Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 56. Karakter membingungkan.


__ADS_3

Sudah dua hari, Dion mulai mengintai mansion Adrian dari kedai kopi yang ada di dekat mansion. 


Karena sedang sakit Adrian jarang keluar rumah. Tetapi pagi ini Dion melihat sesuatu yang menarik untuk dia ikuti. 


Seorang wanita membawa rantang, keluar dari mansion. Wanita itu menatap ke arah kanan dan kiri sebelum dia naik sebuah taksi. Pasti memastikan kalau dia dalam keadaan aman.


"Beni, kita ikuti ART Itu, aku rasa wanita itu tau dimana Aluna di sembunyikan."


Dion segera menenggelamkan topinya dan masuk ke dalam mobil yang dikemudikan oleh Beni.


"Cepat ! Jangan sampai kehilangan jejak."


"Tenang Bos, serahkan semua pada, Beni."


" Awas! kalau sampai gagal." Dion fokus menatap ke depan, tak mau kehilangan jejak.


Sedangkan Bibi yang berada di dalam taksi tak sadar kalau ada yang mengikuti. Justru sopir taksi yang merasa kalau mobil mewah di belakangnya sedang memantaunya dari jauh.


"Apa anda kenal dengan mereka?" Tanya sopir taksi pada Bibi. 


Bibi yang baru bekerja pada Adrian tentu tak mengenal Dion dan Ben. Adrian mempekerjakan asisten baru itu khusus untuk menjaga Luna baru satu minggu, dan mulai hari ini dia akan tinggal bersama Luna sesuai keinginan Adrian. 


"Pak berhenti di depan pasar, aku mau beli sayuran." pinta wanita berusia sekitar empat puluh lima tahun itu.


"Baiklah." Sopir taksi menepi, Bibi segera masuk dengan menyelinap ke dalam pasar menembus ramainya pengunjung pasar di pagi hari. Bibi segera menuju toilet dan ganti dengan baju dengan warna yang berbeda setelah itu dia kembali keluar dan memanggil bajai. 


Wanita itu sudah ahli dalam penyamaran, oleh sebab itu Adrian percaya Aluna akan baik saja di tangannya. Selain cerdik dia juga bisa dipercaya.


"Sial," umpat Beni, lelaki itu kehilangan jejak. beni tak pandai menyelinap dan membelah pengunjung pasar yang ramai berdesakan.


Beni segera keluar dari pasar tradisional, setelah lama berputar-putar di sekitar penjual ikan segar, penjual buah, sampai penjual baju dan perhiasan.


Wajah pucat Beni sudah menunjukkan kalau dia gagal. "Gagal bos, wanita itu bukan ART biasa."


"Pakai rok saja kau mulai besok, jika kalah dengan wanita," kata Dion tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. 


Tapi Ben yang sudah bekerja bertahun-tahun dengan Dion dia sama sekali tidak memasukkan hati ucapan Dion. "Maaf Tuan, wanita itu memang sengaja mengecoh kita dengan mampir di pasar ini.


"Aku akan menemukan Aluna, pasti. Dia harus dalam keadaan baik baik saja." Dion tak patah semangat, dia akan terus mencari Aluna sampai dapat. Sebelum melihat gadis itu dalam kondisi baik-baik saja, Dion tak akan menyerah.

__ADS_1


***


Di mansion yang ada di tengah tengah kebun teh. Seorang wanita mengetuk pintu. sedangkan dua pengawal selalu siaga di dekat gerbang setinggi tiga meter.


"Nona, saya sudah datang, tolong buka pintunya."


"Bibi" ujar Aluna yang bibirnya terlihat pucat.


"Nona, Anda pucat sekali.  Apa semalam Anda tidak makan?"


Aluna menggeleng lemah. "Nasi yang Anda kirimkan ke saya sudah basi."


"Basi? Tidak mungkin, saya baru memasak dan kata tuan Adrian itu semua kesukaan Anda."


"Lihatlah Bi, disana." Aluna menunjuk pada tong sampah, di sudut ruangan. Bibi segera memeriksa isi tong sampah.


"Ini bukan masakan saya yang baru, ini  masakan sisa sejak kemarin. pasti ada yang sengaja menukar dengan makanan busuk itu.


"Sepertinya anda terkena maag, anda tidur sekarang Nona, biar aku buatkan obat dan makanan baru." Bibi membantu Aluna berdiri, dan membantu berbaring diatas ranjang big size. Benar kata Adrian rumah ini mewah, semua furniture di dalamnya juga mewah, tapi di rumah itu Aluna seperti seorang tahanan dia sama sekali tak diizinkan melihat indahnya pemandangan kota.


Hanya hitungan detik bubur sumsum dengan tambahan gula merah diatasnya sudah siap saji. Bibi segera duduk di depan Aluna dan siap untuk menyuapi makan. 


"Bi, kira-kira tahu nggak apa alasannya? Kenapa saya dikurung di sini?" tanya Aluna dengan polos


"Apa aku jadi penghalang cinta dia dengan Angel? dia mengasingkan aku agar tak mengganggu kebahagiaannya lagi?"


