Takdir Cinta Gadis Cupu

Takdir Cinta Gadis Cupu
Part 87. Benih Cinta mulai tumbuh.


__ADS_3

"Jangan selalu minta berpisah, tidak baik." Adrian menasehati Aluna seperti tak punya dosa.


Aluna hanya menanggapi dengan senyum saja, tak berkata walau sepatah, rencana yang sudah disusun matang tidak boleh gagal. 


Aluna dan Adrian masih berlanjut menikmati pemandangan sambil menunggang kuda, hanya mereka berdua yang ada di jalan setapak berpaving itu.


Adrian dan Aluna turun ketika sudah sampai pada puncak bukit tertinggi, Mereka duduk di sebuah batu besar sambil menatap sekitar, seperti pasangan yang saling mencintai. Namun, kenyataannya tidak. Mungkin Adrian saja yang mencintai Aluna.


 Ibarat sebuah air, hati Aluna sudah membeku seperti balok es. Ibarat benda padat, Raganya seperti patung menakin saat menghadapi Adrian.


Lelah duduk saja Adrian dan Aluna berdiri sambil berhadapan, jarak mereka mungkin sekitar satu meter. Adrian berusaha meraih jemari Aluna, hingga nampak siluet tubuh mereka sedang berpegangan tangan. 


"Aluna aku mulai mencintaimu, aku minta maaf jika selama ini sudah egois, aku mengabaikan keberadaanmu, setelah kau pergi, ternyata aku sadar, aku sayang dan nggak bisa kehilanganmu."


"Tuan Adrian, bolehkah aku bertanya dan jawab yang jujur. Sejak kapan cinta itu hadir? Dan karena apa? Bukankah anda bilang bisa dapatkan sepuluh wanita sepertiku jika anda mau."


"Aku berkata seperti itu karena tidak tahu apapun, aku tidak tahu kalau kau secantik ini. Kau pandai memasak, dan kau juga menyenangkan. Kau hadir begitu tiba tiba diantara aku dan Angeline. Aku butuh waktu untuk menerima kehadiranmu


"Maafkan aku, aku juga tidak mau itu terjadi, aku juga tidak mengemis untuk dinikahi. Jika kehadiranku sebuah kesalahan, tolong lepaskan aku secepatnya, aku akan menjauh dari hidup Anda, Tuan"


"Sttt, jangan ngelantur, yang penting sekarang hatiku sudah berubah. Kamu yang aku cintai"


'Pak Adrian aku bukan manekin yang harus ikut sesuka hati anda, dan seenaknya anda membolak balikkan perasaanku seperti papeda. Kemarin dibenci, sekarang dicintai, besok bisa saja anda sudah berubah lagi. '


"Apakah jika sebuah kejadian besar terjadi, misalnya kebakaran mansion waktu itu membuat aku lumpuh seumur hidup, dan tubuh serta wajahku cacat, atau tanganku terbakar tak bisa masak untuk anda lagi, anda akan tetap mencintaiku?"  Aluna melepaskan tautan tangan mereka berdua. Menatap kearah matahari yang mulai menyingsing."


Adrian diam saja, pertanyaan Aluna baru saja membuat dirinya sadar betapa dia sudah tak adil dengan istrinya selama ini. 

__ADS_1


"Sekarang aku sudah minta maaf, dan aku sadar aku salah, aku janji kedepannya akan membahagiakanmu."


"Bahagia Tuan? Anda bertunangan dengan wanita lain itu yang anda katakan bahagia untuk saya? Dan akhir bulan ini anda akan menikah itu yang anda bilang bahagia? Tidak akan ada wanita yang bahagia ketika suaminya menikah lagi." 


"Aluna, aku tetap bisa membuatmu bahagia, percayalah. Aku akan membagi waktu untukmu dan Angeline. Buktinya aku sekarang ada disini, bersamamu. Aku butuh Angeline bersamaku."


"Kalau begitu pilih saja dia." Aluna berjalan pelan menjauhi Adrian, Aluna tak ingin menumpahkan air matanya di depan lelaki itu. Sama sekali tak ingin terlihat sedih. 


Enam bulan bersama pasti ada setitik cinta yang singgah dihati, yang pernah dia lewati tak semuanya buruk. Adrian kadang juga memberinya perhatian. 


'Pak Adrian, ku ingin kita berpisah, aku tidak mau terlibat cinta segitiga yang membuat aku menderita dan kalah. Tinggal satu langkah lagi. Aku dan anda akan benar-benar berpisah.' Monolog Aluna sambil menangis terisak. 


