Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 208. Tak tahu malu.


__ADS_3

Dion kembali mengantar Aluna ke kamar untuk istirahat, sekalian pamit untuk berangkat bekerja. 


Setelah Aluna mencium tangan Dion dan Dion mencium pipi Luna kanan dan kiri Dion benar-benar pergi.


Beni melihat wajah bosnya yang ceria dan segar,  sudah tau pasti semalam telah terjadi sesuatu yang luar biasa. 


"Bos, kenapa Nona tidak mengantarkan sampai luar pintu."


"Kenapa kamu tanya soal istriku?" Jangan bilang kamu ingin melihat dia setiap saat karena ada apa-apa dalam hati kotormu."


"Astaga Bos, segitunya. Lagian aku tanya wajarlah. Biasanya dia kan antar Si Bos sampai depan, terus cium tangan kanan dan kiri. Eh cium tangan kanan aja deh. Cium pipi kanan dan kiri maksudnya."


"Nah, itu. Kamu aja bicara gugup begitu. Awas kamu ketahuan lirik-lirik istriku, akan kupastian kamu tak akan bisa melihat dengan bolaatami selamanya."


"Serem banget ancamannya. Maklum bos, lelaki kormal suka melirik Nona Luna, dia itu cantik, baik, wajahnya kalem, idaman pria."


"Sialan kamu, mulai sekarang kamu hanya boleh tunggu aku di mobil, tidak perlu masuk rumah segala." Dion makin geram setelah mendengar Beni memuji istrinya.


Dion segera mengunci pintu dan beriringan menuju perusahaan bersama Beni. Dion sudah berpesan pada Aluna supaya tidak pergi kemana mana sendirian. Kalau memang penting bisa minta tolong Nabila atau Jessica untuk mengantarnya.


Sampai di perusahaan Dion disibukkan oleh pekerjaan. Namun kerinduan pada Luna kembali membuncah. Dion ingin tahu apa yang dilakukan istrinya saat ini.


Dion terpaksa mengerjakan tugas kantor sambil menelepon Aluna yang masih bergelung di dalam selimut. 


"Hai sayang!" sapa Dion dengan wajah gantengnya.


"Hai!" Luna menjawab dengan kantuk yang tertahan.


"Makan siang mau aku pesankan apa, Honey?"


"Nggak usah aku masak aja, sebentar lagi aku akan bangun."


"Nggak apa-apa Honey, aku sengaja melakukannya supaya kamu nggak terlalu sibuk, banyak istirahat dan makan bergizi saja biar cepat hamil," kata Dion sambil jemarinya sibuk mengetik di keyboard


"Iya-iya," jawab Aluna meremehkan, lagian mana ada orang betah disuruh di rumah dan tak melakukan hal apapun.


"Maksudnya apa? kenapa wajahnya begitu? kamu nggak ingin hamil anak aku, Honey" Tanya Dion.


"Aku nggak akan kemana mana sayang, posesif banget sih. Lagian siapa yang nggak ingin hamil." Aluna mengerucutkan bibirnya. 


Saat masih asyik telepon dengan Dion tiba-tiba Angel masuk dengan tak tahu malu. Dia tak mengindahkan ucapan security.


Security dengan wajah takut, berjalan di belakang Angeline. 


"Pak, Maaf Nona Angeline memaksa masuk, padahal saya sudah mengingatkan dia berulang kali jika anda sedang sibuk."

__ADS_1


Dion segera memutus panggilan Aluna tanpa salam, begitu tahu Angeline yang masuk. Dion takut Aluna salah paham. Tapi justru Aluna yang mendengar suara wanita dia makin penasaran.


Dion memberi isyarat pada security supaya membiarkan Angeline masuk. 


"Biarkan dia masuk, aku ingin tahu apa maksud kedatangannya." kata Dion dingin lalu menutup laptopnya. 


Security lalu pamit meninggalkan mereka berdua dari ruang pribadi Dion. 


"Duduklah!"


Angeline senang sekali Dion tidak langsung mengusirnya. "Aku kesini sebenarnya ingin menjelaskan satu hal,  aku sama sekali tidak mengenal dua laki-laki itu." 


"Oh, jadi dua laki-laki itu datang karena kebetulan? Terus dia masuk kamar  juga kebetulan juga. Hebat, sandiwara macam apa ini?" Dion menyeringai.


"Tidak Dion, aku tidak mengenal mereka, sumpah. Aku ke tempat itu semata hanya menunggu kamu."


"Sudahlah Angel, lagian kita hanya teman backstreet tak masalah kita putus, toh kita juga belum mulai hubungan gelap itu, lagian kamu bisa cari laki-laki lain, dan aku bisa kembali dengan satu wanita saja." Kata Dion sambil mengangkat kakinya pada meja. "Ouh, atau kamu beralasan seperti ini karena ketahuan, coba kalau tidak."


"Dion, sehina itulah kamu menilaiku?" Angel mengeluarkan air mata biayanya.


"Pergi Angel, aku lagi sibuk sekali, aku tidak ada waktu jika hanya untuk bahas masalah kemaren." Dion pura-pura muak.


"Dion, tolong, aku mohon, dengarkan penjelasanku, jangan putuskan aku sepihah seperti ini." Angeline berlahan mendekati Dion.


"Keluar atau aku panggilkan security supaya menyeret kamu keluar."


