Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 138. Adrian lemah tanpa Aluna.


__ADS_3

"Hoek, Hoek!" Angel memuntahkan semua isi perutnya. 


"Kenapa? Sayang." Lasmi panik melihat putrinya terus muntah-muntah sedangkan Adrian sama sekali tak pulang sudah seminggu ini. 


Papi Angel sangat malu dengan kelakuan Adrian yang kabarnya telah membawa calon istri orang kabur. Dunia sedang hangat memperbincangkan masalah mereka.


"Apa yang terjadi Sayang? kenapa suami kami tidak pulang? Disaat kamu seperti ini? Seharusnya kalian sedang bahagia. Karena akan ada bayi diantara kalian."


Mi, semua ini karena wanita kampung itu, dia telah membuat Adrian tidak percaya sama aku lagi, dia sudah membuat hidup Angel hancur hoek- hoek."


Angeline terus menyalahkan Adrian di depan orang tuanya sendiri. 


"Baiklah, mami dan papi akan mendiskusikan semua ini, jika wanita itu memang menjadi penghalang untuk kebahagiaan kalian mami juga tidak akan membiarkan dia bahagia, selama putri mami yang cantik ini selalu menderita,"  bujuk Lasmi.


"Bibi, tolong bawa Nona ke kamar, aku akan menghubungi suaminya yang kurang ajar itu," ujar Lasmi geram. 


"Baik Nyonya."


 Bibi merangkul pinggang Angeline lalu membantu angeline sampai ke ranjang. 


Hamil sungguh membuatnya sangat tersiksa. Dia terpaksa harus resain sementara waktu dari dunia permodelan yang telah membesarkan namanya. Dan setiap hari mengalami morning sicknes yang tak pernah ada hari absen.


"Sial! Sial! Sial!"


Angeline memukul kasur empuk miliknya, membuat tubuhnya memantul.


"Nona, jaga emosi anda, jika anda marah, kasihan bayi yang ada dalam kandungan," kata Bibi mengingatkan.


"Gue nggak perduli, gue benci bayi ini tau nggak!"  Angeline membentak asisten yang melayaninya sejak kecil. 


"Non. Jangan begitu Non, bagaimanapun ini anak non sendiri. Kita harus menyayanginya," tutur bibi.


"Diam, gue nggak butuh pendapat dari kamu tahu!" Ucap Angeline keras kepala.


"Iya Non." Bibi menunduk patuh.


"Maaf jika bibi terlalu ikut campur."


"Pergi sana! Gue nggak butuh bibi disini lagi!"


Bibi menurut, dia segera pergi, dengan menyimpan kesal dihati.

__ADS_1


Angeline menangis tergugu ketika bibi sudah keluar. Dia membuang apa saja yang ada di dekatnya, termasuk bantal dan guling.


"Aaaaaa, bren**ek, kenapa gue harus hamil anak pria gila itu." Angeline merasa hidupnya sekarang sangat hancur, Adrian tahu segalanya ketika dia baru menikah.


Frengky pergi entah kemana setelah tahu dia sudah menikah, sedangkan dia saat ini butuh seseorang yang bisa menguatkan hatinya.


Karena telepon yang terus berdering Adrian terganggu. Lelaki itu akhirnya  mengangkat panggilannya dalam kondisi setengah mabok.


"Hallo, Tuan dimana anda sekarang?" Tanya lelaki di seberang.


"Apa urusanmu hah!"


"Mertua Anda meminta anda untuk pulang."


"Hah apa yang dia mau dariku? Membuat aku lebih hancur. Dasar anak dan orang tua sama, katakan padanya aku tak mau pulang, aku sudah berada di syurga," gerutu Adrian, lelaki itu terus saja menghabiskan waktunya dengan minum. Hanya minum yang bisa membuatnya tegar menghadapi dunia.


"Maaf Tuan, anda bisa mengatakan semua kemarahan di rumah."


"Ya, katakan pada majikan kalian, aku pulang jika aku mau, tapi ingat! Jangan pernah memaksa. Atau aku akan membiarkan putrinya jadi janda hahaha." Adrian tertawa jahat. 


"Tuan anda dimana? Biar aku menjemput." Lelaki di seberang mulai sadar kalau Adrian sedang kehilangan akal sehatnya. 


"Hahaha, aku ada di surga, tempat ini sungguh menyenangkan."


Adrian ditemukan di sebuah kelap yang sudah menjadi langganannya. 


Dia sedang sibuk minum sambil bercanda dengan dua wanita di pangkuan. Yang satu duduk di paha kanan yang satu duduk di paha kiri. 


