
Mungkin terlalu lelah, dan kondisi sedang dalam pemulihan, Aluna sangat pulas tidur di kamar harum, ber AC dan juga empuk.
Aluna menggeliat dengan malas, betapa terkejut dia melihat jam di dinding menunjukkan angka setengah delapan.
"Ya Tuhan!" Aluna memekik. Tak percaya dia bisa bangun siang seperti hari ini. Aluna segera merapikan piyama yang dia pakai dan melompat dari ranjang, setelah cuci muka Aluna segera keluar. Dia lihat ruang tamu sepi, Aluna mengira pasti laki-laki itu sudah ke kantor dan dia sengaja sudah meninggalkan Luna di apartemen.
Baru saja ingin marah karena Enzo tidak membangunkannya, Aluna sudah dikejutkan dengan suara bariton dari arah ruang tamu menyapanya.
"Pagiii!! nyenyak banget tidur di kamarku, enak banget ya." sapanya sambil membawa dua kotak nasi.
"Tuan Enzo, anda keterlaluan, kenapa anda tidak membangunkan aku, aku terlambat ikut pelatihan."
"Tidak masalah, aku akan menganggapmu tak bersalah. kamu peserta istimewa bagiku."
"Anda selalu seperti itu, padahal mereka akan mengira aku curang karena dianak'emaskan."
"Kamu memang curang, sejak awal kamu sudah curang." kata Enzo santai sambil menaruh dua kotak nasi di atas meja makan, lalu mengambil piring dan sendok. Sedangkan Aluna berdiri dengan posisi tubuh menempel dengan meja.
Aluna mengernyitkan keningnya, tidak mengerti maksud Enzo. "Curang, darimana? Bukankah juri yang sudah memilih aku, semuanya adil, aku tidak pernah meminta anda semua harus memenangkan aku, apalagi harus kasih penilaian bagus," kata Aluna berapi-api, tak terima jika dia dituduh telah curang.
Enzo hanya tersenyum, tak percaya Luna telah pikun.
Aluna melihat Enzo dengan aura tak bersahabat, dibilang curang dia masih tak terima.
"Siapa kemarin yang menggedor gerbang ketika kuota peserta sudah penuh? Hanya karena aku kasihan aku membantumu waktu itu." Kata Enzo meledek Aluna.
"Oh, jadi karena itu, tuan Arogan. Oke, aku harus berterimakasih berapa kali untuk anda? Atau aku harus traktir makan siang."
"Tidak! tidak! Aku tidak mau, aku hanya ingin kamu ada di dekatku. Aku bahagia jika kamu setuju. Semangat kerjaku jadi bertambah."
Deg, jantung Aluna seakan berhenti berdetak, Aluna diam seribu bahasa, kata-kata yang sama persis seperti yang dikatakan oleh Dion. Lelaki itu dulu juga selalu ingin Aluna di dekatnya. Dia selalu bilang semangat kerjanya berlipat jika ada dirinya yang menemani di sisi.
Aluna kembali ingat sosok yang begitu dia cintai dan satu-satunya yang menempati singgasana di hatinya itu.
__ADS_1
Aluna berharap suatu hari nanti Dion akan menjemput. Membawanya kembali pulang seperti janji-janjinya dulu, jika hidupnya tak pernah berarti tanpa Luna.
"Hei, jangan melamun, kita sarapan, aku sudah bawakan sarapan enak." Enzo menyerahkan satu porsi sarapan untuk Luna.
Luna menerima pemberian Enzo. Mereka berdua sarapan bersama. Aluna melihat Enzo makan sangat lahap. Aluna memakan pelan-pelan saja. Melihat makan Enzo Aluna jadi kembali ingat Dion ketika makan masakannya.
Aluna tersedak, dia terus memikirkan Dion saat makan. Enzo segera memberikan minum.
"Melepaskan orang yang kita cintai itu memang berat, apalagi kita dituduh melakukan hal yang tak pernah kita lakukan."
Aluna menerima gelas berisi air setengahnya dari Enzo. Aluna heran darimana Enzo tahu.
"Darimana anda tahu?" tanya AlhnR
Enzo tak menjawab, dia hanya tertawa dengan kepala menggeleng berulang kali. "Luna Luna, tidak ada yang sulit bagiku," gumam Enzo lirih.
Luna lupa, Enzo bisa mencari tahu semuanya hanya dengan melihat kartu identitasnya. Dia banyak memiliki orang kepercayaan di kota Surabaya juga.
"Sudah, jangan terlalu banyak berpikir, lupakan laki-laki itu, dia tak pantas untukmu. kau hanya akan kecewa jika terus berharap dengannya."
"Luna, siapkan dirimu, Tito akan menjelaskan semuanya. Kau satu satunya model yang akan mensponsori produk perusahaan yang akan launching besok, kuharap kau jangan ragu apalagi takut, aku telah memilihmu, setelah ini kau akan dikenal sebagai pendatang baru di dunia model. Namamu akan tersimpan di memori mereka, dan setelah ini pasti akan banyak perusahaan yang juga membutuhkan jasamu, kau akan makin sukses.
