Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 175. Kerinduan.


__ADS_3

Malam hari telah tiba, angin malam yang tadi berembus begitu sejuk, sekarang berubah menjadi duri yang menusuk kulit.


Aluna begitu merindukan Dion. Ini pertama kalinya setelah menikah dia tidur terpisah. 


Meski kemaren dia merawat Adrian, Aluna selalu bisa pulang dengan mudah karena bantuan security di rumah Adrian.


"Mbak, masuk, wanita hamil nggak baik angin-anginan di malam hari."


"Iya, aku rindu suamiku, ini pertama kalinya kita jauh, pertama kali juga kita melihat bintang dengan rase yang berbeda." Aluna mendongak mengamati bintang yang begitu terang di dekat bulan.


"Mbak Sangat mencintai Pak Dion. Sedangkan diantara kalian ada Pak Adrian yang sangat mencintai anda. Kasian dia, mencintai wanita yang tidak mungkin bisa untuk dimiliki, apalagi Mbak Luna sekarang hamil keluarga kalian akan semakin sempurna. "


"Pak Rian terluka karena kesalahannya, seharusnya dia berhak mendapat kesempatan kedua, tapi sayang kesempatan kedua tidak selalu ada," kata Aluna mengingat masa lalu saat di rumah Adrian. 


Aluna yang berstatus istri, Namun realita dia hanya sebagai babu untuk adik dan mama mertuanya, Poin plusnya Adrian baik. Tidak pernah melakukan KDRT, hanya saja dia tidak menghargai keberadaannya waktu itu.


"Mbak Luna, dicintai dua lelaki dari keluarga yang sama." Kata Nabila menoleh pada Aluna sambil menyodorkan segelas air minum dan memberikan pil vitamin kandungan. 


"Aku akan membuat Adrian membuka lembaran yang baru, dia harus bahagia bersama wanita yang dicintai. Aku yakin cintanya padaku lambat laun akan sirna." kata Aluna lagi. 


Nabila mengangguk, percaya ucapan Aluna. Buktinya beberapa kali dia berpacaran bisa putus hubungan dan saling menjauh seolah tak pernah terjadi apa-apa. 


Ponsel Aluna di genggaman berdering. Yang ditunggu sudah menelepon. 


Aluna masuk ke dalam terlebih dahulu baru menggeser kursor hijau. 


Dion terlihat baru menyelesaikan sebuah meeting besar. Di Sebelahnya masih lalu lalang pimpinan perusahaan lain dan sekretarisnya. 


"Honey, i Miss you muach. Papa tiger kesepian," ucapan Dion pertama kali membuat Aluna dan Nabila tergelak. 


Aluna hanya bisa meng*lum senyum. Sampai pipinya bersemu merah. "Sttt, hati hati ada gadis."


"Sayang, aku rindu baby dan kamu," kata Dion lagi sambil berjalan ke luar ruangan. Ada beberapa teman yang ada di sebelahnya, keluar juga, tapi dia pasti tak mengerti bahasa yang dipakai.


"Kamu rindu nggak sama aku?" Tanya Dion  lagi yang menurut Aluna sebuah kekonyolan.


Ditanya seperti itu bukannya menjawab, netra Aluna malah berkaca kaca. 

__ADS_1


"Sudah-sudah nggak usah di Jawab, aku tahu kamu juga dah kangen aku, pasti sekarang kesepian banget, Tigar juga kangen kamu sayang. Papa Tiger apalagi."


"Jangan mesum." Aluna malu, lalu masuk kamar, dia melihat Nabila sedang ke dapur membuat minuman hangat. 


Aluna menutup pintu, dia tahu pasti Dion akan berbicara mesum.dia tak mau Nabila mendengarnya. 


"Sayang aku kangen itu,"  Dion mengerucutkan bibirnya sambil menunjuk pada dada Aluna yang tertutup rapat, tapi Dion tahu dua buah peach itu sekarang lebih kencang dan menantang. Tapi Dion tak tahu apa penyebabnya, dia hanya mengira kalau itu perbuatannya yang suka sekali menghisapnya. Tanpa dia tahu kalau hormon wanita hamil juga pemicu ukuran peach juga makin besar.


"Buka aku ingin melihat, apakah bekas merah yang aku kasih kemarin masih ada?"


"Jangan ngaco, ada Nabila disini, Sayang." Wajah Aluna semakin bersemu seperti buah tomat matang. 


"Sebentar saja, Nabila ada diluar kan."


 Aluna menurunkan resleting baju yang dipakai 


"Nggak mau, aku malu ,Sayang." Akal waras Aluna kali ini menang. Dion terlihat frustrasi melihat Aluna menaikkan kembali resleting bajunya.


