
Aluna terbaring lemah di rumah sakit, ada Dion di kursi kecil dengan perasaan cemas, Dion yakin tulang hidung Luna pasti patah melihat Adrian memukulnya begitu keras, tiada kira.
Adrian berdiri di dekat Luna di sisi yang satunya dengan posisi melipat tangan di dada, karena tidak kebagian kursi.
Ada raut menyesal di wajahnya. Bagaimana tidak, Aluna begini karena ulah dia. Andaikan dia tak selalu menggunakan kekerasan, saat ada masalah dengan lelaki yang menjadi saingan dalam segala bidang ini. Pasti wanita yang ia sayangi tak akan seperti ini sekarang.
Dion sesekali menatap Adrian dengan tatapan tajam. Sesekali dia menatap Aluna dengan tatapan yang berubah menjadi sendu.
"Sakit banget ya Lun." tanya Dion lemah lembut. Sakit yang dia rasakan sendiri sepertinya sirna melihat wanita di depannya lebih banyak diam.
Aluna mengangguk, saat berbaring sakitnya sekarang lebih terasa. Luna yakin hidungnya pasti patah, dia berdoa dalam hati semoga tidak di amputasi. Luna khawatir hidungnya yang kecil akan makin pesek.
"Ya udah istirahat." Dion membelai rambut Aluna. Tentu orang yang ada didekatnya saat ini sedang dilanda kebakaran jenggot.
Adrian membungkuk dan menggenggam tangan Aluna, lalu mengecup buku-buku jemari yang runcing dan lentik. "Maafin aku sayang, tadinya aku benar-benar tidak sengaja. Aku ingin memberi pelajaran pada pengganggu hubungan kita, kau malah melindunginya. Harusnya biarkan saja dia menerima akibat dari perbuatannya.
Aluna menarik jemarinya dari genggaman Adrian. Aluna malu Adrian bersikap demikian di depan Dion. Aluna juga marah pada Adrian dengan kejadian tadi.
"Pak Rian, Pak Dion, sebaiknya anda berdua pulang, biarkan saya istirahat, lagian sudah ada Bibi dan perawat yang akan merawat saya," kata Aluna mengambil jalan tengah, dia tidak mau istirahatnya di ganggu oleh dua pria yang selalu perang dingin itu.
Tapi Luna, aku janji tidak akan mengganggumu, baiklah aku akan menunggu di sofa saja, sekarang kamu istirahat." Dion meninggalkan kursi kecil dan beranjak menuju sofa dengan berat hati. Sedangkan Adrian masih kekeuh berusaha meluluhkan hati Aluna.
Adrian menarik selimut yang terlipat di bawah kaki, ia gunakan untuk menutupi separuh tubuh Aluna dan mengecup keningnya.
Aluna segera mengusapnya dengan bibir cemberut. Kini orang didekatnya bukan memberi kenyamanan malah membuat Aluna pusing.
"Pak Rian, sebaiknya anda juga keluar." Aluna berkata sambil menoleh ke arah lain, malas melihat wajah yang baginya tak punya pendirian sama sekali itu.
Adrian akhirnya memilih untuk duduk di sofa yang lainnya, tentunya selain sofa yang di duduki oleh Dion.
Baru saja menghempaskan pantatnya Dion sudah berkata lagi. "Sudahlah pulang aja, kekasih anda pasti sudah menunggunya."
"Kamu yang pulang, dia istriku, aku paling berhak menunggunya."
"Pikun, wanita itu sudah menggugat cerai kamu, dan kaku sudah menandatangani, itu artinya suka atau tidak suka kalian sudah resmi bercerai, jadi Luna berhak menata hidupnya kembali."
"Bilang aja kamu ingin segera memiliki Luna, Aku tidak akan pernah menganggap perceraian itu pernah ada, karena aku ditipu, pasti orang licik sepertimu yang mengajari Luna melakukan kebodohan yang tak pernah dia inginkan," terka Adrian.
__ADS_1
Aluna yang masih bisa mendengar dua orang berdebat itu akhirnya dia menutup telinganya rapat rapat. "Keluarrrr!! please. Kalian berdua aku minta untuk keluar!"
Dion dan Adrian segera diam, demi Luna dia akhirnya memilih keluar, dia tak mau membuat orang yang dia kasih perhatian malah tidak merasa nyaman.
Adrian menarik Dion pada tempat sepi, yang hanya sesekali saja pengunjung lewat di dekatnya., itupun tak akan mengganggu keberadaannya dan pembicaraan yang akan dia lakukan.
"Gue mau bicara sama Elo!" Adrian mulai lebih dahulu mendorong Dion ke dinding.
"Aku akan membuat Luna kembali padaku, jadi jangan pernah dekati dia, ngerti," hardik Adrian.
"Enggak, aku nggak akan pernah mengerti selama kamu masih gila, kamu pria gila, ingin menduakan Aluna dengan wanita iblis seperti Angeline."
