
Usai sarapan pagi, semua anggota keluarga sibuk dengan aktifitasnya masing-masing. Dion mengerjakan beberapa tumpuk berkas yang dibawa dari kantor. Aluna membantunya, sedangkan Jessica kedatangan dua sahabatnya dari kampus yang sama. Mereka bersenda di ruang tamu.
Aluna duduk bersantai di balkon dengan mama Melani, tiba-tiba ponselnya berdering terus-menerus. Biasanya Dion yang suka mengganggu, tapi kali ini Aluna sedang bermain di rumah pria itu. tahu kalau dia sedang tidak memegang ponsel.
Lama berdering Aluna akhirnya mengangkat ponselnya.
"Nona, cepat pulang Nona. orang-orang Pak Adrian sedang mencari Anda di sini." para suruhan itu rupanya sedang mengancam bibi, supaya bersedia berbicara di bawah tekanan.
"Suruh pulang saja Bi, katakan aku sudah tidak ada urusan dengan Pak Adrian. katakan aku akan mengurus gugatan cerai dengannya. dengan alasan dia mendua tanpa ijin dariku."
"Sudah Bibi katakan untuk pulang saja karena Nona tidak ada di rumah. Tapi orang-orang Pak Andrian tetap keras kepala meminta anda untuk pulang sekarang Nona. Kalau nona tidak pulang sekarang juga, dia akan menghabisi bibi, begitu ancaman yang mereka katakan Nona, bibi takut. Bibi masih ingin hidup. Putra bibi masih belum ada yang menikah. pertama belum menikah dan masih mencari kerja, dan yang kedua masih sekolah.
"Iya, iya Bi, aku sudah ada dalam perjalanan pulang." Aluna sengaja menolak diantar Dion karena dia tak ingin hubungan semakin dekat belum ada ikatan apapun diantaranya. bagi Aluna ucapan Mama Melani yang harus dipatuhi dan dibenarkan.
Jika terus berdekatan dengan Dion, Aluna juga takut tak bisa menolak hasrat lelaki itu lagi, sudah terlalu sering bersama membuat Aluna juga merasa nyaman berada di sisinya.
Tak ada satupun wanita yang mampu menolak pesona bunga paling tampan di keluarga keturunan Alexander dan sanderson itu.
Setengah jam kemudian sudah sampai di rumahnya. Baru turun dari taksi tiba-tiba tiga orang keluar dari persembunyiannya dan segera membawa Aluna. Sedangkan bibi masih dibawah ancaman pisau di leher, dan Adam sudah berhasil dikalahkan oleh anak buah Adrian yang lainnya
"lepaskan saya, mau apa anda?" Aluna terlihat terkepung oleh anak buah Adrian, tak ada ruang gerak sedikitpun untuknya melarikan diri. ingin berteriak sekerasnya tiba-tiba tangan besar membekap mulutnya. Pandangan Aluna menjadi kabur dan akhirnya lama-lama tak terlihat lagi. Aluna pingsan di bawah pengaruh obat tidur, dan sedikit obat berbahaya.
Aluna yakin Adrian pelakunya hanya Adrian yang selalu memaksakan kehendaknya seperti hari ini.
Aluna dibawa oleh anak buah Adrian ke Mansion yang baru saja dibeli oleh Andrian.
Sosok lelaki bertubuh tinggi besar pemilik tatapan elang keluar dari dalam mension dengan senyum terukir di bibirnya yang casual.
"Tuan Adrian sudah berhasil membawa istri anda, dia tadi menolak untuk ikut kami, jadi saya mohon maaf harus menggunakan sedikit obat terlarang untuk menjinakkannya. Saya mohon pada Tuan Adrian untuk memaafkan kami, karena jika dia terus meronta saya khawatir kalau tubuhnya akan terluka."
"Sebenarnya aku tidak suka kamu memakai obat itu untuk istriku, tapi bagaimana lagi kalau sudah terlanjur menggunakannya."
Adrian mendekati mobil, pengawal dengan sigap membuka pintu penumpang. Adrian dengan hati-hati membopong tubuh Aluna masuk ke dalam Mansion.
Keberadaan mansion ini sangat aman, karena berada di bukit dan jauh dari kota. Namun jalan untuk ke sana masih bisa ditempuh oleh mobil roda empat walaupun harus melewati jalan yang berliku-liku.
Dua jam Aluna berbaring lemah di atas ranjang dengan sprei warna putih, kelambu putih dan juga gorden putih bermotif bunga sakura.
Adrian tak sabar ingin melihat Aluna supaya lekas membuka matanya, Adrian mentowel pelan pipi istrinya yang terlihat sangat menggairahkan layaknya seorang putri tidur itu.
"Aluna tak juga bergeming dari tidurnya, mata tetap terpejam seperti putri tidur.
