkan berdua. 


"Aku sayang kamu Chela," ujar Enzo di tengah deru nafasnya yang memburu.


__ADS_2