Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 102. pertengkaran.


__ADS_3

"Luna …" Dion menatap Luna dengan raut wajah sejuta arti. Ada bahagia, ada terharu dan entah apa lagi yang tergambar. 


"Jujur, aku bingung harus berkata apa. Malam ini kau sudah menyelamatkan perusahaan dari malu, sepertinya jika aku memberikan diriku menjadi pelayanmu saja rasanya tak cukup." Dion meraih dua tangan Aluna dengan menggenggam jemari, lalu mengangkat sebatas dada. 


Luna membalas tatapan Dion dengan sedikit mendongak. Tubuh Aluna memang tinggi apalagi pakai sepatu hak tinggi, tapi Dion tetap lebih tinggi dan gagah, seperti sang papa.


"Pak Dion, aku hanya melakukan apa yang semestinya aku lakukan. Bukankah ini perusahaan tempat aku bekerja. Aku masih ingin bekerja disini, jadi aku tak mau kalau sampai bangkrut. Mencari kerja jaman sekarang susah."


Dion menurunkan jemari Aluna, wajahnya tak secerah tadi. Andaikan Aluna berkata seperti yang di harapkan oleh hati, mungkin kecewa Dion tak sedalam ini.


"Jadi kau melakukan semua hanya demi perusahaan ini, yakin tak ada yang lain Aluna." Dion berusaha mencari kebenaran Dimata Aluna. Aluna berusaha menghindari tatapan Dion. 


"Iya, aku melakukan untuk perusahaan, dengan begitu Pak Dion masih memiliki kesempatan untuk mengikuti kompetisi terakhir."


Dion mengusap wajahnya. Kecewa, tapi Dion berusaha menutupi, tak ingin dilihat oleh karyawan yang sedang memandang kearahnya nyaris tanpa berkedip itu.


Aluna merasa bersalah sekali karena Dion begitu kecewa, andaikan dia bisa membayar pengacara pasti kesempatan menang melawan Adrian akan lebih besar, dan Aluna berani untuk memberi Dion harapan walau tidak besar namun tetap ada.


Dion yang diduga akan pergi setelah melepas jemari Luna ternyata dia tidak jua mengangkat kaki. Dion malah secepat kilat dengan gerak reflek menarik Luna kedalam dekapannya.


"Luna, aku tahu kamu melakukannya bukan hanya semata demi perusahaan, kamu melakukannya karena kamu mencintaiku, katakan Luna?"


Luna menitikkan airmata dalam dekapan Dion, dia gagal melepaskan diri karena meronta juga tak ada Artinya. Dekapan Dion begitu kuat.


"Katakan aku bisa apa Pak Dion, lelaki itu begitu hebat, dia bisa saja membuat perceraian ini hanya sebatas impian saja." Aluna menangis tersedu, dadanya semakin terasa sesak. 


"Kamu butuh pengacara," kata Dion yang seolah tahu isi hati. 


Aluna mengangguk. "Jika sama sama punya pengacara, setidaknya semua akan berjalan dengan seimbang."


"Baiklah, besok akan ada pengacara hebat yang akan menemanimu, dia akan membuat perceraian yang kamu inginkan segera berakhir."

__ADS_1


Dion mengusap derai air mata yang membasahi pipi Aluna. Selain dia ingin bercerai, Aluna juga termakan tipu daya Angel yang mengatakan kalau telah hamil anak Adrian. wanita mana yang tak sakit hati jika suaminya menghamili wanita lain.


Melihat Aluna yang sudah memakai gaun pesta mewah usai pentas yang terakhir tadi. Dan Dion memakai pakaian lengkap seorang Ceo, membuat karyawan ingin melihat dansa mereka. 


Dansa ! Dansa! Dansa! . Hiruk-pikuk terdengar dari para penonton.


Belum ada persetujuan dari Dion dan Aluna. Pembawa acara sudah berlari menuju panggung. Menyibak tirai tanpa mengindahkan tatapan keberatan dari Aluna dan Dion. Dion tak mau beredar gosip miring untuk Aluna. Tapi gimana lagi, pembawa acara malam ini rupanya tak mau dansa CEO dan model dadakan itu batal. 


Sesuai permintaan karyawan dan penonton Dion akhirnya menampakkan diri juga didepan publik. Mereka kembali mengisi acara penutup dengan dansa Aluna dan Dion yang diiringi oleh pemusik handal dari tanah air. 


