Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 134 . Suasana bahagia pengantin baru.


__ADS_3

"Pak Dion, dimana perawat tadi?" Tanya Aluna gugup. Tangannya berusaha menarik handuk tapi tidak tergapai. Akhirnya dia terpaksa menutupi tubuhnya dengan dua tangannya


"Sudah pergi, Honey. Aku yang menyuruhnya tadi." Kata Dion yang kian mendekat. 


Aluna sangat malu, andai tak sedang sakit dia akan lari dan bersembunyi ke lubang semut sekalian, hingga Dion tak bisa menemukannya lagi. 


"Please Pak Dion keluarlah, aku malu." Kata Aluna makin gusar. Dan reflek dia kembali menyebutnya sebagai atasan. 


 Dion tertawa kecil sambil menggeleng. "Sayang, lupakan kalau kita ini bos dan sekretaris, ingat aku suamimu. Aku sudah boleh menyentuh setiap inci tubuhmu."


Dada Aluna terlihat sekali naik turun merasa tak aman. Dion juga tidak mau memaksa Aluna kalau memang belum siap dengan semuanya. Aluna butuh waktu untuk status barunya.


 Dion mengambilkan Aluna handuk putih yang disiapkan perawat, lalu membantu menutupi tubuh depan istrinya.


"Honey, aku bisa membantumu membersihkan sekitar luka, aku tak mungkin akan memakanmu sekarang. Aku juga tahu kau masih sakit," kata Dion. Senyum Dion kembali hadir menghiasi wajahnya. 


Aluna tak berdaya oleh keadaan, dia memilih untuk pasrah melihat jemari Dion mulai merayap dengan hati-hati menelusuri sekitar betis dan paha sambil meratakn sabun cair aroma woody itu 


Dion terlihat sangat hati hati, takut menyentuh luka Aluna. Sedangkan Aluna mulai gelisah merasakan jemari panjang Dion terus berputar putar menyentuh kulitnya.


Pengalaman yang baru dan sungguh membuat kewarasan Aluna terganggu, kini tubuh Aluna mulai merespon positif dan mulai merasakan ada kupu kupu yang berterbangan di perutnya. 


"Sayang, aku ingin menyelesaikan mandi ini lebih cepat." Kata Aluna dengan suara tercekat. 


"Kenapa buru-buru, sayang. Aku masih belum membersihkan yang lainnya." Kata Dion tetsenyum nakal.


'Yang lainnya?' seketika otak Aluna traveling.


Aluna melihat tangan Dion sudah bergerak semakin lama semakin ke atas.


"Aku bisa sendiri, tolong biarkan aku melakukannya." Aluna merebut sponge dari tangan Dion. Jantungnya benar-benar tak bisa diajak kompromi. Luna takut Dion tahu kalau ada bagian tubuhnya sudah basah. 


Baiklah, aku akan membantumu menyiapkan yang lain. Jika sudah selesai panggil aku. 


Dion keluar kamar mandi, membiarkan Aluna membersihkan sendiri tubuhnya yang bisa dijangkau. Dia tak bisa memaksa jika membuat tak nyaman.


Tak bisa dipungkiri adik kecil Dion juga sudah meronta, membuat celana oxford yang dipakai tiba-tiba terasa sesak. Sebelum makin sesak lagi Dion segera keluar. Laki laki itu menata kursi roda dan merapikan ranjang untuk mengalihkan semuanya kegelisahannya.


.


Dion tak mau Aluna melihat perubahan. Adek kecilnya yang terus membusung.

__ADS_1


Dion duduk di ranjang, mengelusnya pelan. Berusaha menjinakkan adek kecil sebentar, Lalu menggelengkan kepala tak percaya dengan kelakuan nakal si jantan. 


"Sayang, aku sudah selesai." Suara Aluna dari dalam.


Panggilan Aluna membuat Dion terkejut. Dia segera membuka pintu kamar mandi. Rupanya Aluna sudah memakai handuk kimono. Tapi Dion yakin Aluna belum memakai apapun di dalam kain tanpa kancing berbulu itu. 


Dion mengangkat tubuh Aluna sambil terus menatap wajah ayu sang Istri. Rambutnya basah bibirnya merah. Dengan menatap begitu saja celana Dion kembali sesak.


Dion gelisah, dia kesal dengan Adek kecilnya yang susah dijinakkan.


"Luna, maafkan aku." Kata Dion dengan nafas memburu. 


"Kenapa? Apa lagi kurang enak badan?" Aluna mengira Dion sedang terserang asma karena nafasnya ngos-ngosan. 


