Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 74. Bersyukur dicintai lelaki sepertimu.


__ADS_3

Malam sekali Dion baru sampai di bandara, lelaki itu menelefon bibi hanya untuk memastikan aluna sedang baik-baik saja.


Tadinya dia berharap bisa pulang agak sore dan mampir di kediaman Aluna, Tapi sayangnya pesawat yang dinaiki harus ditunda keberangkatannya selama dua jam.


 Dion seharusnya sudah sampai di Surabaya pukul sepuluh malam, sekarang dia baru sampai pada pukul dua belas malam.


"Halo Bibi, sudah tidurkah? apa Aluna sudah tidur." Tanya Dion yang baru turun dari pesawat, kini dia berencana untuk menginap di hotel yang ada di dekat bandara. 


"Sudah tuan, baru saja."


"Bibi kenapa nggak tidur sekalian?"


"Saya, saya, anu. Saya sebenarnya belum bisa tidur kepikiran sesuatu, tadi Tuan Adrian kesini, dia meminta Nona untuk pulang bersamanya."


"Ouhh, lalu apa kata Nona?" Tanya Dion berusaha untuk tenang. Meski dia sendiri juga terkejut. Dion yang tadinya berjalan pelan sambil telepon, kini terpaksa dia menghentikan langkahnya.


"Nona menolak, dia tidak mau, tapi tetap saja bibi khawatir. Bibi takut, kejadian kebakaran itu terulang." 


Sambil telepon dengan bibi Dion segera mengirimkan pesan kepada Beni dan Pak Adam. Supaya malam ini dia berjaga jaga di pos security, mengawasi orang yang mungkin akan datang di malam hari dan berniat jahat.


"Bibi tenang, ada saya yang akan selalu menjaga Aluna, Saya tidak akan membiarkan dia celaka lagi, walaupun musuh yang saya hadapi adalah saudara sepupu sendiri," kata Dion dengan suaranya yang terdengar serius.


"Terima kasih Tuan, Terima kasih, Nona Aluna sekarang berada di tangan lelaki yang tepat. Semoga kalian nantinya akan berjodoh.


Dion tersenyum tanpa kata, dalam hatinya dia mengaminkan ucapan Bibi Sofia. "Bibi, Aku akan menjaga Aluna semampuku." Kata Dion yang mulai bergabung dengan keluarganya yang menunggu Sang Papa.


David memesan tiga kamar, dua untuk Dion dan Jessica dan satu untuk dirinya sendiri bersama Melani. 


"Mama, sebentar lagi kita mau punya menantu kayaknya," celetuk Jessica.

__ADS_1


"Benarkah kamu sudah tahu siapa calon menantu mama?" Mama yang sedang duduk memangku kaki satunya sambil memeluk tas lengan seketika menoleh pada Jessica yang mainan ponsel, tapi sesungguhnya dia terusik oleh suara berisik Dion yang sejak tadi menelepon Bibi. 


"Doain aja, kakak kamu cepat laku, pacar banyak, masak nggak ada yang serius." Kata Melani yang melirik ke arah Dion, lelaki itu masih asyik menelepon Bibi.


 Setahu Melani dulu Dion Idola kampus, sekarang di perusahaan juga masih jadi idola, jadi pantas saja kalau dulu Angeline mati-matian menjebak Dion supaya bisa jatuh ke tangannya. Tapi hubungan mereka memudar begitu saja karena Dion sangat sibuk, saat awal berkarir dan cinta mereka masih cinta yang labil.


"Bukan nggak laku Mam, kakak aja yang terlalu pemilih. Padahal wanita secantik kak Angel saja bertekuk lutut di kakinya."


"Entahlah kakak kamu itu, tapi kalau sama Angeline, mama takut aja Jess. Karier dia terlalu bagus, mama takut dia nggak sayang sama suami aja." ujar Selena berakhir ghibah tentang Angeline. 


"Kamu tahu siapa pacar Kak Dion sekarang?"


"Pasti Aluna, tapi kemarin Kakak bilang Aluna sudah bersuami dan mau move-on, entahlah, apa kakak mau jadi pebinor? Astaga Kak Dion Mam!" Jessica menutup mulutnya.


"Maksud kamu apa Jes? Kakak kamu mau merebut istri orang? Mencintai istri orang gitu?"


"Bisa jadi Mam."


