Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part. 163 Luka


__ADS_3

Adrian menelepon Argo supaya menjemput dirinya yang ada di kediaman Dion, kepala Adrian terasa begitu sakit, namun tak sesakit hatinya. 


Dalam beberapa menit Argo sudah datang. meski tadi Adrian melarangnya, lelaki itu diam-diam tetap mengekor di belakangnya.


"Tuan mari kita pulang!" Argo membantu Adrian untuk berdiri, tubuh Adrian gemetar. Argo juga melihat Dion tengah terluka.


Aluna dari dalam membawa kotak PPPK untuk mengobati luka Dion  


Argo meminta izin untuk pulang, Aluna mengangguk memberi izin. 


"Maaf jika Tuan Adrian baru saja membuat kekacauan, aku tadi sudah melarangnya ke sini, tapi tuan Adrian bersikeras."


Dion hanya menarik nafas panjang, sesungguhnya hatinya lega, masalah yang selama ini membuat dirinya ketakutan akhirnya selesai. Meski Adrian tadi melukainya, luka itu tak sebanding dengan rasa bahagia dengan kembalinya Aluna.


Adrian benar-benar meninggalkan penthouse milik Dion. Aluna berharap kecewa yang dialami Adrian akan hilang seiring berjalannya waktu.


Aluna membiarkan pintu tetap terbuka dan bayangan Andrian hilang ditelan pintu lift. 


Dion yang semula hanya duduk di sofa, berdiri lalu memeluk Aluna. "Sayang, bukankah jika tak ada kebohongan lagi ini artinya semuanya akan berjalan lebih baik, Adrian tidak lagi hidup dalam dunia kepalsuan, dan kamu tidak perlu berpura-pura lagi menjadi istri palsu, dan aku bisa setiap saat bersamamu tanpa harus bersembunyi-sembunyi lagi."


"Iya, semoga saja dia bisa mengatasi masalahnya sendiri," kata Aluna memaksa bibirnya untuk tersenyum walau hati sedang tak ingin.


"Terus kenapa kamu masih seperti ini."


"Aku kasihan saja, akhir akhir ini doa tak pernah bahagia, mungkin ini semua aku penyebabnya."


"Kasihan beda tipis dengan cinta," sindir Dion.


"jelas beda, kasihan untuk orang yang sakit, menderita, sedangkan cinta untuk orang yang spesial,"


"Kalau begitu kamu cinta kan sama aku?" Tanya Dion.


"aku jawab tapi tidak boleh tanya lagi, jawabannya ,Sangat, sangat, dan sangat." Aluna mencubit dada Dion, Dion meringis kesakitan.sebagai pelampiasan dia mer*mas bulatan yang menonjol. 


Aluna menjerit terkejut. Gelak tawa di siang hari kembali terdengar riuh di rumah Dion.


Dion segera membopong tubuh Aluna menuju sofa. Dion membuka singletnya dan membiarkan Luna memeriksa luka disekitar perutnya. 


"Awas, kalau memeriksa jangan terlalu dekat nanti pengen lagi."


"Yang suka pengen, dan minta duluan itu siapa? bukannya anda?"


"Argh, perih …." Dion mengerang ketika tangan Aluna menyentuh lebam di perutnya.


"Wah memar, sampai biru. Apa nggak sebaiknya dibawa ke dokter." Aluna mengelus luka Dion, dan memasang wajah panik, sengaja untuk menakuti Dion agar bersedia diperiksa ke dokter. 


Tapi lelaki phobia jarum suntik itu tak akan mau diperiksa oleh dokter. Dia pasti akan membuat seribu satu alasan supaya Aluna tak membawanya ke dokter.


"Dokternya sudah disini, Dokter paling mujarab untuk semua luka di tubuhku hanyalah dokter Aluna," canda Dion sambil menatap nakal sang istri.


"Garing." Aluna mencebikkan bibirnya. 


Dion mengecup lembut bibir Aluna. "manis."


"Sudahlah, jangan terus menggoda, aku akan mengompres luka ini dengan air hangat, biar tak ada darah yang membeku," ucap Aluna gemas dengan kelakuan Dion yang cerewet.


Dion memilih menjadi penurut, perutnya begitu nyeri saat Aluna mengompres dengan air hangat. Seperti ada jarum yang menusuk-nusuk pori-porinya.