Di seberang sana ternyata ada sosok yang sedang kepanasan dengan aksi romantis  atasan dan bawahan itu. Adrian melempar ponselnya ke dinding karena Emosi.


Arga yang menjadi mata-mata di pesta Dion dia segera keluar gedung setelah berhasil melaporkan semua berita penting. 


"Rian, kenapa ponselnya dibanting sayang?" Kata Angel yang berusaha menarik simpati Adrian. 


"Aluna dan Dion semakin dekat saja, bagaimana aku tak sakit hati. Aku suaminya. Aku saja tak pernah sedekat itu dengannya."


Kata Angel, wanita itu  tadi juga sempat melihat dansa romantis Aluna dan Dion lewat ponsel Adrian.


"Saling mencintai?" Adrian mengepalkan tangannya. 


"Itu sebabnya, dia milih bekerja di perusahaan Dion. Aluna tidak setulus yang kamu lihat Rian. Dia juga matre. Dia memilih Dion yang lebih loyal padanya, dan dia juga memilih Dion pasti karena lelaki itu yang memberinya kehidupan lebih enak daripada bersamamu."


"Apakah Aluna seperti itu, Angeline? Tidak mungkin." Adrian menggeleng.


"Apa yang tidak mungkin buktinya setelah dia memiliki sandaran yang lebih kokoh, dia langsung setuju untuk pergi darimu selamanya."


Melihat Adrian makin emosi, Angeline tersenyum bahagia, bahkan dia yakin setelah ini Aluna akan ditalak langsung dengan talak tiga.


 Laptop yang masih menyala dia biarkan tetap menyala. Adrian langsung menancap gas menuju tempat Dion menggelar acara. 

__ADS_1


Arga yang tahu majikannya datang, segera menahan langkah Adrian.


 "Pak tolong jangan permalukan diri anda di depan banyak orang dan Aluna tidak mungkin ini hanya akan membuat anda malu.


Adrian tak menggubris, dia malah berjalan ke depan hingga berdiri di depan panggung. 


Sosok Adrian yang mengisi deretan paling depan langsung tepuk tangan paling keras diantara pengunjung lainnya.


Luna yang melihat wajah tak asing diantara pengunjung segera mengakhiri dansa dan berlari masuk melewati tirai.


Adrian segera ikut menyelinap dan berhasil masuk . Dia segera menarik lengan Aluna yang terus menghindarinya sejak tadi. 


"Lepaskan, aku!!" Aluna menatap Adrian dengan penuh kebencian.


"Tidak akan pernah, kau harus kembali pulang bersamaku, Aku suami yang harus kau bantu usahanya, bukan malah lawan bisnisnya." kata Adrian dengan amarah yang berapi api.


"Pak Adrian, lucu sekali anda ini. Kenapa aku harus kembali pulang ke rumah, yang semua penghuninya hanya bisa mengolok dan menghina sepanjang waktu. Aku bukan manekin atau boneka yang tak memiliki perasaan."


"Percayalah Aluna. Kita pulang dan aku akan mulai memperbaiki semuanya sebelum terlambat.


"Memperbaiki semuanya? apakah kamu bisa meninggalkan Angeline dan kekasih yang kau cintai lebih dari segalanya itu?"


"Kurang ajar, atas dasar apa kau menyuruh aku putus dengan Adrian?"


"Plakk." Angel yang tak tahu dari pintu mana datangnya, tiba-tiba memukul pipi Aluna."


"Angeline, jangan sakiti Dia." Adrian berusaha menghalangi Angeline dan melindungi Luna dari ratu tega itu.


Angeline yang sudah menahan emosinya sejak tadi, akhirnya kesampaian juga melampiaskan pada Aluna, di satu sisi Angeline tidak terima Aluna menjadi model yang kemungkinan besar akan menggeser namanya. Dan bisa juga Adrian akan lebih menyayangi dirinya suatu hari nanti.


"Yang kedua Angel sangat puas berhasil menampar Aluna dengan tangannya sendiri.

__ADS_1


"Pergi dari Sini!!" Suara bariton seorang pria mengagetkan tiga makluk yang sedang berseteru. Mereka bertiga menoleh bersama.


__ADS_2