Adrian menggerakkan tubuh Aluna hingga kini terlentang sempurna, Lalu Adrian merapikan selimut untuk Aluna. "Ayolah Aluna bangunlah, aku sudah menunggumu sejak lama, Apa kau lupa aku sudah berjanji akan menghabiskan malam panjang bersamamu, dan kau malah pergi meninggalkan aku sendiri melewati hari hari setelah kau membakar mansion.
__ADS_1
Apa kau sangat membenciku karena aku terlambat mencintaimu? maafkan aku jika aku baru sadar kalau aku sebenarnya tak bisa jauh darimu. Aku terlalu bodoh untuk mendeteksi adanya bibit cinta di hati ini. aku berjanji setelah ini akan selalu menjagamu dan memanjakan kamu. Aku akan menjadi yang bisa melindungimu dan kau butuhkanan. kau tak butuh lelaki kep*rat itu untuk ada disisimu. karena aku satu satunya yang siap jadi pelayanmu."
Adrian terus saja berbicara seperti orang gila sambil membelai rambut Aluna. Wanita yang diajak bicara tak juga membuka matanya.
Tiba-tiba seorang pengawal datang menghampiri Adrian dan berkata," coba hirupkan minyak kayu ini ke hidung istri anda Saya jamin dia akan cepat bangun dari pengaruh obat berbahaya tadi.
Adrian mengambil botol kecil dari tangan pengawal dan membuka tutupnya pelan pelan. sebelum dia menghirup kan ke hidung Aluna Adrian mencoba mencium terlebih dahulu, khawatir isi dan merk botol berbeda.
"Coba saja Tuan, Saya yakin Nona Aluna akan cepat sadar dari pingsannya. Saya suka menggunakan jurus yang sama pada istri saya ketika dia pingsan."
Adrian melirik pada pengawal dengan tatapan membunuh. Tatapan Adrian mengisyaratkan kalau 'jika kau bohong maka kau akan menerima ganjaran yang sangat setimpal.'
Setelah Adrian mendekatkan minyak pemberian pengawal tadi ke hidung Aluna. wanita itu mulai mengerjap. Aluna terus memegangi kepalanya yang terasa pusing.
"Di mana saya, aku di mana ini, kenapa pusing sekali rasanya, "Bi bibi, Bi, bibi." Pandangan mata alunan kabur Iya belum bisa melihat jelas, mungkin karena efek obat yang diminumnya tadi membuat iya butuh waktu untuk melihat dengan jelas.
"Kau ada bersamaku, Sayang. Aku akan selalu di sampingmu. aku kembali mencarikan kamu tempat tinggal yang sangat aman, pastikan tak ada orang yang bisa menemukan kamu di sini.
"Pak Adrian, apa yang anda lakukan pada saya, Kenapa Anda jahat sekali membawa saya ke sini. Tolong jangan habisi saya tolong jangan bunuh saya, aku janji tak akan mengusik kehidupan anda lagi. Pak Adrian aku akan pergi,
"Sttt" Jemari panjang dan besar menempel di bibir Aluna.
"Kenapa kau selalu menuduh aku yang melakukan pembakaran itu, sedangkan aku selalu mengusahakan keselamatanmu."
"Adriam segera menenangkan Aluna dengan memeluk kepalanya. "Aku sama sekali tidak melakukan semua itu, paham! justru aku yang kehilangan dirimu ketika aku kembali lagi ke mansion itu." Adrian bingung dengan tuduhan Aluna selama ini. sekarang baru sadar kalau ada orang yang sedang memfitnahnya. Adrian sadar kalau musuhnya sangat banyak karena dia adalah seorang CEO yang memiliki banyak pesaing, tapi dia sama sekali tidak melakukan kejahatan itu.
"Dengar baik-baik Aluna. Aku tak melakukannya, percayalah, sekarang percayalah, karena hanya aku yang bisa kau percayai." Adrian terus berkata sambil mengelus rambut berulang kali. Aluna menemukan sedikit kenyamanan, malam ini Adrian bersikap begitu lembut.
"kalau bukan Anda Lalu siapa? Kenapa penjahat itu menyebutkan nama anda, dia bilang menelepon dan bilang kalau sudah berhasil menghabisi saya."
"Jadi karena itu kamu menghindar dariku, karena itu kamu tidak pulang lagi. Aluna aku mohon padamu, beri kesempatan kedua untukku, Aku akan merubah semua sikap dan kelakuan ku padamu. Aku akan belajar menjadi seorang suami yang baik."
kondisi Aluna sekarang lebih baik, Luna menggeser tidurnya dan bersandar di sisi ranjang.
Adrian memilih duduk di pinggir ranjang dan menghadap Aluna. Aluna melihat kamar yang dia tempati begitu wangi dan nyaman. Aluna tahu, pasti Adrian yang menata ini semua.
"Apa yang akan Anda lakukan pada saya? Kenapa Anda tak menceraikan saya saja, dan hidup bahagia bersama orang yang dicintai. dengan begitu anda akan tenang dan aku akan pergi selamanya untuk seumur hidup.