Adrian tak mengerti kenapa Aluna menangis. Lelaki itu mendekat hendak menenangkan, tapi Aluna sudah mengisyaratkan dengan tangannya, agar menjauh saja.  


Adrian memang salah satu pria yang tak  peka dengan cinta seorang wanita. Hubungan dengan Angeline pun dia tak tau itu cinta yang seperti apa, atau hanya nafsu belaka. 


"Kita kembali, aku lihat kamu tak lagi senang dengan jalan jalan kita sore ini" lelaki itu menggapai pundak Aluna.


Adrian mengangkat tubuh Aluna tanpa serta merta atau izin dari sang pemilik, sontak membuat gadis itu memekik dalam kesedihannya.


Adrian mendudukkan Aluna menghadap ke samping, sedangkan dirinya menyusul naik, Adrian memangku tubuh ramping sang istri.


Adrian memegangi tubuhnya dan satu tangannya memegang tali kendali. Kuda berjalan pelan-pelan, beranjak menuruni bukit sebelum malam datang. 


Sedangkan Argo mulai menjalankan tugas dari Aluna, laki-laki itu menyelipkan satu berkas ke dalam ratusan tumpukan berkas yang harus ditandatangani Adrian malam nanti. Jika lelaki itu menginap, Argo akan menjadi saksi lelaki yang tengah jatuh cinta itu menandatangani berkas perceraiannya.


Argo segera menata berkas kembali rapi ke dalam koper, aksinya berjalan mulus karena Arga sedang tidur lelap di gazebo. 

__ADS_1


Ringkikan kuda sudah terdengar, buru-buru Argo meninggalkan ruang pribadi Adrian, dan menyambut kedatangan tuan dan nyonya dengan sukacita.


"Wah, jalan jalan kalian pasti sangat menyenangkan." Argo tersenyum riang sambil mengulurkan tangan hendak membantu Aluna turun dari pangkuan Adrian. 


Aluna turun dari pelana dengan bantuan Argo. Adrian menyusul setelah kaki Aluna menyentuh tanah dengan sempurna. 


"Nona kelihatannya capek, Argo tolong perintahkan koki untuk memasak menu makan malam yang spesial kesukaan Nona. Dan pelayan untuk menyiapkan segala kebutuhan mandi"


"Baiklah, Tuan." Argo patuh apapun perintahnya sekarang, dia tak sedikitpun menolak semua tugas. Tapi sejak Adrian datang, jujur Argo mulai tak tenang. Bahkan untuk menatap wajah majikannya saja dia terlalu takut. Lelaki bertubuh besar itu ke rumah bagian belakang sedangkan Aluna diam diam mengekor di belakangnya juga. 


Adrian kembali ke kandang kuda. untuk melepas rompi dan sepatu boot yang masih menempel di tubuhnya.


Sampai di ruang yang sepi, Aluna segera mengejar Argo dengan langkah seribu. "Tunggu Go, apa kau sudah melakukan semuanya dengan baik?" Aluna menghadang langkah Argo dan menatap dua mata amber milik Argo. kata katanya pelan hampir seperti orang berbisik.


"Anda sudah membuat aku menggali kuburanku sendiri, kenapa harus aku yang anda pilih." Argo berkata dengan penuh penyesalan. Aluna menarik lengan Argo, lelaki itu menghadapnya. Aluna kasian juga dengan Argo, Aluna telah memaksa lelaki setia harus berkhianat. 


"Argo apa aku keterlaluan? Jika iya katakan saja aku yang melakukannya. Kau akan aman." Aluna memukul pelan dada Argo. Lelaki yang dia pukul hanya menarik nafasnya panjang. 


Aluna kemudian pergi ke kamarnya untuk mandi dan ganti pakaian. Setelah itu makan malam bersama dengan Adrian. 


Sepanjang makan malam, Adrian terus saja mengamati wajah Aluna yang berseri. "Kata Bapak, kalau saat makan sengaja dilambat lambatin, ada makhluk lain yang mendahului memakannya lho."


"Biar, aku akan kenyang dengan memandang bidadariku yang cantik."


Aluna memaksa senyumnya, menganggap ucapan Adrian hanyalah bualan belaka. 


Krucuuk! Cacing di perut Adrian sedang berdemonstrasi. 

__ADS_1


"Itu yang katanya kenyang sendiri? Suaranya tetap aja nggak bisa bohong." Aluna tersenyum. Adrian ikut juga tersenyum sambil membelai rambut lembut Aluna. 


*happy reading.


__ADS_2