"Sepertinya bukan, tapi cintanya pada Anda sangat besar jadi dia harus melakukan ini semua."


"Anda bercanda, dia sangat membenci saya, Bi." Aluna tersenyum, tapi tidak bahagia. Dia menertawakan hidup yang mempermainkan dirinya. Terjebak dalam permainan dua CEO menjadi hidupnya makin rumit.


"Benci dan Cinta itu sangat beda tipis Nona, anda jangan heran, kalau Pak Rian yang dulu membenci anda sekarang  berubah menjadi mencintai anda."


"Cinta? benci bisa jadi cinta?" Aluna makin tak mengerti tentang cinta-cintaan.


Pelayan mengangguk."Oh iya Nona, tadi di jalan ada dua pemuda sengaja mengikuti saya."


"Dua pemuda? Bagaimana ciri cirinya?" Aluna langsung teringat akan Dion. lelaki yang sudah dia kecewakan.


"Yang satu biasa saja, pasti asistennya. Dan yang satu tampan, bisa dibilang ketampanannya sebelas dua belas dengan Tuan Rian, sama sama blasteran luar negeri. Kulitnya putih mirip opa Korea.

__ADS_1


"Apa lelaki itu seperti di foto ini?"


Aluna membuka ponselnya, langsung membuka galeri foto. Tapi sayang sekali, rupanya tanpa sepengetahuan Aluna Adrian sudah menghapus galeri yang berhubungan dengan Dion, hampir tak ada satupun kenangan mereka saat di Bali, kecuali foto Luna sendiri. 


"Mana fotonya, Non?" Tanya bibi


"Aluna menggeleng. Sudah hilang."


"Wah, sayang sekali." Bibi terlihat kecewa.


'Itu pasti Pak Dion, tapi kenapa Pak Dion masih mencari saya. Seharusnya  Pak Dion membenci saya. Saya sudah tidak jujur perihal pernikahan rahasia ini.'


"Nona, mantannya ya? Beruntung jadi nona disukai cowok cowok tajir dan tampan." Bibi terus saja menggoda Aluna, sambil jemarinya mentowel lutut Luna yang selonjoran.


"Aluna nggak punya mantan, Bi." Aluna tersenyum sambil melahap bubur yang terulur ke mulutnya. "Kalau teman banyak."


Walaupun bibi yang ada di depannya sangat baik, tapi tetap tak seperti Imah. Wanita ini adalah penjaga yang bisa mengadukan apapun kelakuan Aluna kepada Adrian. 


Usai menyuapi Aluna bubur, Bibi bergegas ke kamar mandi, dia mengisi bathup dengan air hangat dan meneteskan beberapa aromaterapi ke dalam air. 


Setelah kegiatan di dalam kamar mandi selesai, bibi segera keluar dan mempersilahkan Aluna untuk segera mandi. 


Nona silahkan anda mempersiapkan diri, tuan Adrian akan datang malam ini, dia ingin Nona memakai gaun indah yang khusus dibelikan untuk anda." Bibi menyerahkan gaun dalam paperbag pada Aluna. 


Gadis itu menerimanya dan langsung membuka. Penasaran saja, Adrian tumben memikirkan gaun untuk dirinya, bukankah selama ini dia hanya menjadi raja perintah dan tukang marah-marah.


"Apa? Aku memakai gaun ini di depan Pak Adrian? Tidak ini terlalu terbuka." Aluna menolak mentah-mentah dan menyingkirkan dari hadapannya dengan melempar ke ranjang. 


Bibi mengambilnya lagi dan membujuk Aluna "Aluna ini belum terbuka, hanya punggung saja yang terlihat rendah, bibi sering melihat istri CEO juga memakai baju model demikian." Bibi Sonia berusaha membujuk Aluna. 


"Tapi saya tak bisa, untuk apa saya harus memakai gaun, dan kenapa saya harus menurut dengan dia, dia pasti hanya balas dendam karena waktu di Bali saya memakai gaun dengan warna yang sama saat bersama tuan Dion. Tapi tidak terbuka seperti ini." omel Aluna.


"Nona, tolong bantu bibi, mohon kerjasamanya." Sonia mengiba. Memohon kebaikan Aluna.


Tring! Tring! Ponsel Sonia berdering. 


"Bibi, apa Aluna sudah siap? Katakan padanya untuk malam ini aku akan kesana," ujar Adrian dari seberang. Sedangkan Aluna sudah mendengar langsung, karena bibi sengaja melouspeaker.


"Jangan, aku suka sendirian, aku sedang tak butuh teman." Aluna menyahut dengan menggeleng. Pasti akan menjadi malam yang sangat buruk jika Adrian bersamanya. 

__ADS_1


Aluna tidak percaya lelaki itu akan membiarkan dirinya tidur nyenyak. Adrian pasti akan berulah. Dia pasti akan memanfaatkan hubungan pernikahan yang kini tengah menjadi tali pengikat. 


Aluna menggeleng berulang kali, dia tidak mau memberikan semua pada Adrian yang tak pernah mencintai dirinya. Aluna tidak mau menyerahkan segalanya dengan lelaki yang masih menjalin hubungan dengan wanita lain.


__ADS_2