"Itu bukan urusanmu." ujar Adrian keras kepala.
"Tetap menjadi urusanku, karena aku juga memiliki perasaan dengannya, lelaki sejati akan membuat kekasihnya selalu nyaman, jika Luna tidak nyaman denganmu, masih ada tempat ternyaman yaitu bersamaku.
"Dasar tak punya Muka," umpat Adrian pada Dion. Tatapan kedua netra mereka sudah sama-sama tajam bagaikan elang bertemu mangsa.
"Kamu lebih tak punya muka, atau kita sama sama tak punya muka. Kamu lelaki yang terus mengejarnya walaupun dia ingin bercerai darimu, dan aku tetap mencintainya meski tahu dia bersuami, kita sama." Dion membisikkan kata-katanya ditelinga Adrian.
Dion mengalah selama ini karena sadar posisinya salah. Tapi terus mengalah membuat harga dirinya hilang dimata lelaki yang menjadi pesaing bisnisnya itu. "Oke, kita akan bersaing secara sehat, mendapatkan hati Aluna tanpa ada yang curang." Imbuh Dion lagi.
"Maksudmu?" Adrian memicingkan matanya.
"Kita biarkan Luna memilih lelaki yang dicintai, kita akan mendekati Luna secara sehat, diantara kita tidak ada yang boleh curang dengan tidur dengannya, jika bukan Luna yang memintanya. Atau sebuah pernikahan yang mengikat di dalamnya. Kau dan aku sama sama orang lain sekarang"
"Maksudmu aku bukan lagi suaminya?"
"Kau masih bertanya? bukankah kau sudah menceraikannya. Kita berdua bukan siapa-siapa Luna lagi." terang Dion panjang lebar.
Adrian terlihat berpikir sejenak, lalu dia mengangguk setuju. "Baiklah, aku setuju. Kita akan memiliki Luna dengan cara yang sehat."
Dion dan Adrian akhirnya dalam sesaat bisa berdamai, tapi entah ke depannya. Karena mereka seumur hidup memang tak bisa akur.
**
Dokter masuk ke ruangan Aluna. Aluna di dalam sendiri meratapi sakit yang berpusat di hidungnya.
__ADS_1
Setelah dokter masuk. Dion dan Adrian tak mau ketinggalan. Dia juga masuk ke ruang rawat Aluna dengan mengekor di belakang dokter.
Dengan hati hati dokter memeriksa hidung Aluna, sepertinya hidung Aluna memang harus dioperasi karena tulang rawannya sedikit bengkok. Operasi di wajah ini kemungkinan akan membuat hidung Aluna makin runcing dan bagus, tapi biaya yang dikeluarkan tentu tidak sedikit.
"Tuan, yang manakah suaminya?"
"Saya, Pak?" Adrian langsung mengangkat tangannya.
"Dokter, dia bukan lagi suaminya, tapi saya kekasihnya." Dion tak mau kalah.
"Baiklah, Tuan. hari ini Nona Aluna akan melaksanakan operasi kecil, tapi akan tetap menghabiskan banyak uang, jadi suaminya harus membayar biayanya di bagian administrasi sekarang juga.
"Baiklah, Pak." Adrian dan Dion sama sama mengangguk. Dokter bingung tapi berusaha bersikap tenang. Dia hanya berani menggelengkan kepala di belakang dua lelaki tampan yang sedang memperebutkan bidadari cantik.
Sedangkan Aluna yang mulai jengah dengan sikap dua orang di depannya dia memilih memiringkan tubuhnya membelakangi Adrian dan Dion.
Adrian dan Dion langsung menuju kasir, dia sepakat tidak berdebat lagi dengan membayar biaya operasi Aluna dengan dibagi dua. Dion tiga puluh juta Adrian juga tiga puluh juta.
Setelah membayar di admin mereka segera kembali ke kamar Aluna, dan mengantar wanita yang tengah berbaring di brankar menuju ke ruang operasi.
Tindakan Dion dan Adrian masih memicu tanda tanya di kalangan perawat dan dokter. Dua lelaki saling memberi perhatian pada Aluna hingga susah membedakan mana yang dicintai oleh gadis di depannya.
"Tuan Tuan, karena operasi ini akan segera dilakukan demi usaha dokter agar lebih maksimal, anda harus menunggu di luar." Pinta perawat dengan sopan.
Adrian dan Dion kembali lagi menunggu di luar, sedangkan Aluna memilih banyak diam. Aluna bingung dengan tindakan kedepan yang harus diambil, apakah tetap disisi Adrian dan membalas dendam dengan perlakuan Angel dan keluarga Adrian yang belum tuntas, atau memilih menikah dengan Dion, atau bahkan pergi jauh dari dua lelaki itu, agar tak ada lagi perdebatan diantara mereka berdua yang tak kunjung berakhir.
Aluna memejamkan mata, berusaha bersikap setenang mungkin dan operasi mulai berjalan.
*
*
*
*happy reading.
__ADS_1