
"Maaf Nona, saya mencari gadis bernama Luna yang jelek dan kampungan, bukan seperti anda yang cantik seperti bidadari." Arga berkata demikian sekedar untuk menentramkan hati Diva.
Dipuji bagai bidadari, Diva tersipu tapi tetap saja dia harus menjalankan rencana yang Dion minta.
Diva kembali berkata pada inti masalah "Tidak ada Luna disini selain aku, jika anda tak percaya periksa saja data karyawan. Aku Luna sekretaris CEO."
"Baik Nona aku percaya padamu."Arga dan Argo pun segera pamit dan kembali ke mobil.
Diva juga berniat langsung pulang, gadis cantik mantan sekretaris itu segera ke parkiran mengambil mobil lalu meluncur keluar halaman perusahaan.
Di dalam mobil Diva segera mengirim pesan pada Dion kalau semua rencana sudah dijalankan dengan baik, untuk sementara Aluna pasti aman.
Aluna masih duduk di sofa dengan menutup wajahnya dengan telapak tangan. Dia belum bisa tenang. Dia tidak mau tertangkap Adrian yang dia duga ingin membunuhnya. Apalagi Adrian dan Angel akan menikah beberapa hari lagi.
Aluna tidak mau menjadi saksi bersatunya dua makhluk yang saling mencintai itu. Tanpa tahu cinta Adrian yang perlahan mulai berkhianat dan berpaling dari Angel.
Masakan Aluna dan kopi Aceh buatan Aluna yang mampu membuat hati laki laki itu merasakan bahwa Aluna special. Gadis biasa yang pandai memasak untuk suami juga harus dipertahankan.
Saat bersandar di kursi kerja sambil mengangkat kaki di tepi meja Adrian mulai mengantuk, beberapa hari tidurnya tak nyenyak sama sekali. Laptop dibiarkan menyala.
Angeline datang menghampiri Adrian dengan memakai baju santai mirip lingerie berwarna hitam, lalu duduk di meja sambil menatap sang kekasih.
Angeline melepas dasi yang masih melilit di lehernya hingga malam akan tiba, dari kantor juga tak mandi ataupun makan.
Angeline merasakan Adrian tak romantis lagi, dia lebih banyak menghindari dirinya dan berdiam diri..
"Makanlah Rian, aku sudah membuat sub iga untukmu."
"Nanti saja, aku belum lapar."
"Keluarga sudah menunggumu."
"Biarkan saja." Ryan masih tak bergeming.
"Rian sampai kapan kau seperti ini!"
Rian mendongakkan kepala, matanya merah "Aku bilang aku nggak lapar dan kamu pergi dari sini aku ingin sendiri!"
"Adrian! Apa gadis kampung sialan itu yang membuat kamu seperti ini?"
__ADS_1
"Siapa yang kamu maksud?" Adrian memasang wajah tak suka.
"Aluna. Kau mulai mencintai dia kan? Dia wanita yang telah merebut hatimu" Angeline meminnkan dasi Adrian.
"Dia istriku, kami sudah menikah!" Adrian tiba-tiba kalab.
Angeline pura-pura terkejut mendengar semuanya. "Rian! Kau mengkhianati cinta kita, kau jahat."
Angeline menarik kerah Adrian dan mendorong hingga menempel pada lemari buku, Aluna maju memangkas jarak diantara keduanya dan menatap mata hitam tajam yang mulai berubah sendu sambil terisak, air mata berderai di pipinya. "Adrian kamu mengkhianati cinta kita, kamu pengkhianat. Kamu jahat." Angeline memukul mukul dada bidang sang kekasih.
Adrian memeluk Angeline yang dikiranya sedang terguncang, Adrian juga berat mengatakan ini semua, tapi Angeline harus tahu. Sayang sekali yang dipikir tak tahu sudah tahu lebih dulu.
Angeline dalam pelukan Adrian pura-pura menangis tergugu, bahunya naik turun.
"Aku tidak mau diduakan, aku tidak mau tahu, kau harus menceraikan dia sekarang juga." Angeline menjauh.
"Tidak mungkin Angeline, Aku menikahi dia bukan tanpa sebab."
"Aku tidak mau tahu, atau kamu ingin papaku murka? Kau tahu apa yang terjadi jika papa murka?" Angeline tertawa sinis penuh ancaman.
