
Aluna membantu bibi masak di belakang. mereka lebih cepat akrab, Aluna yang menggoreng ikan, bibi yang menyiapkan wadah dan menata.
"Nona, sepertinya suka masak juga ya?"
"Iya, masa itu menurut saya seni Bi, kita bisa kreasikan masakan kita sesuka hati. kalau hasilnya bagus, jadi puas masaknya."
"Benar juga, Nona. Den Dion rupanya pinter banget cari calon istri. sudah cantik, pandai memasak lagi."
"Bibi bisa aja memujinya terlalu ketinggian. entar kepala Aluna menjadi besar lho. menakutkan nanti," canda Aluna.
Pagi jam enam masakan sudah siap saji. Aromanya sampai menguar hingga setiap sudut ruangan.
Dion yang masih terlena dalam dekapan selimut hangat, guling panjang yang menjadi penopang kakinya, tiba-tiba menggeliat dengan malas. Saat membuka mata, hidungnya mengendus aroma gurih yang menyengat.
"Hoammmm!!"
Dengan malas Dion turun dari ranjang. Namun setelah ingat kalau semalam dia telah membawa Aluna ke sini. Dion jadi lebih bersemangat.
Dion segera mencari-cari Aluna. Namun sosok yang dicarinya sudah tidak ada di kamarnya. yakin Aluna pasti ada di dapur bersama bibi. Lelaki yang hanya memakai celana kolor selutut dan bertelanjang dada itu segera menghampiri sang kekasih.
"Karena kita masaknya berdua bibi jadi cepat selesai deh, Nona." suara bibi terdengar dari dapur. Dugaan Dion tidak salah yang memasak sarapan dengan aroma harum di pagi ini adalah Aluna dan Bibi.
"Masak apa sayang? kayaknya enak nih,"
"Bukan aku yang memasak? semua ini masakan bibi."
"Bohong Tuan, yang memasak hampir semuanya Nona Aluna. bibi tadi cuma bantu memotong-motong sayur dan bersihin ikan saja. Tuan pinter dah pilih calon istri, paket lengkap pokoknya."
"Iya dong, siap dulu Bi. Dion." Dion membusungkan dadanya.
Aluna yang mengelap piring hanya geleng kepala, sambil senyum-senyum. Dion dan Bibi ternyata juga sangat ramah dan sering bercanda. Sungguh keluarga yang sempurna.
"Sayang, udah taruh ini semua, biar bibi yang beresin, kamu calon nyonya di rumah ini, aku nggak kasih izin kamu bekerja terlalu capek."
"Tapi Pak Dion, aluna bete kalau nggak ngapa-ngapain mending ada kegiatan." Aluna keberatan Dion merebut piring yang ada di tangannya. Gadis itu sekarang memilih mengerjakan pekerjaan lainnya.
Dion menarik lengan Aluna. "Kamu hanya akan temani aku, Aku nggak mau kamu mengelus-elus piring itu, sedangkan aku dicuekin." Dion mengambil posisi di depan Aluna dan gadis itu kesulitan untuk melanjutkan aktivitasnya.
"Posesif nie ceritanya, takut ih kalau punya suami posesif." Aluna menghindar dan menjauh, malu dilihat bibi, apalagi Dion sengaja memamerkan dada sikpacknya. Selurus apapun hari Luna, sebagai wanita normal jika melihat pahatan begitu indah tetap saja dia terpikat.
Dion menggenggam pergelangan tangan Luna, dan menariknya ke taman belakang melewati dapur. Mansion Dion memiliki taman yang luas dan indah di bagian belakang, bahkan keluarga biasa berolahraga di taman belakang di saat pagi hari.
__ADS_1
"Pak Dion kita mau ngapain?"
"Sudah ikut aja, kita joging sambil bermain dengan Gemoy."
"Gemoy, apa kabar dia. pantesan aja waktu di kontrakan dia tidur melulu. disini tempat bermainnya luas dan indah, sejuk lagi."
Aluna dan Dion berlari lari kecil memutari lapangan yang seluas 1 hektar, dia membuat kesepakatan, siapa yang bisa lebih dulu sampai garis finish setelah tiga putaran, maka yang kalah berhak untuk mengabulkan satu permintaan si pemenang.
Si kucing berbulu putih dia sibuk memainkan bola pingpong. Dion terkadang menggodanya dengan menggerakkan Apa saja dan Gemoy langsung mengejarnya.
Baru saja lari dua putaran, Aluna terlihat sudah kecapaian, dia membungkukkan tubuhnya sambil memegangi lututnya.
"Pak Dion, oke saya menyerah. Anda pemenang lomba lari hari ini."
Dion yang berapa langkah di depan Aluna terpaksa dia berbalik. Dion mendekat, lalu membungkukkan badan hendak menggendong Aluna di punggungnya. Dion tak tahu kalau Aluna mengerjainya.
Setelah Dion jongkok, Aluna lari begitu cepat, Sambil tertawa bahagia, karena Aluna yakin dia yang akan menjadi pemenangnya.
"Pak Dion, anda harus menyerah sebelum anda kalah, pemenangnya pasti aku." Aluna masih berlari sambil melambaikan tangan menertawakan Dion yang kesal.
"Luna curang Luna Curang Luna curang."
"Tidak apa-apa Pak Dion, kita sedikit curang yang penting kita menang," ujar Luna sudah sampai di garis finish lebih dulu.
"Saya yang menang Pak, anda harus kabulkan satu permintaan saya."
"Kamu curang pemenangnya seharusnya aku."