"Please Honey, aku ingin melihatnya sebentar, biarlah jadi pengantar tidurku." Dion yang sudah sampai di mobil langsung masuk dan berdiam diri di dalamnya, dia masih sibuk menggoda istri pemalunya


"Janji, ya."


Aluna mengangguk. "Iya, tapi bohong."


"Jangan dibohongi, atau aku akan pulang sekarang." Dion menyalakan mobil sewaannya. Sejak tiba di psrkir pandangannya terus ternodai. Mobil-mobil disebelahnya nyaris semua terisi wanita dan pria yang sedang bercumbu mesra, bahkan ada mobil yang kini tengah bergoyang. 


"Sit," umpat Dion disaat jauh begini keimanannya sedang di uji. 


Laki laki itu segera meluncur pergi meninggalkan parkiran sebuah cafe VVIP yang sering digunakan oleh CEO perusahaan untuk meeting itu. 


Andaikan Aluna tidak hamil, dia pasti sudah mengajaknya sekalian berbulan madu, hidup Dion tak akan menyedihkan seperti hari ini. 


Malam makin larut Dion lelah dan ngantuk,  hari pertama di negara asing adalah ujian cinta yang berat. Ingin sekali dia bersenandung di dekat perut istrinya. Ingin sekali membuat susu untuk istrinya sebagai pengantar tidur.  


Sampai di hotel tempat menginap, seorang mucikari mendatangi Dion menawarkan wanita wanita yang bisa menghiburnya selama di negara ini. hal itu dilakukan untuk menghargai tamu hotel.


"Yakin anda tidak butuh teman tidur, atau wanita yang akan menghiburmu dikala sepi mister." Setidaknya begitulah arti ucapan mucikari itu. 

__ADS_1


"Tidak, terimakasih, aku memiliki wanita penghibur yang sangat cantik, melebihi yang kau tawarkan," kata Dion menggunakan bahasa asing. Semenjak kembali bertemu Aluna, jiwa casanova jadi hilang dari tubuhnya. 


"Wah, anda lelaki setia rupanya, tapi ini kartu namaku, jika anda butuh tiba-tiba tinggal hubungi aku." Kata mucikari tersebut lalu pergi dan mengetuk pintu kamar lain. 


"Mengganggu saja," gerutu Dion. lalu lelaki itu merebahkan tubuhnya di ranjang.


Dion kembali menghubungi Aluna yang kali ini memakai gaun tidur dengan wajahnya baru saja dibersihkan. meski tanpa riasan tetap saja sangat cantik.


"Tidurlah sayang, biarkan ponsel ini terus menyala, aku akan melihatmu ketika mulai memejamkan mata, biarlah kerinduan ini mengantarkanmu sampai terlelap.


Benar sekali, Aluna tidur saat Dion masih bercerita panjang lebar. setelah mendengar dengkuran halus dari Aluna, Dion tersenyum, lalu mengecup pipi Aluna hingga berulang kali lewat layar ponselnya.


Mereka berdua sama-sama tertidur dalam pelukan kerinduan.


***


Pagi hari.


 


Adrian masih berpetualang di jalanan, dia masih bingung memulai usaha apa untuk ke depannya, dengan sisa tabungan yang tak seberapa.


Saat ini dia termenung di sebuah kedai, sambil memandang kendaraan yang lalu lalang dan mencari inspirasi. 


Tiba-tiba mobil yang tak asing melintas di depannya. " Itu bukannya kekasihnya Nabila," 


Jiwa detektif Adrian kembali meronta, dia segera mengekor di belakang mobil lelaki itu, tapi Adrian kali ini meminjam motor pemilik kedai beserta helm sekalian. 


"Bang pinjam motornya," kata Adrian sambil menstrater motor butut yang sudah ada helm di setirnya dan kunci menempel. 


"Lhoh …." Pemilik cafe melongo Adrian pergi . 


"Mobil aku tinggal, kunci ada di meja." Adrian buru-buru mengikuti Ferdi mumpung belum jauh. Pemilik cafe segera mengambil kunci mobil dan menyimpannya. 


Mobil Ferdi belok di sebuah rumah makan, Adrian mengawasi dari kejauhan, meski tidak dengan jarak dekat, Adrian tetap bisa melihat karena rumah makan hanya dibatasi dinding kaca. 


Adrian bisa melihat Ferdi dengan mesra menarik sebuah kursi untuk wanita itu. setelah wanita itu duduk Ferdi mengecup puncak kepalanya.

__ADS_1


__ADS_2