
Pagi buta Aluna sudah tidak bisa memejamkan mata, Aluna bangun ketika semua orang masih tertidur pulas.
Aluna segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri, dia tidak mau terlihat pucat di depan keluarga besar suaminya.
Selesai dari kamar mandi untuk membersihkan diri, Luna segera menunaikan salat, mendoakan bapak yang telah tiada dan berharap bisa bertemu ibu. Lalu menuju dapur minimalis yang tertata rapi untuk membuat kopi untuk papa, teh untuk nenek dan susu untuk dirinya sendiri.
Meski hamil Aluna tidak mau manja, dia harus tau cara untuk menyenangkan hati suami dan keluarga. Karena sesungguhnya pekerjaan yang dilakukan setiap hari tidaklah berat dibandingkan dengan dulu saat masih bersama bapaknya.
Aluna mengisi ceret dan menyalakan kompor, sambil menunggu air yang direbus mendidih, Aluna iseng membuka ponselnya.
Sekilas terlihat nama Nabilla di daftar kontak, aluna jadi ingat tentang lelaki yang kemarin malam pulang dari rumah ini dalam keadaan hati yang hancur.
Aluna celingukan ke meja makan dan kamar yang masih tertutup. Sepertinya menghubungi Nabila saat ini adalah waktu yang pas, berharap gadis itu sudah bangun. Aluna hanya ingin tahu kabar Adrian saja, semoga dia tidak bertindak bodoh seperti yang dilakukan selama ini.
"Hai Na, apa kabar?"
"Kabar baik, Mbak Luna …. Mbak Luna sendiri gimana?"
"Baik Na,"
"Oh iya, apa kabarnya mereka semua? Keluarga yang ada disana baik semua kan?"
"Buruk Mbak, Andrian makin bodoh dan konyol," kata Nabila kesal.
"Buruk?" Aluna mengerutkan dahinya. Makin penasaran dengan kalimat yang diucapkan Nabila. "Apa yang dia lakukan? Apa dia masih selalu bandel gak mau minum obat."
"Bagaimana tidak buruk, lelaki bodoh itu nekat akan menembak kepalanya. Untung aku datang di saat tepat, kalau tidak dia pasti sekarang sudah mati," Nabila berbicara sambil tangannya bergerak gerak, untuk memantapkan ceritanya seolah Aluna bisa melihat.
Tanpa tahu kalau Adrian sedang berlindung di belakang daun pintu mendengarkan semua obrolan dokter cerewet yang membuat dia naik darah dan gemas itu.
"Wah, hebat dong, Na. Kamu yang menyelamatkan dia sendirian. Lalu apa yang terjadi selanjutnya? …" Aluna antusiasendengarkan cerita Nabila.
"Yeah, akhirnya aku yang tertembak, dan lelaki tak tahu terimakasih itu malah memarahiku, harusnya dia berterima kasih denganku, dasar makhluk Alien tak tahu terima kasih." Sungut Nabila kesal. Sambil memperhatikan tangannya yang kini diperban.
"Ya Tuhan, ini tidak bercanda kan? Nabila kamu pasti bisa membuat dia menghargai perjuanganmu. Dia sebenarnya baik kok, hanya saja kurang peka" kata Aluna yang hanya bisa didengar oleh Nabila.
__ADS_1
"Ngobrolin siapa?" Tanya Adrian berdiri di belakang Nabila yang sedang berada di balkon sambil menikmati pemandangan yang terlihat samar karena tertutup kabut.
"Ngobrolin siapa, bukan urusan anda. Kepo aja." Nabila terkejut Adrian tiba-tiba ada di belakangnya.
"Aku tanya, kamu tadi sedang ngomongin siapa!!"
"Nggak ada, aku hanya telepon temanku, kenapa sih ingin tahu aja. Oh. Jangan jangan mulai suka sama aku ya? .…" Nabila sengaja menggoda biar Adrian kesal dan pergi.
"Aaaa." Adrian mencengkeram bahu Nabila yang diperban, meski tidak pas di bagian yang terluka, tapi tetap saja ada rasa ngilu-ngilu, nyeri.
"Siapa yang kau bilang makhluk Alien?" kata Adrian sambil mengeratkan giginya. Dan menatap Nabila tajam.
Aluna yang mendengar Adrian dan Nabila bertengkar hanya tersenyum, Aluna yakin jika sekarang dia saling benci, tak lama lagi pasti akan saling mencintai. Adrian dulu juga memperlakukan dirinya dengan begitu kasar seperti pada Nabila saat ini, sekarang justru kebalikannya yang terjadi.