"Maaf, sayang. Aku penyebab luka-luka ini," melihat luka Dion, Aluna merasa bersalah, seolah dia yang menjadi penyebab semuanya. 


"Tidak juga, luka-luka ini karena aku tadi mengalah, aku sebenarnya bisa lebih jago dari dia," kata Dion membanggakan diri. Sedangkan Aluna hanya mencebikkan bibirnya. 


Selesai mengompres Dion, Aluna hendak mengembalikan semua peralatannya, tapi saat berdiri, Aluna merasa kepalanya berputar. 


Dion yang tahu Aluna berdiri dalam keadaan diam lumayan lama memilih bertanya. "Sayang kenapa?"


"Entahlah pusing, tapi sedikit." 


"Jangan-jangan gara gara nasi goreng semalam." Dion segera mendekati Aluna dan memperhatikan perubahan wajah istrinya yang pucat. 

__ADS_1


"Masa nasi goreng bisa bikin pusing." 


"Mungkin kelelahan, biar aku panggilkan dokter." Dion khawatir, dia memegang kening Aluna.


"Tidak perlu, Sayang, ini cuma masuk angin." Aluna mengambil tangan Dion dari keningnya. 


Aluna berusaha terlihat sehat di depan Dion dia segera ke belakang menaruh handuk, mengucek sebentar lalu menjemurnya. 


Selesai menjemur Aluna duduk di ayunan, dia menikmati indahnya pemandangan di sekitar penthouse. Karena berada di atas gedung yang tinggi Aluna bisa melihat awan begitu dekat dan burung berterbangan. 


Saat diatas ayunan, Aluna juga tak bisa menikmati nikmatnya main ayunan seperti biasa, Aluna merasa seperti perutnya bergejolak ingin memuntahkan isi perutnya dan kepalanya makin berputar hebat. 


Aluna memutuskan untuk tidur, dia berharap dengan tidur sakit yang dia alami akan hilang. 


"Sayang, kamu pucat sekali, benar nggak apa-apa?" Tanya Dion.


" Nggak, aku baik baik saja. mungkin aki butuh tidur siang saja."


"ok, tidurlah." Dion dan Aluna masuk beriringan menuju kamar. Aluna tidur dan Dion menyelimuti tubuhnya lalu mengecup keningnya.


"Kalau butuh apa-apa minta saja, aku akan menunggu di sofa itu," Dion menunjuk sofa yang ada di dekat ranjang.


Aluna mengangguk. Dion mengambil laptop di meja kerja, lalu dia kembali duduk di sofa. dengan begini Dion bisa menunggu Aluna sambil bekerja.


Dion sesekali menatap Aluna lalu tersenyum.


Aluna membalas senyuman Dion.


"Katakan jika butuh apa-apa?" ucap Dion lagi.


" Aku ingin pumkin"


"pumkin? baiklah aku akan ambilkan di kulkas."


Dion, terpaksa menaruh kembali laptopnya. lalu dia mengambilkan Aluna pumkin yang diminta. untung ada banyak pumkin di kulkas.


Dion mengambil semua pumkin dingin dan menaruhnya di atas nakas. Dion membantu Aluna mengupasnya setelah memegang kening Aluna yang dingin. Andaikan panas Dion pasti akan langsung membawanya ke rumah sakit.


Lumayan, mulut pahit Aluna sedikit terobati dengan pumkin yang manis.


"Mau lagi?" tanya Dion.


"Mau yang banyak." jawab Aluna.


"Baiklah aku akan mengupayakan banyak untukmu sayang." Dion mengupas pumkin berukuran kecil itu dengan telaten.


Aluna senang dengan kesabaran suaminya, dia sangat bahagia selalu dipertemukan lelaki baik oleh tuhan. Adrian sebenarnya juga sangat baik hanya saja dia tak peka, dan sedikit berambisi. ah lupakan Adrian lelaki itu pasti sedang bersedih di kamarnya.


Setelah puas makan pumkin Dion menutup laptopnya dia sudah tak ada keinginan melanjutkan pekerjaan. Dion ingin ada di sebelah Aluna dan menemaninya tidur.


ada aja yang dilakukan Dion entah itu merapikan selimut, merapikan rambut Aluna, atau mengecup pipinya. Aluna mengubah posisi tidurnya, kini dia menggunakan paha Dion untuk alas kepalanya.