Aluna terperanjat "Benarkah? Apa aku bisa? Bagaimana kalau aku gagal tampil terbaik?"
"Kau hanya akan dikenang sebagai Aluna yang malang, dan terima saja nasibmu menjadi wanita biasa. Ingat, besok perjalanan karirmu akan dimulai, sekaligus diakhiri. nasibmu ada ditangan, kesempatan emas ini tolong jangan dilewatkan." Nasihat Enzo.
Aluna mengangguk, meski tak yakin dengan kemampuan dirinya, tapi Enzo memberinya kesempatan yang tidak dimiliki model ataupun peserta lainnya. Luna berharap kali ini Enzo melakukannya karena benar-benar dirinya layak, bukan karena ada maunya.
Setelah usai sarapan, Enzo mengantar Aluna pulang ke asrama, Enzo sepertinya tak peduli kedekatan dengan Aluna diketahui oleh anak-anak asrama yang lain. Justru Aluna yang takut teman-temannya akan berprasangka buruk dengan tuduhan menarik simpati bos untuk sebuah kesuksesan.
"Luna, ingat, kita bertemu besok, Tito akan datang menjemputmu." kata Enzo setelah Aluna turun, lelaki itu membuka kaca mobil hingga setengahnya.
"Aku akan menunggu Tito menjemput. Aku sudah tak sabar datang esok." Kata Luna berusaha memantapkan hati.
__ADS_1
Enzo melambaikan tangan, Aluna membalas lambaian tangan Enzo. Mereka sekilas seperti sepasang kekasih.
Tanpa sadar ada beberapa teman Aluna yang melihat, bagaimana Bos memperlakukan Aluna dengan sangat manis dan istimewa, tentu saja niat untuk mempermalukan Aluna begitu besar.
Enzo memutar kemudi mobilnya, hari ini dia akan masuk kantor di jam siang saja. Enzo memiliki urusan lain yang lebih penting.
Setelah Luna benar-benar tak terlihat. Enzo segera menghubungi semua anak buahnya supaya segera mempersiapkan konser besar dalam rangka peluncuran produk terbaru perusahaan besok.
Luna yang baru masuk asrama, tentu saja dia sudah tahu hal ini akan terjadi. Tatapan iri penuh kebencian dan juga sebuah cemoohan. Bahkan ada diantara mereka yang terus terang menghina Aluna.
"Lihatlah, dia semalam sudah berhasil menghabiskan malam bersama CEO." kata salah satu teman Aluna
"Iya, aku sudah menduga dia akan menempuh jalur curang. Nggak nyangka dengan pura-pura sakit dan sedih bos bisa begitu bersimpati."
"Hai Luna, jangan lupa minum obat anti hamil, bisa saja kamu akan dicampakkan setelah Tuan Enzo bosan," ujar gadis pemilik rambut ikal.
"Wah benar, kasian kamu, niat mau sukses, malah hamil duluan," kata seorang teman yang ada di sebelahnya.
"Bukannya malah bagus, Aluna akan jadi nyonya Enzo. Kalau berhasil hamil dia akan menikahinya." Mereka semua kompak mengfitnah Aluna. Dengan sabar Aluna hanya tersenyum.
"Wah semalam kamu melakukannya berapa kali Luna? Tubuhmu kelihatan kelelahan sekali. Nih minum, biar tubuhmu segar." Salah satu teman Luna mendekat dan memberinya segelas jus jeruk. Luna mengambil dan meminumnya hingga tak tersisa.
"Terima kasih, kalian sangat baik padaku." kata Luna membuat kawan kawannya sangat kesal, kenapa Aluna begitu santai, harusnya marah atau mengamuk.
"Aku dengar nanti sore Luna akan melayani tuan Enzo lagi." kata seorang yang tadi melihat Aluna melambaikan tangan.
Aluna masih berusaha diam, dia tahu setelah memutuskan tidur di Apartement, hal ini pasti akan terjadi.
"Luna, kamu kemana aja semalam?" Valen segera menarik pergelangan tangan Luna dan membawanya ke kamar mereka berdua.
"Semalam aku tidur di apartemen Tuan Enzo," jawab Luna jujur.
"Terus yang dituduhkan mereka itu benar? Luna aku berharap kamu tidak semudah itu menyerahkan kehormatan pada orang yang baru kita kenal."
__ADS_1
"Kamu tau nggak, dengan kamu bertanya seperti itu, kamu sama dengan mereka, kamu anggap aku wanita apa, Valen?" Aluna menampik tuduhan mereka di depan Valen.
"Syukurlah jika kamu dan Tuan Enzo tidak melakukannya semalam." Valen memeluk Aluna. Dia tahu Aluna pasti tidak melakukan hal serendah itu.