
Aluna bukankah dia istri Adrian? Kenapa dia sekarang berpaling dan memilih Dion.
Apa wanita itu gadis penyuka uang yang hanya mengincar harta Dion, karena dia tahu Dion pemuda cerdas dan pasti akan memenangkan kompetisi ini.
Nenek segera melihat di galeri foto yang ada di ponselnya. Dugaan Nenek tidak salah, wanita itu mirip Aluna yang dibawa Dion malam ini, bedanya dia cantik dan dan modis, sedangkan yang bersama Adrian dia kusam dan cupu.
.
"Aluna … Aluna … nama yang sama, dan wajah yang hampir sama. Tidak salah lagi dia orang yang sama," gumam nenek yang sendirian di kamarnya sambil mondar mandir. Bahkan ingin lebih jelas, dia kembali melihat ulang foto pernikahan Aluna dan Adrian.
Nenek segera turun kembali, menuju halaman yang dijadikan tempat untuk pesta.
Musik yang sedang dilantunkan oleh musisi tanah air menggema begitu syahdu.
Semua sahabat yang hadir kini sedang asyik berdansa menikmati alunan musik dan lagu romantis.
Aluna terlihat sedang berdansa dengan Dion. Mereka terlihat serasi dan mesra. Dion memeluk pinggang Aluna, dan lengan Aluna melingkar di tengkuk Dion.
Dion merasa hari ini dia adalah lelaki yang paling bahagia, bisa bersama wanita yang dicintai setiap saat.
'Aluna, maafkan aku sudah mengambilmu dari lelaki yang lebih berhak atas dirimu. Niatku baik, selama itu baik, pasti aku lakukan dan perjuangkan. Kau pantas bahagia. Kau pantas untuk mendapatkan cinta dan kasih sayang yang tulus. Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk mencintaimu, mengambilmu dari orang yang menyakiti hatimu.'
"Pak Dion, gitu amat lihatnya." Aluna salah tingkah dilihat begitu dalam oleh Dion. Dia memalingkan wajah. Berusaha menyembunyikan wajahnya yang bersemu merah.
"Cantik."
__ADS_1
"Karena aku wanita, jangan terlalu memuji, aku dibilang cantik, masih banyak yang lebih cantik.
Dion hendak mengecup bibir Aluna, Aluna yang terbawa suasana dia memejamkan mata. Sudah terlalu lama Aluna menggantung cinta Dion tanpa tujuan dan arah. Mungkin hari ini waktunya dia memberi harapan cinta.
"Tunggu Dion!"
Teriakan Nenek membuat Dion menghentikan aktivitasnya.
"Nenek, ada apa?" Tanya Dion tak mengerti, karena nenek kembali lagi dan kini wajahnya tak sebahagia tadi.
"Aluna ikut denganku sebentar, aku akan bertanya satu hal pada mu?"
"Ne-nek! Mau bertanya apa?" Alun terkejut kini dia melepaskan tangannya dari tengkuk Dion, memandang Nenek yang ada di sebelahnya dengan perasaan tak menentu.
"Aluna ikut denganku! Aku ingin bicara."
"Kamu diam saja Dion, aku ingin bicara hal yang sangat penting dengan wanita yang kau kenalkan pada nenek sebagai calon istri ini." Jawab Nenek dengan nada ketus.
Nenek meraih lengan Aluna dan membawanya ke lantai teratas rumah ini.
Dion membiarkan Aluna bersama Nenek untuk sementara waktu. Dion berharap Aluna bisa mengambil hati nenek yang dikenal keluarga keras kepala itu.
"Aluna kenapa kamu mengusik hidup kedua cucuku? Apakah kamu melakukan semuanya demi harta?"
"Harta? Apa maksud nenek Aluna matre?" Tanya Aluna yang tak mengerti maksud nenek.
__ADS_1
"Iya, apa sebutan bagi seorang wanita yang menggoda banyak laki laki demi uang, kalau bukan matre."
"Nenek sepertinya salah paham, Aluna tidak pernah menginginkan harta cucu-cucu nenek."
"Kalau begitu kenapa kamu tidak berusaha untuk bertahan dengan salah satu saja, aku lihat Adrian banyak berubah setelah mengenalmu. Tapi kenapa kamu justru pergi disaat kamu adalah kekuatan untuknya."
"Aluna pergi karena Adrian tidak benar benar ingin Luna ada disisinya Nek, jika dia berubah dan mencintai Luna, seharusnya dia tidak akan mendua, seharusnya dia bisa memilih. Adrian tidak bisa memilih antara aku dan Angeline. Aku tak mau memiliki cinta yang terbagi. Aku tak kuat dihadapkan dengan cobaan seberat itu Nek."
"Lalu kenapa harus Dion sanderson yang memiliki power lebih dari Adrian?, kenapa bukan pria lain yang miskin atau setara denganmu." Tanya Nenek lagi.
"Itu bisa tanyakan pada cucu Nenek. Tapi ada satu hal yang harus nenek tahu. Cinta Aluna tidak ada kaitannya dengan harta, andaikan seorang miskin atau gelandangan yang mencintai Luna dengan tulus. Dan Luna bisa merasakan nyaman dan cinta saat bersamanya, Aluna pasti akan mempertaruhkan nyawa untuk bisa bersamanya," kata Aluna panjang lebar.
"Cinta tak selamanya berkaitan dengan harta dan tahta, cinta bisa hadir karena ketulusan hati, dan rasa nyaman satu sama lain, cinta menginginkan yang kita sayangi bahagia. Bukan malah membuatnya menderita." Dion ikut menimpali kata kata Aluna baru saja. Lelaki itu sejak tadi ternyata sudah mendengarkan obrolan nenek dan Aluna dari ruang sebelah.
"Apa yang kalian bicarakan? Cinta, cinta, Dion kamu harus sadar, Aluna ini bukan wanita spesial yang harus kamu perjuangkan, carilah wanita yang belum pernah berumah tangga."
"Itu benar menurut nenek, tapi tidak benar menurut Dion. Nenek kenapa dulu tidak menikah dengan Tuan Abiyasa, dan kenapa memilih kakek yang hanya seorang sopir dari Tuan Abiyasa?"
"Ya, kamu benar, tapi alasan nenek memilih kabur dan hidup dengan kakek sangat kuat."
"Alasan Dion ingin menghabiskan sisa-sisa umur ini bersama Luna, juga kuat Nek. Luna cinta pertama Dion, bahkan cinta itu Dion rasakan sendiri sepanjang penantian ini. Selama ini Luna hanya ada dalam mimpi. Dan Dion hanya berani berandai andai."
"Begitu tau Luna ternyata bukan sebatas mimpi, Luna ada didepan mata tapi menderita, kira kira apa yang akan nenek lakukan?"
*Hai emak kembali lagi nie. Yuk beri dukungan dan ritual kerennya! Like, Komen Vote, hadiah. Kalau sudah banyak emak bakal update lagi. daaaa
__ADS_1