"Tapi setelah saya ingat-ingat saya tidak melakukan kecurangan apapun Pak, cuma bermain lebih menggunakan kecerdasan otak saja, sedangkan anda lebih mengutamakan perasaan. Aku tidak meminta Anda untuk berbalik ke belakang, tapi tadi kemauan anda sendiri yang mau gendong saya."
"Sama saja, itu namanya kamu curang, kamu pura pura sakit tadi."
"tapi saya tidak minta bapak untuk menolongnya.
Dion dan Aluna sekarang dalam perdebatan yang sengit. Dion kemudian terlentang diatas kasur rumput yang empuk, Aluna ikut tapi dengan Arah yang berbeda hanya kepala mereka saja yang berdekatan.
Suasana tiba-tiba menjadi hening, fokus dengan pemikiran masing-masing. Aluna ingat ucapan Tante Melani semalam, yang intinya tidak boleh terlalu akrab sebelum benar-benar bercerai.
Tapi sekarang malah apa yang dilakukan, tidur terlentang di atas rumput yang luas dengan kepala berdekatan, jika sama-sama menoleh, maka jarak wajah mereka mungkin hanya sekitar lima belas centimeter.
Luna tidak tahu apa yang dirasakan Dion saat ini. Jantung Dion berdegup sangat kencang, kalau bukan itu jantung asli ciptaan dari Tuhan mungkin sudah melompat dari sarangnya.
__ADS_1
Dion juga heran kenapa dia bisa sebodoh ini di depan Aluna. Sekarang Dion mengalami sendiri, dia baru percaya kalau cinta memang membuat orang bodoh bahkan bisa gila.
"Luna, kamu pemenangnya, mintalah satu hal padaku, Aku akan mengabulkan permintaanmu."
Luna menoleh, untung Adrian tetap fokus menatap ke atas.
"Bingung Pak, mau minta apa coba? semua kebutuhan Aluna sudah terpenuhi, bahkan tanpa Aluna minta bapak sudah memberikan sendiri. Gak bisa Aluna hitung lagi, Aluna bersyukur saja bertemu Pak Dion yang baik hati, yang memberi semangat Aluna di saat orang-orang hanya bisa menghina. Menjadikan Aluna sekretaris sedangkan Aluna sendiri sadar itu bukan posisi yang benar.
"Kata siapa? kamu cocok jadi sekretaris. buktinya kamu bisa menghandle pekerjaan dengan baik. Lulusan tinggi memang penting, tapi keinginan dan niat yang kuat juga bisa membuat orang itu jadi berkembang sangat baik. Menurutku kamu cocok jadi sekretaris pribadiku, lebih cocok lagi jadi istriku."
Dion kini merubah posisinya, yang tadinya terlentang, sekarang dia tengkurap Dion dan Aluna berada dalam satu garis lurus, wajah Dion tepat berada di atas kening Aluna.
Dion mencari kesempatan mengecup kening Aluna. Mata Dion sudah terpejam dan bibirnya bergerak maju, beberapa centi lagi pasti akan sampai. Aluna yang bisa merasakan hembusan nafas hangat Dion menerpa keningnya hanya bisa memejamkan mata.
Namun, saat kedua pasang mata sedang terpejam, Dion merasakan sensasi aneh di bibirnya. Bulu lembut mengusap-usap bibir dan pipi Dion.
"Apa ini?" merasakan sebuah kejanggalan Dion membuka kelopak matanya.
"Hai Gemoy, kamu nakal sekarang ya, kamu tidak bisa membiarkan ayah bersenang-senang dengan ibu"
"Anak manis, makasi ya sudah melindungi ibu." Aluna bangkit dari tiduran dan memangku kucing brewok putih dengan hidungnya yang nyaris tak ada karena saking peseknya. Aluna tersenyum pada Dion yang terlihat kecewa sambil mengacak rambutnya sendiri.
Pak Dion sepertinya aku harus pulang, sebentar lagi udara tambah panas."
"Sebentar lagi Luna aku masih ingin kamu ada disini bersamaku. kita tidak melakukan hal-hal yang terlarang, aku hanya ingin melihat senyummu saja, walau tak sarapan aku sudah kenyang dengan melihat ini." Dion menyentuh tahi lalat Aluna.
"Masih suka ngegombal, ingat Pak usia anda sudah tak ABG lagi." Aluna mengingatkan Dion yang masih suka bercanda berlebihan.
"Ngegombalin calon istri sendiri itu nggak masalah. Malah bagus, biar hubungan kita makin romantis."
Saat mereka sedang bercanda tiba-tiba Bibi datang dengan membawakan jus buah jambu dan mengundang untuk sarapan bersama.
"Nona, Tuan, sudah ditunggu oleh Nyonya."
"Katakan pada mama Bi, kami masih harus mandi dulu, karena baru selesai lari pagi."
"Akan tetap ditunggu Tuan, katanya ada hal penting yang ingin Tuan dan Nona bicarakan, dan ini sangat penting."
"Pak Dion, itu pasti karena saya belum pulang juga sampai detik ini, saya dan Anda harus saling berpisah untuk sementara waktu."
"Berpisah? bagaimana bisa guna kita akan berpisah? kamu pasti sengaja ingin membuat aku terus melamun dan gila?"
__ADS_1
"Demi kebaikan kita bersama Pak Dion. Kita masih akan tetap bertemu setiap hari, Bapak jadi bos dan saya jadi sekretaris, bukankah itu juga sebuah hubungan yang sangat dekat."
"Baiklah Luna, aku akan mencoba demi kebaikan bersama, Tapi jujur aku berat harus berjauhan. Kalau sudah jauh begini, hidupku nggak asyik lagi tasanya, aku tidak tau setiap saat apa yang kamu lalukan.