
Pagi sekali Aluna sudah siap-siap berangkat ke kantor. Kali ini dia mematut dirinya di cermin agak lama setelah melihat jam dinding menunjukkan pukul enam pagi, Aluna tersenyum melihat perubahan dirinya yang lebih baik. Hanya saja cobaannya sekarang dia harus hati-hati dengan lelaki hidung belang.
Aluna memoleskan sedikit eyeshadow untuk perona, membuat penampilannya terlihat lebih sempurna.
"Nona, diluar ada yang menunggu."
"Menunggu? siapa Bi? Aluna sedang nggak ada janji." Gadis cantik menoleh, bibi melongo melihat Aluna sudah rapi dan cantik. Wangi lagi.
"Bibi tersenyum. Nona sudah sangat cantik, andai bibi laki-laki pasti juga akan terpesona lalu jatuh cinta."
"Bibi, ada-ada saja. Kelebihan mujinya bikin kepala Aluna Gedhe, kalau udah Gede jadi pusing nggak bisa jalan malahan," canda Aluna.
"Aluna temui tamu dulu, sekalian berangkat ya Bi, soalnya nggak enak sama bos kalau terlambat. Karyawan baru masa terlambat."
"Iya, Nona." Bibi sudah tau siapa yang datang, tapi dia sengaja tidak bilang dengan Aluna atas keinginan si pria.
Aluna membuka pintu dia melihat sosok lelaki yang dua hari tidak ada didepannya. Aluna tersenyum senang, wajahnya berbinar. Entah kenapa saat melihat wajah tampan itu perasaan Aluna sangat senang, pipinya menjadi semerah tomat. Di hati selalu mengucap syukur lelaki itu kembali dengan selamat.
"Selamat pagi Nona, saya kesini mau bertemu dengan my sekretary, apa dia ada?" Tanya Dion sengaja bercanda.
"Dia tidak ada, dia sudah berangkat Tuan." Aluna membantu lelucon Dion. Pria itu kedua tangannya bersembunyi di belakang membuat Aluna jadi penasaran dengan apa yang disembunyikan Dion.
"Sayang sekali Nona, padahal aku sudah sangat merindukan dia, kalau begitu bagaimana jika ini untuk anda saja."
Seikat bunga yang ada di tangan Dion membuat mata Aluna terbelalak, bunga hidup yang masih sangat segar dan wangi sekali.
Seikat Mawar merah dipersembahkan Dion pagi ini untuk Luna. "Terima ya, semoga suka dengan bunga yang aku bawa pagi ini.
Aluna menyambut tangan Dion yang terulur menyerahkan bunga. " Terima kasih bunganya cantik sekali."
"Sama-sama." Mata indah Dion menatap Luna yang sudah rapi dan cantik, lalu melihat Arloji yang melingkar di pergelangan tangannya.
__ADS_1
Rajin amat, ini masih pagi, apa nggak ingin menawari aku kopi atau apa gitu di dalam. "Dion melongokkan kepalanya. Didalam sangat sepi.
"Boleh Pak, silahkan masuk!" Aluna memberi jalan Dion masuk rumah, setelah lelaki itu duduk Aluna juga melambaikan tangan pada Beni.
"Apa Nona?" Beni yang mendengarkan musik memakai earphone terpaksa melepasnya dulu. "Anda memanggil saya?"
"Iya, masuk dulu, minum kopi sekalian sarapan."
"Okeh okeh siip." Beni menunjukkan jempolnya lalu bergegas turun dari mobil bergabung dengan Adam, mungkin Beni tidak mau satu meja dengan Dion karena takut mengganggu kencan pagi bosnya. Bukankah asisten harus pengertian dengan Bos.
Luna tak masalah Beni duduk di pos satpam, nanti biar bibi yang antar makanan untuk mereka.
Luna masuk ke dapur melewati Dion yang ada di ruang tamu, Aluna tahu Dion sebenarnya tak bisa sedikitpun melepas pandangan darinya, Luna juga tahu lelaki itu berusaha keras untuk tak seperti itu, tapi entahlah. Dion sudah gila, dia selalu ingin bertemu Luna setiap ada waktu senggang. Dia dulu tak seperti ini, dulu wanita yang selalu mengejar dan mencari dirinya. Dan dia justru yang cuek.
Dion melihat gemoi tertidur pulas di sofa membuat Dion gemas ingin mengelus bulunya, tapi hal itu urung Dion lakukan karena dia akan menyentuh makanan buatan Aluna terlebih dahulu.
"Pak Dion maaf hanya ada hidangan sederhana." Aluna menyerahkan sepiring biskuit dan kopi Aceh yang harum dan nikmat.