"Biar ada perjuangan berbeda gitu mungkin Mah, entahlah Kak Dion ini, aneh aneh wae." Jessica mbesengut melirik Dion yang masih terus berbicara di telepon. Tapi sepertinya sekarang dia sudah tidak berbicara dengan Bibi Sofia lagi. Dion sudah beralih berbicara dengan Beni agar tak perlu menjemput di bandara, lebih baik menjaga Luna saja, karena papa encoknya kambuh, meminta pulang besok.


Setelah selesai bicara di telepon, Dion segera menghampiri sang mama dan adik perempuan tercinta. Dion yang suka usil langsung duduk diantara kedua wanita yang menjadi cinta pertamanya itu. 


Dion mencium pipi mama dan Jessica pergantian. Tapi sepertinya Jessica keberatan Dion mengecup pipinya begitu saja. Gadis berusia sembilan belas tahun itu dengan cepat mengusap pipinya. "Kak Dion ihhh, nggak usah cium pipi Jessica."


"Emang kenapa? Waktu kecil kamu suka dicium kakak, bahkan kamu nggak pernah ngebolehin teman cewek kakak main ke rumah untuk godain kakak," goda Dion, dilarang mencium sekarang malah mencubit pipi adiknya yang mirip bakpao itu. 


"Itukan dulu, sekarang Jessica ogah dicium kakak lagi. Jessica sudah besar," 


"Udah, udah kalian bisa nggak sih kalau bertemu nggak usah bertengkar. Nggak capek apa? Mama dengernya aja capek."

__ADS_1


"Jessi yang mulai Ma, dia kolokan banget, manja!"


"Manja nggak apa apa, suka suka Jessi dong. Aku nggak mau Kak Dion kebiasaan cium pipi jessica"


"Jessica, dicium kakak itu tanda sayang, nggak apa apa." Kata Mama menasehati. 


"Tapi Ma." Jessica nggak peduli, dia mengerucutkan bibirnya. Mama tersenyum melihat putrinya ngambek. Sedangkan Dion pergi lagi menyusul papa menemui resepsionis.


Segera membayar harga tiga kamar yang akan dipakai hanya untuk beberapa jam saja. Terlalu lelah membuat mereka harus istirahat dulu sebelum esoknya langsung pulang. 


***


Semalaman Dion tak bisa tidur, kasur empuk, bantal empuk dan selimut warna putih berbulu lembut tak mampu membuat tidurnya nyenyak. Kata-kata bibi Sofia membuat Dion terus kepikiran.


Sambil menatap foto Aluna di ponselnya Dion bermonolog sendiri. 'Luna semoga kamu nggak diganggu lagi sama suami gila kamu itu, apa yang ada di otak udang lelaki itu, malam tunangan dengan gadis lain, paginya mencari istrinya. Luna aku nggak rela kamu dipermainkan seperti itu, aku akan membantumu lepas dari pria seperti Adrian, tak peduli apa kata dunia, aku akan menjadi penghalang bersatunya hubunhan kalian. Buat apa bersama jika kami harus menderita.'


Tring! tring!


Ponsel Dion dalam genggaman berdering. Secepat kilat Dian segera menggeser kursor hijau keatas. "Pak Dion, apa anda sudah kembali."


"Luna. Iya, iya, aku sudah kembali. Kamu baik baik aja kan? Apa Adrian tadi menyakitimu? Dia mengganggumu kah? Luna jika dia menemui kamu lagi, jangan percaya bujuk rayunya, semalam dia telah melakukan tunangan secara live di TV, aku nggak mau kamu kecewa lebih dalam lagi Luna, aku nggak mau kamu sakit hati karena harus diduakan. Luna apa kamu sayang dia?"


Pertanyaan terakhir Dion membuat keduanya diam. Dion menunggu jawaban terakhir Luna, Luna juga terkejut Dion bertanya soal perasaannya pada lelaki yang entah seperti apa hubungan yang sedang ia jalani saat ini.


"Luna, maaf jika pertanyaanku membuat kamu tak nyaman, atau mengganggu privasi kamu, aku hanya ingin kamu tidak menyimpan rasa terlalu dalam untuk Adrian, masih banyak laki laki lain yang mencintaimu tanpa sebuah syarat."


"Adakah lelaki seperti itu pak?" Tanya Aluna pelan tapi serius.


"Ada Luna, contohnya aku, aku bersedia," Dion menjawab dengan serius. Tak ada canda seperti biasanya.

__ADS_1


"Aku bersyukur dicintai lelaki seperti anda, Pak." kata Luna Lirih. kalau Dion tak memasang telinganya dengan baik pasti dia tak akan mendengarnya.


__ADS_2