Adrian terus menggoda mereka berdua. 


Dua lelaki bertubuh kekar hampir sama dengannya memberi isyarat pada lelaki mabuk itu supaya pergi. Setelah menerima beberapa lembar uang warna merah wanita itupun pergi. 


Pengawal sekarang leluasa membawa Adrian keluar dari ruangan yang dipenuhi dengan hingar-bingar musik yang memekakkan telinga.


"Tuan mari kita pulang. Nona membutuhkan anda."


"Kenapa kamu kesini pergi!" 


"Tuan! Mari." Dua pengawal segera menggandeng Adrian, satu di kanan dan kiri. Adrian terus mengumpat mereka berdua. Dan meratapi kebodohannya.


Sampai di rumah pengawal segera mengantarnya pada mertua yang sudah menunggu dengan geram. 

__ADS_1


Lasmi sejak tadi sudah berusaha untuk mendamaikan hati suaminya yang sudah emosi tingkat puncak. 


Sabar sayang, dulu mereka saling mencintai, jika mereka sekarang berjarak pasti ada penyebab yang serius. 


"Tapi siapa dia yang berani membuat putriku menangis. Seumur hidup aku selalu berusaha membuatnya tersenyum." Kata Papa Angel di ruang keluarga sambil duduk dan meremas lututnya. 


Adrian yang masih dalam pengaruh alkohol, matanya merah dan rasa takutnya menghilang. 


Pengawal membawanya ke ruang keluarga dan Adrian kini duduk dalam satu kursi diantara empat kursi kosong. sedangkan kursi depannya diduduki mertua dengan tatapan mengintimidasi. 


"Bagus, selama seminggu kamu tidak pulang, apa kau tahu istrimu menderita, terus mencarimu."


"Istriku, dia tidak pantas disebut istri," ucap Adrian dengan senyum mengejek. 


Dada Papa Angeline terasa bergemuruh merasakan kalimat hinaan yang ditujukan untuk putrinya. 


"Apa maksudmu!?"


"Yang dikandungan itu bukan anakku. Tapi lelaki brengsek ini. Tanyakan pada putrimu, berapa kali lelaki ini menggaulinya hingga dia hamil."


"Kamu kurang ajar! Memalukan. Sudah tak bertanggung jawab sekarang kau malah memfitnah putriku."


"Plak." Satu tamparan keras mendarat di pipi Adrian.


"Suamiku, tolong jangan seperti ini, kita selesaikan dengan kepala dingin saja, dia sedang tak sadar dengan apa yang dia ucapkan. Dia masih dalam pengaruh alkohol." 


Andaikan saja putri kita tidak mencintai dia, pasti sudah ku habisi dia, jika batas kesabaranku habis, aku akan menghancurkan semua yang menjadi penghalang untuk putriku. 


"Tapi wanita itu kabarnya sudah menikah, dia tidak lagi mengganggu Adrian, apa masih pantas kita mengusiknya?"


"Aku tidak peduli, lelaki ini masih berharap bisa kembali, aku akan menghilangkan harapannya itu," kata Papa Angel dengan tangan menggenggam rapat dan dada kempang kempis. 


Angeline mengintip pertikaian orang tua dan suaminya, dia lalu ikut masuk dan membawa Adrian ke kamar. Angeline membaringkan tubuh Adrian dan memberinya minyak angin, meski lelaki itu enggan disentuhnya. 


"Kamu pasti bahagia sekarang? Aluna sudah menikah dengan Dion."


"Biarkan mereka menikah, bukankah kita juga sudah menikah."


"Iya, kita sudah menikah, tapi tujuanku tidak untuk menghabiskan waktu untuk bersenang senang denganmu. Aku akan membuatmu dan papa kamu menderita." kata Adrian lirih tapi menusuk.


"Sayang, kau bisa bunuh aku, dan lihatlah isi jantungku nanti, didalamnya hanya ada namamu. Aku mencintaimu dengan tulus, aku akan melakukan apapun demi keutuhan rumah tangga kita," ujar Angeline masang wajah memelas. 

__ADS_1


"Jangan terus menuduh aku selingkuh, aku tak pernah tidur dengan pria manapun. Hanya kamu, Sayang." Angeline merebahkan diri di dada Adrian yang terlentang. 


Adrian tersenyum sinis, lalu memeluk tubuh istrinya. Angeline memejamkan mata, ketika Adrian melingkarkan lengan di punggungnya. 


__ADS_2