***


Adrian kembali murung, saat tahu Aluna bukan istrinya seolah dia menyesal selamat dari kecelakaan itu. Andrian benar-benar terpukul dengan kenyataan pahit yang terus berputar-putar diotaknya.


Andrian berdiri di tepi jendela kamar, melihat pemandangan luar, berfikirnya mulai dangkal, Adrian ingin mengakhiri hidupnya saja. Adrian berharap mati akan mengantarkan pada kwtenangan.


Adrian mengisi pistolnya dengan banyak peluru, lalu dia menodongkan pistol di kepalanya. Adrian berharap setelah ini dia akan tenang tanpa merasakan luka lagi. 


Membayangkan tubuh Aluna yang duduk manja di atas pangkuan Dion, dan kemeja Dion  dipakainya membuat Adrian semakin cemburu, dan hidup rasanya tak pernah adil padanya, belum lagi Angeline yang ada untuk dirinya saat bahagia saja. Semenjak dia sakit dia beralasan kurang enak badan dan tak bisa kemana mana. Adrian yakin itu semua rekayasa. Adrian yakin Angeline hanya tak sudi pria yang pesakitan seperti dirinya. Menurut laporan dari Argo wanita itu sehat dan shoping setiap hari meski perutnya sedikit terlihat besar.


Adrian menarik tuas pistol dengan jari telunjuknya, matanya terpejam dan jarinya siap untuk melepaskan tembakan.. 


"Aluna, mungkin besok aku sudah tidak ada di dunia ini, kau hanya tinggal mendengar namaku saja. Aluna Maafkan aku yang terlalu pengecut ini, aku tak bisa melihatmu bahagia dengan yang lain, jika cinta harusnya aku bisa merelakan demi wanita yang aku sayangi bahagia, tapi kenapa aku tak bisa, didada ini sakit."


"Tuan! Apa yang kamu lakukan." 


Nabila yang membawa baki berisi susu dan makan siang spesial untuk sakit Adrian langsung melemparnya ke sembarang tempat. 

__ADS_1


Makan siang untuk Adrian berceceran dilantai.Nabila segera memukul lengan Adrian berharap pistol di tangannya akan terlempar keluar jendela, tapi nasib buruk justru menghampiri Nabila. 


"Aaaaaa." Peluru melesat secepat kilat menembus bahu Nabila, gadis itu segera menekan bahunya yang mengucurkan darah segar. 


"Gadis bodoh, kenapa kau bodoh sekali! tidak bisakah kau biarkan aku tenang meratapi hidup ini, kau hanya pengganggu." Adrian kesal nabila mengganggu rencananya yang sudah menjadi tekatnya.


Tapi lelaki itu juga tak bisa abai dengan luka di lengannya. "Ikut aku!!"


"Aku sudah menyelamatkan nyawamu, aku juga dokter untuk penyakitmu, kenapa kau selalu membentak bentak aku, tidak bisakah sikapmu sedikit lebih lembut, biar mencerminkan kau seoranh CEO," kesal nabila.


"Apa kamu pikir aku butuh dokter bodoh dan selalu ikut campur sepertimu? Dasar kucing Persia."


"Apa? Kau sebut aku kucing persia, Aghh, sakit sekali." Nabila kembali mengerang saat melihat darah begitu banyak. berdebat dengan Adrian tak akan pernah ada habisnya.


Adrian akhirnya menghubungi Argo dan Arga yang berjaga di luar. 


"Argo, cepat kau kesini, kucing Persia bodoh sedang terluka tembak."


"Kau yang bodoh, kau yang ingin menembak kepalamu yang masih terluka, apa kau tak pernah berfikir bagaimana orang tuamu akan kecewa memiliki anak memalukan dan bodoh seperti dirimu. Apa kata dunia CEO yang memimpin perusahaan King Fashion bunuh diri, lalu di surat kabar akan beredar gosip gosip terbaru. fotomu akan dipajang di seriap media massa"


"Di dunia ini bukan hanya kamu saja yang pernah patah hati, Aku juga pernah tapi aku tidak bunuh diri seperti kamu."


Argo di seberang sana yang mendengar celoteh Nabila ikut tertawa, suaranya yang keras ikut terekam dalam perbincangan Argo dan Adrian.


"Diam! menyusahkan saja!" bentak Adrian. 


