
Aluna sudah berdandan rapi seperti biasa, memakai rok hitam selutut dan kemeja putih, vest warna hitam untuk melengkapi penampilannya biar lebih menarik.
Rambut yang baru dipangkas rata sepunggung dengan warna hitam kecoklatan membuat penampilan Aluna menjadi pusat perhatian. Banyak yang mengira rambut itu diberi warna, tapi sesungguhnya itu asli, dan sangat halus di tangan saat dibelai, bando putih cantik ia gunakan untuk menyibak rambutnya. Kulitnya makin hari juga makin putih dan bersih karena jarang sekali terkena sinar matahari langsung. Beda dengan saat dulu masih sekolah, Aluna setiap hari naik sepeda, hingga terpapar dengan terik matahari langsung, tanpa tameng, Jadi kulitnya sedikit gelap.
Aluna naik gojek langganan menuju perusahaan, seperti biasa, disana dia disambut hangat oleh security dan karyawan.
Aluna segera menuju ruangan Dion yang menjadi ruangan berdua. Tapi di dalam Lift dia bertemu dengan Diva mantan sekretaris Dion. "Nona, kemana aja beberapa hari nggak masuk?"
"Masih ada urusan penting Div," terang Aluna sibuk mencari alasan.
Oh, pasti lagi persiapkan acara tunangan ya? Kok bisa kompak nggak masuknya."
"Maksudmu?"
"Iya, Pak Dion juga nggak masuk pas kamu mulai nggak masuk. Aku pikir ya kalian akan bertunangan, lihat Pak Dion udah kelihatannya nggak mau jauh sama kamu. Beruntung banget kamu Luna, hampir seluruh gadis di perusahaan ini suka lo sama Pak Dion. Dan pak Dion nggak pernah nanggepin mereka, dia itu dingiiiiiin banget, bahkan dengan aku sekretarisnya pada waktu itu. Ternyata dia udah punya pacar secantik ini"
"Pacar! Aku?" Aluna menunjuk dirinya sendiri. Entah kenapa Diva berkata demikian hati Aluna belum percaya.
"Iya siapa lagi?" Wanita itu meyakinkan.
Aluna sadar Dion memang selalu membuatnya special, pantas saja kalau di mata karyawan dia terlihat saling mencintai, tapi jujur hati Aluna masih bimbang. Adrian lelaki pertama yang dia kagumi, Dion lelaki pertama yang membuat hatinya selalu istimewa.
"Diva, karena Pak Dion nggak masuk, sepertinya aku harus cari dia ke rumahnya, aku jadi khawatir, Jangan-jangan dia kenapa napa."
Diva hanya mengangguk. "Iya, kalau sedang kurang enak badan pasti akan cepat sembuh setelah sang kekasih datang.
Aluna kembali turun menuju lantai satu, dia berharap bisa segera menemukan Dion di rumahnya.
Dengan langkah lebar dan sepatu hak tinggi membuat Aluna beberapa kali keseleo, tapi tetap tak menyurutkan asanya untuk bertemu Dion.
Aluna segera menuju pos security dan meminta supir kantor untuk mengantarkannya ke rumah CEO Dion.
"Pak bisa antar aku ke rumah CEO Dion."
"Tentu bisa Neng, aku harus mengantar anda demi urusan pekerjaan."
"Terimakasih." Aluna segera naik mobil yang disediakan perusahaan. Sopir sudah tahu rumah CEO Dion karena bukan hanya sekali saja dia kesana.
__ADS_1
Sampai di istana megah Dion, Aluna melihat rumah tampak sepi, hanya ada beberapa penjaga yang ada disekitar gerbang.
Penjaga segera membuka pintu, begitu melihat Aluna sudah turun dari mobil, apalagi dia menggunakan mobil kantor yang memiliki plat nomor khusis..
Penjaga membungkuk mengucapkan selamat pagi pada Aluna. "Pagi Nona."
"Pagi, apa Pak Dion ada di rumah?" Aluna bertanya sambil mengabsen halaman.
"Maaf Nona, pagi tadi dia dibawa paksa oleh Nyonya ke rumah sakit untuk periksa kesehatan. Dia beberapa hari ini selalu membuat Nyonya marah karena bandel. Dan nggak mau makan."
Aluna menunduk, menyembunyikan senyumnya dari security, tak menyangka Dion ternyata juga bisa seperti anak kecil.
Aluna memilih menunggu di taman bersama security. Duduk dengan rapi di sebuah gazebo. Sedangkan bibi yang melihatnya langsung membawa jus mangga dan sandwich untuk Aluna.
"Nona, apa nggak ditunggu di dalam aja?" Sapa Bibi ramah.
"Enggak, aku tunggu disini saja, Bi. Pak Dion sakit apa sih sebenarnya?"
"Anu Non, Maagnya kambuh."
"Apa sering seperti ini? Atau ini pertama kalinya?"