Justru Dion menilai Angel semakin tak tahu malu, jelas Dion beristri, dia begitu nekat ingin menghancurkan mahligainya. hati kecil Dion menilai sungguh Angel sudah keterlaluan sesama wanita, bisa-bisanya dia sama sekali tak memikirkan Aluna. 


"Baiklah jelaskan saja, aku ingin mendengar."


Angeline tersenyum lalu mulai membual. "Sebenarnya dia lelaki yang datang itu adalah lelaki suruhan Aluna, kamu tahu dia sangat membenciku, dia tidak pernah ingin aku bahagia dengan siapapun. Dulu waktu aku masih bersama Adrian dia juga menghancurkan hubungan kami. Sekarang saat aku denganmu, dia tidak suka. Aluna sebenarnya tahu hubungan kita, dia mengancamku Dion. Dia akan membunuhku, aku takut sekali Dion."


"Apa kamu tidak bohong?" 


"Tentu, aku tidak bohong."


'sungguh kau pembohong ulung.'


"Baiklah, untuk saat ini aku percaya, pergilah sekarang."


"Tapi Dion, apa kita benar-benar putus? Aku tidak bisa jauh darimu"


"Entahlah, nanti saja aku pikirkan lagi. Aku sedang banyak kerjaan Angeline."


"janji kami tidak marah padaku."

__ADS_1


"tidak. tapi aku mohon pergilah, aku ingin sendiri."


Angeline pergi meninggalkan Dion dengan hati lega, setidaknya dia tau Dion sudah tak marah lagi. 


Setelah Angeline pergi, Aluna yang sejak tadi bersembunyi dan menguping pembicaraan Dion, dia masuk dengan mata merah dan berkaca-kaca. 


Dion terkejut Aluna datang.


"Honey kenapa kamu kesini? Bukankah aku sudah mengingatkanmu kalau kau tak boleh kemana mana."


"Ya, biar aku tak melihat hubungan gelap kalian? Iya begitu? Kenapa sih kalau nggak cinta nggak bilang aja? Pake selingkuh segala."


"Kamu salah paham sayang, aku minta maaf, aku minta maaf sudah tidak jujur padamu sejak awal. 


"Tu kan benar, kamu sudah selingkuh sama Angel, apa yang kamu katakan semuanya hanya bohong, kamu tidak benar benar sayang aku. Kamu jahaaaat Dioooon!" airmata Aluna makin deras.


Aluna buru-buru berlari meninggalkan Dion. Tapi Dion sigap menarik lengan Aluna dan mendekapnya. 


"Sayang kau ternyata belum mengenal suamimu ini, aku tak akan pernah selingkuh, aku hanya sedang berusaha membuat jera Angel dan berusaha mengambil perusahaan Adrian. 


"Tapi bagaimana jika kamu benar-benar nanti jatuh cinta dengan Angel. Dia cantik, penampilannya seksi, dia juga seorang model. Dia pasti akan merayumu dengan sangat lihai." Aluna masih terisak, dari netranya terus keluar airmata. 


Dion menarik tubuh Aluna ke dalam dekapan. Dia tak ingin Aluna terus bersedih dengan anggapan yang salah. "Sayang, jangan pernah takut, jangan pernah ragukan cintaku. Berapa kali kubilang, kamu adalah pilihan hatiku, tak akan pernah aku duakan sampai mati."


"Janji ya, nggak akan tergoda. Pakaiannya saja seksi sekali, wanita mana yang tidak takut istrinya terpikat." 


"Kau lebih seksi dengan lingeri merah tadi malam, aku sangat suka," goda Dion. 


"Aluna kesal Dion terus mengungkit hal itu, Aluna melepas dekapan Dion dan mendorong tubuhnya hingga mundur beberapa langkah. Aluna malu telah menggoda suaminya dengan baju sekali pakai.


Dion tak mau Aluna salah paham atau berprasangka buruk sedikitpun. Dion takut Aluna akan sulit memaafkan seperti tempo hari. 


Dion segera mengunci ruang pribadinya dengan kekuatan remote kontrol serta menirinkan tirai setiap jendela dengan kekuatan remote juga.


Jika suaminya sudah bersikap otoriter seperti itu, Luna tahu, Dion sudah serius dengan kata katanya. Dan jangan mimpi bisa lepas begitu saja.


"Jika semua yang kulihat tidak benar, baiklah aku percaya. Sekarang biarkan aku pulang, aku ingin istirahat."


"Honey, kamu berbohong, kamu pasti masih sedih dengan kejadian tadi."


"Tidak," jawab Luna singkat.


"Sudahlah disini saja temani aku." Dion mendudukkan Luna diatas kursi kebesarannya. 


Dion mengambil kursi lain dan menariknya di sebelah Luna. Sekarang mereka duduk berdampingan. Dion bekerja sambil menggenggam tangan Luna. Saat satu pekerjaan sudah selesai, Dion menandai dengan mengecup bibir Luna. 

__ADS_1


"Ini namanya enak di anda, dan rugi di aku. Tuan Dion Sanderson."  Aluna merasa Dion memanfaatkan dirinya yang sedang dilanda gundah gulana.


"Siapa bilang, kita sama-sama untung, sama-sama nikmat." Dion tak berhenti menggoda Aluna.


__ADS_2