"Siapa ! Emang ada ya Alien disini? Oh jangan-jangan memang ada." Nabila melirik ke arah Adrian membuat lelaki itu tersinggung.
"Aku nggak percaya, kenapa gadis tengil seperti kamu bisa jadi dokter."
"Apa?? Kau bahkan menghina provesiku sekarang, padahal aku sudah banyak berbuat baik untuk anda."
"Na, Na, aku tutup teleponnya ya! Na." Suara Aluna dari seberang. Tak mendapat tanggapan dari Nabila lagi. Karena Adrian terus mengganggu gadis pemilik tubuh tak terlalu tinggi tezapi, tubuhnya padat dan sintal itu.
Aluna yakin Orang yang diseberang sana tentu masih menyelesaikan debat yang tiada ujung itu.
"Honey, duh calon mama, istriku paling cantik, telepon siapa pagi begini?" Dion memeluk istrinya dari belakang dan mengecup tengkuknya.
Aluna tersenyum, merasakan geli. "Bukan siapa siapa, teman."
"Adrian ya?"
"Bukan." Aluna menggeleng sambil sibuk menuang air panas kedalam gelas- gelas yang sudah disediakan.
"Jangan berhubungan dengan Adrian lagi, Aku cemburu, Honey." Dion melepaskan pelukannya, kali ini mengambil alih teko, menggantikan Aluna menuang air panas. Sedangkan Aluna mengalah membiarkan Dion melakukan semuanya.
"Cemburu itu tanda sayang," canda Aluna.
__ADS_1
"Iya, aku memang sayang. Seumur hidupku aku akan membuat sayang ini semakin besar, dan itu spesial hanya untukmu dan anak-anak kita nanti.
Dion mengaduk minuman, Aluna hanya diam saja, memperhatikan Dion yang mulai belajar membuat minuman sendiri.
Pekerjaan membuat minuman sudah diambil alih oleh Dion. Aluna kini mengeksekusi bahan makanan yang ada di kulkas, dia ingin membuat menu spesial untuk keluarga, mumpung semua ada disini, tapi apa? Aluna jadi bingung.
Di kulkas tinggal ayam dan sayuran, Aluna belum sempat belanja, karena sibuk mengurus Adrian, sedangkan Dion memilih takeaway saja dari kantin perusahaan.
Aluna akhirnya memasak sayur soto dan Dion kembali membantunya.
Nenek yang baru bangun terkejut melihat Dion ada di dapur, sepertinya hal yang mustahil dilakukan Dion kini terjadi.
Dion antusias memotong bawang merah.
Luna memotong daun-daunan,untuk pelengkap, Aluna senang saat di dekat Dion dia tidak mual, sepertinya calon bayi suka sekali di dekat Papa.
"Wah, masak apa kalian berdua?" Mama boleh ikut nggak?"
"Mama, biar Aluna saja, Mama bisa minum teh di balkon sambil menikmati udara yang segar." Kata Aluna.
"Sayang, kamu ini lagi hamil, tapi kok rajin bukan main, Mama dulu waktu hamil sangat malas," puji Melani sambil menggandeng pinggang Aluna.
Aluna malu, kini di kanan dan kirinya ada orang yang begitu menyayangi.
"Ma, Luna sudah biasa melakukan semua sendiri sejak kecil, jadi kebiasaan ini sudah mendarah daging. Sebelum berangkat sekolah Aluna harus memasak untuk Bapak, dan buat Aluna bekal. Kalau bawa bekal Aluna nggak banyak jajan," kata Aluna panjang lebar.
"Sayang, mumpung mama disini, mama mau minta satu permintaan, boleh ya?"
Aluna mengangguk." Apa Ma?"
Melani meraih pisau di tangan Aluna. Aluna melepaskannya. "Mama minta kamu duduk dan santai, biar mama yang memasak untuk cucu mama, mama ingin sekali memasak untuk dia." Selena mengelus perut Luna.
Luna yang memakai daster agak longgar dan rambut diikat tinggi, terus terang agak geli perutnya disentuh. Aluna belum merasakan apapun di perutnya selain hanya kadang-kadang rasa ingin muntah.
Dion setuju dengan usul Mama. Lelaki itu meminta Aluna menurut dan meninggalkan dapur.
__ADS_1
Dion mengajak Aluna duduk bersama nenek sambil menerima banyak hadiah.
"