"Tidak, aku sedang, ingin …."  Kata Dion sambil mencondongkan tubuh diatas tubuh Luna. Meski ragu mengatakan kata-kata itu akhirnya meluncur dari bibirnya juga.


Luna mengelus wajah Dion dengan jemari, mengecup bibirnya lembut. "Ingin apa." tanya Aluna lagi. 


"Ingin buang air kecil," kata Dion beralasan


"Kalau begitu kenapa harus menunggu lagi, lekas lakukan," perintah Aluna. Dion bingung beralasan lagi. Aluna terlalu lugu untuk memahami. 


"Belum bisa, kamu masih sakit." Jawab Dion sambil membenarkan posisi celananya. 


Aluna kasian melihat Dion yang tersiksa, untuk mengobati kerinduan pada dedek jelita, Aluna memeluk Dion dan membiarkan tubuh mereka saling bersentuhan memberikan rasa hangat. "Sayang katakan pada dedek kecil. Suruh puasa," ujar Luna lirih.


"Baiklah, akan aku sampaikan." Kata Dion sedikit menjauh setelah mengecup kening istrinya.


Aluna bangun dan bersandar di tepi ranjang. Tiba-tiba ponselnya berdering. Aluna melihat ternyata panggilan itu dari Adrian. 


Aluna ragu ingin menerima atau membiarkannya begitu saja.


"Dari siapa? Kok nggak di angkat?" Tanya Dion.


"Dari Pak Adrian."


"Angkat saja, mungkin ada yang penting."


"Yakin tidak apa apa aku telepon dengan Pak Rian. Pak Dion nggak marah"


"Aku marah sama Adrian, bahkan aku sulit memaafkan dia, tapi aku percaya pada istriku, kalau di pasti bisa menjaga kesetiaan hubungan kita."

__ADS_1


"Terimakasih, anda suami yang sangat baik."


"Kau juga istri yang sangat baik, mau menikah dengan lelaki sepertiku," kata Dion merendah.


"Luna, apa sudah ada perkembangan dengan keadaanmu?"


"Sudah, aku lebih baik sekarang."


"Baguslah, aku minta maaf, karena kelakuanku kamu harus menderita."


"Aku sudah tidak mempermasalahkan, Pak Dion juga memaafkan." Kata Luna sambil menatap wajah Dion yang berdiri di sebelahnya. 


"Apa kamu bahagia Luna?"


"Iya." 


.


"Kamu mencintai Dion." 


"Tentu."


"Ya sudah, aku minta maaf sudah mengganggu hari indah kalian." Kata Adrian dari seberang sana. 


Adrian berdiri di jembatan sambil melihat air yang mengalir deras, sungguh dunia saat ini begitu tak adil dengannya. 


Puluhan panggilan dari Angel tak dia gubris. Sejak melihat Aluna dan Dion mengucap ijab, hati Adrian seakan remuk bersamaan dengan ucapan sah dari saksi yang terus terngiang sampai saat ini di kepalanya.


"Luna, sampai kapanpun aku akan menyesali cintaku yang terlambat hadir ini, biarlah aku menebus kesalahanku dengan seperti ini."


Bosan melihat pemandangan air, Adrian kembali ke mobil, dia tiduran di dalam mobil yang sudah dia tepikan dari riuhnya suara kendaraan yang lalu lalang. 


Selena dan Chela duduk di meja makan tanpa Adrian dan Aluna lagi. Chela kasihan dengan nasib kakaknya yang bercerai, tapi kini malah menikahi wanita yang sudah hamil anak lelaki orang. 


Ma, kalau begini terus, perusahaan milik Kak Rian akan bangkrut, dan perusahaan milik nenek tak mungkin diberikan pada Kakak Rian karena dianggap tak becus mengelola.


Entahlah Chela, aku pikir Aluna tak pantas untuk Kakak kamu karena dia berpakaian Norak dan penurut. Tapi sekarang Mama malah dapat menantu jutek dan tukang selingkuh. 


Ma, kalau perusahaan bangkrut, kita tak ada uang Chela pasti akan sulit untuk jadi model, Kak Angeline saja sekarang sudah tidak pernah dapat job."


"Kamu bisa minta tolong sama Aluna, dia kan sekarang juga model."

__ADS_1


"Malu Ma, masa Chela dulu yang menghina Aluna, sekarang harus minta bantuan pada dia. 


"Kalau nggak mau ya sudah, mama cuma kasih solusi," kata Selena sedang pusing.


__ADS_2