Saat bibi baru saja ingin menghempaskan bokongnya di kursi sebelah Luna dan bercerita panjang lebar, tiba tiba mobil mewah Dion terlihat dari ujung jalan. Bibi segera masuk untuk menyiapkan bubur ayam yang diminta nyonya untuk Dion.
Aluna lega dia akan segera bertemu dengan Dion. Aluna segera menjemput mobil berhenti dan mengintip kursi penumpang.
Dion yang melihat Luna tersenyum sumringah. Dia bahagia. Dion sadar Aluna adalah obat yang dicari, sakit di tubuhnya terasa rontok tersiram sejuknya air hujan.
Dion segera keluar dan ingin langsung memeluk Luna, untuk melepas kerinduannya.
Ketika tubuh mereka sudah berdekatan, dan Dion sudah merentangkan tangan, siaga mendekap tubuh semampai Aluna. Aluna mundur beberapa langkah. Rupanya masih ada hati yang harus dia jaga.
Clara keluar dari pintu yang sama dengan Dion, gadis iti terlihat menekuk wajahnya dan mata yang berkaca.
"Dokter Clara!" Aluna menyapa dengan senyum tulus.
Clara tersenyum dengan senyum yang dipaksakan. Suasana mereka bertiga sesaat menjadi canggung. Tapi tak berlangsung lama, ada Jessica yang keluar dari pintu depan dan segera memeluk Aluna.
__ADS_1
"Luna, aku mencarimu, kamu kemana aja? Aku mencari dengan Kak Dion sampai ke ujung dunia, dia sakit karena kamu Luna?"
"Jessica, kenapa kamu salahkan Aluna? Dia tidak tahu apa apa." Dion membantah jessica menyalahkan Aluna.
"Luna kau baik baik saja?" Dion menatap Aluna penuh kerinduan.
Aluna mengangguk. "Seperti yang kau lihat."
"Kalian kok berdiri disini, ayo cepat masuk Dion. Clara, Aluna kalian temani Dion masuk, dia pasti ingin istirahat. Jangan lupa, paksa dia minum obat."
"Iya Tante." Buru buru sekali Clara menggamit lengan Dion dan membantunya masuk, Aluna yang hendak membantu sudah dilarang oleh Clara.
"Biar aku saja, Lun yang bantu. Kamu tolong bawakan tas milikku saja." Clara menunjuk tas yang entah apa isinya, tergeletak di tempat duduk mereka tadi.
"Oh, iya, aku ambil tasnya." Aluna segera meraih handbag dan segera menyusul Dion dan Clara beserta Jessica.
Sampai di kamar, Dion langsung bertemu dengan bubur sumsum harum buatan asisten rumah tangganya. Aluna segera meraih bubur itu dan hendak menyuapi Dion yang baru saja bersandar di tepian ranjang.
Dion tersenyum pada Aluna, menatap sekretaris cantiknya hampir tanpa berkedip. Tatapan mata Dion mengatakan kalau 'Luna, aku sangat merindukanmu, tolong jangan jauh-jauh dariku lagi'
Luna mendekat dengan senyum sumringah, ingin sekali dia mengatakan kalau dia akan kembali bekerja, dan satu langkah lagi dia akan bercerai.
Clara juga menunggu di dekat Dion, terus saja menatap Aluna, Aluna jadi tak enak hati tiba tiba mengambil perhatian Dion begitu saja, bukankah wanita itu juga berhari-hari sudah menghabiskan waktu hanya untuk Dion.
Dion yang melihat bahasa mata dua wanita di depannya langsung mengambil keputusan. "Clara, terimakasih kamu sudah menemaniku, sekarang kau istirahatlah, sudah ada luna. Aku ingin bicara banyak hal padanya."
Clara tentu saja dia kesal, walaupun berusaha menyembunyikan kekesalannya, tetap saja wajah tak bisa berbohong. "Baiklah, aku akan pulang saja, Luna sudah datang."
"Tunggu, Clara, kamu tolong suapin Pak Dion. Aku akan angkat telepon dulu,"Aluna mencegah langkah Clara.
Aluna tidak berbohong, ponsel di hand bagnya bergetar terus menerus. Aluna berharap dia Argo. Semoga Argo bisa bekerja dengan baik.
"Luna, tapi maunya cuma sama kamu." Dion protes Aluna menyuruh Clara.
"Maaf Pak Dion, Dokter Clara dia yang akan membantu anda, aku harus terima telepon dulu." Aluna bergegas keluar. Dion menatap kepergian Aluna dengan kecewa. Dion merasa Aluna sengaja menghindarinya, Dion berfikir apakah beberapa hari bersama Adrian telah membuatnya berubah.
Sedangkan Clara meraih mangkuk berisi bubur sumsum. Sambil menarik kursi mendekati Dion, supaya lebih dekat dan mudah untuk menyuapi.
__ADS_1
Aluna mematahkan harapan Dion, tadinya dia ingin sekali makan dari tangan wanita yang disayangi, pasti rasanya tak akan hambar seperti sekarang ini.