Nabila hanya melengos, sambil mencebikkan bibirnya. Setelah diam lukanya ternyata semakin sakit. Nabila merintih menahan tangisnya. Andrian jadi panik, terpaksa dia membantu Nabila berdiri dan berjalan menuju sofa. 


"Ambilkan alkohol dan tolong bersihkan luka ini!" 


"Apa? Kamu kira aku babu ya harus melayani kamu?!" Adrian melotot tak percaya.


"Aku tidak bilang begitu, aku hanya minta tolong! Aku seperti ini karena menyelamatkan nyawamu. Aku tidak mau kamu meninggal karena bunuh diri itu akan memalukan dirimu seumur hidup. Aku berharap kamu masih punya waktu untuk mati dengan cara elegan. dan dunia akan mengangungkan namamu."


"Ishh ... dasar kucing persia menyebalkan. selain itu dia juga pandai bicaraa 


'Tapi apa yang dikatakan tadi benar juga, tadi sudah menembak kepalaku pasti aku akan dibilang laki-laki pengecut. Memalukan.'


"Kok malah bengong," Nabila menggertak Adrian yang terlihat banyak berpikir.


"Kenapa tidak ke dokter saja, aku tidak bisa melakukannya." 


"Tidak, aku tidak mau kakakku tahu, aku telah melakukan kebodohan untuk orang bodoh seperti kamu, kakakku pasti akan marah. Sudahlah aku bisa sendiri, asal kamu membantu aku aku akan memberitahu caranya." 


Adrian akhirnya memilih menuruti kata-kata Nabila, dia mengambil kapas dan alkohol untuk membersihkan darah yang terus keluar, setelah luka itu sedikit bersih Nabila mengambil peluru emas dari bahunya. Meski sakit luar biasa Nabila berusaha menahan sakitnya dengan cara menggigit ujung bajunya.


"Arghh." Erang Nabila saat peluru sudah selesai diambil.


"Hebat juga kamu."  puji Adrian. 


"Sudah aku tak perlu pujian, jika terlalu banyak darah yang keluar aku akan pingsan, cepat bersihkan kembali dengan Alkohol."


Sebagai dokter  Nabila tahu kalau luka tembak di lengannya tergolong tidak terlalu bahaya karena tidak menembus pembuluh besar, oleh sebab itu Nabila sedikit tenang. 


Nabila tersenyum melihat Adrian membersihkan lukanya dengan telaten, dia pandangi wajah lelaki itu dari dekat, bahkan nyaris Nabila bisa merasakan embusan nafasnya. 


Tanpa sengaja bibir Nabila membentuk lengkungan, huruf U. Adrian yang melihatnya kembali memasang wajah kesal. "Kamu masih cari kesempatan dalam kesempitan ya?"


"Tidak siapa juga yang mau sama lelaki cengeng, pengecut seperti kamu." 


"Itu tadi kenapa senyum-senyum, kamu mending jujur aja, pasti senang dekat dengan pria tampan sepertiku." 


"Aku sudah membersihkannya," kata Adrian sambil membuang kapas ke tong sampah. 


"Ambil kapas dan kain kasa. Taruh kapasnya terlebih dahulu lalu lilitkan kain kasanya dengan benar, jangan terlalu kencang dan jangan terlalu longgar. Dan jangan lupa sebelumnya kasih obat anti tetanus obatnya ada di kotak yang berwarna putih," kata Nabila dalam hati tersenyum senang karena selain bisa dekat dengan Adrian Nabila juga bisa mengganggu pria menyebalkan tapi selalu membuatnya penasaran itu. 


Adrian terlihat melakukannya dengan sangat hati-hati, meski dia selalu kesal saat dekat dengan Nabila. 


Setelah semuanya selesai Nabila beristirahat, dia menyandarkan tubuhnya di sofa yang ada di kamar Adrian. Sedangkan Adrian mencuci tangannya lalu sekalian mandi. 

__ADS_1


"Aku lapar," eluh Nabila.


"Tolong minta sama bibi imah saja, makanan yang aku buatkan khusus untuk anda sudah terbuang sia-sia. Tapi jangan makan makanan yang banyak mengandung kacang-kacangan. Daging dan ikan koi boleh dimakan." Kata Nabila sambil menahan sakit. Karena dia sengaja tak memakai suntikan penghilang rasa sakit.  Nabila juga minta pada Adrian supaya membantu membuka obat yang wajib dia konsumsi. 


__ADS_2