"Papa akan menarik saham dari perusahaan, dan aku ingin tahu apa yang bisa kamu lakukan jika semua itu terjadi? Dengar-dengar perusahaan Papa Alex di di di Perancis juga lagi pailit."
Semua memang benar adanya, perusahaan Alex sedang mengalami kesulitan, keadaan menjadi pailit tak lama setelah menikahkan Aluna dengan Adrian.
'Dia pasti sudah mati, aku sudah membunuhnya Rian, itu semua karena salahmu, kau berpaling dariku. Andaikan cintamu tetap sama seperti dulu, mungkin aku tak akan pernah sejahat ini, aku tak akan jadi pembunuh.'
"Sudahlah, Aluna kita pikirkan lagi nanti, sekarang kita makan, bukankah katamu tadi keluargaku sudah menunggu." Adrian merubah topik pembicaraan.
"Ya, kamu benar, Sayang."
Adrian dan Angeline turun dari lantai dua menuju lantai satu, keluarga melihat keromantisan mereka berdua dengan senyum mengembang di bibirnya.
"Pa, ini baru calon mantu yang cocok buat anak kita. Bukan Luna si cupu itu," celetuk Selena dengan bangganya.
"Bener Pa, untung dia sekarang sudah pergi."Chela menimpali.
"Kalian yakin Aluna pergi dari rumah ini atas kemauannya sendiri?"
"Yakin dong pa. Kita nggak pernah jahat sama dia. Malah dia memilih laki laki lain, dia juga menggoda Dion." Fitnah Selena memang sangat kejam.
__ADS_1
"Aluna kenapa dia berubah, setahuku dia baik, apa Adrian tak memperlakukan dia dengan layak. Papa tidak keberatan Adrian menikah lagi, laki laki memang boleh menikah lebih dari satu asal alasannya kuat, dan Adrian bisa adil," ujar Alex sambil menatap hidangan makan malam yang sudah berbaris rapi di depan mata.
***
Dion masih berada di kontrakan Aluna, lelaki itu tak tega meninggalkan Aluna hanya bersama pelayan dan security, Dion khawatir Aluna akan kembali pada Adrian, dan kesempatan seperti saat ini tidak ada lagi.
"Pak Dion, pulang ya." Luna membersihkan gelas kopi di depan Dion. Sekarang Dion yang mulai ketagihan dengan kopi buatan Aluna.
"Entar dulu, masih malas." Jawab Dion asal. Sambil menatap Aluna yang baru selesai mandi dengan rambut basah terurai.
"Pak Dion ini sudah malam."
"Sudah tahu tapi masih ingin disini. Kalau kamu lelah tidurlah dulu, nanti aku akan pulang sendiri." Kata Dion memberi solusi.
Aluna hanya bisa menarik nafasnya dalam menghadapi Dion yang kekanak-kanakan. Bagaimana dia bisa tak sopan begitu dengan Bos. Masa ada bos bertamu ditinggal tidur.
"Pak Dion pulang sekarang." Aluna menarik tangan Dion, supaya lelaki itu lekas berdiri. Tetapi justru malah Aluna yang terperangkap ke dalam pangkuan Dion.
Aluna terkejut karena terjatuh. Dion pun sama, senjata pamungkasnya tertimpa tubuh Aluna.
"Aduh, mati aku."
"Kenapa Pak?"
"Luna! Kau menduduki anu …."
"Apa pak? Ponselkah?" Aluna bingung dia segera berdiri melihat Dion kesakitan. Memang saat jatuh tadi Aluna sempat merasakan ada benda kenyal yang dia duduki.
"Bukan tapi tongkat sakti."
"Pak Dion pasti sakit banget, maaf, maaf." Aluna bingung harus ngapain. Andaikan bukan disitu yang sakit pasti dia sudah mengupayakan sesuatu hal.
"Sakit Luna, kamu harus bertanggung jawab."
"Bagaimana Pak? Aku nggak bisa mengobatinya, Dokter, kita harus panggil dokter." Aluna mencoba mencari solusi.
"Benar, tapi aku ingin kamu yang jadi dokternya, aku nggak mau dokter yang lain."
"Anda bercanda saya tidak bisa mengobati kalau disitu." Aluna mengerutkan dahinya menatap aneh pada Dion.
__ADS_1
"Bisa, tinggal kompres saja," jawab Dion sambil menahan tawanya.
*happy reading.