"Jangan terlalu sering mengulangi kosakata yang sama Aluna, aku akan marah jika kamu terus-menerus meminta untuk bercerai. Sudah kubilang berulang kali karena aku tidak akan pernah menceraikan kamu karena aku sudah jatuh cinta padamu."
Alunan bukannya diam tapi dia justru menangis tergugu. Adrian mencoba memberanikan diri mengusap air mata Aluna.
Namun Aluna segera menepisnya dengan kasar.
__ADS_1
"Kauuu!" Adrian hampir kehilangan kesabaran namun dia segera menggelengkan kepalanya kuat.
'Sabar Adrian sabar, Aluna seperti itu karena sudah dipengaruhi oleh Dion. Dia ingin balas dendam karena kamu telah mengambil Angel dari tangannya. sekarang dia akan membalas sakit hatinya dengan mengambil Aluna.'
Adrian berdiri agak menjauh dari Aluna, dia biarkan wanitanya memeluk lutut sambil menangis terisak, Adrian berharap dengan begitu Aluna bisa menumpahkan semua isi dihatinya.
"Pelayan, buatkan Nona makanan yang enak dan minuman yang segar. setelah itu siapkan air mandi hangat di bathup."
Seorang pelayan laki-laki itu segera melaksanakan perintah, yang hanya dengan satu kali teriakan. Adrian mulai meneguk sedikit wine hanya sekedar untuk menghangatkan tubuh.
Sedangkan Aluna hanya bisa mengamati gerak-gerik suaminya itu, bagaimana kalau lelaki itu meminta hak nya sekarang juga, bagaimana kalau nantinya dia akan hamil, bagaimana kalau anak yang dikandung itu tidak diinginkan oleh Adrian, dia pasti hanya ingin memiliki anak dari wanita yang kaya, yang akan menjadi istri keduanya itu.
Aluna sibuk mencari cara, tetapi semua jalan seakan buntu. Ponsel! Aluna yakin dengan ponsel Dia masih bisa menghubungi Dion, tapi sayang sekali ponsel tidak ditemukan. Aluna merogoh saku di kanan kiri baju yang ia kenakan tetap saja tak ditemukan.
"Kembalikan ponsel saya."
"Untuk apa?" Adrian bertanya lagi. "untuk merencanakan kabur dari sini? Maaf sayang selama aku belum percaya padamu maka kamu belum boleh pegang ponsel.
"Anda Gila, anda sudah Gila, kenapa anda tidak mengerti, aku sudah bekerja sekarang, aku harus memberitahu kalau aku cuti sementara. aku harus izin dulu dengan perusahaan. jika aku libur seenaknya aku pasti akan dipecat.
"Sudah Jangan pikirkan tentang pekerjaan lagi, lebih baik sekarang kita nikmati hari-hari kita yang menyenangkan. Sudah lama kita hidup bersama namun sia-sia. sekarang mari kita perbaiki semuanya."
"Adrian melepas semua kancing kemejanya, menjatuhkan kemejanya ke lantai begitu saja. setelah itu dia memberi isyarat kepada pengawal dan pelayan agar meninggalkan dirinya berdua saja.
"Apa yang akan anda lakukan?"
Adriyan tersenyum sangat manis. "Kamu pasti malu karena kita baru akan melakukannya sekarang, maafkan aku, seharusnya aku memberikan kewajibanku sebagai suami sudah sejak lama sejak kita pertama kali menikah. Tapi sudahlah sekarang kita mulai dari awal, hubungan yang baru, cinta yang baru.
Adrian kini melepas celana panjangnya, hingga tinggal menyisakan celana karet panjang selutut. "Aku ingin hari ini kita mandi bareng. pasti akan menjadi awal yang menyenangkan."
"Pak Rian, aku tidak bisa, tolong jangan lakukan, aku belum siap."
"Maksudmu? belum siap bagaimana?"
Aluna tak bisa berkata-kata lagi. Dia hanya menunduk, bagi Adrian Itu bukan sebuah jawaban
Adrian mendorong tubuh Aluna hingga kembali terlentang di atas ranjang. Arian mulai membuka satu persatu kancing pada baju yang dipakai Aluna.
Adrian membopong tubuh Aluna dan menjatuhkannya ke dalam bathup, Kacamata dan celana pendek masih melekat ditubuh.
Setelah Aluna berada di posisi yang nyaman, Adrian ikut menyusul masuk ke dalam bathup.
Adrian berulang kali senyum pada Aluna dengan manis. tapi lagi-lagi Aluna hanya membalas dengan ekspresi dingin.
__ADS_1
Adrian mengambil sabun dan memberikan pada Aluna. Aluna tahu apa yang di mau oleh Adrian, Aluna mulai menyabun dada dan punggung Adrian dengan patuh. merasakan sentuhan lembut jemari Aluna Adrian berulang kali memejamkan mata.