Aluna merapikan bajunya lalu duduk dengan hati-hati.
"Pak Dion …."
"Luna …."
"Kok bisa bareng gini," Dion mengelus rambutnya sendiri yang sudah tapi.
"Iya pak, sebaiknya Pak Dion aja yang ngomong duluan. Baru nanti Luna."
"Kamu aja dulu, Luna."
"Nggak pak Dion aja dulu. Ayolah." Aluna menggeleng.
__ADS_1
Dion menyeruput kopinya lalu mulai bicara. "Luna, aku sebenarnya bawa hadiah lainnya tapi ini dari Mama dan Jessica. Dia juga kangen sama kamu, pengen masak bareng katanya.
"Kenapa Tante Melani repot banget belikan Aluna oleh oleh, padahal kalian disana kan cuma sebentar."
"Mungkin Mama disana ingat kamu, calon mantunya." Dion tertawa.
Luna juga ikut tertawa dengan menggunakan lima jarinya untuk menutup bibirnya yang terbuka.
Tas kecil branded hadiah dari Melani, sedangkan gelang cantik meski bukan emas murni hadiah dari Jessica. Aluna sangat bahagia menerima hadiah istimewa itu, bukan dari nilai dan mewahnya hadiah yang kita nilai bukan? Tapi dari ketulusan hati si pemberi.
"Papa juga sudah mendesak aku supaya cepat nikah, dia maunya nggak sampe akhir tahun, tinggal tujuh bulan lagi waktu dari papa, kalau aku nggak bisa cari calon istri yang sesuai pilihanku, terpaksa papa akan jodoh kan dengan anak teman bisnis papa."
Aluna sedikit kaget mendengar Dion akan dijodohkan, bagaimana bisa seperti itu, Dion punya banyak teman wanita yang diam diam mencintainya dengan ketulusan, ibaratnya dia tinggal tunjuk satu wanita seperti baju yang berjejer di lemari, kenapa dia sampai susah sekali memutuskan untuk memilih satu wanita saja.
"Pak Dion tinggal pilih wanita yang bapak cintai, dan katakan pada orang tua bapak Dion."
"Itu yang jadi masalah, wanita yang aku cinta masih sah istri orang. Aku nunggu dia cerai, jahat banget kan aku," Dion mengangkat gelas hendak meminum kopi.
"Apa itu aku, Pak? Luna bertanya seperti orang bodoh. Suaranya pelan sampai getar bibirnya nyaris tak terlihat.
Dion segera meraih jemari Aluna dan menggenggamnya erat. "Iya, aku sudah jatuh cinta sejak pertama bertemu denganmu, aku sudah mengakui diriku salah Luna, aku sudah mengakui kalau aku bukan pria yang baik karena menginginkan istri orang. Tapi gimana lagi aku sudah terlanjur sayang. Aku bahkan merasakan sayang itu sejak pertama kali kita bertemu. Pertama kali menatap wajahmu yang tersembunyi dibalik kacamata. Kata papa jika kita sayang dan cinta pada seseorang kita harus perjuangkan dia, miliki, dan bahagiakan. Katakan padaku Luna, apa aku salah? Apa aku salah ingin melepaskan dirimu dari lelaki itu dan memiliki seutuhnya? Tapi jika kamu menolak dengan alasan kamu sudah mencintai lelaki itu? Aku akan mundur, karena tidak mungkin aku merebut istri seseorang yang saling mencintai, dan mengharap cintanya?"
Aluna mendengar setiap penggal kata yang diucapkan oleh Dion. Aluna merasa sangat bersyukur ada lelaki datang di hidupnya dan mencintainya dengan tulus, Tapi keadaan yang tidak memihak padanya. Adrian menolak untuk menceraikan.
"Pak Adrian menolak bercerai, dia ingin aku kembali padanya."
"Lalu Apa yang kamu katakan Luna?" Tanya Dion serius. "Apa kamu yakin nanti akan bahagia bila bersama dia?"
" Entahlah Pak Dion, itu amanah terakhir bapak. Bapak ingin Luna menikah dengan dia. Tapi sepertinya amanah itu, bapak buat semata ingin Luna bahagia sebelum pergi, tapi nyatanya Luna tidak bahagia."
"Baiklah, aku akan bersabar menunggu keputusan yang akan kau ambil Luna, tujuh bulan masih sangat lama. Tapi aku mohon, jangan pernah lakukan hal bodoh karena mengambil keputusan dengan tergesa yang nantinya buat kamu menyesal."
__ADS_1
Aluna mengangguk, berusaha melengkungkan bibirnya, sedangkan Dion mengacak rambut Luna karena gemas.